Kisah dua insan yang saling mencintai, namun terhalang oleh restu orang tua. Seorang pemuda nan soleh jatuh cinta kepada seorang gadis yang biasa saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Diana Santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan Bersama Karina
Kenangan adalah momen yang tak akan bisa dilupakan
Meski ingin tapi sulit melakukannya
Walaupun itu duka atau suka
Kenangan akan tetap ada
Dia adalah sebagian perjalanan hidup kita
...*****...
"Andai saja aku bisa terus melakukan ini bersama kamu, Ri," ucap Karina lirih, sambil menoleh ke arah Riri sesekali.
"Kenapa begitu, Rin? Walau nanti, aku tidak ada di sini lagi. Kamu 'kan masih bisa pergi dengan temanmu yang lain, Rin," tukas Riri.
"Mereka berbeda denganmu, Ri. Walau kamu jauh lebih muda dariku. Tetapi, pemikiran mu bahkan sudah sangat dewasa, Ri. Terkadang, aku merasa kamu jauh lebih dewasa Ketimbang aku." keluhnya pada Riri.
Mendengar itu, terang saja Riri langsung membantahnya.
"Itu tidak benar, Rin. Kamu wanita yang amat sangat dewasa dan juga bijaksana. Kamu harus tahu itu. Di saat tidak ada yang peduli padaku. Kamu justru menawarkan diri untuk menolongku. Kamu masih ingat itu, 'kan, Rin?"
Lalu, mereka saling tersenyum satu sama lain. Meskipun, mereka telah membahas banyak hal. Riri masih saja penasaran dengan cerita hijab sahabatnya itu.
"Ri, kenapa, sih?! Dari tadi aku perhatikan kamu seperti sedang memikirkan sesuatu, ya?" tanya Karina heran melihat Riri.
Awalnya, dia masih belum jujur. Tapi, akhirnya tidak tahan juga. Dia langsung bertanya pada Karina.
"Rin, cerita 'kan lagi padaku! Bagaimana bisa kamu bertahan dengan hijab mu? Aku penasaran akan hal itu, Rin ...."
Karina menarik nafas sebelum ia berucap.
"Riri, jika kamu memang ingin tahu akan hal itu. Sebaiknya, kenali dulu hati kamu! Apa benar, kamu sungguh-sungguh akan hal itu? Jika memang hati kamu berdetak kencang ingin melakukannya. Saat itulah kamu dengan sendirinya tahu, mengapa aku mempertahankan hijab ku, Ri. Ingat, 'Hidayah' itu di jemput dengan hati yang tulus dan ikhlas!" ucap Karina dengan terperinci.
Kini, Riri mulai sedikit memahami penjelasan dari Karina. Semakin ia mengenal Karina, maka semakin ia mencintai Islam pastinya.
Berkat Karina lah yang selama ini selalu mengajarkannya tentang ilmu agama. Bahkan, baginya Karina adalah seorang guru yang amat sangat cerdas dan kreatif dalam mengajarkan ilmu padanya.
Setiap manusia di muka bumi ini, pastilah akan selalu membutuhkan figur seseorang dalam hidupnya.
Cukup lama Riri merenungkan ucapan Karina. Sampai pada akhirnya, Karina menyadarkan lamunannya.
"Ri, lihat di sana!" tunjuk Karina ke arah seberang jalan.
"Ada apa di sana, Rin?" tanya Riri penasaran.
"Itu, ada orang bermain biola. Sepertinya, dia sangat mahir sekali memainkannya. Ayo, kita ke sana untuk melihatnya!" ajak Karina pada Riri.
Alunan melodinya begitu merdu dan indah. Siapa pun yang mendengarnya pasti akan menyukainya. Itulah yang di rasakan oleh Riri dan juga Karina.
Mereka benar-benar menikmatinya, sampai mereka lupa waktu dan melewatkan makan siang mereka.
Tapi, berhubung perut mereka ikut koser juga, maka mereka putuskan untuk membeli makanan.
"Ri, perutku keroncongan, nih. Cari tempat makan dulu, yuk!" ajak Karina karena lapar.
