Kau pernah begitu mencintai namun pada akhirnya kau bukan pilihannya?
Kau pernah amat sangat ingin bersanding dengannya tapi harus berpisah. Sudah lupakan, lihat cerita kita saat ini. Akan segera kuceritakan prihal hal baik dan buruknya kita saat mencintai.
Yang menjadi Kita, "Bukan."
-ReviieAufiar
Cerita ini hanyalah keresahan yang terjadi di kalangan anak muda. Maraknya Ghosting, Benching, Overthingkin dll
Cover Pinterest or Royal Blood
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reviie Aufiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Kalkulasi Waktu
Jika bagimu mencintai itu mudah, seni pertahan harus segera kau kukuhkan karena banyak orang yang bisa mencintai namun sulit mempertahankan rasa.
Batas kalkulasi waktu itu apa? Akankah perasaan itu memiliki batas waktu? Dari perasaan datar atau perasaan yang harus serempak ingin dimiliki akan sesuatu yang mengacu ketidakmungkinan atau suatu kemungkinan yang ada.
Jika kau terjebak di suatu kondisi yang ada, apa yang akan kau lakukan setelahnya?
Pengakuan tak diakui kayaknya sama halnya perasaan memiliki tapi tak benar-benar memiliki. Aku terlalu jatuh cinta sampai-sampai tak sanggup menganggapmu tidak ada. Dicintai dengan seksama, alunan lagu yang mulai nyata
Tapi buat apa? Segala macam cara telah kulakukan kau tetap terlepas dari genggam. Baiklah ingin segera ku ikhlaskan namun sangat sulit; bolehkah?
Banyak dari pikirku melayang ketika melihat paras wajahmu. Ingin selalu ku bersamamu, namun apa daya, kita berada dalam zona waktu dengan tenggang sejam lebih maju di tempatmu lalu dengan jarak yang kian membentang, daratan yang kita pijak pun tak sama; yang sama hanyalah satu. Yaitu bumi tempat kita bernaung benar sama adanya.
Sesak bukan main, Wahh ingin segera kupeluk mesra dingin tersebut kuharap ia segera menyambut hangat diriku,
Semua cepat sekali berlalu dan akan kah menjadi masa yang lalu. Aku tak tau sejak kapan aku mulai merasakan suka cita di dada. Yang ku tau aku ada, kau pun sama.
Dan ternyata pemilik hatimu telah berpindah sedangkan aku masih satu dan masih sama yaitu kamu.
Gadis itu masih menatap layar ponselnya dengan ekspresi kaget disertai bahagia.
"Astaga Jie, kelihatannya yang kutunggu-tunggu sudah datang memberikan kejutan." Memperlihatkan isi teleponnya.
"Hala hilang timbul dah kayak barongsai." Celetusnya.
"Yaudah buruang gi anterin gue ke lokasi shooting di pinggiran Jakarta. Entar telat pula gua nungguin lo marah-marahin gue dari A sampai Z." Jawab Rere cepat tanpa memberikan kesempatan lelaki itu untuk memotong bicaranya.
Di lokasi shooting.
Seperti biasa kegiatan soreku kali ini super padat namun tak membuat diriku patah semangat karena dia ada, dia telah kembali dan dia disini. Sambil meremas skrip film yang digulung di tangan sedikit meremasnya dan menatap layar disamping Pak Ahmad.
"Iyaaa. Cut. Hari ini selesai ya." Ucapnya.
"Para kru bersuka riang termasuk aku. Gumam dalam hati dan memperhatikan sekitar. Pak saya duluan balik ya." Ucap Rere memasukkan segala macam berkas dan laptopnya kembali ke dalam tas.
"Kok cepat sekali Re. Kitakan mau buat acara makan-makan malam ni." Ucap Pak Sutradara.
"Yah Pak tundah 2 hari lagi bisa. Sekalian aku siapi. Berkas ni. Menunjuk tasnya. Jadikan segala sesuatunya gak perlu ngabisin banyak dana untuk kegiatan lagi." Menyarankan.
"Hmm. Benar juga ya. Saya juga sudah lama gak liat Afran." Pungkas lelaki itu.
"Pak gimana kalau kita adakan caranya di Coffe shopnya aja." Mengusulkan.
"Ahh ide yang bagus, kemarin saya juga gak sempat singgah di openingnya, haha." Tertawa kecil.
"Baiklah pak nanti akan saya bantu atur saya izin pergi dulu ya pak." Melambai dengan senyuman.
"Hati-hati ya." Ucap lelaki itu.
Gadis itu melambai dari kejauhan, seperti biasa dia menunggu di halte bus. Duduk dengan mengetuk-ngetuk kedua sisi sepatunya dan mendengarkan alunan musik yang menenangkannya.
