Nama gue Zahra pindahan dari Jakarta ke Bandung, semenjak perusahaan Bokap gue bangkrut akhirnya gue dan keluarga putuskan sekolah di Bandung dan menemukan cinta sejati gue di Bandung. yang susah banget meluluhkan hati pria ini sampai gue bisa mendapatkan hatinya. cinta gue penuh rintangan yang harus kita berdua hadapi.. mau tau lanjut ceritanya mampir dulu yuk ke cerita yuli cinta cowok dingin.
happy reading ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuli sumarni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25
Bima pun seperti biasa berangkat kerja. Gue membeli sayur, tapi hanya tempe sama tahu aja yang gue bisa.
"Neng, kok belanjanya tempe tahu aja?" tanya Ibu yang membeli sayur.
"Iya Bu, lagi pengen aja." Jawab gue sambil tersenyum.
"Lagi isi kali Neng, he-he." Sahut Ibu lagi sambil senyum.
"Isi apa Bu?" jawab gue heran dan bingung.
"Aduh si Eneng polos banget jadi pengantin baru, hamil Neng." Jawab si Ibu.
"Mungkin Bu, soalnya belum periksa." Jawab gue malu-malu.
"Periksa atuh Neng! biar jelas." Perintah Ibu itu.
Gue kan beli tahu, tempe, karena emang gue gak bisa masak. Bukan hamil he-he.
Gue pun kembali ke kontrakan, dan memulai memasak. Bima sudah banyak mengajarkan gue memasak. Gak lama ada suara mengetuk pintu, gue pun membukanya.
Saat gue membuka pintu, gue terkejut ternyata Nyokap gue datang. Nyokap tahu alamat rumah gue dari Manda. Nyokap kaget dan menangis memeluk gue.
"Mamah!" gue terkejut dan kaget.
"Sayang, ya Allah Nak, Mamah kangen sama kamu." Nyokap memeluk gue dan memegang pipi gue. Gue pun sama kangen Nyokap gue. Gue menangis saat melihat Nyokap.
"Gimana keadaanmu? bayimu?" Nyokap memegang perut gue dan melihat gue hanya memasak tempe dan tahu.
"Baik-baik aja Mah, Bima pun sudah bekerja." Jawab gue gugup masalah bayi.
"Alhamdulillah, kalau Bima Sudah bekerja."
"Kenapa perut kamu belum terlihat Nak? terus kenapa kamu hanya memasak tempe?" tanya Nyokap gue.
"Sudah di periksa kok Mah, memang kecil, kandungan aku sehat-sehat saja Mah." Jawab gue agak tegang.
"Bima kerja di mana?" tanya Nyokap gue.
"Di restoran Mah." Jawab gue.
"Syukur Alhamdulillah, Mamah senang mendengarnya." Nyokap gue tersenyum. Nyokap ke rumah gue tanpa sepengetahuan Bokap. Karena Nyokap tidak bisa menahan rindu, dan akhirnya diam-diam ke rumah. Nyokap membantu gue memasak dan mengajari gue. Gue sangat senang andaikan Bokap mau menerima gue dan Bima, pasti bisa berkumpul bersama.
****
"Ah, masa sih Bima sudah menikah?" tanya Uci.
"Iya Ci, dia bilang sendiri ke gue." Jawab Nanda.
"Kirain belum, ganteng-ganteng udah nikah he-he." Sahut Uci memegang dagunya.
"Biarin si Yohana kaget he-he." Jawab Nanda.
"Sssttt... nanti dia dengar! sahut Uci berkedip.
"Hai, pada ngobrol aja! kalian gak break? biar gue gantiin di sini! jawab Bima.
"Bim, lo emang udah nikah? udah punya anak belum? kok gak kelihatan udah nikah sih? he-he." Tanya Uci.
"Udah kok, kalau anak belum." Jawab Bima sambil tersenyum.
Sudah jam sembilan kok Bima belum pulang yah? gue khawatir.
****
Gue gelisah menunggu Bima, sampai gue tertidur lelap di kasur. Jam sebelas malam Bima baru pulang, dia lembur karena ramai.
untungnya, Bima membawa kunci serep, jadi kalau Bima pulang malam bisa masuk ke rumah tanpa membangunkan gue.
Ya Allah sayang, maafin aku yah pulang malam gini, resiko kerja di restoran. Gak tega membangunkannya.
Gue terbangun, saat Bima mencium kening gue. Gue langsung mengambil nasi dan lauk untuk Bima.
"Sayang, kamu mau apa? maafin aku pulang malam dan mengganggu kamu tidur." Sahut Bima menarik tangan gue.