"Iya, ayo kita cari makan dulu!" ajak Riri juga pada Karina.
Ketika mereka ingin meninggalkan tempat itu. Pria yang bermain biola meminta mereka untuk tetap berada di tempat itu.
Hal itu tentu saja membuat Riri dan Karina menjadi bingung. Mengapa pria itu menahan mereka?
"Hey, you! Stay here!" teriaknya pada dua gadis itu.
Mereka hanya bisa terdiam dan tak berkata apa-apa. Setelah pria itu selesai memainkan biolanya. Pria itu menghampiri mereka dan mengajak mereka ke suatu tempat.
Mereka tak ingin mencari masalah, makanya mereka menurut saja. Ketika pria itu lengah, Karina dengan cepat mengirimkan pesan pada Riko. Untuk berjaga-jaga, jikalau pria itu macam-macam nanti.
Begini isi pesannya.
Ko, kami sedang ada di taman yang penuh bunga sakura. Aku tidak tahu ini di mana. Ada pria asing yang membawa kami.
Ketika Riko membaca isi pesan tersebut, dia langsung tahu di mana mereka saat ini. Melihat ekspresi Riko yang kaget begitu. Minami jadi khawatir. Kebetulan, Minami saat ini ada di samping Riko.
"Ada apa, Ko? Kenapa kamu kaget, begitu?" tanya Minami.
"Sepertinya, Karina dan Riri dalam bahaya, Bu. Aku harus segera pergi menolong mereka, Bu." ucapnya terburu.
"Kalau begitu, hati-hati!" kata Minami mencemaskan karyawannya itu.
"Ya, Bu. Aku pergi dulu."
Riko tak pernah secemas dan setakut ini sebelumnya. Riko, benar-benar tak lagi hirau dengan keselamatan dirinya sendiri. Bahkan, dia hampir saja membahayakan nyawanya.
Dia melaju dengan sangat kencang di jalanan aspal itu. Saat ini yang ada di otaknya hanyalah menemukan Karina dan Riri secepatnya.
Mereka berdua adalah wanita yang paling berarti dalam hidupnya. Karena merekalah, Riko dapat selalu tersenyum setiap hari dan selalu tertawa dengan gembira.
Sedangkan, Karina saat ini tengah berusaha menanyakan pada pria asing itu.
"Sumimasen, watashitachi wa anata o machigaemashita ka? Setsumei shite kudasai! Naze watashitachi o kono basho ni tsurete itta nodesu ka?" ucapnya dengan sangat gugup dan ketakutan.
(Maaf, apakah kami bersalah padamu? Tolong jelaskan padaku! Mengapa kamu membawa kami ke tempat ini?)
"Saisho ni watashitoisshoni kite kudasai! Atode, anata mo shitte irudeshou." ucapnya dengan sopan.
(Ikut saja denganku terlebih dulu! Nanti, kalian juga akan tahu.)
Apa pun yang dia lakukan saat ini, tetap saja membuat mereka cemas dan takut. Mereka terus berjalan, hingga mereka bertemu seseorang di ruangan itu.
Ternyata, pria asing itu bertemu dengan seorang pria lainnya. Pria itu terlihat seperti orang baik-baik.
Ketika sampai di tempat itu, pria itu menyambut mereka dengan sangat ramah dan sopan.
"Please, sit! I'll ask the waiter to make a drink." titahnya dengan tersenyum.
(Silahkan duduk! Aku akan meminta pelayan untuk membuatkan minum.)
Apa yang tengah terjadi benar-benar membuat Karina dan Riri bingung dan takut.
"You guys don't worry! We are good people, we just want to ask you. That is all!"
(Kalian jangan khawatir! Kami adalah orang baik-baik, kami hanya ingin bertanya. Itu saja!)
"You see, Miss, we are currently in need of someone to be a model for our video clip. That's what I want to say. Sorry, if our way is a bit extreme!" jelasnya panjang lebar.
(Begini, Nona, kami saat ini sedang membutuhkan seseorang untuk menjadi model video klip kami. Itu yang ingin saya sampaikan. Maaf, jika cara kami agak sedikit ekstrim!)
