Kau hadir dengan sebuah alasan klise yaitu cinta untukku si pemain cinta.
Dan kini setelah semua yang kita alami,kau memberiku sejuta alasan untukku tetap Mencintaimu.
Setelah merasakan cinta kini aku tau kenapa kau menolakku KARINA. Tapi kini kau menarikku jauh kedalam sayap kerinduan. Dan aku tidak akan membiarkan masa lalu mendorongmu jauh dari cintaku karena tanpamu cintaku tak kan sempurna KARINA ADESTA.
Meskipun kau memberiku pelangi dan hujan secara bersamaan tapi entah kenapa hatiku tak bergeming sedikitpun dari ruang cinta ini.
Aku tidak menyangka akan bisa bertahan sampai akhir dengan cinta yang seperti air di samudera luas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ang lin Hua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
melihatmu dengannya mengapa begitu menyakitkan
Hari ini Karina masuk bekerja seperti biasanya. Rok span hitam dan kemeja birunya membalut tubuh lekuk Karina. Namun, sayang, suasana hatinya tak sebaik penampilannya. Dengan lesu ia menapaki lantai lobi menuju lift eksekutif. Seketika Anggi mengagetkan gadis itu dan membuyarkan pikirannya.
"Ya, ampun, Karina! Mata lo kenapa? Nggak tidur semalaman?" pekik Anggi merangkul Karina dari samping.
"Emang mata gue kenapa?"
"Kayak mata panda! Ampun deh lo! Persis kayak panda berjalan."
"Terserah lo deh, Ang! Gue lagi malas, nih."
"Emang ada apa, sih, Karina? Ada masalah?"
"Semalam Rommy nembak gue. Gimana gue mau tidur nyenyak coba?"
Anggi menganga mendengar pengakuan sahabatnya itu.
"Kayaknya hari ini gue mau pulang ke rumah gue,” lanjut Karina sambil melangkah melewati Anggi yang masih mematung.
Dari pintu lobi tampak tubuh Gerald melangkah mendekati lift. Kini hanya Gerald dan Karina yang berada di dalam lift. Suasana terasa canggung, Gerald melirik santai ke arah Karina.
"Mmm … Pak Gerald, boleh saya minta cuti selama satu minggu?" ucap Karina ragu memecah kecanggungan.
"Enak aja mau cuti. Terus yang ngerjain pekerjaan kantor siapa? Masa gue?"
"Bapak bisa minta Rena kembali. Lagi pula meskipun saya sudah jadi sekretarismu, tapi yang menyelesaikan tugas kantor bukannya Rena aja."
"Ya, itu tugas ringan aja. Bagaimana dengan tugas beratku?"
"Ya, Bapak ajari aja. Kan udah biasa."
Lift berhenti dan terbuka sempurna. Gerald melangkah santai diikuti Karina dari belakang, ia duduk di kursinya. Sementara Karina mulai menyalakan komputernya dan berkecimpung dengan file dokumen.
"Karina, apa agendaku hari ini?" tanya Gerald.
Karina berjalan ke depan meja dan membacakan serentetan agenda Gerald hari itu. Gerald pun segera menghubungi Tomi untuk menemani dia bekerja. Karina duduk terdiam dan hanya memandang kosong ke arah layar komputernya. Peristiwa semalam bersama Gerald selalu terbayang di benak Karina, bahkan bagaimana suara jerit Nadia yang masih menyayat hatinya.
Kenapa hati gue sakit dan kenapa gue mesti murung kayak orang baru putus cinta aja? Apa, iya, gue udah jatuh cinta sama Gerald? Bos gue sendiri? Tapi dia nggak tau kalau gue seorang nona muda juga. Gimana kalau dia marah dan merasa dibohongi sama gue? lirih batinnya.
Karina menulis surat izin cuti lalu berjalan ke ruangan Rena. Di sana sudah ada Rommy yang tak disangka akan bertemu Karina di tempat itu.
"Hey, Karina. Apa kabarmu?" sapa Rommy dengan wajah bahagianya.
"Buruk."
Rommy mengernyitkan keningnya. "Kenapa?"
"Gara-gara lo."
"Gue?"
"Iya."
"Kenapa gue?"
"Tanya diri lo sendiri," ketusnya berlalu dari ruangan itu setelah menyerahkan surat kepada Rena.
Rena dan Rommy saling berpandangan, kemudian Rommy berusaha mengejar Karina. Gadis itu terus menghindar. Hingga di depan koridor ruangan, Rommy menarik lengan Karina dan mereka terlibat adu mulut. Gerald yang kebetulan melewati ruangan itu menatap fokus dari kejauhan begitu juga Tomi.
"Karina, maafkan aku. Oke, aku ngaku salah. Maafkan aku."
"Aku nggak tau, Rom, tapi yang jelas kamu belum mengenal aku. Jadi bagaimana bisa kamu nembak aku begitu saja?"
"Baik, kalau begitu beritahu aku siapa kamu? Dan aku akan memberitahu kamu isi hatiku."
Karina terdiam sejenak, ia pun menunduk kemudian menarik napas dalam-dalam. Bahkan hingga ke ulu hatinya.
"Yang kau lihat sekarang bukanlah yang sebenarnya," ucap Karina dan berlalu meninggalkan perusahaan.
Dalam hati dan pikirannya kini berperang antara cinta dan ego. Otaknya tak bisa berpikir jernih. Karena itu, dia memilih meninggalkan perusahaan untuk sementara tanpa menghiraukan pendapat Gerald.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa