Menikah adalah suatu yang sakrar yang dinanti-nantikan oleh semua umat manusia dan merupakan salah satu ibadah. Menikah? yang pasti mereka ingin menikah dengan orang yang mereka cintai dan sayangi. Lalu bagaimana dengan zahra yang menikah bukan karena cinta. ini bukan pernikahan karena cinta dan bukan juga pernikahan karena perjodohan.. lalu pernikahan apa ini? ya pernikahan paksa oleh lelaki bejat. lelaki ini bukan mencintai zahra tapi untuk menikmati tubuh zahra. ya Zahra menikahi lelaki yang hampir saja memperkosannya.
lalu bagaimana pernikahan ini bisa terjadi?
dan apa yang akan terjadi setelah pernikahan ini? apa zahra akan membiarkan lelaki ini menjamahnya karena statusnya sudah menjadi suami zahra apalagi bagi zahra yang alim dan mengenal agama? apakah mereka akan bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erni Permata Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Misteri
"Begitulah ceritanya nyonya" jelas Doni.
Endah hanya menenangkan Zahra yang tidak henti menangis dengan mengusap punggung Zahra.
Zahra mengengam tangan Endah yang ada di bahunya.
"Dia pasti sembuhkan, Ndah?" tanya Zahra lirih.
"Tuan orang yang kuat nyonya. Ia pasti sembuh" ujar Doni.
" Kami percaya tuan kami pasti sembuh nyonya" jawab Endah.
Hiks hiks tangis Zahra pecah.
"Ayo nyonya. Saya antarkan ke kamar untuk beristirahat" ujar Endah mendorong kursi Zahra keluar kamar Doni.
"Iya. Aku butuh istirahat. Semoga kau cepat sembuh Don dan terima kasih" ujar Zahra sebelum keluar
"Sama-sama nyonya"
"Ndah, yang sakit lain dimana?" tanya Zahra
"Fahri ada di ruangan depan. Yang lainya di ruangan sampingnya".
"Bagaimana dengan fahri ndah?"
"Belum sadar nyonya. Nyonya mau melihat Fahri ?"
"Iya" jawab zahra
Zahra diruangan Fahri keadaanya hampir sama dengan Sofian masih belum sadar.
Diruang Fahri ada dokter juga.
"Bagaimana keadaanya dok?" tanya Zahra
"Fahri sudah melewati masa krisisnya. Insya Allah ia akan cepat sadar. Nyonya tidak perlu kawatir" jelas dokternya itu
"Terima kasih dok" Zahra
"*Te*rima kasih. Cepat sembuh ri. Maafin saya"
batin zahra
"Ndah tolong ketempat yang lain"
"Baik nyonya"
Endah mendorong Zahra keruangan lainnya
Saat Zahra masuk semuanya langsung berdiri memberi hormat
"Nyonya kenapa kemari?" tanya salah seorang didalam (Brian).
"Kalian istirahat saja. Aku hanya ingin tau keadaan kalian"
"Kami baik-baik saja nyonya" ujar laki-laki lainnya (Soleh).
"Kau Ndah kenapa membiarkan nyonya kesini bukan menyuruhnya istirahat" marah Brian.
Ambri hanya tersenyum. Endah bingung.
"Kau juga Mbri bukan menjaga nyonya. Doni masih sakit ini jadi tugasmu" omel this m
Ambri menarik senyumnya berubah kusut.
Zahra tersenyum.
"Kalian sudah seperti keluarga yang bahagia" ujar Zahra senang.
"Kami bahagia juga karena tuan Sofian. tuanlah yang memberi kami rumah, makan dan juga keluarga" ujar Soleh
Yang dianggukan semua orang yang ada diruangan itu.
"Lalu kenapa dulu kalian pada diam di depanku" ujar Zahra. Karena selama ini semua orang bermuka datar.
Mereka saling pandang-pandangan
"Kenapa tidak ada yang menjawab? apa pertanyaanku sulit?"
"Semua di suruh tuan. Kami tidak ada yang berani melawannya. Kami takut jika tuan marah dan sangat menyeramkan dan yang tidak kami suka tuan menyakiti dirinya" jawab Ambri.
"Tapi nyonya itu semua pasti ada alasan. Semua alasan hanya tuan yang tau" lanjut Endah.
"Baiklah. Ndah antar aku keluar. Maaf telah membuat kalian terluka semoga cepat sembuh"
"Terima kasih nyonya"
"sama- sama nyonya"
"Tidak masalah nyonya" jawab mereka
"Apa kalian bisa tidak memangilku nyonya?" ujar zahra yang mulai risih dipanggil nyonya
"Anda istri tuan maka anda nyonya kami" jawab Soleh.
"Ternyata tuan sama nyonya sama" celetuk Bagas
"HA?" - Zahra
"Tuan dulu juga tidak mau dipanggil tuan, tapi akhirnya terpaksa mau dipangil tuan" ujar Endah.
