Butuh waktu lima tahun lamanya bagi Mer untuk siap bertemu lagi dengan cinta pertamanya. Teman masa kecilnya yang begitu ramah dan ceria itu seketika berubah menjadi sesosok pria misterius nan dingin. Akan tetapi, kepribadian Vallen yang berubah tetap tak melunturkan perasaan yang telah lama bersinggah di hatinya. Mer tetap mencintai Vallen meski pria itu tak menganggap Mer ada.
Perjuangan terus Mer lakukan untuk mendapatkan perhatian Vallen. Ia terus mendekati Vallen walau pria itu selalu melontarkan kata yang menyakitkan. Meski sering tak diacuhkan olehnya, bukanlah sebuah alasan bagi Mer untuk menyerah. Semua itu dilakukannya untuk mendapatkan cinta Vallen kembali.
Hanya soal waktu saja Mer dapat meluluhkan hati Vallen. Merubah kepribadiannya kembali menjadi sosok yang hangat. Menjadikan hal yang mustahil dapat diraihnya. Meski begitu, Vallen tetap menolak cintanya dengan alasan takdir yang selalu ia katakan. Akankah alasan takdir itu suatu saat akan menenggelamkan cinta mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIFA IFTITA RAHMA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
prolog
Hembusan dingin angin pagi. Sejuk seperti embun. Mengkristal diatas daun. Menetes menghantam tanah. Menyerap masuk kedalam. Butiran-butiran tanah membentang. Didalamnya, benih menumbuhkan ciptaan. Tumbuh meninggi disamping rumah. Mahkotanya terbuka lebar, menarik setiap makhluk beterbangan nan cantik. Tampak dua motif indah dikepakkan. Merayap menuju mahkota. Mutualisme, sama-sama diuntungkan.
Dari lantai dua rumah bertingkat, silau cahaya yang dipamerkan memantul melalui jendela atas. Dari dalam, apabila diperhatikan akan menyilaukan. Pagi yang kelamaan menjelang siang.
Terlukiskan sebuah bangunan bercat merah, warna kesukaan. Menyelusup hingga ke dalam, penuh barang berserakan. Pakaian, tas, buku, hanger, kotak sabun, koper, payung kecil, seragam, sepatu, alat makan, alat Shalat, dan masih banyak lagi. Dua bocah yang malamnya mempersiapkan diri. Mengecek barang-barang hingga teliti. Tak ada yang berharap akan tertinggal satu pun barang.
Langit-langit tampak cerah dengan awan putih menggantung. Udara sejuk bebas polusi tak ada kendaraan berkelana. Mereka dapat melihat sebuah lingkaran bersinar dilangit hendak memanjat ke atas.
Disinilah awal perjalanan mereka. Dua bocah yang beranjak remaja harus berpisah dengan kedua orang tua. Demi terhindar dari pergaulan bebas. Harapan besar yang ditanamkan para orang tua untuk anak-anak mereka. Ingin menjadikan mereka berkualitas. Menjunjung tinggi nilai agama. Kelak pada saatnya akan menjadikan generasi yang selalu dirindukan surga. Itulah harapan besar dari sekian banyak mimpi-mimpi para orang tua terhadap anak-anaknya, jika kalian ingin tahu.
Dalam cerita inilah mereka juga berharap. Memasukkan kedua anak mereka ke dalam pesantren. Yang satu ikhwan, yang satu lagi akhwat. Awalnya mereka menolak, namun saat Alifan dan Kira mandiri kini telah tiba. Berpisah dengan keluarga memang sangat menyesakkan. Akan tetapi itu semualah yang dinamakan jihad, berjalan di jalan Allah adalah mimpi semua umat muslim, dan semua butuh pengorbanan untuk mencapainya.
Mengarungi samudera kehidupan
Kita ibarat para pengembara
Hidup ini adalah perjuangan
Tiada masa tuk berpangku tangan
Setiap tetes peluh dan darah
Tak akan sirna ditelan masa
Segores luka dijalan Allah
Kan mernjadi saksi pengorbanan
Allah Ghoyatunaa
Ar-rasul Qudwatunaa
Al-qur'an Dusturunaa
Al-jihadu Sabilunaa
Al-mautu fii Sabilillah
Asma Amaninah
Allah adalah tujuan kami
Rasulullah tauladan kami
Al-qur'an pedoman hidup kami
Jihad adalah jalam juang kami
Mati dijalan Allah adalah
Cita-cita kami tertinggi
___
Selalu ada seseorang yang Allah pertemukan”
Langit sudah terang ketika sampai di depan halaman sekolah akhwat. Suasana di sana telah ramai dengan canda dan tawa. Alunan musik islami mulai terdengar ditelinga mereka. Ternyata, ada panggung kecil dan pertunjukan nasyid yang dibawakan oleh santriwati akhwat.
