NovelToon NovelToon
Putri Quraisy Dari Masa Depan

Putri Quraisy Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: MOEROUL

Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

BAB 14

Goran lalu mematung.

Tatapannya tertuju pada kobaran api unggun, terlihat sedang menggali ingatannya dalam dalam.

"Goran..." panggilku pelan.

"Kalau tidak mau dijawab, tidak apa-apa."

Pria itu menoleh. Wajah kerasnya tampak setenang biasanya.

"Kenapa tidak?" sahutnya dengan nada datar. "Kau menyelamatkan nyawanya. Kau berhak tahu dari mana dia berasal."

Ia menyandarkan punggungnya ke dinding kayu, menatap langit langit pondok.

"Dulu, saat masih menjadi perampok, aku melakukan banyak sekali hal buruk. Darah dan emas adalah hidupku," Goranpun memulai kisahnya.

Aku mendengarkan dalam diam. Jantungku sedikit berdebar. Raksasa ini dulunya adalah perampok berdarah dingin. Fakta itu saja sudah cukup membuat bulu kudukku berdiri, tapi aku berusaha menjaga wajah balita ini tetap tenang.

"Suatu hari, kelompok kami singgah di sebuah pos perdagangan besar di jalur perbatasan selatan. Tempat itu penuh dengan tenda pedagang budak, arak murah, dan rumah bordil," lanjut Goran tenang. "Di salah satu rumah bordil itu, aku menghabiskan perakku untuk seorang perempuan. Rambutnya keemasan, matanya biru jernih. Begitu melihatnya, aku tak peduli lagi pada hal lain di ruangan itu."

Goran mengusap janggutnya perlahan. Matanya menerawang jauh menembus nyala api.

"Setelah malam itu, aku pergi berbulan bulan bersama kawananku. Hampir satu tahun kemudian, kami kembali melewati jalur yang sama. Aku sengaja mampir ke rumah bordil itu lagi untuk menemuinya." Goran terdiam sejenak. "Tapi kali ini, dia sedang menggendong seorang bayi."

"Lalu?" tanyaku pelan, menahan napas.

"Perempuan itu menyambutku dengan senyum. Dia mengarahkan bayi itu padaku dan berkata pelan, 'Ah, kau kembali. Lihatlah, ini benihmu. Kuberi nama Mila.'"

Aku mengerjapkan mata. Pikiranku mencoba memproses dengan cepat.

"Aku bingung tentu saja," Goran melanjutkan ceritanya tanpa sedikit pun nada marah, seolah ini hanyalah percakapan biasa.

"Lalu perempuan itu membelai dadaku dan bicara dengan sangat lembut. Dia bilang, 'Aku harus segera mulai melayani tamu. Air susuku ini juga bisa untuk dijual kepada pria yang mau membayar, bukan untuk dihisap bayi ini. Jadi... bawalah dia.'"

Aku menelan ludah. Perempuan itu menjadikan air susunya sendiri sebagai barang dagangan.

"Dia menyuruhku membawa Mila," Goran menatapku lurus. "Dia bilang, 'Kau ayahnya kan? Besarkan dia. Nanti, sepuluh atau lima belas tahun lagi saat tubuhnya sudah mekar sepertiku, kau bisa mengembalikannya ke sini. Pria pria kaya akan membayar mahal untuk gadis secantik dia, dan kita berdua bisa membagi peraknya.'"

Perutku mendadak mual. Mual yang luar biasa hebat.

Otakku sampai kesulitan mencerna kelicikan yang begitu terencana itu. Perempuan itu tidak membuang bayinya; ia sedang melakukan investasi. Ia menitipkan beban mengasuh anak kepada seorang perampok lugu, untuk kemudian dipanen dan dijual sebagai pelacur saat bayi itu dewasa nanti. Dan ia mengatakannya selembut hembusan angin.

"Dan kau... langsung menyetujuinya?" tanyaku dengan suara tertahan.

"Waktu itu aku tidak terlalu memikirkan kata katanya," jawab Goran santai. "Tapi saat bayi itu menatapku dengan mata birunya... ada sesuatu di dalam sini yang terasa aneh." Goran menunjuk dadanya sendiri. "Jadi aku mengambilnya begitu saja."

Goran mengubah posisi duduknya yang besar. "Aku keluar dari rumah bordil itu dan berjalan ke tenda kawananku untuk memberitahu teman temanku bahwa aku akan pergi dari kelompok untuk membesarkan Mila."

"Teman teman perampokmu... membiarkanmu pergi begitu saja?"

Goran tertawa kecil, suara baritonnya bergetar di tenggorokan.