"Aku mau ambil kamu nasi dan lauk, pasti kamu lapar." Gue menatap Bima sambil menguap.
"Sayang gak usah! aku bisa ambil sendiri, kamu tidur lagi yah! ngantuk gitu." Bantah Bima.
"Gak apa-apa sayang, ini kan kewajiban aku sebagai istri, kamu cuci muka aja, cuci tangan, ganti baju! biar makan aku siapin." Jawab gue sambil berjalan ke dapur.
"Sayang, terima kasih yah! aku bangga punya istri seperti kamu, wow orek tempe? ini kamu yang masak?" tanya Bima menatap gue.
"Bukan, tadi Mamah datang ke sini, ia kangen sama aku." Jawab gue menunduk.
"Sama Papah?" tanya Bima kembali.
"Mamah hanya sendiri, Papah masih belum menerima kita, dia datang tanpa sepengetahuan Papah." Jawab gue pelan.
"Mmm..." Bima tidak berkata apa-apa lagi, hanya mengangguk sambil mengunyah.
"Kamu marah yah?" tanya gue sambil menatap Bima.
"Hah? enggak kok." Jawab Bima singkat.
"Kok jawabnya begitu?" tanya gue.
"Harus gimana sayang? aku gak marah, aku senang Mamah datang, meskipun sendiri datangnya." Bima menatap gue sambil meneguk air. Gue membereskan semua piring, dan langsung masuk kamar.
"Hey, kamu kenapa lagi? aku gak marah, hanya sedih aja sampai sekarang Papah kamu gak bisa nerima aku." Jawab Bima.
"Artinya kamu kepikiran, dan kamu kesal, iya kan?" gue sambil membalikan badan.
"Hey, sini lihat aku! sayang,, lihat aku! aku gak kesal, aku gak marah, aku hanya sedih sampai kapan Papah nerima aku, itu aja." Jawab Bima sambil memegang pipi gue.
"Kamu yang sabar, aku yakin Papah bakal nerima kita." Gue tersenyum dan memegang pipi tangan Bima.
"Iya sayang." Bima tersenyum dan menatap gue.
"Kamu tahu gak? tadi pas aku belanja, aku beli hanya tempe, tahu aja di sangka hamil sama Ibu-ibu, ngidam gitu, padahal aku beli tempe, tahu karena gak bisa masak, he-he...." gue bercerita ke Bima.
"Haha,, nanti aku libur belajar masak lagi yah! aku berharap kamu hamil sayang secepatnya." Sahut Bima tertawa dan memegang perut gue.
"Aamiin.." gue tersenyum dan berdoa.
"Kamu masih ngantuk gak?" tanya Bima sambil memberi kode dan mengedipkan mata.
"Udah enggak, apaan sih genit." Gue tersenyum manja.
Malam semakin dingin, hujan pun turun sangat deras. dinginnya malam membuat Bima bergairah. Gue pun merasakan kehangatan cinta dalam pelukan Bima.
Pagi pun tiba, gue terbangun merasakan badan pegal-pegal dan lemas. Efek terlalu lama bercinta sama Bima. Tapi gue senang melakukannya karena sama-sama cinta, demi Bima gue pasrah dan rela berkali-kali walaupun semua terasa sakit, karena surga istri di telapak kaki suami.
"Sayang kamu sudah bangun? kalau capek tidur lagi aja, maafin aku yah!" sahut Bima yang masih setengah sadar.
"Kenapa kamu minta maaf, ini kan sudah tugas aku melayani suami, kita mandi salat subuh dulu yuk!" ajak gue.
Gue dan Bima salat berjamaah, rasanya hati tenang. Setelah selesai salat, gue mencoba memasak orek tempe yang kemaren Nyokap buat. sedangkan Bima sehabis salat, tidur kembali.
Akhirnya gue bisa memasak untuk Bima, meskipun tak seenak Nyokap. Selesai memasak gue memasak nasi. Ternyata berat jadi Ibu rumah tangga, ini lah yang Nyokap gue rasakan dulu. Pekerjaan dan memasak selesai hanya menunggu nasi matang. Gue ketiduran Bima tidak tega melihat gue kecapean, Bima mengangkat gue ke kasur. sampai lelapnya tidur di angkat pun gak berasa.
Kasian istriku, gara-gara terlalu nafsu jadi begini istriku. maafin aku ya sayang, aku sayang banget sama kamu. Aku bahagia punya istri soleha seperti kamu. Aku gak akan pernah sakitin kamu, sekali pun ada yang menyakiti kamu, berhadapan dengan gue.
*BERSAMBUNG*
tetap semangat ya neng💪💪