Kinara Novelya Putri
Sakit hati tidak membuat Kinar menyerah untuk melanjutkan hidupnya. Karena ia percaya, jika suatu saat nanti ia akan mendapatkan cinta yang begitu tulus dari seorang pria.
Jefan Bintang Yudhistira
Jefan yang merasa dikhianati oleh Mecca akhirnya mendekati Kinar yang ia ketahui sudah lama menaruh hati padanya.
"Sebenarnya apa sih status hubungan kita?" Tanya Kinar sangat pelan tapi Jefan masih mampu mendengarnya karena jarak mereka yang dekat.
Jefan mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Kinar. Ia diam, menunduk seakan tak memiliki keberanian untuk menatap wajah Kinar lagi.
"Kita ciuman, kamu panggil aku sayang, bahkan sikap kamu begitu manis sama aku. Tapi status hubungan kita nggak ada kejelasannya."
"Kamu sabar ya! Aku janji akan selesaikan hubungan aku sama Mecca secepat mungkin."
"Aku nggak butuh janji, Jef. Aku hanya butuh kamu jawab apa status hubungan kita selama ini?"
"Kamu maunya gimana?" Jefan membalikkan pertanyaan Kinar yang membuat Kinar kecewa dan keluar dari mobilnya begitu saja.
Akankah Kinar dan Jefan dapat bersatu dalam ikatan cinta? Akankah jalan cinta mereka mulus tanpa adanya lika-liku? Cerita selengkapnya langsung baca ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon is fitriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 23 Kebenaran dari Mecca
Tidak perlu waktu yang lama bagi Alma menemukan keberadaan Mecca. Dengan profesinya yang kini memegang usaha milik orang tuanya akan sangat mudah baginya bertemu dengan Mecca.
Tok tok tok
"Masuk!" Kata Alma kepada orang yang berada dibalik pintu ruangannya.
"Tamu yang Bu Alma tunggu sudah tiba." Siska yang merupakan asisten Alma muncul dari balik pintu.
"Langsung suruh masuk saja!"
"Baik, bu." Siska kembali keluar dan tak lama ganti seorang gadis masuk ke dalam ruangan Alma.
"Silahkan duduk!" Alma membentangkan tangannya mempersilahkan tamunya duduk di kursi yang berada di depan meja kerjanya.
Gadis itu menurut.
"Kamu sudah tau kan kenapa saya panggil ke sini?" Tanya Alma mengawali pembicaraan.
"Iya, Bu." Jawab gadis itu seraya tersenyum tipis.
"Saya ingin mengajak kamu kerja sama untuk menjadi BA produk kecantikan saya, tapi saya mau sebelum itu kamu harus melakukan satu hal untuk saya!" Ucap Alma tanpa basa basi.
"Melakukan 1 hal? Maksudnya?" Gadis itu mengernyitkan dahinya karena tidak paham dengan apa yang Alma maksud.
"Saya tau, karir kamu sekarang hancur kan karena kasus ibu kamu?" Alma menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya seraya memutar-mutarkan pena.
Gadis itu mengangguk pelan. Kemudian Alma beranjak dari tempatnya, berjalan pelan memutari gadis itu.
"Saya bisa menaikkan nama kamu lagi asal kamu mau menuruti perintah saya." Alma menjeda ucapannya. Kini ia sudah kembali berada di kursinya.
"Saya tau menjadi model adalah impian terbesar kamu kan? Sampai kamu tega meninggalkan orang yang sudah mencintai kamu." Seketika mata gadis yang tak lain adalah Mecca itu membulat.
"Kamu nggak perlu tanya, saya tau darimana. Yang perlu kamu lakukan adalah menerima tawaran saya atau menolaknya. Saya akan bayar kamu mahal jika kamu bersedia, tapi jika kamu menolak, saya tidak akan meminta untuk yang kedua kalinya." Alma menyodorkan map berwarna hijau ke depan Mecca.
