NovelToon NovelToon
Aku (Bukan) Selingkuhan

Aku (Bukan) Selingkuhan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Action / Contest / Tamat
Popularitas:913.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Monica Dewi

Jesslyn telah menikah selama satu tahun dengan Peter, tetapi ia malah hamil dengan pria lain. Berselingkuh? Tidak, ia tidak berselingkuh. Peter sendirilah yang telah tega melemparkan istrinya itu ke ranjang Jayden--seorang bos besar dalam dunia bisnis--demi menyelamatkan perusahaannya.

Namun, siapa sangka jika Jayden malah jatuh hati pada wanita cinta satu malamnya itu. Dengan berbagai cara, Jayden pun berusaha untuk merebut Jesslyn dan bayinya dari tangan Peter.

Berhasilkah rencana Jayden?
Ataukah Jesslyn akan memaafkan perbuatan Peter dan tetap mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Monica Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Dokter Tampan

Ruangan Presdir

"Duduklah." Tunjuk Jayden ke arah sofa agar Jesslyn duduk di sana.

"Presdir Zhou, aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil. Aku akan kembali ke ruanganku."

Jesslyn menyesal masuk ke ruangan Jayden dan menyetujui usulannya, karena Jesslyn merasa semakin canggung dengan situasi mereka yang hanya berdua di ruangan tertutup ini. Apalagi kini semua rekannya dan juga Steve sedang makan siang, jadi hanya ada mereka berdua di lantai ini.

Jika Jayden berbuat macam-macam dengannya, maka tidak akan ada yang menolongnya. Terlebih lagi ruangan Jayden pun kedap suara. Namun, Jesslyn tidak mengetahui jika ternyata para rekan kerjanya itu sudah kembali ke ruangan mereka, dan melihat kedekatan antara Jayden dan Jesslyn tadi.

"Berhenti di sana, atau aku akan memotong sebulan gajimu!" titah Jayden menghentikan langkah Jesslyn.

"Apa? Anda tidak bisa melakukan hal itu padaku. Memangnya apa salahku?"

"Karena kau tidak mematuhi atasanmu."

"Apa? Tetapi, ini bukan dalam konteks pekerjaan. Lagi pula sekarang adalah jam makan siang, yang berarti ini adalah waktu istirahatku. Jadi aku tidak perlu mematuhi ucapan Anda. Perbuatan Anda itu tidaklah dibenarkan karena tidak sesuai dengan peraturan."

"Heh! Kau mau coba?" tantang Jayden. "Akulah peraturan di Zhou Corp. Aku bisa melakukan apa pun sesuai keinginanku. Keluarlah dari ruanganku dan kau akan bekerja tanpa gaji bulan ini."

"Apa?!"

Jesslyn menutup mulutnya karena tanpa sadar ia memang terus berkata 'apa' sejak tadi. Namun, ini semua adalah karena Jayden yang selalu mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal. Jayden pun kembali tertawa melihat tingkah Jesslyn.

"Mengapa diam saja? Jika kau tidak mau keluar, maka duduklah. Aku segera kembali."

Jayden berjalan ke arah ruangan istirahatnya dan sesaat kemudian ia pun kembali dengan membawa sebuah kotak obat. Namun, melihat Jesslyn yang masih terpaku di dekat pintu, tidak keluar dari ruangannya, tetapi juga tidak mau duduk di sofa itu, maka Jayden pun kembali berujar.

"Mengapa sulit sekali memintamu untuk duduk di sofa itu? Apa perlu aku menggendongmu dari sana dan membawamu duduk di pangkuanku?"

"Ap ...?!"

Jesslyn segera menghentikan ucapannya karena ia baru saja akan mengatakan 'apa' lagi. Sementara Jayden lagi-lagi tertawa dengan kencang. Ia merasa hari ini sangatlah menyenangkan. Jayden bahkan lupa bahwa ia belum makan siang sekarang.

"Mengapa kau menghentikan ucapanmu? Lanjutkan saja 'apa'-nya," ujar Jayden seraya masih terus tertawa.

'Dasar pria menyebalkan!'