Khozin dan Zula bertanya-tanya kepada panitia PPDB itu. mulai dari asramanya, kegiatannya, acaranya, hingga yang paling rinci yaitu kamar mandinya. Alifan sedikit terkekeh akan pertanyaan Zula dan Khozin. Sampai saatnya tiba, Kira memasuki asrama yang diantar oleh Zula. Sedangkan Alifan dan Khozin hanya menungguinya didepan pondok area akhwat. Saat Kira selesai merapikan barangnya kelemari, kini ia menghampiri Alifan lagi. Mungucapkan selamat tinggal yang sesungguhnya. Menyeka air matanya walau terlihat paksaan semuanya.
"Kira jangan sedih dong! Kita sama-sama berjuang, pasti lama-lama Kira bakal betah. Mas janji setelah kita lulus, kita akan sama-sama lagi,"
Air mata Kira menetes menderas. Seakan ucapan Alifanlah yang membuatnya menangis.
"Maafin aku mas kalo aku cengeng, kalo aku sering nyusahin mas Ifan. Sejujurnya aku bahagia banget mas Ifan ada disini, mengantarku kemari sampai-sampai mas telat cuma karna mengantarkanku duluan,"
Begitulah jika menjadi sosok yang telah bertahun-tahun dekat, akan terasa sedih nantinya jika tak ada lagi sosok tersebut. Rindu. Terbayang-bayang akan kenangan.
Alifan mengangguk perlahan. Melambaikan tangannya ke arah Kira. Berlari secepat yang ia bisa menuju mobil yang terparkir di halaman sekolah. Kini giliran Alifan untuk mengemaskan barang-barangnya. Mengambil kopernya yang masih terdapat dalam bagasi mobil. Mengeluarkannya dan membawanya menuju asrama.
Alifan melambaikan tangannya ke arah Khozin dan Zula pertanda "Aku Bisa Sendiri". Mereka tersenyum dan mengangguk pasrah. Melesat menuju jalanan hingga waktu menghilangkan mobil mereka.
---
Mungkin hari pertama terasa canggung. Terlihat aneh, tidak seperti biasanya yang hari-harinya selalu menatap seisi rumah. Untuk kali ini Alifan berusaha lebih santai. Menatap sekian banyak orang yang berbeda-beda. Ada yang dengan percaya dirinya memasuki asrama. Ada yang masih merengek tak ingin ditinggal.
Suara gemuruh dimana-mana. Namun dihiasi dengan berbagai macam karakteristik. Alifan dengan tenang memasukkan barang-barangnya ke lemari. Tak lupa dipasangnya foto Kira juga di pintu lemari kayu.
Sore dengan waktu masih terus berjalan, Alifan berhenti dari kegiatannya. Mendengar suara jaros(bel) yang terdengar nyaring di telinga. Santri-santri pada memasuki asrama. Umar Bin Khattab adalah asrama yang ia tempati saat ini. Tak lupa seorang kakak kelas dan guru yang membersama mereka selalu.
"Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,"
"Waalaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh,"
"Baik murud-murid ustadz yang InsyaAllah sholeh- sholeh semua. Nama ustadz yaitu ustadz Walid, musyrif kalian disini. Dan ini al'akh(saudara laki-laki) Hussen, mudabbir kalian. Dia yang akan menemani kalian, membimbing kalian, dan juga mengajari kalian tentang tertibnya peraturan. Mulai dari akhlak, perkataan, juga bahasa. Jadi kalau ada kosa kata yang tidak kalian mengerti, bisa ditanyakan langsung oleh al'akh Hussen," terang ustadz Walid panjang lebar.
"Sekarang ustadz mau tau nama kalian. Coba jelaskan identitas kalian yaa.." ditunjuk olehnya dengan cara menggantungkan kalimatnya.
"yaa(wahai).. al'akh kembar disana!" sambung beliau lagi.
"Nama saya Akhyar Musyaffa ustadz, dan ini adik kembar saya namanya Hanif Musyaffa. Kami selisih 30 menit,"
Gaya khas ustadz Walid mulai tampak pada diri beliau. Memegang jenggot panjangnya dan mengangguk paham.
"Yaa al'akh Akhyar, siapa yang kamu pilih?"
"Saya memilih orang itu ustadz!"