Raut wajahnya sangat menikmati setiap hal yang sedang ia lalui saat ini. Seseorang yang lama menghilang itu kembali lagi.
"Astaga mata gue masih agak sembab. Melihat cermin kecil dan meneteskan obat mata ke matanya. Cuaca kali ini bagus sekali ya." Menatap ke arah langit memandangnya dengan senyuman.
Seorang lelaki datang ke hadapannya dan menutupi cahaya matahari yang menyilau kearah wajahnya. Mata mereka saling menatap.
"Udah lama ya?" Tanya lelaki itu yang ada di hadapannya.
Gadis itu hanya menggeleng dan menatap lelaki itu lalu memeluknya.
"Hey, kamu kenapa?" Tanyanya lembut sambil mengelus kepalanya.
"Rindu, dasar manusia jahat." Menangis masih memeluk lelaki itu.
"Hey ayolah, kalau dilihat teman satu project film nantikan jadi malu." Lelaki itu menggaruk kepalanya.
Gadis itu melepaskan pelukannya dan menunduk. Spontan lelaki itu berlutut dengan satu kaki menopang tubuhnya dan menghapus tangis gadis itu lalu menyentil dahinya.
"Dasar manja." Tersenyum jahil.
"Aduhh." Memegang dahinya.
"Ayo berdiri. Sambil mengulurkan tangannya. Atau mau ku gendong." Tawanya kecil.
"Dasar kamu." Menjabat uluran tangan lelaki itu.
Emosi dari rasamu menari-nari dengannya sosok yang membersamaimu saat ini. Emosi rasaku terbelenggu sesak dalam dada yang mendalam tanpa mampu berucap sepatah kata.
Sangat ingin kulepaskan namun aku tak cukup mampu tuh segera merelakan hati yang kerap sekali memberikan cinta namun sekarang memilu tanpa perlu ditunggu. Ku harap cepat berlalu agar aku tak tersiksa dengan rindu.
Menatap wajah lelaki itu yang selalu saja santai menghadapi segala sesuatunya yang pelik lain hal dengan diriku.
Lelaki itu mendekat dan mataku segera terpejam.
"Sabuk pengamannya bunda, dipasang donk." Sambil mencubit pipi cabinya.
Gadis itu memiringkan badannya kekiri.
"Fiuh. Menghela nafas pelan. Astaga Rere." Menjedotkan kecil kepalanya ke pintu mobil lalu kembali menatap lelaki itu.
Jangan menungguku, aku ini rumit. Selalu saja lupa, selalu saja egois dari berfikir hingga bertingkah laku. Biar aku saja yang menunggumu.
Aku ingin cepat datang dan tak tergesa-gesa perihal kepergian. Pada kenyataannya aku yang ingin segera meninggalkan namun aku yang terlebih dahulu ditinggalkan.
Kata-kata sepenggal itu berhasil memenggal perasaan yang ada. Baiklah jangan menunggu, berlakulah sesukamu. Aku tak mau kamu terluka. Sungguh.
Jangan memberi aku ruang kumohon. Biarkan dia mati sekalian jangan hidupkan lagi. Sumpah gak enak banget perasaan janggal yang kerap sekali mengganggu.
Jangan terlalu banyak tanya, aku saja tak tau hatiku bagaimana bagaimana dengan hatimu. Astaga jangan memburuku, sungguh aku lelah dengan rasa.
…
"Wajah lo kok lesu hari ini Yo, gak bersemangat?" Tanya lelaki itu sambil mengelap meja.
"Ah mungkin kelelahan." Pungkasnya kembali berkonsentrasi.
"Keluar dulu sana, ke balkon atas menghirup udara segar." Menyarankan.
"Gua tinggal bentar ya Fran." Pergi meninggalkan bartender dengan membawa secangkir kopi dan ke balkon atas.
Dengan perlahan dia menghembuskan asap rokoknya dan bersandar tepat di sebuah sudut dengan menaikkan satu lakinya.
"Mungkin salahku waktu itu aku tak langsung memberikannya jawaban dan membina hubungan dengannya. Mungkin dia takkan menolakku dan takkan bersama orang lain. Menghisap sebatang rokok itu perlahan dan menghembuskannya kembali. Kalau saja ada kesempatan untuk menebusnya aku akan lakukan segala macam caranya. Astaga. Membuka kacamatanya dan mengucek nya lalu menjatuhkan diri dan duduk di lantai memandangi banyak bintang. Setidaknya malam ini lebih indah." Mengeluarkan hp dari ponselnya, namun gadis itu sama sekali belum membalas chatnya.