sebuah lengan membawaku kedalam pelukannya entah kenapa ragaku tidak bisa aku kendalikan, aku menatapnya lelaki dengan manik coklat dengan rahang kokoh.
sentuhan demi sentuhan membuatku terlena, aku tidak bisa berbuat apa apa entah ada apa dengan tubuhku, aku menikmati setiap sentuhannya.
"egh"
hanya itu yang keluar dari mulutku, hingga sesuatu yang melesak masuk kedalam tubuhku aku hanya mampu menangis namun menikmatinya sangat menikmatinya.
hingga berita kehamilan menyebar membuatku tak bisa mengelak sebuah pernikahan dengan lelaki yang tidak aku inginkan menjadi tameng penghalang impian impianku untuk meniti masa depan yang indah dan cerah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiya12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
khilaf
"kamu kenapa?" rey yang baru saja menyimpan ransel di bagasinya langsung menghampiri Kena, kekasihnya melamun seperti memikirkan sesuatu.
"em, itu asep kemana ya?" ujarnya, rey menyerngit pasalnya Kena selalu menyinggung nama asep.
"kamu kenapa mikirin asep begitu?" rey bertanya dengan tenang, Kena membalikan tubuhnya yang membelakangi rey.
"seperti ada yang hilang" ujar Kena, pikirannya berkelana kembali pada hari dimana warga desa menghakiminya dan asep membantunya.
"aku bertanya, kamu siap ngga kembali ke jakarta hari ini?" tanya rey, matanya menatap kedua manik milik Kena dengan tulus.
"sebenarnya, aku belum siap" jawaban kena membuat genggaman tangan rey terlepas.
"apa semua karena asep?" rey kembali bertanya, tangannya mengambil sebungkus rokok dan sebatang korek gas di saku celananya.
"aku cuma mau bertemu sebentar" ujar kena, rey meniupkan asap rokok dengan sembarang, ada gurat kecewa di wajahnya dan jawaban kena membuat hatinya tercubit.
"baiklah, kamu boleh mencari asep dan bertemu dengannya sepuas yang kamu mau" ujar rey kemudian dengan senyum yang tidak dapat di artikan.
"serius rey? kamu ngga marah? kamu ngga cemburu?" ujar Kena antusias, lelaki itu menggelengkan kepalanya.
"yaudah aku kerumah asep dulu ya" dengan semangat kena berjalan dengan cepat menuju rumah asep, rey menjatuhkan sebatang roko yang tadi disulutnya lalu menginjaknya.
"tuan, kami sudah siap" ujar bi inah di sampingnya ada ima dengan dua ransel besar ditangannya.
"maaf, tapi Kena memilih asep dan tinggal disini jadi dengan berat hati saya berangkat sendiri" ujar Rey, bi inah dan ima saling beradu pandang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh tuannya.
"maksud tuan apa?" ujar bi inah bertanya dengan penasaran.
"kalian tanyakan saja pada kena, saya permisi" rey meninggalkan kediaman bi inah dengan cepat, tak memperdulikan pertanyaan pertanyaan yang terlontar dari bi inah dan ima.
disepanjang perjalanan, pikirannya berkelana dia Kena perempuan yang tengah mengandung anaknya, memilih lelaki lain.
"halo alan, tolong atur pertemuanku dengan seseorang" ujar rey saat telponnya tersambung dengan alan.
"siapa yang ingin kau temui?" tanya alan di sebrang sana, dia sedang sibuk mengatur jadwal penting untuk rey.
"akan aku kirimkan" ujar rey lalu mematikan sambungan telponnya, jemarinya mulai bermain di atas benda pipih itu, setelah mengirimkan nomor seseorang ia mematikan ponselnya...[]
Di sebuah kamar hotel berbintang lima, seorang perempuan cantik dengan pakaian seksi tengah duduk di tepi tempat tidur dengan pose menggoda, rey lelaki itu mengendurkan dasinya dan membuka dua kancing teratas kemejanya.
"kau sudah tidak tahan rupanya" ujar perempuan itu dengan manja.
"ini untuk pertama kalinya aku bermain dengan perempuan lain" ujar rey, membuat perempuan itu tertawa penuh kemenangan.
"yah, harusnya dari dulu kau seperti ini rey" perempuan itu duduk di atas pangkuan rey, membelai wajahnya dan mulai membuka kancing kemeja milik rey.
"apa aku baru terlihat menarik dimatamu sehingga kau baru mencariku rey?" perempuan itu menggerakan pinggulnya, menggoda rey.
"ah, sepertinya" rey memejamkan matanya, perempuan yang tengah bersamanya ternyata memang benar mampu memuaskan ya, meskipun belum memulai namun dia merasakan sesuatu yang berbeda.
"dimana kau akan mengeluarkannya?" tanya perempuan itu.
"mengeluarkan apa?" rey masih memejamkan matanya, menikmati gerakan pinggul milik perempuan itu.
"ini" tanpa ragu dia membelai milik rey dengan tangannya, meskipun dibalik celana namun terasa begitu menggoda.
"kemarilah" rey menarik perempuan itu lalu mulai berciuman dengannya, liar dan menuntut keduanya saling mencari kenikmatan yang ingin terpuaskan.
lanjutkan