Tok ... tok ... tok ...
Apa yang akan kalian lakukan jika ada yang mengetuk pintu utama rumah kalian malam-malam? Membiarkannya atau beranjak untuk membukanya. Saranku lebih baik kalian acuhkan saja daripada membukanya. Aku tidak mau kejadian yang kualami terjadi pada kalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembunuhan Masal
Cerita ini hanya fiktif belaka. Tempat, karakter , dan semua yang terjadi dalam cerita hanya imajinasi dari penulis. Penulis tidak bermaksud menjelekkan pihak manapun.
.
.
.
Ahra tertawa di dalam hati, ia merasa lucu dengan mereka -Kerabat Tuan Dika dan Nyonya Tiara-. Menangis hanya karena kehilangan seseorang, mengapa sampai sebegitunya. Ahra mengejek, memaki, dan menghujat mereka di hatinya. Ia pura-pura sedih dengan menampilkan wajah sendu.
Ia tak peduli dengan orang-orang di sekelilingnya yang menyuruhnya sabar, dan juga para tetangga yang berdatangan ke rumahnya. Mereka baru saja pulang dari pemakan Tuan Dika.
Padahal sudah dikuburkan, kenapa mereka masih menangis begitu? Menyebalkan! batin Ahra mencoba sabar. Ia bahkan ingin sekali pergi istirahat ke kamar, tapi keadaan yang memaksanya tetap di ruang tamu.
Ahra menoleh ke arah pintu masuk karena mendengar perdebatan sedang terjadi. Di sana beberapa polisi sedang berdiri berhadapan dengan Nyonya Tiara. Tak lama mereka pun masuk ke dalam rumah dengan paksa, tak mempedulikan Nyonya Tiara yang melarang.
Ahra melihat ke arah polisi itu. Orang-orang -kerabat Tuan Dika dan Nyonya Tiara- yang berada dalam rumah pun melihat mereka dengan pandangan bertanya.
"Bawa dia," tegas salah seorang polisi.
Ahra terkejut mendengarnya, apalagi mereka.
"Apa yang Anda lakukan?" tanya salah satu kerabat Tuan Dika. "Mau dibawa ke mana dia?" lanjutnya.
"Harap kerjasama nya, Nyonya. Jangan menghalangi penyelidikan," ujar polisi itu.
"Apa? Berani sekali kau!" timpal salah satu kerabat Nyonya Tiara.
“Anda tahu kan, hukum bagi orang yang menghalangi penyelidikan!”
“Kau—“
“Sudahlah, jangan begitu ....” cegah orang di sebelahnya agar tidak berdebat.
Mereka yang awalnya terlihat ingin protes, jadi mencoba untuk sabar. Mereka hanya bisa mengumpat dalam hati.
Polisi-polisi itu tak peduli dengan mereka yang tak terima Ahra dibawa paksa. Dua orang polisi menyeret Ahra keluar rumah, dan polisi lainnya menghalangi keluarga agar tidak menghalangi mereka dalam penangkapan Ahra.
"Maaah," rengek Ahra mencoba melepaskan diri dari cekalan dua orang polisi yang menyeretnya keluar.
"Ahra, tidak! Lepaskan dia!" Nyonya Tiara berusaha melepaskan Ahra dari mereka.
Namun, 4 orang polisi lainnya langsung menghalangi usaha Nyonya Tiara. Kerabat yang berada di dalam langsung keluar rumah melihat apa yang terjadi. Mereka tidak bisa melakukan apapun.
"Mah!"
"Ahra!"
"Tidak, jangan bawa dia! Ahra!"
Nyonya Tiara mengejar Ahra yang sudah masuk ke mobil polisi. Ia bahkan sampai mengetuk berkali-kali pintu kaca mobil berharap Ahra dikeluarkan dari sana.
Para keluarga yang melihat Nyonya Tiara sudah histeris, apalagi saat melihat ia akan mengejar mobil itu yang sudah melaju keluar halaman rumah, langsung menahan Nyonya Tiara agar tidak bertindak gegabah.
Ahra hanya bisa melihat Nyonya Tiara yang semakin jauh darinya. Siapa yang melapor pada mereka? Paranormal itu? Anak pelayan itu? Atau gadis pengganggu itu? Batin Ahra bertanya.
Ahra lalu melihat ke arah polisi yang duduk di samping kirinya. “Pak, apa kau lupa melakukan sesuatu?”
“Apa?” Polisi itu mengernyitkan dahi. Apa yang aku lupakan?
“Kau lupa memborgol kedua tanganku,” jawabnya lalu Ahra langsung tersenyum menyeringai.
Polisi itu terkejut dengan ucapan yang baru saja Ahra lontarkan. Itu kesalahan mereka. Tanpa diduga Ahra langsung memukul hidung polisi itu dengan keras. Polisi di depannya langsung melihat ke arah belakang.
DUAK!
