Miranda adalah seorang jurnalis wanita berusia 29 tahun di sebuah majalah sport di Toronto, Kanada. Impian sebagai seorang penulis buku dia hentikan setelah bertemu Jeff, kekasihnya. Selama dua tahun mereka tinggal bersama, Jeff dengan teganya berselingkuh dan membuat Miranda jatuh di titik terendah hidupnya.
Di saat kegalauan itu datang, Miranda diperintahkan atasannya untuk kembali menulis buku. Sebuah buku biografi dari mantan atlet nasional rugby yang kini menjadi seorang pelatih terkenal bernama Rick. Pria berusia 51 tahun yang baru kehilangan istri yang dicintainya karena kanker.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biran ASMR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
"Tuan Rick?" Bryan mendekati Rick.
"Ya?" tanya Rick.
Bryan mengeluarkan ponselnya. "Boleh saya minta foto?"
Clara dan Miranda tertawa geli melihatnya. Rick menerima tawaran Bryan untuk berfoto. Bryan terlihat antusias bisa berfoto dengan pelatih timnas rugby yang telah membanggakan negaranya itu.
Tak lama kemudian, Nat masuk ke dalam ruangan. Bryan yang asik berfoto bersama Rick, tiba-tiba teralihkan oleh kedatangan Nat. Bryan jelas-jelas terlihat menyukai Nat dari caranya memandang. Sedangkan Nat, tak menghiraukan Bryan.
"Hai, Nat!" sapa Miranda. "Perkenalkan, ini Clara dan Bryan."
Nat melirik Clara dan Bryan lalu mengangkat tangan kanannya dan menggerakkan jemarinya. "Hai!"
Bryan menatap Nat dengan penuh kekaguman. Wanita tangguh yang keren.
"Hai, kau pasti asisten Rick!" Bryan menghampiri Nat dan menjabat tangannya.
Clara dan Miranda saling pandang sambil menahan tawa melihat keanehan Bryan. Nat melepaskan jabatan tangan Bryan setelah dirasa sudah cukup lama lelaki aneh itu menggenggam tangannya.
"Oh ya, aku ke sini untuk memberikanmu rekomendasi tempat untuk acara pernikahanmu," kata Nat lalu membuka ponselnya.
Clara dan Bryan menatap Miranda tajam. Orang yang ditatapi baru menyadari kesalahannya. Dia belum memberi tahu kedua sahabatnya itu soal pernikahan.
"Ah... Kau benar-benar keterlaluan Miranda!" seru Clara tak suka dengan ketertutupan sahabatnya itu.
Miranda nyengir. "Maaf, bukan maksudku untuk menutupinya dari kalian. Tapi aku akan memberi tahu kalian saat kartu undangannya sudah selesai,"
Bryan menggeleng. "Ckckck! How dare you!"
Nat memberikan ponselnya dan terlihat beberapa pilihan lokasi di pesisir pantai dan taman yang terlihat indah untuk acara pernikahan. Rick mendekati kekasihnya dan duduk di sampingnya sambil ikut melihat-lihat apa yang Miranda lihat.
"Kau suka yang mana?" tanya Miranda pada Rick.
"Apapun yang kau suka," jawab Rick.
"Bagaimana kalau ini?" Miranda menunjukkan foto sebuah taman.
"Kau suka?" Rick menanyai balik.
Miranda mengangguk antusias. "Ya, sepertinya akan cocok untuk sebuah pesta taman."
"Baiklah jika itu maumu," Rick setuju.
Miranda menoleh ke arah kiri dimana Rick berada, lalu mengecup pipi kekasihnya singkat. Semua adegan mulai dari memilih lokasi pernikahan sampai kecupan manis itu ditonton ketiga orang yang ada di hadapan mereka.
Clara tersipu-sipu melihat adegan so sweet itu, Bryan menganga dan Nat yang salah tingkah terus membenarkan model rambutnya yang hanya segitu-gitunya.
Miranda memberikan ponsel yang dipegangnya pada Nat. "Kami memilih ini Nat."
Nat meraih ponselnya. "Baiklah. Akan kuatur itu."
"Oh ya Nat, apa kau kewalahan mengaturnya sendiri?" tanya Miranda.
Nat tidak pernah kewalahan dalam bekerja. Tapi sebelum Nat menjawabnya, Bryan lebih dulu menawarkan diri untuk membantu Nat.
"Ah, tidak usah!" tolak Nat.
"No! No! Jangan sungkan padaku! Aku teman Miranda dan kau teman Rick, so kita berteman secara tidak langsung!" Bryan mulai ngotot.
Meski analogi Bryan adalah analogi terkonyol dari seorang editor, Nat akhirnya menyetujuinya karena dia memang butuh beberapa orang untuk membantunya.
"Aku pun bisa membantumu Nat!" tambah Clara.
"Baiklah," jawab Nat.
Setelah tiga jam orang-orang itu di sana, sekarang hanya tinggal Rick dan Miranda. Miranda menggeser tubuhnya agar Rick dapat berbaring di sampingnya di atas ranjang pasien yang besar bagi Miranda.