"Hahaha tentu saja mereka tidak terima. Mereka marah, tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan. Saat itu salah satu kawanku bahkan menarik lenganku. Dia bilang, 'Goran, kawan, kau ini gila? Kau petarung utama kami! Jangan biarkan pelacur itu membuang masalahnya padamu. Tinggalkan saja bayi itu di pinggir jalan, besok juga mati kedinginan. Apa kau tak ingin mendapatkan emas yang lebih banyak lagi?' Mereka tidak ingin kehilanganku karena aku adalah yang terkuat di dalam kelompok."

"Tapi Goran tetap pergi?"

"Ya. Aku tidak memedulikan mereka. Aku berbalik, berjalan sejauh mungkin membawa Mila, kembali ke rumah peninggalan orang tuaku ini."

Aku mencerna kisah itu dalam dalam. Masa lalu yang kelam, pengkhianatan moral, dan keputusan nekat seorang raksasa yang tiba tiba menemukan hatinya. Namun, begitu cerita itu menyentuh bagian ia tiba di pegunungan, satu logika besar langsung menghantam akal sehatku.

"Goran," tanyaku, kali ini dengan dahi berkerut keras. "Mila masih butuh susu saat itu. Bagaimana caramu membuat Mila tetap hidup selama bertahun tahun di tempat seperti ini?"

Lagi lagi, raut wajah Goran sama sekali tidak berubah. Ia menjawab dengan nada kasual yang teramat sangat biasa.

"Oh, itu gampang," jawab pria itu lugas. "Aku membawa beberapa budak perempuan yang bisa mengeluarkan susu dari tempat itu untuk menyusuinya."

Aku memiringkan kepala. Kata katanya terdengar ganjil.

"Membawa? Maksudmu... kau membayar mereka untuk ikut ke atas sini?"

Goran mendengus pelan, seolah pertanyaanku itu konyol. "Tidak. Aku menculiknya. Kurantai kaki mereka di sudut sana agar tidak lari."

Mataku perlahan melebar. Jantungku berdetak satu ketukan lebih cepat.

"Lalu...?" aku menelan ludah, menatap wajah keras raksasa itu. "Bagaimana jika mereka tak lagi menghasilkan susu?"

"Kupatahkan lehernya. Kubuang ke bawah."

Jawaban itu meluncur begitu saja. Pendek. Tanpa keraguan. Tanpa emosi. Goran menatap perapian seolah ia sedang membicarakan cara membuang tulang sisa makan malam. "Dan aku turun mencari budak baru lagi."

Aku ternganga. Mulutku setengah terbuka.

"Mematahkan... lehernya?"

"Ya. Kalau mereka melawan atau mencoba kabur, kubunuh juga," Goran melanjutkan santai. "Tapi suatu hari, ada satu budak yang memberitahuku sesuatu yang berguna sebelum kubunuh. Dia bilang Mila sudah berumur satu tahun, giginya sudah ada. Mila sudah bisa makan asalkan aku mengunyahnya sampai halus."

Goran mengusap janggutnya. "Saran yang bagus. Jadi setelah kupatahkan leher budak itu, aku tidak pernah mencari budak perempuan lagi. Aku hanya mengunyah daging buruanku dan menyuapkannya pada Mila."

"Astaghfirullah..."

Kata itu meluncur tanpa sadar dari bibirku. Napasku memburu. Tanganku sedikit gemetar.

Ya Allah... pria ini benar benar tidak mengerti. Dia membunuh wanita wanita malang itu semudah mematahkan ranting kering, lalu menjejali perut bayi ini dengan daging hasil kunyahannya. Bagi raksasa ini, semua kengerian itu hanyalah cara praktis untuk menjaga putrinya tetap bernapas.

Mendengar ucapanku barusan, Goran memiringkan kepalanya. Alisnya yang tebal bertaut.

"Asta...? Apa itu? Apa kau sedang merapal sesuatu?" tanyanya bingung.

Aku tersentak sadar lalu aku harus segera mengalihkan pikirannya.

"Bukan, bukan apa apa," dalihku cepat, langsung mengubah nada suaraku menjadi sangat serius. Aku menatap lurus ke matanya.

"Goran... tempat perempuan itu berada, sangat kotor dan jahat. Mila anak yang baik."

Mendengar nama putrinya disebut, kebingungan Goran seketika menguap. Seluruh perhatiannya kembali terpusat padaku.

"Jadi," lanjutku penuh penekanan, "Jangan pernah Goran kembalikan Mila ke tempat perempuan itu lagi!."

Goran terdiam sejenak. Ia menoleh, menatap wajah damai Mila yang sedang tertidur pulas dengan kepala di pangkuanku.