"Sudah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Ayo, duduklah. Jika tidak, maka aku benar-benar akan memotong gajimu."

Jayden menepuk-nepuk sofa di sebelahnya agar Jesslyn duduk. Akhirnya, Jesslyn melangkahkan kakinya dan duduk di sebelah Jayden. Pria itu pun kemudian membersihkan luka Jesslyn dan segera mengoleskan obat ke lengannya yang terluka.

Jesslyn pun merasakan sensasi dingin saat salep obat itu menyentuh luka bakarnya. Namun, pergelangan tangannya terasa hangat karena sentuhan jemari Jayden yang sedang memegangnya dengan erat.

"Apakah sakit?"

"Tidak."

Jesslyn menggelengkan kepalanya. Ia kemudian memperhatikan Jayden yang sedang memperlakukannya dengan sangat lembut, seolah ia adalah sebuah boneka porselen yang mudah retak dan pecah. Jesslyn sungguh tidak menduga akan mendapatkan perlakuan lembut ini dari seorang Jayden Zhou bos besar Zhou Corp.

"Apakah ada sesuatu di wajahku?" tanya Jayden lagi, yang menyadari jika Jesslyn terus menatapnya lekat sejak tadi.

"Apa?"

"Mengapa kau terus menatapku? Apa kau terpesona padaku, Sekretaris Jiang?"

"Tidak!" jawab Jesslyn cepat dan segera menundukkan wajahnya. Namun, Jayden dapat menangkap rona kemerahan di wajah sekretarisnya itu.

'Apa dia sedang tersipu? Sial! Dia menggemaskan sekali.'

Jayden tersenyum karena kini jantungnya kembali berdebar kencang melihat tingkah Jesslyn yang malu-malu, karena ia memergoki wanita itu yang sedang menatapnya.

Jayden pun menutup mulutnya dan tak ingin menggoda Jesslyn lagi. Ia kemudian memfokuskan dirinya untuk membalut luka Jesslyn dengan benar. Karena selain agar luka itu tidak terpapar bakteri atau terkena infeksi, ia juga harus mengalihkan pikirannya dan menahan dirinya agar tidak menyeret wanita ini ke kamarnya dan menerkamnya.

"Selesai," ujar Jayden seraya meletakkan gunting yang ia gunakan untuk memotong perban Jesslyn tadi.

"Oleskan lagi obat ini nanti malam saat kau akan tidur, dan jangan lupa ganti perbanmu secara berkala."

Jayden memberikan salep obat itu kepada Jesslyn. Jesslyn pun menerimanya dan segera berdiri.

"Terima kasih, Presdir Zhou."

"Mau kemana kamu?" tanya Jayden menghentikan langkah Jesslyn yang berniat untuk pergi dari ruangannya.

"Aku ingin kembali ke ruanganku." Tunjuk Jesslyn ke arah pintu.

"Apa aku sudah memberimu izin untuk pergi? Aku baru saja mengobatimu dan kau langsung meninggalkanku?" Jayden berjalan mendekati Jesslyn.

"Memangnya ada perlu apa lagi? Aku kan sudah berterima kasih pada Anda tadi."

"Kau sudah membuatku melewatkan jam makan siangku. Jadi sekarang kau harus menemaniku untuk makan," titah Jayden yang masih tidak rela jika Jesslyn pergi dari ruangannya.

"Tidak! Aku tidak mau!"

"Mengapa?" Jayden mengerutkan keningnya.

"Aku tidak mau makan. Aku mual," kilah Jesslyn.

'Lagi pula ini tidaklah pantas untuk berlama-lama berdua denganmu di ruangan ini,' lanjut Jesslyn dalam hati.

"Lalu apa asupan gizi untuk bayimu?"

"Aku akan meminum susu hamilku saja. Itu sudah membuatku kenyang dan memenuhi nutrisi untuk bayiku."

Jayden pun menghela napasnya. Ia tidak bisa memaksa Jesslyn untuk makan, karena ia tahu bagaimana keadaan Jesslyn saat wanita itu sedang muntah-muntah. Jesslyn memang berniat ingin membuat susu kehamilannya tadi saat Jayden tiba-tiba mengejutkannya.

