Jangan lupa tekan jempol dan tulis apa pun di kolom komentar. Itu semua sangat membantu penulis untuk terus update dengan semangat. Terimakasih sudah membaca. Lanjutan dari novel Abang Penjual Sate, Imamku.
********
Ayra, balita berusia lima tahun yang kehilangan ibunya saat baru beberapa Minggu dilahirkan. Mengenal sosok ibu dari cerita semua orang di keluarganya.
Suatu hari, ia meminta pada ayahnya untuk tidak pernah menggantikan ibunya yang pergi. Karena menurutnya, Aisyah tidak akan pernah bisa tergantikan.
Namun, berbeda cerita saat ia bertemu dengan seorang wanita sederhana dari masa lalu sang ayah. Beberapa Minggu bersamanya, Ayra sadar bahwa ia sangat membutuhkan sosok ibu.
Dia meminta pada ayahnya untuk menjadikan wanita itu sebagai ibunya.
Ikuti kisahnya di sini!
Cover: PicsArt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror
Usai berlatih, mereka sedang berkumpul bersama masing-masing keluarga mereka. Membasahi tenggorokan dengan air yang dibawa para wanita. Ayra duduk bersama Razka dan mamah Quin, memakan roti isi yang tadi dibekalkan bu Sum. Ada Dery juga di sana, duduk bersama mereka.
Mereka membentuk kelompok-kelompok kecil, di pinggir lapangan. Berbincang ringan, bercanda ria, gelak tawa terdengar dari arah bocah yang berceloteh dengan bahasa mereka.
Mega beranjak memisahkan diri dari Hendi, Mia dan Farel. Dengan ponsel di tangan ia membidik keluarga kecilnya. Senyum bahagia terukir jelas di bibir. Meski peluh masih mengucur di wajah, itu sama sekali tidak dapat menutupi parasnya yang cantik.
Tiba-tiba Ayra ikut bergabung menjatuhkan dirinya di atas Mia dan ikut berpose, disusul Akmal yang juga tidak mau berdiam diri saja. Dia duduk di samping Farel. Memposisikan dirinya pada tempat di mana kamera mengarah.
Mega terkekeh, ia mengambil beberapa gambar yang diselingi canda tawa para bocah pembuat onar tersebut. Razka ikut mengeluarkan ponselnya. Ia membidik Ayra yang tertawa lepas bersama keluarga Hendi.
Tapi, sedetik kemudian, ia mengerutkan dahinya saat menangkap satu sosok yang sedang mengarahkan kamera pada keluarga mereka.
Razka tidak menurunkan ponselnya, ia hanya memutar kepalanya, mencari arah mana yang sedang dibidiknya. Dan saat dirinya berpaling pada Mega, lalu kembali menatap sosok tersebut. Berulangkali ia melakukan itu, untuk memastikan ketepatan tebakannya.
Benar, kamera ponsel itu mengarah pada Mega. Razka terus memperhatikan sosok di kejauhan yang mengenakan topi dan masker. Ia menyudahi acara mengintai Mega. Berbalik dan berjalan menjauh dari tempat tersebut.
Siapa orang itu? Apa ada hubungannya dengan Mega? Atau Hendi? batin Razka bertanya-tanya.
Ting
Sebuah pesan masuk ke ponsel Mega. Ia melihat di layar pemberitahuannya, nomor asing? batinnya bertanya.
Mega menurunkan ponselnya, ia cukup banyak mengambil gambar mereka hari ini. Mega hanya akan menyimpannya, sebagai kenang-kenangan.
Ia membuka pesan yang baru saja masuk, satu pesan gambar dirinya yang sedang tertawa bahagia. Mega mengerutkan dahinya bingung.
Akhirnya aku menemukanmu, sayang.
Mega membaca catatan di bawah gambar tersebut. Tangannya bergetar, matanya bergerak liar mencari sosok yang sudah memberikannya teror untuk kedua kalinya.
Semua itu tak lepas dari perhatian Razka, ia hanya tidak tahu apa yang membuat Mega seperti orang bingung saat ini.
Dan si kecil Ayra, merasakan kegelisahan dari sekitarnya. Ia menatapi satu per satu dari anggota keluarganya. Yang terlihat mencurigakan baginya dua orang saja. Razka dan Mega. Dan yang paling mencolok adalah Mega.
Mega beranjak dari duduknya, ia berjalan dengan kepala menoleh ke kanan dan kiri mencari sosok yang baru saja mengiriminya pesan.
Mega mengepalkan tangannya, sebelah tangannya menggenggam erat ponsel, "sialan!" umpatnya kesal. Semua tingkah Mega tak luput dari perhatian Razka dan Ayra.
Sebuah tepukan di bahu, mengejutkan Mega yang masih mencari sosok si peneror. Ia menoleh dengan cepat, dan mendapati Hendi yang berdiri di belakangnya dengan dahi yang berkerut.
"Ada apa? Apa yang kau cari?" tanyanya menatap lekat pada manik coklat milik Mega. Wanita itu sedikit terkejut, ia bahkan lupa sedang bersama keluarganya di sini. Ia tergagap.