Mecca nampak bingung. Di 1 sisi, ia sangat tertarik dengan penawaran itu, apalagi Alma juga menjanjikan akan menaikkan namanya lagi. Tapi disisi lain, ia masih takut untuk kembali berkarya dan muncul di hadapan publik mengingat begitu banyak bullyan yang ia terima karena kasus Mita. Hal itu juga yang menyebabkan dirinya menghilang tanpa kabar.
Setelah 15 menit berfikir, akhirnya Mecca menandatangani surat persetujuannya bekerja sama dengan Alma.
"Terima kasih, Mecca! Selamat bergabung dengan kami." Alma mengulurkan tangannya seraya tersenyum.
Mecca pun menyambut uluran tangan itu serta membalas senyuman Alma.
"Sama-sama, bu."
Alma tertawa kecil. "Maaf, Mecca jika cara bicaraku tadi mungkin membuatmu tegang."
"Tidak apa, bu."
"Tidak usah panggil ibu! Kita seumuran kok. Panggil Alma aja!" Kali ini suara Alma terdengar lebih santai ketimbang sebelum Mecca menerima tawarannya tadi.
"Tapi kan anda atasan saya."
"Oke gini aja, kalau lagi kerja saya atasan kamu dan kamu model saya. Tapi kalau di luar kerjaan kita adalah teman, gimana?" Alma kembali mengulurkan tangannya dan langsung dibalas oleh Mecca. Keduanya tersenyum.
"Lalu, apa yang bisa saya lakukan untuk bu bos ku ini?"
"Nanti malam jam 8 saya tunggu di kafe cemara. Nanti kamu akan mengerti apa yang harus kamu lakukan." Mecca mengangguk kemudian berpamitan dengan Alma.
Alma tersenyum melihat Mecca keluar dari ruangannya. Lalu, ia mengambil ponsel di atas meja kerjanya membuka aplikasi WhatsApp kemudian mengetikkan sebuah pesan.
//Jam 8 di kafe cemara. Jangan telat//
Alma membereskan beberapa file pentingnya kemudian membawanya keluar dan menyerahkan kepada Siska, asisten pribadinya.
"Siska, mungkin untuk 3 hari ke depan saya tidak bisa datang ka kantor. Saya minta kamu handle dulu ya!"
"Baik, bu!"
Alma pun melangkah keluar dari kantor yang sebenarnya adalah milik ibunya. Ia hanya bekerja di sana sekaligus mengambil alih sementara pekerjaan sang ibu yang sedang berada di luar negeri.
******
Jefan terlihat sudah rapi dengan celana jeans warna hitam serta kaos polos warna putih. Tak lupa jaket kesayangannya yang selalu ia bawa kemana mana. Wajahnya nampak lebih fresh dengan sedikit senyuman dari bibirnya.
"Cerah banget, Je. Mau kemana?" Tanya Felly yang baru muncul dari dapur dengan sekaleng minuman dingin di tangan kanannya.
"Mau ngurus masalah yang belum kelar." Jawab Jefan melangkah mendekati kakaknya kemudian menyrobot minumannya.
"Emang udah tau keberadaannya Mecca?" Jefan mengangguk karena masih asyik meneguk minuman kakaknya dan mengembalikan kalengnya yang sudah kosong kemudian berlalu begitu saja.
"Ihhh rese lo ya. Dasar adik durhaka! Gue do'ain masalah lo nggak kelar-kelar!" Teriak Felly. Seketika Jefan berbalik arah kembali menghampiri kakaknya yang sudah kesal.
"Kak, jangan gitu donk! Mau apa kalau adiknya yang cakep ini jadi gila?" Felly tersenyum melihat raut wajah adiknya yang memelas. Ia mengacak rambut Jefan kemudian menepuk-tepuk pundaknya.
"Semoga cepat berakhir ya! Supaya bisa menjemput cintamu lagi." Mata Felly mengembun membuat Jefan berhambur dalam pelukannya.
"Do'ain Jefan ya kak!"
"Pasti, dek." Felly melepas pelukannya kemudian mencium kening Jefan.
