NovelToon NovelToon
Pendekar Tingkat Dewa

Pendekar Tingkat Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Action / Fantasi / Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:224.4k
Nilai: 5
Nama Author: Raffa Alief

Di dunia yang selalu mencari pemenang, ia memilih untuk berjalan sendirian, tidak untuk menang tapi untuk menghentikan sesuatu yang tak pernah benar-benar ia pahami.

Ia kembali, bukan sebagai anak yang ingin belajar, tapi sebagai seseorang yang sudah tahu terlalu banyak, dan percaya terlalu sedikit. Di matanya, dunia ini belum berubah, hanya lebih pandai menyembunyikan niat buruk di balik tradisi dan kehormatan.

Ia tak datang mmembawa dendam. Tapi tidak juga datang dengan damai.

Dalam bayang-bayang kesunyian malam, medan perang telah menanti di ujung waktu, satu langkah kecil menjadi pemantik sejarah baru. Atau hanya jejak lain yang hilang bersama debu?


(Remake)

Zhong Li -> Shi Yexian

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raffa Alief, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 24 - Tiga Bintang Yang Mendekat

“Kalau begitu, ceritakan kepada ku! Apa mimpi mu kedepannya lengkap dengan alasannya.” Perempuan dengan wujud transparan itu mengungkapkan keinginannya kepada gadis kecil yang sedari tadi sudah mendengarkannya berbicara.

“Keinginan ku…?” Perempuan dengan nama lengkap Yoru Ayaka itu terdiam memikirkannya cukup lama, hingga akhirnya ia menjawabnya dengan santai, “Aku hanya ingin melindungi Negeri ini, tidak! Mungkin seluruh Ras ku yang ada…”

Perempuan berwujud transparan itu tidak membalasnya, dirinya terus membisu mendengarkan perkataan Ayaka yang masih belum selesai.

“…Kamu seharusnya tahu bukan, jika ras kita, Ras Pejuang tidak akan bertahan lama lagi. Selain harus menghadapi kenyataan jika kita sudah kalah dalam mempertahankan wilayah kemarin-…”

“Meskipun saat ini wilayah yang sudah di rebut telah di kembalikan, tapi itu tidak akan berarti besar dalam menghadapi rencana besar para Voyn.”

Daratan ini terbagi menjadi tiga daerah, dan yang lebih kecil lagi ada yang namanya wilayah. Satu wilayah Hanya di huni oleh satu Ras saja, misalnya Ras Pendekar yang menempati wilayahnya yang di sebut sebagai Diqiu, wilayah ini mencakup sepertiga dari daratan tengah dan barat, wilayah ini juga ada di bawah kekuasaan Ling Dao, karena dia adalah seorang pemimpin dari Ras Pendekar.

Meskipun begitu di dalam satu wilayah ini, belum mesti hanya terdiri dari satu bangsa saja, di atas wilayah Diqiu saja sudah berdiri empat kekaisaran besar dan yang paling terkenal adalah kekaisaran Ming, karena kekaisaran ini jugalah yang mencakup wilayah terbesar di wilayah Diqiu.

“Tapi mereka berbeda, Ras Perampas hanya memiliki satu negeri saja. Di wilayah Dythine, Ras Perampas memiliki persatuan yang sangat kuat yang melebihi ras lainnya.

Mereka memiliki banyak anggota Voyn di dalamnya, organisasi itu memiliki kekuatan yang sangat besar bahkan kekuatannya saja katanya sudah mampu di sandingkan dengan salah satu dari tujuh Pemimpin.” Ayaka memandang kota yang telah di pimpin oleh ayahnya dengan pandangan kasihan.

Sudah tidak menjadi rumor belaka jika Pemimpin dari wilayah Dythine ingin menaklukan seluruh wilayah di dunia Pydeos. “Para Voyn telah menyebar ke seluruh penjuru dunia, entah itu di wilayah Diqiu, Gewel, Valmis, Shizen, Jafd, Girimeru, semuanya berhasil mereka capai.”