"Oh, I see. But, why us?" tanya Karina.
(Oh, begitu. Tapi, kenapa kami?)
"Because you guys fit perfectly with the characters we need."
(Karena kalian sangat cocok dengan karakter yang kami butuhkan.)
"I have to discuss it with my friends and boss first!"
(Saya harus mendiskusikannya dulu dengan teman dan bos saya.)
"Of course, go ahead!"
(Tentu, silahkan saja!)
Minuman pun datang, Riri yang mendengar itu semua hanya bisa diam saja. Setelah selesai bicara dengan pria yang berkuasa itu. Karina langsung menjelaskan semuanya pada Riri.
"Rin, mana mungkin aku juga terlibat. Kamu 'kan tahu kalau aku besok mau pulang ke Indonesia."
"Oh, Ri. Mana mungkin juga aku menerima tawaran ini. Ini sama sekali nggak kepikiran sama aku." ucap Karina berbisik pada Riri.
Riko pun datang dan menerobos masuk tanpa meminta izin terlebih dulu. Dia mendobrak pintu dan menendangnya berulang-ulang kali.
Dia bisa menemukan keberadaan Karina dan Riri melalui GPS Karina yang menyala.
"If you don't want me to use violence on you. Please take the two women out, now!" teriak Riko dari luar.
(Jika tidak ingin aku memakai kekerasan pada kalian. Tolong keluarkan dua wanita itu, sekarang!)
"Calm down, sir! I can prove to you that I am a good person." ujarnya pada Riko.
(Tenanglah, Tuan! Saya bisa buktikan bahwa saya orang baik-baik.)
"Sorry, me and my friends have to leave here. We still have a lot to do!" kata Riko, sambil menggandeng tangan sahabat-sahabatnya itu.
(Maaf, saya dan teman-teman saya harus segera pergi dari tempat ini. Masih banyak yang harus kami kerjakan.
***
Hari ini, begitu melelahkan sungguh hari yang berat bagi Riri, Karina dan juga Riko. Mereka melewatinya bersama dengan sangat tabah dan kuat.
Esok adalah batas waktunya Riri untuk berada di sini. Berakhir sudah perjalanan yang tak jelas ini.
Tibalah waktu baginya untuk kembali ke kehidupannya di Indonesia. Tentunya dengan segala rutinitasnya sebagai anak bagi ibunya.
***
Mungkin Ryu lebih condong ke sifat ibunya
Sosoknya masih misterius, semoga dia juga orang baik
Hey kaum adam! Awas aja ya kalau kalian berani bikin Puri patah hati maka kalian akan dihajar olehnya
Gibran kamu mau tahu siapa yang ada dihati Riri? Sini aku bisikin namanya itu Ryu
Riko,Riri takut teman-teman sekolahnya digondol maling jadi dia agak ragu untuk ikut pergi sama kamu😂
Meski begitu tetap aja hati Rico hancur berkeping-keping
Tapi syukurlah, Riri ada tempat tinggal.
Daesuke kamu harus move on dan cobalah membuka hatimu kembali untuk wanita lain
Itu benar banget Gibran, kamu itu membuat Riri jadi gak fokus belajar tahu tapi Riri tak mau mengakuinya
Terus nanti Ryu gimana? Apa dia bukan jodohnya Riri?
Gibran sama Roni lucu banget sih kalian😂
Cowok kayak kamu termasuk langkah Ryu
Riri ibumu nyembunyiin kunci dipot kalau aku sih nyembunyiin kunci rumah dibawah keset yang ada didepan pintu
Jadi Riri menolak tawaran orang itu dong kalau dia mau pulang keIndonesia? Kalau Karina gimana?
Puri aku yakin Riri juga merasakan hal yang sama kaya kamu. jadi bersabarlah kalian pasti dipertemukan lagi sama Authornya ya😁
Ya ampun itu namanya ikatan batin ya Ryu, gak lihat orangnya tapi kamu bisa merasakan kehadirannya
The best deh Ryu, suka sama karakternya