"Kakak janji akan menjelaskan semuanya sama Kinar setelah urusan kamu sama Mecca selesai. Kakak akan menebus kesalahan kakak karena sudah membuatmu hampir gila." Felly mengusap buliran air mata yang menetes ke pipinya.
Di kafe tempat Alma dan Mecca janjian, terlihat Mecca duduk di meja yang sudah Alma pesan sebelumnya. Ia menunggu hampir setengah jam, sampai akhirnya orang yang ditunggunya tiba tapi tidak sendiri, Alma bersama dengan Jefan. Seketika Mecca terkejut dengan adanya Jefan disana. Ia berdiri dari duduknya menatap Jefan gugup. Seperti orang yang ketahuan berbuat jahat.
"Hai, Me! Maaf ya udah nunggu lama." Sapa Alma diiringi senyum ramahnya.
"Iya nggak apa-apa. Aku juga belum lama kok." Balas Mecca.
Ketiga pun duduk, kemudian memesan minuman terlebih dahulu karena Alma tak mau berlama lama. Ia ingin sahabatnya itu cepat mengakhiri hubungannya yang sekian lama menggantung.
"Udah kenal sama Jefan kan, Me?" Mecca mengangguk sembari menatap Jefan yang tertunduk.
"Jefan ini sahabat aku sejak kecil, Me."
"Oh." Mecca manggut-manggut mengerti.
"Langsung aja ya, Me. Aku nggak mau basa basi. Aku udah tau tentang hubungan kalian dari Jefan. Dia udah cerita semuanya sama aku. Termasuk tentang kamu yang pergi ninggalin dia tanpa kabar. Sekarang di sini, aku kasih ruang kalian untuk bicara. Aku nggak mau ikut campur lagi. Aku hanya ingin mengantarkan sahabatku ini aja." Alma berdiri sembari menepuk pelan pundak Jefan. Kemudian berlalu dari hadapan Jefan dan Mecca.
"Kamu apa kabar, Me?"
"Baik, Jef." Mecca masih menunduk. Ia terlihat tidak berani menatap wajah Jefan.
"Kamu sendiri apa kabar?" Mecca mengangkat pandangannya. Dengan gugup menatap Jefan yang menampakkan sedikit senyuman.
"Kabar aku buruk." Jawab Jefan dengan masih tersenyum.
"Maaf, Jef."
"Untuk?"
"Untuk semuanya."
"Semuanya?" Jefan mengernyitkan dahinya. Mecca mengangguk.
"Ada sesuatu yang ingin kamu katakan?" Jefan menatap lekat mata Mecca. Terlihat dari kedua mata itu ada sebuah rahasia yang tersimpan.
Mecca kembali mengangguk.
"Kalau begitu, lebih baik kita bicara di taman depan sana!" Jefan menunjuk sebuah taman di seberang kafe tempat mereka berada sekarang.
Jefan berjalan lebih dulu baru diikuti Mecca. Sehingga membuat Jefan berada di depan dan Mecca mengikutinya di belakangnya.
Mereka duduk di bangku yang tak jauh dari jalan. Sehingga terdengar suara dari beberapa kendaraan yang lewat.
"Kabar Kinar gimana, Je?" Jefan menggelengkan kepalanya karena memang sudah 2 bulan lebih ia tidak berkomunikasi dengan Kinar.
"Maaf, Jef gara-gara aku, kamu dan Kinar jadi terluka."
"Gara-gara kamu? Maksudnya?" Jefan memutar posisi duduknya sedikit, hingga ia menghadap serong ke arah Mecca.
Terdengar tarikan nafas Mecca yang berat. Seperti ada sesuatu yang besar ingin ia sampaikan. Mecca pun juga merubah posisi duduknya jadi menghadap ke Jefan.
"Semua bermula dari mama. Mama yang minta aku buat deketin kamu setelah tau kalau Kinar suka sama kamu."
"Mama kamu? Apa hubungannya, Me?" Jefan memotong cerita Mecca yang baru dimulai.
"Aku bingung mulainya dari mana, Jef. Yang jelas aku udah manfaatin kamu demi kepentingan aku sama mama."