“Aa!” Polisi itu memegang hidungnya yang sepertinya patah.
“Apa yang kau lakukan?”
Ahra langsung menjambak rambut polisi yang duduk di sebelah kursi kemudi lalu menjedukkan kepalanya ke kaca jendela pintu mobil. Polisi satunya yang menyetir mobil langsung kelabakan.
“Kau, dasar psikopat!” Polisi itu berbelok ke arah tepi, dai ingin memberi tahu rekannya yang lain bahwa mereka dalam masalah.
“Begini yang disebut psikopat.” Ahra mengarahkan pistol ke kepala polisi yang menyetir itu.
DOR!
Polisi itu seketika tewas dan mobil langsung hilang kendali. Ahra berpegangan pada sandaran kursi mobil. Mobil mereka menabrak pohon.
Kecelakaan itu terjadi begitu cepat. Kendaraan di sana langsung berhenti, termasuk mobil polisi yang segera mendekat. Mereka keluar dari mobil dan berlari untuk menolong. Namun, saat mereka melihat ke dalam mobil, ketiga polisi itu tidak selamat akibat tembakan di kepala, leher, dan dahi. Gawatnya Ahra tidak berada di sana.
“Cepat, hubungi ambulans!” titah Ketua Tim.
DOR!
Namun sayang, polisi yang mencoba menghubungi ambulans tertembak tepat di bagian jantung dan langsung jatuh tak bernyawa. Orang-orang yang penasaran dengan apa yang terjadi, langsung berteriak ketakutan dan berlarian tidak terarah. Sedangkan para polisi langsung bersembunyi di balik mobil sambil mencari tahu di mana keberadaan penembak itu.
DOR!
Satu demi satu dari mereka tumbang, hingga hanya tersisa Ketua Tim yang bersembunyi di balik mobil yang menabrak pohon.
Ahra tersenyum mengejek. “Kau pikir, aku tidak tahu kalau kau bersembunyi di sana,” gumamnya.
Ia mengarahkan pistol itu pada mobil di depannya. Sebenarnya ia bersembunyi di balik pohon dalam hutan di pinggir jalan raya.
DOR!
DUAR!
Mobil itu meledak sesaat Ahra menembakkan peluru ke arah bensin yang bocor. Tentu polisi itu terkena ledakan dan terpental jauh dengan daging yang terbakar. “Dasar payah!” ejek Ahra.
Ia membuang pistol itu sembarang. Melihat ke arah orang-orang yang berani memotretnya diam-diam. Ia mengarahkan tangannya pada mereka. Tersenyum sinis lalu menggerakan tanggannya ke depan, menghempas orang-orang itu sampai terpental bahkan beberapa masuk ke dalam jurang.
“Jangan meremahkanku!”
Ahra dengan tenangnya berbalik lalu berjalan masuk ke dalam hutan. Tak peduli dengan kekacauan yang sudah ia buat.
---
Tuan Dimas dan Nyonya Tika langsung berlari masuk ke kantor polisi setelah sampai di tempat parkir. Mereka cepat-cepat ke ruang informasi.
“Di mana Ahra?” tanya Tuan Dimas pada polisi yang menghampiri mereka.
Ia adalah salah satu polisi yang menyelidiki laporan Tuan Dimas terhadap penyerangan yang terjadi pada Mia di rumah sakit saat itu.
“Tuan ... Anda kenapa kemari?” Bukannya menjawab, polisi itu malah balik bertanya dengan wajah terkejut.
“Aku tanya, di mana Ahra?” tanya Tuan Dimas sekali lagi menahan emosi.
“Tuan, sebaiknya Anda kembali dan jangan kemari dulu,” ucap polisi itu menasihati.
“Memang ada apa? Kenapa kalian menyuruhku pulang,” kesal Tuan Dimas.
Nyonya Tika hanya diam melihat suaminya yang hampir mengamuk itu. Daripada ia ikut dimarahi, lebih baik diam kan.
“Mereka mengalami kecelakaan,”jelasnya dengan lirih. “Polisi yang bertugas menangkap tersangka dan harus membawanya kemari ... mereka semua telah tiada,” lanjutnya.
Mereka berdua terkejut mendengarnya. “Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Nyonya Tika mewakili.
“Mereka—“
“Jadi kalian yang melaporkanku,” seru seseorang di pintu masuk.
Mereka bertiga menoleh ke sumber suara dan terkejut siapa yang datang. Bahkan orang-orang di dalam ruang informasi langsung bersiap mengeluarkan pistol mereka. Tuan Dimas dan Nyonya Tika yang masih syok langsung dilindungi oleh polisi itu –Pak Kim-.
.
.
.
Terima kasih sudah membaca
Jangan lupa tinggalkan jejak
Rate, like, comen, vote, and tap love
Sampai jumpa!
bagus sekali ceritanya 👍
seremmm weehh tp seruu