Kevin Setiawan, 25 tahun, adalah seorang pengusaha muda kaya, yang kabur dari rumah karena menolak di jodohkan oleh orangtuanya.
Untuk menutupi identitasnya, dia tinggal di sebuah rumah kos dan bekerja sebagai pegawai minimarket.
Suatu malam dia menemukan seorang bayi tepat di depan pintu rumah kosnya, pertemuan dengan bayi perempuan itu membuat hidup Kevin berubah, dan kini dia menyandang status ayah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menegangkan
Kevin menatap ke layar ponselnya tanpa berkedip, baru beberapa hari dia kembali, ternyata gerak Papanya begitu cepat.
"Tania, kau tunggulah di sini bersama Meira, aku mau keluar menelepon sebentar..."
Tanpa menunggu jawaban Tania, Kevin langsung keluar dari dalam mobilnya. Lalu dengan cepat dia menekan tombol nomor Paul.
"Halo..."
"Halo Paul, kok Papa bisa tau sih rekening perusahaan di ambil alih...?!" Tanya Kevin.
"Mana gue tau, waktu itu kan gue udah bilang, Om Herry mantau terus lu punya perusahaan..." Jawab Paul.
"Jadi gimana sekarang?"
"Itu dia Vin! Bokap lu telepon terus, dan gue pura-pura sibuk jadi belum diangkat nih...!"
"Gini aja Paul, kau pura-pura tidak tau keberadaan ku!"
"Tidak bisa Vin! Dia udah curiga banget sama gue...!"
"Terus gimana dong?!" Kevin nampak frustasi.
"Udah, lu nyerah aja deh Vin...gue juga udah capek main kucing-kucingan!"
"No! Enak saja nyerah, aku sudah terlanjur Kabur, masa nyerah begitu saja, Cemen amat!" Dengus Kevin.
"Ah terserah deh...gue kabur aja deh keluar negri...sori Vin, gue udah tidak sanggup ngurus perusahaan lu lagi, nggak enak gue sama Om Herry!"
"Paul! Kau tidak serius kan mau kabur keluar negri??"
"Serius Gue...capek bro...capek!!"
"Oke....oke...sekarang gini aja sementara, kau kabur saja ke tempatku, aku akan kirim alamatku, sementara kita sembunyi di kota ini dulu, sambil pikirin bagaimana jalan keluarnya..." Usul Kevin.
"Tapi kalau ketauan bagaimana?"
"Gampang, kau kesini naik pesawat, jangan lupa bawa jaket, topi dan masker, biar orang nggak ada yang mengenalimu!"
"Lu serius Bro!"
"Ya serius lah, ngapain juga bohong, kurang kerjaan amat!"
"Oke deh, gue berangkat besok subuh, sekarang mau pesen tiket dulu, tapi kantor nggak apa-apa nih gue tinggal kabur?"
"Nggak apa-apa, udah ada divisinya masing-mqsing, nanti aku tinggal pantau dari sini...sekarang kan canggih, kerja saja bisa online...!"
"Ya udah deh...tunggu gue besok Vin! Cepet kirim alamat lu!"
Kemudian Paul mematikan sambungan teleponnya. Setelah mengirim pesan singkat ke Paul, Kevin kembali masuk ke dalam mobilnya.
"Kau lama sekali Vin, telepon siapa sih?" Tanya Tania.
"Sepupuku Tania...Besok dia mau datang kerumahku...!" Sahut Kevin sambil mulai melajukan mobilnya.
"Oya? Jangan lupa kenalin aku ya, cewek atau cowok sepupunya?"
"Cowok! Tapi janji jangan naksir sama dia!" Ujar Kevin. Tania tertawa mendengarnya.
"Memangnya kenapa kalau aku naksir sama dia?" Goda Tania sambil tersenyum.
"Aku pasti akan cemburu!"
"Oya? Memangnya dia lebih tampan darimu?"
"Sudahlah Tania...untuk apa kau menanyakannya terus?" Sungut Kevin.
Tania tertawa melihat reaksi Kevin, dengan wajah cemberut dan kemerahan.
"Mei, lihat tuh Daddy mu, cuma di goda sedikit tampangnya sudah seperti kepiting rebus...!"
"Ummm aaaa....ummm aaaa!" Respon Meira.
"Meira....kau jangan ikut-ikutan menggoda Daddy ya...biarkan saja Mami Tania yang menggoda Daddy...Meira jangan ya..."
"Siapa bilang, lihat saja tampang Meira, dia nampak membela aku!" Seru Tania.
"Awas ya Meira...nanti Daddy tidak buatkan susu lho untuk Meira ...!"