"Tentu saja tidak akan," jawab Goran datar, namun ada ketegasan mutlak di setiap nadanya. "Aku memang bodoh soal banyak hal. Tapi aku tahu satu hal... aku akan mencabik siapa saja yang mencoba mengambilnya dariku."

Aku menghela napas lega. Setidaknya, insting perlindungan ayah ini cukup kuat untuk menyelamatkan Mila dari rencana ibu kandungnya sendiri.

Goran lalu berdiri. Tubuhnya yang tinggi besar menghalangi cahaya api unggun. Dengan gerakan yang sangat berhati hati dan lembut, jauh dari kesan pembunuh berdarah dingin yang baru saja ia ceritakan, Goran mengangkat tubuh kecil Mila dari pangkuanku.

Ia membaringkan putrinya di atas dipan dan menarik selimut bulu untuk menghangatkannya.

Melihat itu, aku pun bangkit, mulai membereskan mangkuk kayu dan merapikan sisa kayu bakar. Sambil merebahkan tubuh kecilku di sudut ruangan, aku menutup mata. Berusaha keras menenangkan perutku yang mual setelah menyadari kenyataan malam ini.

Goran bukanlah orang gila yang menikmati penderitaan orang lain. Ia jauh lebih mengerikan dari itu.

Aku sedang berbagi atap dengan manusia sangat mematikan yang tidak mengerti apa itu dosa. Keluguannya sama berbahayanya dengan ayunan kapak di tangannya. Dan yang paling membuatku merinding adalah kenyataan bahwa cinta murni seorang ayah di tempat ini, ternyata dibangun di atas tumpukan mayat yang tak terhitung jumlahnya.

1
Sarah
Hahaha 😂
Sarah
Yaelah. 😂
Sarah
Aduh, jangan sampai dikira nyolong. 😭
Sarah
Emang di zaman kuno ada yang kayak gini? raksasa gitu...? Maksudku, kalau ini zaman Nabi Adam sih make-sense karena tingginya kakek moyang kita ini juga.... 😭
Tapi kalau ini zaman sebelum kelahiran nabi... manusianya kan udah pada pendek. 😭
Sarah: Iyasih, kalau misalnya kelahiran zaman purba awal banget, Goram dan Mila pasti pendek kehitungnya. Tapi karena ini zaman pra-kelahiran rasul, tinggi mereka jadi terhitung terlalu tinggi dan gak normal. 🙂
total 2 replies
Sarah
Dia pasti masih hidup, Qatilah. Seharusnya, Waraqah bin Naufal akan bertemu Rasulullah untuk menyatakan kenabiannya nanti bukan? Tapi kalau apakah kalian bisa bertemu lagi... entahlah.
Sarah
Sakit banget baca bab ini... lihat remaja sama anak kecil survive berdua. 😭😖
Sarah
Kudanya pasti Syahid. Karena mengantar orang yang akan membenarkan kenabian Rasulullah saw bersama adiknya untuk bertahan hidup.
Sarah
Tapi... penyerangan ini... memang tidak pernah Maya baca di sejarah kah? Apa ini sesuatu yang tidak tercatat? Sesuatu yang dia lupa? Atau... sesuatu yang berubah?
Sarah: Iyasih, aku aja baru tahu Waraqah bin Naufal itu punya saudari. Dan pada dicari, rupanya bener. Cuma minim info, cuma ada yang tentang menawarkan diri ke Abdullah. 🙂
total 2 replies
Sarah
Antara dia gak diculik tapi diselamatin, atau udah diculik tapi berhasil diselametin.
Sarah
Diculik kah?
Sarah
Susu manis emang udah ada yah di zaman itu?
Maya: ada tapi bukan pake gula melainkan madu
total 1 replies
Sarah
Wah... yang mengenali kenabian nabi itu bukan sih? Yang sepupunya Siti Khadijah? Apa aku salah ingat yah?
Maya: yup betul 😄
total 1 replies
Sarah
Ah... gak bisa bayangin perasaan Abi Uminya... 😭
Sarah
Menarik, isekai tapi ke arab dan MC-nya muslimah. Meskipun nyatanya kalau orang mati ya... kagak ada reinkarnasi yang ada ditanyain man robbuka langsung. Tapi yah... di dunia ini ’kan ada banyak yang tidak ketahui. Bisa aja cewek ini diberikan takdir yang agak... lain...? Pasti ada alasannya kenapa dia malah dilemparin ke masa lalu. Bagus, thor. Konsepnya menarik banget. 👍😂
Sarah: Namanya juga fiksi kak. Nikmati aja hiburan. 😂
total 2 replies
Protocetus
kok jadi Isekai min?
Maya: lebih tepatnya historical isekai
total 1 replies
Protocetus
Thor beneran pernah kuliah di Al Azhar?
Maya: enggak hehehe 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!