“Untung saja Pemimpin wilayah kita, yang mulia Raijin berhasil mengusir mereka, meskipun hanya sementara ini sudah lebih dari cukup.” Ayaka mengelus dagunya sebentar sebelu akhirnya melanjutkan. “… Mungkin jika aku sudah besar nanti, aku akan berpetualang menyusuri wilayah ini sekaligus membantu melawan seseorang atau kelompok yang tidak menginginkan semua negeri di wilayah ini berdiri.”

Ayaka kembali menunjukkan senyuman yang sangat lebarnya, dirinya menunjukkan itu kepada hantu perempuan yang sampai saat ini masih mendengarkannya berbicara. ‘Heh, meskipun dia hanya seorang anak kecil, tapi pemikirannya sudah sangat dewasa, sepertinya negeriku sedang membawa kebahagian untukku.’

“Eh aku melupakan sesuatu-… aku juga sangat ingin menapakkan kaki ku di atas sana, tidak mungkin adalah suatu keharusan!” Gadis kecil bernama Ayaka itu menunjuk sebuah pulau melayang di langit, pulau itu dapat terlihat karena adanya sinar rembulan yang sangat terang.

“Celastia! Aku akan mencapai mu suatu hari nanti!”

‘Ah, aku salah sangka! Dia ternyata masihlah seorang anak kecil.’

***

“Kakek! Jangan mati-… jangan tinggalkan Teerd sendirian!” Anak laki-laki itu meraung dengan keras di depan tempat kakeknya tidur.

Jelas kakeknya yang sedang berada di masa nyenyak-nyenyak itu harus terbangun karena rengekan sepele dari cucunya. “Jangan ganggu kakek yang sedang istirahat. Kembalilah ke kamar mu dan tidurlah dengan tenang.”

Pria paruh baya itu langsung merubah posisinya menjadi duduk, sembari berkata seperti itu, dirinya menunjuk sebuah pintu keluar menyuruh cucunya untuk keluar ruangan.

Tapi anak bernama Teerd itu tidak mempedulikan hal itu, dari raut wajahnya dirinya terlihat senang saat kakeknya ternyata masih hidup. “Kakek, ternyata kau masih hidup! aku sangat khawatir karena kau sudah tidak bergerak beberapa saat yang lalu.”

“Jangan periksa aku bergerak atau tidak saja, periksalah jantung berdetak atau tidak ku jika kau sudah sangat ingin tahu!” Pria paruh baya itu hanya bisa berdecak kesal saat melihat cucunya bisa dibilang sangat bodoh.

‘aku tidak tahu bagaimana masa depan yang akan di lalunya nanti, aku sangat ingin mengirimnya ke wilayah Valmis untuk dirinya agar bisa belajar, tapi karena keadaan ekonomi yang sangat parah aku tidak bisa berbuat apa-apa.’

“Jantung, apa itu?”

Pria paruh baya yang menjadi lawan bicaranya saat ini hanya bisa menghela napasnya sembari menggelengkan kepala dan memijit keningnya. “Lupakan saja, tapi ingatlah. Ini adalah tugas besar dari ku…”

Teerd melebarkan matanya, “Tugas apa yang akan kakek berikan kepada ku?”

“Di saat sudah besar nanti, entah kakak masih hidup atau sudah mati. Kau harus terus maju untuk menggapai Celastia yang ada di atas langit sana.” Pria paruh baya itu menatap langit-langit rumahnya yang sudah agak tidak enak di pandang.

‘Mungkin jika dirinya memiliki sebuah mimpi seperti ini, dia akan mendapatkan kekuatan cukup untuk mempertahankan niat hidupnya sampai di masa depan…’

“Aku akan berusaha untuk memenuhinya secepat mungkin!” Teerd tersenyum dengan lebar, dia mengarahkan senyum itu kepada kakeknya.

Pria paruh baya itu tersenyum tipis saat memperhatikan anak kecil yang berada di samping tempat tidurnya itu. “Santai saja, itu masih sangat lama, bagaimana kalau kita berlatih terlebih dulu saat ini.”

