Niat baik tidak selamanya berakhir baik, hal ini terjadi pada rumah tangga Hanna dan Rizal
Malam itu keduanya menyelamatkan seorang wanita yang mendapat kekerasan dari suaminya
Mereka membawa tubuh lemah itu kerumah dan memberikan perawatan hingga wanita bernama Arum itu pulih
Namun nasib buruk menghampiri Hana, wanita yang telah ia selamatkan ternyata menjadi racun bagi rumah tangganya bersama sang suami
Pada akhirnya Rizal terjerat oleh pesona wanita lugu bernama Arum itu, hingga pernikahannya yang telah dikaruniai dua buah hati berakhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Widuri masuk, wanita paruh baya itu terkejut saat melihat kondisi putranya. Terlebih ada orang-orang yang tengah memindahkan barang
Tadinya ia ingin memarahi putranya itu, namun melihat bagaimana kondisi Rizal saat ini membuatnya tidak tega
"Nak" Rizal mengangkat wajahnya, pria itu menangis bak anak kecil dalam pelukan sang ibu
"Hanna Bu, aku ingin Hanna" Ujarnya disela-sela tangisannya
Widuri lebih dulu menghela napasnya "Relakan dia nak, kamu sudah sangat terlambat" Ujar Widuri seraya mengusap punggung sang putra
Rizal menggeleng dalam pelukan sang ibu "Aku tidak ingin kehilangan Hanna! Tolong bawa dia kembali Bu"
Widuri menatap prihatin, ia sibuk mengusap kepala Rizal. Saat ini pria itu telah meletakkan kepalanya diatas pangkuan sang ibu
Rizal bak anak kecil yang tengah mengadu pada ibunya. Cairan bening terus saja membasahi pipinya
"Aku akan bicara dengan Hanna, semoga saja dia mau mendengar" Batin Widuri
Setelah memastikan Rizal lebih tenang, wanita paruh baya itu meninggalkan rumah putranya
Mobil yang ia kendarai tiba didepan sebuah rumah. Widuri tahu dirinya egois, tapi sebagai seorang ibu ia tidak tega melihat putranya hancur seperti ini
Widuri mengetuk, pintu dibuka oleh seorang wanita paruh baya "Ibu cari siapa yaa?"
"Apa Hanum ada dirumah?" Tanya Widuri
"Mari masuk Bu! Saya panggil kan Bu Hanum dulu!" Widuri masuk, ia diarahkan untuk duduk di sofa ruang tamu
Tak lama Hanum datang dan menghampiri sang besan. Keduanya terlihat canggung namun tetap saling melempar senyum
"Mbak Widuri" Sapa Hanum "Mbak apa kabar?"
"Baik, kamu juga apa kabar. Lama banget kita gak ketemu" Keduanya saling berpelukan lalu duduk saling berhadapan
"Ada apa ya mbak? Tumben banget kesini?" Sebenarnya Hanum tahu apa yang ingin dikatakan oleh besannya ini namun ia masih bersikap baik
"Saya kesini ingin bertemu Hanna, apa dia tinggal disini sekarang?" Tanya Widuri penuh harap
Semoga saja dengan bicara dengan Hanna, menantunya itu akan mengerti dan mau memaafkan Rizal, agar putranya itu dapat kembali hidup
"Maaf mbak, tapi Hanna tidak dirumah" Jawab Hanum
"Dimana dia? Ada hal penting yang mau aku bicarakan dengan dia"
Hanum menarik napas panjang demi menghalau amarah yang ada dihatinya "Hanna.. dia sedang menjalani pengobatan diluar negeri"
Widuri mengernyit "Memangnya Hanna sakit apa? Kok sampai berobat diluar negeri?"
Dari suaranya jelas sekali jika mertua Hanna ini tengah khawatir
"Saya rasa mbak sudah tau tentang masalah yang menimpa rumah tangga Hanna dan Rizal" Ujar Hanum
"Masalah itu mengguncang mental putri saya, dia bahkan hampir mencoba untuk bunuh diri"
Jika mengingat itu Hanum pasti kembali menitihkan air matanya karena dirinya merasa gagal menjadi seorang ibu
"Bunuh diri? Lalu bayinya?" Widuri terlihat shock
"Alhamdulillah ada orang baik dan menolong Hanna malam itu, dan setelah itu Hanna melakukan terapinya" Jawab Hanum
"Lalu dimana dia melakukan pengobatan?" Tanya Widuri
"Maaf mbak, tapi saya tidak bisa memberi tahukan apapun pada mbak Widuri! Ini demi kesehatan mental putri saya"
Ucapan Hanum membuat harapan dihati Widuri pupus. Tak ada jejak sedikitpun tentang Hanna, lalu bagaimana kondisi Rizal jika seperti ini
"Tolong beri tahu saya Hanum" Widuri memohon "Saat ini Rizal terpuruk dan hanya Hanna yang bisa membuatnya kembali seperti semula!"
"Maaf mbak, tapi sebagai seorang ibu. Aku hanya ingin memastikan anakku baik-baik saja" Hanum tidak akan luluh hanya karena Widuri memohon
"Tolonglah Hanum! Ini demi pernikahan anak-anak kita, sebagai orang tua, sudah seharusnya kita menjaga keutuhan rumah tangga anak-anak kita, kan?"