"Terlalu banyak misteri" ucap Zahra pelan tanpa sadar.
"Ya? Apa nyonya mengucapkan sesuatu?" tanya Endah.
"Oh ya. Siapa yang bersama tuan terkena ledakan bom? Apa dia baik-baik saja?"
"Dia baik-baik saja, nyonya. Dia hanya lecet, tuan juga harusnya baik-baik saja. Cuma karena terpental dan terkena batu di kepala tuan yang membuat tuan terluka parah" Ujar Ambri.
"Dimana orangnya?" Tanya Zahra
"Saya baik-baik saja nyonya. Terima kasih atas pengertiannya. Maaf saya tidak bisa menjaga tuan dengan baik" Ujar Bali sedih
"Aku yang harusnya berterima kasih karena kau baik-baik saja"
"Iya semua berkat tuan nyonya. Saat ledakan tiba-tiba tuan mendorongku menjauh. Kalau tidak mungkin aku... Semua salah saya nyonya"
"Jangan salahkan dirimu. Kau sudah melakukan yang terbaik"
"Sebaiknya nyonya istirahat. Tidak baik untuk kesehatan nyonya dan bayi nyonya" ucap Ambri
"Iya. Ayo Nya keluar. Terima kasih" jawab Zahra
Endah memdorong pergi.
"Hati-hati nyonya" ucap mereka kompak. Zahra hanya menjawab dengan senyuman
Di lorong rumah sakit.
"andah bisa tingalkan saya sendiri?" tanya Zahra. Ia butuh waktu sendiri untuk berfikir. Terlalu banyak teka-teki yang menghampiri hidupnya sekarang yang membuat kepalanya pusing.
" Tapi nyonya anda..."
"Aku mohon, Ndah. Aku akan jaga diri kok" potong Zahra menyakinkan.
"Baiklah nyonya kalau memang nyonya memaksa. Nyonya pasti butuh waktu" ujar Endah.
"Jika nyonya butuh apa-apa panggil kami. kami tidak jauh" lanjut Ambri.
Semua pergi meninggalkan Zahra sendiri.
Zahra termenung seakan kepalanya penuh. memorinya berputar dari awal bertemu Sofian sampai saat ini. Kadang ada takut dan sedih yang menemani. Selain sedih ada juga bahagia. Zahra akan tersenyum saat teringat Sofian yang manja dan suka mengodanya. Senyum dengan air mata yang bersamaan terukir di wajah Zahra. Untung lorong ini sepi sehinga Zahra tidak akan malu karena menangis karena ingat keadaan Sofian sekarang.
"*M*as kau harus bangun. Kau harus menjelaskan semuanya. Ya Allah tolong sembuhkanlah suamiku. Ya Allah aku memohon padamu" Zahra terus berdoa agar tuhannya memberikan kesehatan pada suaminya.
Terlalu banyak yang harus di fikirkan Zahra dan air mata sehinga kepala Zahra pusing.
Zahra memijit-mijit kepalannya yang pening.
Kemudian setelah agak mendingan Zahra mengelus perutnya.
"Nak, yang sehat ya di dalam sana. Bunda yakin anak-anak bunda kuat. Nak, tolong doakan ayah ya untuk cepat sembuh ya. hiks hiks"
Zahra menghapus air matanya dan menjenderkan tubuhnya di kursi rodanya. Zahra menutup mata mencoba menenangkan diri agar ia tetap kuat. Zahra menarik napas dalam dan menghembuskannya berkali-kali.
Tanpa Zahra sadari ada yang memperhatikannya dari jauh.
orang itu seakan mengenal Zahra. Namun orang ini masih tidak yakin. Sehinga ia terus memperhatikan Zahra.
Orang itu mendekati Zahra dan memperhatikan Zahra yang masih menutup mata.
Setelah menghembuskan nafas berkali-kali Zahra membuka matanya. Dan kaget karena ada seorang laki-laki dengan jas dokter putihnya yang melihatnya tidak percaya.
"Maaf?" tanya Zahra mencoba menyadarkan dokter yang memandangnya.
"Kau..." kata dokter itu berhenti dan terus menatap Zahra.
"Apa kita saling mengenal, dok?" tanya Zahra yang bingung.
Zahra memperhatikan orang itu.
"Siapa orang ini? tapi seperti aku mengenalnya?"
Memori masa kecil keluar di kepala Zahra.
"Apa... apa kau ian?" tanya Zahra pada orang itu.
######
siapa ya ian?
apa calon jadi pelakor?
orang yang suka zahra?
apa zahra yang suka ian?
autor kasih tau
Ian adalah cinta pertama Zahra dan Ian juga mencintai Zahra, sangat sangat mencintai Zahra. Bahkan selama ini selalu mencari Zahra kemana-mana.
heheh penasaran
see you next time