Pria paruh baya itu turun dari ranjangnya mengajak cucunya untuk keluar dari ruangannya. “Eh, saat ini latihan… apakah tidak apa? Bukannya sekarang sudah malam.”

“Hei! bukankah itu akan membuat latihannya menjadi lebih menantang?”

“Apakah memang begitu itu sangat menakutkan.”

“Tenanglah aku ini adalah seorang penyihir besar yang sedang di landa rugi, tidak ada yang lebih kuat dari ku di wilayah ini, saat ini.”

Setelah keluar dari rumahnya yang sangat sederhana, pria paruh baya itu mengajak cucunya untuk berburu terlebih dahulu sebelum akhirnya makan dan latihan.

***

“Jika memang benar ini adalah kenyataan, seharusnya perbedaan realitas kecil akan menimbulkan gejolak besar dalam jalan garis waktu yang ku lewati untuk sampai ke masa depan!”

Zhong Li bergumam kecil, saat sedang berendam di kamar mandi, di ruangan ini sudah tidak ada lagi You Fan, karena jelas dirinya sudah selesai lebih dulu.

Itulah yang membuat Zhong Li berani memikirkan hal itu saat ini, terlepas dari kekuatan penyembuhannya yang muncul di saat yang sama sekali tidak tepat, terlebih lagi dirinya juga tidak tahu dari mana kekuatan itu muncul, karena sedari tadi dirinya sudah berulang kali mencoba untuk merasakan kekuatan Qi tapi tetap saja masih tidak bisa.

Akhirnya dirinya menyerah dan memikirkan tentang perubahan apa saja yang terjadi di masa depan jika dirinya melakukan tindakan kecil yang berbeda dengan tindakan yang di lakukannya dulu.

“Ini sangat-sangat membuat kepalaku menjadi panas! Karena itu sudah terjadi lebih dari 120 tahun yang lalu jelas aku sudah lupa.” Zhong Li adalah orang tidak gampang pelupa, tapi karena ini adalah masa-masa kesedihannya jelas dirinya akan sangat ingin melupakannya.

“Ini membuat kepalaku lebih keras bekerja untuk mengingatnya. Sialan lupakan saja itu… entah kenapa saat ini aku malah tertarik untuk menggapai mimpi anak kecilku dulu.”

Zhong Li sudah mendapatkan gambaran perang antara tiga aliran dengan jelas, itu karena dirinya sudah pernah melewatinya sendiri. Perang yang tercipta karena perebutan batu kehidupan, cara termuda untuk mengakhirinya hanyalah dengan membuang semua batu itu.

“Tunggu aku, Celastia!… Aku berjanji untuk menggapai mu, setelah semua urusan pribadi ini selesai.”

...----------------...

1
Jumadi 0707
yng dimaksud pria paruh baya itu umur brp ada jenggot dah putih n masa umurnya 50 an setidaknya 70 an lah Thor jelasin aja Thor peria tua
Jumadi 0707
maksud bertempur gk tau maunya dan bertele2 gk ngerti
alexander
bagus ceritanya
Muhamad Rizki
GT
Dzikir Ari
Kenapa jadi berbeli Belit kata katanya
Dzikir Ari
Alur mulai tertata dan selanjutnya jangan membosankan Tor, ini sekedar masukan...🙏
Dzikir Ari
Gimana kok Alurnya mbulet tor
Dzikir Ari
jalan ceritanya cukup menarik tapi terlalu bertele tele Tor
Dzikir Ari
Lanjutkan Tor
Dzikir Ari
Lanjut
Dzikir Ari
Coba mampir, moga Alurnya tidak bikin bosan Tor 🙏
Haryanto Sendtot
lanjut
Haryanto Sendtot
mna up nya lgi
Abdullah
update ya
Djambar Barmo
Alur cerita tidak mengalir,beberapa bab isinya tidak berhubungan, kalau bercerita harusnya terstruktur
Ahmad Tavip
remove aja cerita ini
Ahmad Tavip
bertele tele
Suyatno Saban
lanjutkan
Idk!
bagus ceritanya, lanjutkan
de wek
baru nemu malam ini di beranda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!