"Baiklah, Presdir. Aku permisi dulu." Jesslyn pun segera pergi dari ruangan Jayden sebelum pria itu menahannya lagi.

'Dasar wanita itu. Dia melarikan diri lagi. Apa aku begitu menakutkan hingga ia terus menghindar dariku?'

Jayden pun mengeluarkan handphonenya dan kembali menelepon seseorang.

"Belikan aku susu untuk ibu hamil! Pastikan itu adalah merk terbaik!"

Steve pun kembali tercengang dan mengerutkan keningnya, karena Jayden sudah memutus panggilan telepon itu. Membuatnya hampir tersedak karena mendengar perintah aneh atasannya itu.

'Tadi pagi dokter kandungan? Sekarang susu kehamilan? Ya Tuhan, apa ini masih bos-ku yang dulu? Mengapa tingkahnya semakin aneh saja?'

.

.

.

Jesslyn kembali ke ruangannya yang kemudian disambut oleh tatapan mata semua rekannya, terutama Joana. Ia menatap benci ke arah Jesslyn.

"Jessy, ada apa dengan tanganmu?" tanya Natalie yang menyadari jika ada perban di lengan kiri wanita itu.

"Aku tidak sengaja tersiram air panas tadi."

"Benarkah?! Coba aku lihat!"

Natalie segera bangkit dari kursinya dan menghampiri Jesslyn. Ia pun memeriksa keadaan rekannya itu.

"Aku baik-baik saja, Kak. Jangan cemas. Lukanya sudah diobati tadi."

"Iya, Kak Xia. Kau jangan cemas. Dia mempunyai seorang 'dokter' yang handal untuk merawat lukanya. Jadi tidak ada yang perlu kau cemaskan? Jika itu aku, maka aku akan menyiram air itu ke tubuhku dan menanggalkan semua pakaianku secepatnya agar 'dokter' itu dapat memeriksanya dengan lebih seksama," ucap Tiffany genit seraya membuka blazer-nya dan menurunkan salah satu tali bajunya.

"Heh! Tetapi, kurasa seseorang sudah menanggalkan semua pakaiannya di depan 'dokter' itu meskipun tanpa adanya luka untuk diperiksa," sindir Joana.

"Hentikan, Joana!" hardik Natalie.

"Apa maksud kalian?! Aku sungguh tersiram air panas tadi, dan Presdir Zhou hanya membantuku untuk mengobatinya saja."

"Oh, jadi nama 'dokter' tampan itu adalah Jayden Zhou? Aku sungguh tidak tahu jika ternyata Presdir juga berprofesi sebagai seorang dokter."

Tiffany menggigit bibir bawahnya dan membayangkan Jayden yang sedang menyentuh tubuhnya. Joana pun tertawa melihat tingkah rekannya itu.

"Iya, Tiffany, kau benar. Jika dokter itu begitu tampan, maka aku pun tak keberatan untuk menanggalkan semua pakaianku di depannya."

Joana masih terus tertawa dan menyerang Jesslyn, tetapi kemudian mereka pun dikejutkan oleh seseorang yang masuk ke ruangan mereka.

"Sepertinya kau sedang sangat senggang. Mana laporanmu yang aku minta kemarin?!" tanya Jayden kepada Joana.

Wanita itu pun segera menghentikan tawanya karena melihat Jayden yang sudah berada di belakangnya. Belum sempat Joana membuat alasan, Jayden pun kembali berkata kepadanya.

"Kerjakan secepatnya! Aku ingin laporan itu sudah berada di mejaku besok pagi sebelum aku sampai!"

"Baik, Presdir," jawab Joana gugup. Kemudian Jayden pun segera beralih kepada Tiffany.

"Tiffany, pakai bajumu dengan benar dan ikut aku ke ruang rapat!"

"Baik, Presdir!" jawab Tiffany semangat.

Kemudian ia pun merapikan kembali pakaiannya dan segera membawa laptopnya untuk mengikuti Jayden yang sudah pergi ke ruang rapat. Namun, sebelum Tiffany meninggalkan ruangannya, ia pun masih sempat menggoda dengan para rekan kerjanya itu.

"Sampai jumpa, teman-teman. Presdir pasti ingin mengajakku bermain 'dokter-dokteran' dengannya di ruang rapat. Aku tidak tahan ingin agar dia segera 'menyuntikku'."

Tiffany berjalan dengan berlenggak lenggok bahagia. Ia sangat senang jika harus menemani Jayden rapat. Karena ia akan dapat menatap wajah Jayden sepuasnya di ruangan itu.

Sementara, Joana hanya mendengus kesal karena Jayden memarahinya. Ia juga iri dengan Tiffany karena bisa bersama dengan Jayden meskipun hanya menemaninya di ruang rapat saja.

Jayden memang sengaja masuk ke ruangan itu tadi. Karena saat ia melewati ruangan para sekretarisnya itu, ia melihat raut wajah sedih Jesslyn dari balik pintu kaca itu.

Sementara, Joana sedang tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Tiffany. Jayden pun tahu jika mereka pasti sedang mem-bully Jesslyn. Seketika ia pun menjadi kesal.

Di dalam ruangan, Jesslyn pun kembali mempelajari semua yang diajarkan oleh Natalie. Ia harus segera menguasai pekerjaan ini secepatnya agar tidak membebani Natalie lagi.

Beruntung, luka bakarnya berada di tangan sebelah kiri dan juga tidak terlalu parah sehingga tidak mengganggu aktifitasnya. Jesslyn harus membuktikan dirinya bahwa ia memang mampu untuk bekerja di sini, dan bukanlah seperti apa yang mereka tuduhkan tadi jika ia hanyalah seorang perayu ulung pria.

.

.

.

1
Sindyy
astagayyy🤣
anie Yustiani
duh...padahal bibinya Jayden ahli obat2an herbal kasihan Jessy
anie Yustiani
hadeeeuh Lydia kamu menggali kuburanmu sendiri
anie Yustiani
aiiish nikahnya kok gak ngundang2 diem2 bae 🤭🤣🤣
anie Yustiani
yg datang pasti bibinya Jayde nih
anie Yustiani
waahh Eric kamu gak kapok ya gimana murkanya Jayden habislah kamu 🤔
anie Yustiani
kasihan amat sih Jessy jadi pihak yg teraniaya selalu
anie Yustiani
hmmmm puaasss wkwkwkwk
anie Yustiani
paling sebel klo cerita novel ada pembulyan
anie Yustiani
seandainya Jessy tau bahwa peterlah yg telah menjualnya kepria lain dan seandainya Jessy tau klo peter seorang gay?
anie Yustiani
aku kok gak setuju klo jessy balikan lagi dg peter apa lagi ibunya peter yg toxic pemeras lagi
anie Yustiani
haiiish sumpah aku sih pinginnya Jessy sama Jayden hayolah bongkar bongkar smua klakuan peter biarJessy mantap utk cerai, jujur greget dg karakter Jessy yg mau2nya bertahan dg ibu mertua toxic bgitu spt gak punya hrg diri ...😠
anie Yustiani
steve sabar...jangan buruk sangka mulu sama boss aroganmu nanti kau akan terkejut sendiri stelah tau mksd dan tujuannya jayden wkwkwk
anie Yustiani
Morgan atau Zach ayahnya Jessy jika benar ternyata Jassy kturunan sultan juga donk
anie Yustiani
ibu mertua yg bener2 gak punya akhlak karakternya turun ke peter, aku greget sama jessy knp gak minta cerai aja sih sdh jelas2 terzolimi kok ya msh bertahan dg keluarga yg toxic
anie Yustiani
waah sptnya Morgan ayah kandung Jessy
anie Yustiani
knp gak dibuka aja kelakuan peter terhadap istrinya biar Jessy melek mata siapa peter sbnrnya
anie Yustiani
kereen lah ...akhirnya Peter Eric merasakan senjata makan tuan..
anie Yustiani
wah klo Jayden tau habislah si Peter ini smg di celaka krn penyakit HIV
anie Yustiani
duh smg alur crtnya gak ber tele2 yaaa othor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!