Hanum terdiam, ucapan Widuri ada benarnya. Namun dirinya hanya seorang ibu yang ingin memastikan kebahagiaan bagi putrinya
"Jika keadaannya dibalik, jika mbak Widuri adalah ibunya Hanna, apa yang akan mbak lakukan?"
Widuri terdiam, ia teringat pada pernikahannya yang hancur karena orang ketiga. Saat itu ia sangat marah dan tanpa berpikir dua kali ia menceraikan suaminya
"Maaf mbak, aku hanya ingin agar putriku bisa kembali waras" Hanum menangis
"Pengkhianatan Rizal menghancurkan mental anak saya! Dia terluka dan sebagai seorang ibu, aku hanya ingin memastikan dia bahagia"
Widuri masih diam, dirinya tidak bisa melakukan apapun saat ini. Rizal yang salah dan sudah seharusnya putranya itu mendapat hukumannya
"Tapi kondisi Rizal juga sangat mengkhawatirkan, dia membutuhkan Hanna"
Tetap saja kasih sayang seorang ibu membuat Widuri berpikir egois. Ia tidak sampai hati melihat keadaan Rizal saat ini
"Sekali lagi maaf mbak, sama seperti mbak Widuri yang ingin Rizal bahagia, sayapun juga ingin putri saya bahagia" Kata Hanum
Widuri hanya bisa pasrah, wanita paruh baya itu pulang dengan tangan kosong. Ia tidak bisa membawa Hanna bertemu Rizal karena menantunya itu tidak berada di negara ini
Namun Hanum juga enggan untuk memberitahukan dimana tepatnya keberadaan Hanna, sekarang dirinya tidak memiliki harapan untuk membuat putranya bahagia
Widuri kembali kerumah, Rizal yang mengetahui sang ibu datang segera menghampiri
"Gimana Bu? Apa Hanna mau ikut sama ibu?" Tanyanya dengan tidak sabaran
"Maaf nak, tapi ibu tidak berhasil membawa Hanna" Rizal terlihat lemas, Widuri dengan cepat membawa putra sulungnya itu duduk di sofa
"Nak"
"Dimana Hanna Bu? Aku hanya ingin bertemu dia sekali saja" Rizal kembali menangis dan itu sangat melukai hati Widuri sebagai ibu
"Apa aku tidak pantas untuk mendapatkan kesempatan kedua Bu?" Lirih Rizal yang masih tidur dipangkuan sang ibu
"Sabar nak! Setelah kamu bisa bertemu dengan Hanna, maka minta maaf kepada dia! Ibu yakin Hanna akan memaafkan kamu"
Rizal mengangguk "Hanna itu wanita yang berhati lembut, dia tidak akan tega melihat aku menangis"
Sementara itu jauh di negeri seberang, Hanna bersama Hanin serta seorang pria yang terus bersama mereka
Tiga orang itu tengah bersenang-senang sambil menikmati eskrim bersama "Mbak udah gak sabar untuk pulang"
"Mbak harus cepet sembuh kalau gitu! Anak-anak pasti udah kangen banget sama mamanya" Ujar Hanin yang diangguki oleh sang kakak
"Mbak udah bertekad akan sembuh!"
"Aku sudah bicara dengan dokter kamu, kamu tinggal hanya menjalani satu pemeriksaan terakhir dan kamu dipastikan sembuh!"
Ucapan dokter tampan itu jelas saja membuat kedua wanita itu senang
"Dokter serius kan?" Tanya Hanna seolah tak percaya
"Tentu saja, kamu menunjukkan banyak perubahan Han, dan itu sangat baik" Dokter Rama tersenyum hangat
"Aku seneng banget dengernya mbak" Hanin memeluk sang kakak penuh kasih
"Artinya mbak hanya perlu menunggu satu bulan lagi" Hanna terlihat begitu antusias
Rasanya ia sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan anak-anaknya. Dua malaikat kecilnya yang ia tinggalkan demi dapat sembuh dari rasa sakit ini
"Pokoknya mbak harus semangat, semua orang pasti seneng banget kalau tau mbak Hanna sembuh"
Setelah berada diluar hampir seharian penuh, ketiganya kembali ke apartemen tempat Hanna tinggal selama ini
"Gak bisa yaa dek, kamu disini aja temenin mbak?" Tanya Hanna pada sang adik, keduanya tengah berada didalam kamar karena Rama di sofa ruang tengah
"Aku juga pengen nemenin mbak Hanna disini, tapi kan kuliah aku sebentar lagi akan selesai. Toko juga butuh perhatian lebih"
Hanna mencoba untuk mengerti, sebenarnya dirinya merasa kesepian disini. Jauh dari keluarga dan orang-orang yang dicintai adalah hal yang berat
"Bulan depan mbak Hanna kan udah pulang" Ujar Hanin saat melihat wajah sedih sang kakak
Hanna menampilkan senyum manisnya "Kamu benar, mbak hanya perlu bersabar. Tinggal satu bulan lagi"
Keduanya tersenyum lalu saling berpelukan, Hanna telah melupakan rasa sakit dan pengkhianatan yang dilakukan Rizal suaminya
Ia akan menjalani hidup ini dengan sangat baik, menjadi ibu yang baik bagi kedua buah hatinya
ngapain juga ngurusin laki bgitu kl Aku mah bodo amat.
Aku dah ngrasain kok dan gk sebucin itu ma laki.
di khianati tambah sukses bukan mlh Gila Dan gk bisa move on plus plenger.