Bimo mengayuh sepedanya di tengah sinar jahat mentari. Entah melamunkan apa dia saat itu, ia tidak sadar sudah sampai di perempatan lampu merah dan tidak sempat mengerem sepedanya. Nahas, dia sangat terlambat. Ia menghantam seorang gadis yang berhenti di depannya.
Dimensi dalam diri mereka berhenti. Namun, lampu dengan cepat berubah hijau. Sejak kejadian itu, Bimo dihantui rasa penasaran karena perempuan itu sangat familiar baginya.
Hari ini, Adeth berangkat terlalu pagi. Kelas dan sekolahnya masih sepi. Tidak lama kemudian, muncul seorang lelaki dari balik pintu kelasnya untuk meminta bantuan. Adeth terkejut melihat lelaki itu.
Hai, terima kasih sudah mampir! Jangan lupa tekan tombol suka dan vote, ya, agar saya semangat untuk berkarya setiap harinya. Bagikan juga ke teman-teman kalian, ya, siapa tahu suka, karena dukungan dari kalian semua sangat warbyasah!
Find me on social media
IG: @dernatasw or @dahelart
FB: Derna Taswara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Doris Gaverna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
023. Episode 23
Dengung mesin penyedot debu memenuhi ruangan. Bunyi tuna yang digoreng meletup-letup memecah keheningan di area restoran. Aroma masakan membaur dengan debu yang beterbangan. Angin yang berhembus dari pendingin ruangan membuat para pelayan restoran merasa sedikit sejuk.
Bimo menyemprotkan cairan pembersih ke meja dan mengelapnya sebelum cairan tersebut mengering. Sambil bersenandung, ia menuntaskan meja terakhir yang dibersihkannya. Ternyata, dirinya yang paling cepat beres-beres.
“Loh? Kok, sudah selesai?” tanyanya kebingungan sendiri.
“Iya, aku tahu kamu sudah selesai. Tapi, nggak usah sombong juga, kali.” Salah satu temannya menyindir yang mengundang gelak tawa dari orang-orang di sekitarnya.
“Maklum, lah. Kesayangan si Bos. Kalau pekerjaannya berantakan, dicabut, tuh, gelarnya.”
“Astaga, kalian semua sama saja.”
Bimo terkekeh lalu beralih dan berjalan mendekati Surya yang tengah membersihkan jendela. Ia mengambil alih kanebo yang dipegang oleh Surya.
“Bukan gitu caranya, tapi seperti ini,” terang Bimo sambil memperagakan gerakan mengelap jendela dengan baik dan benar. “Terus kalau sudah selesai, bersihkan dengan window wiper supaya saat kering tidak menimbulkan bekas tetesan air.”
Surya mengangguk-angguk paham. Ia kemudian mengikuti apa yang diajarkan Bimo. Setelah berhasil membersihkan satu jendela dengan sangat baik, dirinya bersorak gembira yang mengundang perhatian dari seluruh penjuru restoran.
“Ssst, kau mempermalukan dirimu sendiri,” desis Bimo sambil menyekap mulut Surya.
“Hehe, namanya juga senang.”
“Ya, tapi kira-kira, dong.”
Bimo dan Surya tertawa-tawa. Mereka berdua terlihat sangat asyik dengan kegiatan yang dilakukannya. Semua orang yang melihat mereka sampai tersenyum.
“Hei, Bimo!” seru seseorang tiba-tiba yang membuat mereka berhenti bercanda.
“Ya?”
“Kau dipanggil si Bos,” ujar seseorang itu santai. Seketika, atmosfer dalam diri Bimo berubah.
Salah apa aku? Apa aku membuat kekacauan? Apa aku sering terlambat? Apa aku sering membolos? Apa aku akan dipecat?
Bimo berjalan menyusuri koridor restoran. Langkahnya terasa berat. Jutaam pertanyaan terus bermunculan di benaknya. Dirinya hampir menangis. Hatinya masih belum siap menerima kemungkinan terburuk.
Ia sampai di depan pintu sebuah ruangan yang tertutup. Ia menelan ludah. Dipandangnya setiap senti pintu kayu yang bertuliskan “Boss” di depannya. Dengan hati yang dikuat-kuatkan, ia membuka kenop pintu. Derit pintu membuat tengkuk dan telinganya bergidik. Di hadapannya, si pemilik restoran duduk membelakanginya.
“Maaf, benar Bapak memanggil saya?”
Pemilik restoran itu berbalik.
“Oh, sudah datang. Sini, duduk. Ada beberapa hal yang perlu saya bicarakan dengan kamu.”