"Apa!" Jefan berdiri dari duduknya serta matanya membelalak mendengar pengakuan Mecca yang sudah memanfaatkannya.
"Maaf, Jef!"
"Jelasin sedetail-detailnya, Me!" Jefan kembali duduk. Ia berusaha mengatur nafasnya supaya bisa setenang mungkin mendengarkan beberapa kebenaran dari Mecca yang mungkin akan lebih membuatnya semakin tidak percaya.
"Dulu mama, tante Vina mamanya Kinar, sama om Yuda papanya Kinar mereka bersahabat sejak SMA. Mama udah suka sama om Yuda lama, tapi ternyata waktu kuliah om Yuda ngelamar tante Vina dan menikah setelah mereka lulus. Mulai dari sana mama kecewa sama om Yuda dan tante Vina. Terlebih setelah rumah tangga mereka bahagia, tidak seperti mama yang ditinggal selingkuh sama papa. Mama marah, dia bertekad akan membalas sakit hatinya lewat Kinar. Akhirnya mama mengatur rencana sebaik mungkin, mama...mama..." Mecca menjeda ceritanya karena air mata yang begitu saja mengalir deras di wajah cantiknya.
Jefan tak menanggapi apa-apa. Ia masih setia mendengar kelanjutan cerita Mecca.
"Mama memutus kabel rem yang ada di mobil om Yuda waktu mereka mau jemput Kinar buat piknik. Mereka kecelakaan dan meninggal. Setelah itu, mama nemuin Kinar dan minta Kinar buat tinggal bareng kita supaya mama lebih mudah membalaskan dendamnya. Mama mau Kinar merasakan apa yang sudah mama rasakan. Mama mau Kinar terluka karena melihat orang yang dicintainya bahagia bersama orang lain."
"Jadi kamu manfaatin aku untuk alat balas dendam mama kamu?" Bentak Jefan.
Mecca mengangguk dengan sesenggukan.
"Aku dipaksa sama mama, Jef. Sebenarnya aku nggak tega lakuin itu sama Kinar, karena aku betul-betul menganggap dia seperti saudara. Aku nggak peduli sama masa lalu mama dan orang tua Kinar. Tapi mama terus maksa aku. Sampai akhirnya aku ada kesempatan untuk menjauh dari kamu. Aku gunain kesempatan itu sebaik mungkin. Aku pergi dari kehidupan kamu dan Kinar. Tapi ternyata semua tak sebaik yang aku duga. Mama menyesali perbuatannya dan dia menyerahkan diri ke pihak yang berwajib. Mama ditahan dan semua kontrak aku dibatalkan sepihak. Karirku hancur, hidupku juga berantakan. Tapi aku sadar semua ini adalah balasan dari perbuatan burukku dan mama. Maafin aku, Jef!" Mecca menutup wajahnya yang sudah berlinang air mata. Jefan merangkul gadis itu dalam pelukannya. Amarah yang tadinya memuncak seketika mereda setelah mendengar penjelasan dari Mecca.
"Sebenarnya kamu nggak perlu tungguin aku untuk bersama Kinar karena kalian berhak bahagia."
"Kamu mau kan bantu aku jelasin sama Kinar?"
"Tanpa kamu minta, aku akan ceritain semua kebenaran ini sama Kinar. Kamu bisa temuin aku sama dia?"
Jefan mengangguk. Padahal ia masih belum yakin untuk menemui Kinar setelah begitu banyak luka yang ia goreskan kepada gadis itu. Tapi demi kebaikan semua, Ia meyakinkan dirinya sendiri. Ia akan mengatur pertemuannya bersama Mecca dan Kinar tentunya dengan bantuan Alma ataupun Felly.
cuma sangat disayangkan,, alurnya muter muter..
selalu diceritakan lagi dan lagi, bisa 1 bab tu yg muter..
semoga kedepan lebih baik lagi.. semangat
-POSESSIVE PILOT
-"AFFAIR WITH UNCLE++"
-My best friend's Daddy is my husband
-Pengantin Pengganti Tersakiti