"Ah ... tidak ada apa pun. Ayo kembali!" ucapnya sebisa mungkin menyembunyikan kegugupan dari suaminya itu. Ia tidak ingin Hendi terlibat dengan orang yang baru saja menerornya. Diam-diam ia memainkan ponselnya sembari menggelayut di lengan Hendi.
Menghapus pesan yang baru saja dikirimkan ke ponselnya. Ia tidak ingin Hendi tahu tentang pesan itu. Biarlah, dia akan menyimpannya sendiri sebagai rahasia.
Mereka kembali bergabung bersama kedua anak mereka. Ayra dan Akmal sudah tak lagi bersama mereka. Gadis kecil itu duduk di pangkuan Razka. Bermanja pada Ayahnya sembari memainkan telunjuknya di lesung pipi Razka.
"Ayah, apa Ayah menyadarinya?" celetuk Ayra tiba-tiba. Ia menanyakannya dengan berbisik di telinga Razka.
Uhuk uhuk
Razka yang sedang minum air tersedak. Ia terbatuk-batuk sembari memukul-mukul dadanya dengan tangan kanannya. Ayra hanya terdiam menunggu hingga Razka selesai dengan batuknya.
Laki-laki itu menoleh pada Putri kecilnya yang duduk di pangkuan, menatap lekat dengan dahinya yang berkerut. Dia belum mengerti maksud pertanyaan Ayra.
"Apa maksudmu?" tanyanya dengan berbisik pula. Ayra memutar kepalanya, dan berakhir pada sosok Mega yang kembali tertawa bersama keluarga kecilnya. Meski terlihat hambar di mata Ayra.
Razka mengikuti arah pandang putrinya. Dia terkejut, saat pandangan Ayra mengarah pada Mega di sana.
"Bunda gelisah, ada sesuatu yang sedang mengganggu dirinya," cetusnya tanpa memalingkan wajah dari Mega.
Ah sial! Razka mengumpat. Ia tidak akan bisa menyembunyikan apa pun dari Ayra, jika putrinya itu memiliki kepekaan yang sangat. Bagaimana caranya melakukan itu? Apa dia juga bisa merasakan kegelisahan orang lain?
"Apa maksudmu?" Razka bertanya lagi, ia belum mengerti bagaimana putrinya bisa menyadari hal seperti ini.
"Aku yakin, Ayah menyadarinya. Aku lihat Ayah menatap Bunda dan menatap arah lain bergantian. Bahkan, raut wajah Ayah terlihat cemas. Apa sesuatu sedang mengintai kita, Ayah?" tutur Ayra lagi.
Entah mengapa, secara tiba-tiba jantung Razka berdetak cepat. Mendengar penuturan Ayra yang sangat tepat, membuatnya kembali frustasi. Ada apa dengan putrinya? Apa lagi yang masih tersembunyi dalam dirinya.
Ia menatap tak berkedip pada Ayra yang menanti jawabannya. Hingga kedua tangan mungil itu menangkup wajah Razka, barulah ia tersadar.
"Bagaimana caramu mengetahuinya?" tanya Razka. Bukannya memberi jawaban, ia justru bertanya pada Ayra.
"Aku hanya merasakan kegelisahan di sekitarku. Dan yang aku lihat, Ayah dan Bunda yang terlihat cemas. Apa bahaya sedang mengintai keluarga kita?" katanya lagi semakin gugup Razka dibuatnya.
Kejutan kemarin saja, belum sepenuhnya ia percayai. Dan sekarang, sudah muncul kejutan baru yang semakin tidak masuk akal bagi nalarnya.
Namun, Razka sepertinya harus membiasakan diri menerima kejutan-kejutan lain dari putrinya. Ia mengusap rambut Ayra dengan lembut. Menetralkan emosinya secara perlahan dan tersenyum.
"Ayah tidak tahu, apakah ini akan membahayakan keluarga kita atau tidak. Yang pasti, masing-masing dari kita harus selalu waspada akan datangnya kemungkinan-kemungkinan yang tidak kita inginkan," tukas Razka memberi pengertian pada Ayra.
"Bagaimana jika itu membahayakan keselamatan Bunda dan Adik Farel?" tanyanya lagi. Razka semakin gugup dibuatnya. Bagaimana mungkin Ayra sudah memikirkan hal sejauh itu.
"Ayah yakin, Bunda bisa menjaga diri. Dan dia pun bisa menjaga adikmu," jawabnya, itu bukanlah omong kosong belaka, pada kenyataannya bela diri Mega memang berada di atasnya.
"Ayah benar, tapi tetap saja kita harus waspada. Karena bisa jadi, bukan hanya Bunda yang mereka incar," ungkapnya mengeluarkan pendapat. Razka mengangguk setuju.
Entah kenapa ia seperti sedang berbicara dengan Rendy atau Paman Max. Dan jika itu Rendy, dia tidak akan merasa speechless seperti itu saat berdiskusi. Tapi, Ayra adalah bocah berusia lima tahun, kenapa bisa berbicara seperti orang dewasa. Mengeluarkan pendapat tanpa ragu. Inikah Ayra yang sesungguhnya? Hadiah dari Tuhan yang dikirimkan untuknya.
Entah harus bersyukur atau justru khawatir.
bayi dong