Bimo kembali menelan ludah. Ia tutup kembali pintu di belakangnya dan mendudukkan diri di kursi tepat di hadapan si Bos. Keringat dingin menjalar membasahi pelipisnya.
Si pemilik restoran memainkan dagunya. “Jadi, begini ….”
“Ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan terkait kinerja kamu selama ini,” pemilik restoran itu melihat ke arah Bimo yang tampak menengang sambil menundukkan kepala. “Kenapa kamu terlihat tegang begitu? Rileks saja.”
Bimo tertawa dengan tawaan yang terdengar sangat dipaksakan.
“Yang pertama, evaluasi untuk kinerja kamu selama ini. Saya melihat tidak ada masalah sama sekali. Kamu tidak pernah terlambat, membolos, atau melakukan kekacauan yang berarti.”
Lalu atas dasar apa aku dipanggil?
“Yang kedua, saya juga melihat tidak ada hambatan sosial padamu. Kamu mudah sekali membaur bahkan dengan orang yang lebih tua darimu, dan saya sangat mengapresiasinya.”
Kalau akan dipecat, kenapa tadi si Bos memintaku untuk mengawasi Surya?
“Dan yang terakhir, saya benar-benar berterimakasih atas kerja keras kamu selama bekerja di restoran ini. Saya juga minta maaf jika hal ini akan mengagetkan dan membuatmu syok. Saya yakin, kamu tidak akan siap menerima ini, tapi kamu harus.”
Ini dia, aku benar-benar akan dipecat.
“Kamu ….”
Kuatkan aku, Ya Tuhan!
Bimo memejamkan mata dalam-dalam. Telinganya serasa ingin menolak kenyataan jikalau pemilik restoran itu benar-benar akan memecatnya.
“Kamu saya naikkan jabatan menjadi pengelola cabang restoran yang ini. Dan untuk gajimu, jangan khawatir. Saya juga naikkan sebesar dua puluh lima persen.”
Kepala Bimo terangkat dengan cepat. Kata yang keluar dari mulut bosnya benar-benar di luar dugaan.
“Maaf? Saya tidak salah dengar, kan?”
“Oh, saya tahu!” seru pria itu sambil tertawa dan menepuk-nepuk meja. “Kamu pasti mengira akan saya pecat, kan? Mukamu tegang begitu.”
Bimo menyeringai. “Maaf, saya terlalu berlebihan.”
Pria itu berdiri lalu merapatkan jaketnya. Ia berjalan mendekari Bimo lalu menepuk bahunya sekali. “Jangan pernah berpikir hal semacam itu lagi, karena seburuk apapun kamu membayangkannya, hal itu tidak akan pernah terjadi. Kamu adalah orang yang paling saya percaya di sini.”
Dengan satu seyuman, pria itu berjalan keluar ruangan.
“Permisi, saya harus pergi ke cabang restoran yang lain. Selamat pagi.”
Bimo masing tidak mempercayai apa yang barusan dialaminya. Kemudian ia tersadar, ada satu hal yang belum ia lakukan.
“Anu,” celetuk Bimo yang membuat pria pemilik restoran itu tertahan langkahnya. “Terima kasih banyak!”
Pria itu tersenyum. “Ngomong-ngomong kalau kamu minta tambahan gaji juga, langsung bilang pada saya, ya. Hari itu juga langsung cair. Tapi jangan bilang siapa-siapa, ya. Nanti mereka iri hati padamu.”
“Sekali lagi, terima kasih banyak.” Bimo mendekat ke pria itu. Ia lalu menjabat erat tangan pria itu.
“Bukan masalah besar.”
Mereka keluar ruangan, dan pria itu beranjak pergi meninggalkan Bimo sendiri di koridor ruangan. Sebentuk kelegaan dan senyum terbentuk di wajahnya. Kini, ia merasa sedikit demi sedikit kebaikan mulai mengalir padanya.
___________________________________
Waduh, pernah nggak, sih, teman-teman dipanggil bos, guru, atau bahkan kepala sekolah di ruangannya? Hiii! Serem, ya!
Hai, terima kasih sudah mampir! Bagikan ke teman-teman kalian, ya, siapa tahu suka. Karena, dukungan dari kalian semua sangat warbyasah!
Find me on social media
IG: @dernatasw or @dahelart
FB: Derna Taswara
waahhhh
ternyata..
ada saingan mu, Deth....
adrenalin naik..
sePi (sesak pipis) thor..
😄🤣🤣
bocah Kambil itu apa ya artinya??
salken
jd inget tempo dulu pas ikut pramuka,