( Duda The Series )
Yafiq - Raisa Story
Sedang tahap Revisi, guna meningkatkan kualitas tulisan 🙏
Seorang anak bernama Bagas, yang sangat mendambakan memiliki sosok Ibu.
Untuk menemani hari-harinya, mendampingi, serta menjaganya. Dia sangat iri dengan anak-anak lain apalagi, teman di sekolah TK-nya.
Beberapa bulan ini, Bagas selalu memperhatikan Raisa, seorang pelayan di cafe sahabat Papa-nya. Karena, gadis itu polos, cantik, ceria, dan juga sangat menyukai anak kecil. Maka dari itu, dia mencari cara agar Raisa bisa menjadi Ibu sambungnya, dan, menikah dengan Yafiq Ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A-yen94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 23
Hari ini Yafiq pulang ke rumah lebih cepat dari biasanya.
" Selamat Siang Tuan! " sapa Bi Isah.
" Selamat siang. Bagas mana Bi, kok jam segini belum pulang ? " tanya Yafiq.
Pria itu begitu heran saat mengetahui putranya belum pulang ke rumah, padahal ini pukul 2 siang. Untuk anak TK seperti dia hal yang tidak wajar jika, pukul segini masih belum pulang ke rumah.
" Biasanya, Den Bagas di antar oleh Nona Raisa. Pukul 16.00 atau 17.00 baru pulang Tuan ! " ujar Bi Isah.
Yafiq mengangguk,
" Ya sudah, saya ke kamar dulu. Bibi boleh istirahat, nanti malam siapkan makan malam ya, agak banyak Raisa akan makan di sini ! " ujar Yafiq.
Asisten Rumah Tangganya itu mengangguk, dan, menjawab dengan sigap. Yafiq kemudian berlalu, dan, pergi meninggalkan ruangan tersebut menuju kamarnya.
Setelah beberapa saat kemudian, Yafiq sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Pria tampan itu menatap langit-langit kamarnya. Dia membayangkan jika Raisa menjadi seorang model. Di dalam bayangannya, banyak sekali pria tergila-gila padanya, banyak yang memuji kecantikannya, ada juga mereka yang rela merogoh kocek sebanyak-banyaknya untuk bertemu dengan Raisa. Gadis itu berlenggak-lenggok di atas catwalk, dia tersenyum menggoda ke arah kamera. Sontak membuat para pria histeris, dan, memanggil namanya.
Yafiq kembali ke pikiran normalnya.
" Ya ampun, apa yang aku bayangkan. Sudah cukup, jangan ada lagi dia dipikiran ku. Aku hanya mencintai Lidia ! " ujar Yafiq.
Pria itu bangkit, lalu dia pergi ke ruang kerjanya, dan duduk di kursi kerjanya. Membuka Laptopnya, dan mulai mengerjakan pekerjaan kantornya. Seharusnya setelah berciuman panas dengan Lidia, dia memikirkan kekasihnya. Ini mengapa dia justru membayangkan gadis lain dalam pikirannya, aneh.
Yafiq memanggil Bi.Isah untuk kemudian dia membuatkan segelas kopi, dan, diantarkan ke dalam ruangan kerjanya. Tidak lama Bi. Isah mengetuk pintu, dan, Yafiq mempersilahkannya masuk. Setelahnya, dia mengucapkan terimakasih. Bi. Isah mengangguk dan menjawabnya lalu dia pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.
Rian menghubungi Yafiq, pria itu mengatakan jika Lidia tidak menyembunyikan sesuatu. Melainkan hanya sibuk dengan kegiatannya saja. Akan tetapi, masih ada hal yang mengganjal dihatinya. Pasalnya, saat sang kekasih ada pemotretan. Dia terlihat begitu tergesa-gesa, seperti sudah ada seseorang yang menunggunya di depan kantornya.
Namun, Yafiq tidak mau menaruh rasa curiga terhadap sang kekasih. Dia percaya jika, Lidia bukanlah gadis seperti itu. Tetapi, tetap saja dia merasa tidak nyaman dengan hubungan ini. Padahal semua orang sudah tahu jikalau Lidia adalah kekasihnya. Bahkan, mereka juga sudah bertunangan satu tahun yang lalu. Walaupun hanya sedikit kerabat yang mengetahui pertunangannya. Dan di depan publik, mereka hanya mengumumkan jika mereka hanyalah berpacaran, dan meminta doa dari semuanya agar bisa ke jenjang yang lebih serius.
" Sudahlah, mungkin aku terlalu banyak berpikir. Lidia benar-benar sibuk hingga tidak pernah ada waktu untuk bersamaku. Ya, lebih baik Rian tidak usah mengikuti Lidia lagi ! " batin Yafiq.
Yafiq memberikan titahnya agar Rian berhenti mengikuti Lidia. Setelahnya, dia segera melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Kediaman Imran Al-Buchori
Hari ini Imran dan Ayu sedang duduk di depan teras rumah mereka, dia sebenarnya ingin mengatakan perihal Bibah yang akan menjadi keluarga mereka. Akan tetapi, istrinya itu ketika mendengar nama Raisa dia tidak mau mendengarkan perkataan Imran.
" Ini berhubungan dengan Raisa. Sebenarnya,... !"
Perkataan Imran terpotong oleh Ayu, wanita paruh baya itu langsung berdiri.