Seluruh pandangan tertuju pada Alifan, tersentak melihat Akhyar yang menunjuknya. Tanpa basa-basi lagi, Alifan mulai memperkenalkan diri dengan senyuman terlukis di wajahnya. Nama "Alifan Shalahuddin" itu mulai ia katakan. Juga beberapa identitasnya mengenai orang tua, alamat, usia, dll. Setelah semua usai, seperti Akhyar, Alifan dapat memilih seseorang untuk ia tunjuk. Hingga permainan tunjuk-menunjuk mulai terjadi. Tangan mereka saling menujuk keudara. Salur-menyalur hingga berakhir sudah.
---
Saat ini yang pertama kali melintas adalah sholat, dimana ia akan melaksanakan sholat magrib itu yang selalu dipikirkan Alifan karna seharusnya adzan telah berkumandang
"Afwan(maaf) ustadz, boleh saya tahu dimana letak masjidnya?"
Kagum ustadz kini mulai terpancarkan. Beliau menjelaskan dengan senyum bangganya. Betapa bahagianya beliau mendengar murid didiknya langsung menanyakan sebuah masjid meskipun naungan adzan belum dikumandangkan.
Selepas itu Alifan langsung menyegerakan mengambil air wudhu. Langkah murid-murid juga terdengar ditelinganya. Berlarian menuju ke arah masjid mengikuti jejak kakinya. Saking tergesanya sampai-sampai mushof(kitab suci Al-Qur'an) Alifan ketinggalan. Ia terkejut dan berlari ke arah yang berlawanan. Menuju tempat semulanya yakni asrama Umar Bin Khattab. Yang lebih mengejutkannya lagi, Hanif dengan santainya masih tidur-tiduran diasrama. Orang itu tidak menyadari akan kelalaiannya. Alifan hendak menegurnya, mengingatkan kesalahan yang telah Hanif perbuat. Justru Hanif malah membuang muka. Tak mengacuhkan semua peringatan Alifan. Mengusirnya dengan bahasa kasarnya. Karena enggan mencari masalah, Alifan mengetukkan jemari pada permukaan pintu. Mengakhiri percakapannya dengan salam lantas kemudian meninggalkannya yang tengah bersantai-santai dalam asrama.
Dengan sigap Alifan berlari secepat yang ia bisa. Kembali ke masjid dengan membawa mushof milikya. Akan tetapi langkahnya terhenti mendengar lantunan ayat suci Al-qur'an yang dibacakan oleh para santri. Menandakan sholat maghrib berjamaah telah selesai dilaksanakan.
Ketika itulah rasa gugup mulai menyerangnya. Dengan berusaha sesantai mungkin Alifan segera melangkah masuk menuju masjid Baitul makmur. Hingga langkahnya berhenti akibat cegatan dari qishmul amni(bagian keamanan)
"Min 'aina anta?"(dari mana saja kamu?)
Alifan terbata-bata mendengar qishmul amni yang menanyainya dengan tegas. Ingin rasanya Alifan berkata dengan jujur, menceritakan yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi, dibalik semua keinginannya itu Alifan juga ingin tidak melibatkan Hanif dalam keterlambatannya, tidak ingin menambah masalah akan kejadian yang dialaminya. Dengan terpaksa karangan-karangan mulai ia lontarkan. Sehingga waktunya saat Alifan harus menjalani hukuman telah datang. Kini Qismul amni menarik lengan Alifan agar mengikutinya masuk ke dalam ruang BK. Tanggungan akibat tidak sholat berjamaah harus ia laksanakan. Tidak ada cara saat ustadz mulai membotak rambutnya. Alifan hanya bisa menerimanya dengan pasrah. Berharap pertolongan Allah datang menghampiri. Membangunkan lagi semangat diri. Hingga pertolongan Allah benar-benar kemari. Menyelesaikan masalah yang dialami saat ini. Dengan cara mengirim Akhyar kesini. Menceritakan kejadian yang sebenarnya. Bahwa sesungguhnya Alifan telat karena mengingatkan sesama.
Rasa bingung kini menerkam otaknya. Bagaimana mungkin Akhyar dapat mengetahui kejadian ini? Sungguh, ini benar-benar keajaiban. Keajaiban yang diturunkan Allah melalui malaikat Mikail. Dengan Rizqi-Nya pula tiba-tiba ustadz Fadlan luluh dan membatalkan hukuman untuk Alifan. Mereka pun dibebaskan keluar tanpa harus melaksanakannya.
aku akan lanjutin nanti... 🥰
salam cilamici