Rick mengerti maksud Miranda dan menurutinya. Setelah Rick berbaring, Miranda meletakkan kepalanya di atas dada Rick. Mulailah mereka mengobrol antar sepasang kekasih. Obrolan ini mereka sebut dengan istilah pillowtalk.
"Aku sudah lebih baik sekarang. Apa besok kita bisa pulang?" kata Miranda.
"Aku akan tanyakan pada dokter nanti," jawab Rick.
"Apa kau mencintaiku?"
Rick melirik kekasihnya yang memberikan pertanyaan se-random itu. "Kau pikir sampai di titik ini, apa aku mencintaimu?"
Miranda terkekeh. "Aku pun mencintaimu."
Rick mengecup puncak kepala Miranda.
"Boleh aku bertanya?" tanya Miranda lagi.
"Kau sudah bertanya dari tadi dan baru sekarang meminta persetujuan?"
"Haha.. sewaktu aku diculik, apa yang kau rasakan?"
Rick mencerna pertanyaan itu dan kembali mengingat kejadian yang membuatnya frustasi tempo lalu. "Aku marah. Aku marah pada mereka yang menyakitimu."
"Lalu bagaimana kau bisa menemukanku?"
"Aku memata-matai Jeff setelah dia keluar dari penjara."
Miranda tersenyum membayangkannya. Dia mengeratkan pelukannya dan merasa bersyukur memiliki lelaki seperti Rick, yang memperlakukannya lebih dari seorang partner hidup.
Keesokan harinya, Miranda sudah diperbolehkan pulang dan dia dibantu Clara membereskan apartemennya dan mulai berpindah ke rumah Rick. Pernikahan akan berlangsung sebentar lagi.
"Kau akan menjual apartemen ini?" kata Clara sambil memasuk-masukkan barang printilan di kamar Miranda ke dalam kardus.
"Aku akan menyewakannya saja. Apartemen ini adalah aset yang berharga bagiku. Hasil keringatku sendiri," kata Miranda sambil menebarkan pandangannya ke penjuru ruangan.
"Oh ya, surat pengunduran dirimu sudah sampai pada Tuan Laurence. Dia pasti berat akan kehilangan karyawan sepertimu!"
"Hahaha.. Tapi aku akan tetap bekerja freelance untuknya dengan menyetorkan novelku padanya."
Clara berhenti dan menoleh pada Miranda. "Kau mulai menulis novel?"
Miranda mengangguk. "Ya. Akhirnya aku kembali ke duaniaku yang seharusnya. Aku sangat menikmatinya."
"Syukurlah. Aku senang kau bahagia. Well, setelah bertemu Rick banyak hal bagus yang terjadi padamu."
Miranda tersenyum dan bayangan wajah Rick terlintas di kepalanya. "Ya, dia malaikat keberuntunganku."
"Wow.. kau masih ingat saat pertama kali tinggal di rumah Rick untuk project biografi, kau mengeluh tinggal dengan orang tua berhati dingin sepertinya dan lihatlah sekarang?"
Miranda tertawa mendengarnya. "Hahaha... well, never say never."
"Aku penasaran.."
"Penasaran apa?"
"Bagaimana Rick?"
"Bagaimana apanya?"
Clara melirik Miranda dengan tatapan jahilnya. "Apakah dia hebat di ranjang?"
Miranda seketika tertawa terpingkal-pingkal dan Clara menatapnya heran.
"Kenapa kau tertawa?"
"Kau penasaran soal itu?"
Clara mengakui kebodohannya. "Ya, aku penasaran. Bagaimana seorang lelaki berusia lima puluh tahun berhubungan intim dengan wanita berusia dua puluh sembilan tahun."
Miranda menghentikan tawanya. "Well, aku pun penasaran soal itu."
"Apa maksudmu?"
"Aku juga penasaran soal itu karena kami belum pernah melakukannya."
"Apa? Empat bulan lebih kau tinggal bersamanya dan kini kalian menjalin hubungan serta kembali tinggal di atap yang sama, belum pernah melakukannya sama sekali?"
"Ya. Berkat meditasi, dia dapat menahannya."
"Wah! Hebat sekali!"
"Ya, kami akan membuat sebuah pernikahan menjadi sesuatu yang spesial dan dinanti-nantikan."
"Apa kau akan menunda kehamilan setelah menikah nanti?"
"Tidak, aku tidak akan menundanya. Aku ingin memiliki anak."
"Bagaimana anakmu memanggil Rick nanti? Papa? Grandpa?" goda Clara.
Miranda melempar bantal pada Clara. "Dasar!"
Clara tertawa mendapat pukulan itu. "Kabari aku setelah malam pertamamu ya!"
Miranda melempar bantal lagi pada Clara. Setelah membereskan barang-barang di apartemennya, mereka pun pergi ke rumah Rick yang tak lama lagi akan menjadi rumah Rick dan Miranda.
♤♤♤