" Sudah kubilang, aku tidak ingin membahas tentangnya. Dia hanyalah seorang pelayan. Apa tidak jelaskah aku mengatakan itu . Sudah berulangkali kau selalu membahasnya. Cih, apa bagusnya gadis itu ! " ujar Ayu.
Wanita paruh baya itu terlihat begitu berang, dia kemudian mengalihkan pandangannya, setelahnya dia berbalik pergi meninggalkan suaminya di teras rumah mereka.
" Astaghfirullah', apa yang harus aku lakukan. Bagaimana bisa dia memotong perkataanku sebelum mendengarkan dulu apa yang akan aku ucapkan. Huh, sudahlah ! " ujar Imran.
Pria paruh baya itu menghela napasnya kasar.
" Sudahlah, jika dia sendiri saja yang mencari tahu tentang siapa ibu kandung Raisa. Pasti dia akan menangis, dan meminta maaf kepada Raisa. Biarlah itu terjadi, aku sudah terlanjur kesal dengan sikap egois yang dia miliki ! " batin Imran.
Saat ini menunjukkan pukul 17.00 WIB, Yafiq dengan gelisah menunggu sang buah hati pulang. Terdengar suara mesin mobil di depan sana, dia menengok di balik gorden ruang kerjanya. Terlihat Bagas dan Raisa menuruni mobil, dan seorang pria jangkung nan imut juga keluar dari mobil tersebut. Setelah mengusap kepala Bagas, dan Raisa Reno kembali ke mobilnya dan pergi meninggalkan Mansion Yafiq.
Yafiq baru menyadari jikalau mobil tersebut bukanlah mobil milik keluarganya. Dia, geram bagaimana bisa Raisa terus menerus bersama Reno, tidakkah dia tahu Bagas adalah putranya, bukan orang lain. Betapa cemburunya Yafiq ketika melihat putranya lebih akrab dengan orang lain, dibandingkan dia Ayah-nya sendiri.
" Untungnya, tadi aku sudah menghubungi Bagas lewat WhatsApp messenger. Jika tidak, mungkin Reno ini akan membawa Raisa pergi lagi ! " ujar Yafiq.
Pria itu, kemudian meninggalkan ruangan kerjanya. Dia menekan tombol 1 di lift rumah mewahnya.
" Assalamualaikum ! " ujar Bagas.
" Waalaikummussalam ! " jawab Bi. Isah.
" Wah Papa, tumben banget udah pulang ! " ujar Bagas.
Anak itu kemudian berlari menuju Ayah-nya, dia kemudian memeluk tubuh sang Ayah dan setelah dia menyalami Ayahnya.
" Kok tumben salaman ? " tanya Yafiq.
" Mama yang ajari Bagas, karena waktu di cafe and resto Papa Juan. Bagas lupa salaman sama Papa dan Papa Juan ! " kata Bagas menjelaskan.
Yafiq kemudian menolehkan kepalanya, dia menatap wajah Raisa lekat. Seolah matanya menyiratkan rasa terima kasih, karena sudah mengajari anaknya kebaikan. Reaksi gadis itu setelah ditatapnya, dia justru memalingkan wajahnya, seakan risih dengan tatapan sang duda. Sehingga, dia berpura-pura untuk tidak melihatnya.
" Em, itu saya boleh numpang mandi nggak ? " ujar Raisa.
" Boleh, Bagas kamu antar Mama ke kamar Papa. Nanti Papa menyusul ! " ujar Yafiq.
Raisa dan Bagas kemudian menaiki lift dan menekan tombol no 5. Sedangkan Yafiq, dia kemudian berjalan menuju dapur dan berkata jika hari ini harus masak lebih banyak . Padahal bibi sudah paham dan tahu perintah tuannya. Akan tetapi, sepertinya Yafiq begitu banyak urusan. Sehingga dia melupakan hal sekecil itu.
Yafiq kemudian menyusul Raisa ke lantai 5. Di sana ternyata Bagas sudah mandi dan berganti pakaian.
" Bagas udah mandi nunggu Mama belum selesai. Pa, Mama nggak ada pakaian ganti terus mau pakai apa ? " tanya Bagas.
" Papa udah beli kok, sebenarnya itu buat calon Mama kamu Lidia. Tapi, dia nggak pernah ada waktu buat ketemuan sama Papa. Dan Papa juga nggak sempet ngasih itu ke dia ! " ujar Yafiq.
" Mama Lidia? Papa gimana sih. Katanya Mamanya Bagas itu cuma Mama Raisa, lah kenapa sekarang Tante Lidia ? " tanya Bagas.
Terdengar suara Bagas sedang kecewa padanya, dia merutuki kebodohannya yang telah membocorkan rahasianya. Padahal dia, sudah berusaha mati-matian untuk menutupinya dari Bagas.
" Ah itu, Papa minta maaf. Nanti Papa jelaskan, di hari nanti. Sekarang Mama mungkin sudah selesai mandi. Jadi, Papa mau ke kamar dulu ! " ujar Yafiq.
Pria itu terlihat sekali, sedang melarikan diri dari tatapan tajam sang buah hati.
" Ya Tuhan, bagaimana aku menjelaskan tentang rencana menjadikan Lidia istri sekaligus, ibu untuk Bagas. Yang dia tahu jika Raisa lah yang akan menjadi ibunya. Aih, mengapa jadi seperti ini ? " batin Yafiq.