Tiba-tiba mata Kevin menangkap tubuh seseorang di pinggir jalan, tempat di jualnya motor-motor bekas. Spontan Kevin menghentikan laju mobilnya.
"Ada Apa Kevin?" Tanya Tania kaget.
"Tania, itu si Joni, seharian ini dia menghilang...sekarang malah ada di sini...!" Kata Kevin sambil menunjuk kearah Joni yang berdiri diantara deretan motor bekas.
"Oh...iya betul, itu kan si Joni temanmu Vin, lagi ngapain dia disitu?"
"Kau tunggu sebentar disini ya, aku menemui Joni sebentar...!"
Kemudian Kevin keluar dari mobilnya. Perlahan dia mendekati Joni yang berdiri membelakanginya. Kemudian Kevin menepuk bahu Joni, Joni sangat kaget melihat Kevin, wajahnya memucat, matanya membola.
"Kevin? Ngapain kau kemari?" Tanya Joni.
"Ada juga aku yang bertanya padamu Jon, kau kemana seharian ini, Mbak Yanti tambah keriting menghubungimu...!"
Joni nampak menunduk, sampai ada seorang pria yang mendatangi mereka.
"Jadi gimana Mas? Motornya hanya laku 6 juta, itu juga sudah harga bagus...!" Ujar si pria itu.
"Jon? Kau mau jual motor? Nanti berangkat kerja naik apa? Ojek online terus mahal lho Jon...!" Tanya Kevin.
"Vin, adikku mau masuk sekolah pelayaran, kurang biaya, makanya aku jual motor, seharian ini cari-cari pembeli belum ada yang cocok harganya..." Ungkap Joni akhirnya.
Kevin terdiam, di rumah besarnya begitu banyak mobil di garasi yang jarang di pakai, sementara Joni harus menjual motor bututnya untuk membiayai adiknya sekolah. Tiba-Tiba ada yang mengusik perasaan Kevin.
"Jon, kau tak perlu menjual motormu, aku akan membantu membiayai sekolah adikmu..." Ujar Kevin.
"Jangan becanda Vin! Kita kan sama-sama tau berapa gaji kita di minimarket, aku ikhlas kok kalau memang harus jual motor...!" Sahut Joni.
Kevin langsung merogoh dompet di saku celananya.
"Jon, di dompetku cuma ada 5 juta, tapi tolong kau berikan nomor rekening sekolah adikmu, malam ini atau besok aku langsung transfer...!" Ucap Kevin sambil memberikan sejumlah uang yang ada di dompetnya.
"Vin..ini beneran Kevin temanku kan?" Joni menatap Kevin tak percaya.
"Ya iya lah, memangnya kau kira aku hantu? Sudahlah, mana nomor rekening sekolah adikmu??" Tanya Kevin.
"Aku tidak tau Vin, tapi nanti aku kirim pesan singkat saja di ponselmu..."
"Baik, aku tunggu ya, dan jangan kasih tau ini sama Mbak Yanti...biar ini jadi rahasia kita berdua saja!" Ucap Kevin.
"Trimakasih Vin, aku berhutang banyak padamu...!" Kata Joni terharu.
"Lupakan Jon, ini bukan hutang...aku ikhlas memberikannya padamu..." Sahut Kevin.
"Uang warisanmu banyak juga Vin, salut aku sama nenek moyangmu..." Ucap Joni.
"Hahahaha....kau bisa saja Jon!"
"Sayang nenek moyangku bukan seorang pelaut Vin...makanya adikku aku masukan ke sekolah pelayaran, supaya dia bisa seperti nenek moyangmu Vin...!" Jelas Joni. Kevin Membulatkan matanya.
"Oh My God! Jadi kau memasukan adikmu karena terinspirasi nenek moyangku Jon??" Tanya Kevin.
"Iya lah Vin, aku kan juga ingin masa depan yang baik seperti nenek moyangmu yang bisa memberikan warisan sebesar itu..." Ungkap Joni.
Kevin terdiam, tiba-tiba perasaan bersalah menyelimutinya. Dia merasa telah membohongi orang se polos Joni.
"Jon, orang sukses dan banyak uang bukan hanya jadi pelaut, jadi apapun asalkan dia tekun, suatu saat pasti akan sukses juga...!" Jelas Kevin.
"Kau betul Vin, tapi buktinya, pelaut bisa meninggalkan warisan yang begitu banyak, seperti kau contohnya, bukan hanya bisa membeli mobil bagus, tetapi juga bisa membantu orang seperti aku dan adikku..." Ungkap Joni.
'Maafin aku Jon....aku ini pengusaha bukan pelaut...' Batin Kevin.
********