Edi Sudrajat takpercaya ketika, Erico Atmaja melamar putrinya menjadi istrinya
Syakila gadis 20 tahun yang memilih mengabdikan ilmunya di pesantren, dengan yakin menerima lamaran lelaki 31 tahun menjadi pendamping hidupnya.
Lelaki yang di kenal dingin dan kaku itu, ternyata begitu lemah lembut memperlakukan kila sebagai istrinya, tentu saja itu membawa kebahagiaan pada rumah tangga mereka.
Di depan Kila Rico adalah sosok lemah lembut penuh cinta, sifat itu berbanding terbalik saat dengan anak buahnya dia terkenal dingin dan tanpa ampun, tapi itu dulu..
Mengenal Kila membuat perubahan pada Rico,sedikit demi sedikit, isteri yang penuh kelembutan itu berhasil melunakkan kekerasan hatinya.
Konflik mulai datang, ketika orang di masa lalu Erico mulai muncul satu persatu, membongkar perbuatan sadisnya di masa lalu, hal itu memaksa Erico melakukan banyak pengorbanan, bahkan dia nyaris kehilangan orang yang begitu berharga di dalam hidupnya.
Hal itu malah merubah jalan hidupnya seratus delapan puluh derajat.
Silahkan menikmati kelanjutannya happy reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24
Pengingat waktu sudah dua kali berdering, tapi Kila masih saja bergelung di balik tubuh hangan milik Rico.
"Sayang," Ujar Rico membangunkan Kila, masih tak bergerak dari tidurnya.
"Hemmm"
"Alrm sudah dua kali berdering, kau tidak sholat" ujar Rico, mengecup pucuk kepala Kila dengan lembut.
"Sholat mas" ujar Kila dengan suara terdengar lemah.
Rico menyentuh kening Kila yang memang terasa hangat begitu juga tubuhnya.
"Kamu demam sayang" ucap Rico seraya beringsut duduk, mermeriksa keadaan Kila yang masih saja terpejam.
"Gak tau mas, cuma kepalaku terasa pusing banget" keluh Kila lirih.
Rico memeriksa jam di hp nya, masih sangat pagi jam 3:40, sepagi ini Kila hidupin alarm buat apa, bukannya subuh masih lama pikir Rico heran.
"Sayang kamu hidupin alrm sepagi ini buat apa" tanya Rico heran.
"Sholat tahajut mas" jawab Kila lirih.
"Ooh" ujar Rico yang tak paham sebab dulu dia taunya solat ya lima waktu, sholat sunat dia gak belajar jadi gak paham waktunya.
Rico bersandar pada tempat tidur, matanya masih ngantuk tapi keadaan Kila membuatnya tak tenang memejamkan matanya.
Dengan gerakan lembut dia mulai memijit-mijit kepala Kila. Kila membuka matanya menatap Rico yang tengah memijit kepalanya.
"Mas tidur aja lagi, masih pagi" ujarnya lirih.
"Gak apa sayang, nanti abis mijit kamu aku tidur lagi" sahut Erico dengan senyum dibibirnya.
"Maaf mas, ngerepotin mas gini" ucapnya lirih.
"Hmmm, Sayang" gumam Rico seraya memberi kecupan lembut di kening istrinya, kening Kila mulai terasa panas bukan lagi hangat.
"Sayang, tubuh kamu jadi panas gini" gumam Rico khawatir, Kila tak menyahut matanya tetap terpejam.
Rico meraih hp nya, kemudian terlihat dia sedang menelpon seseorang, lalu kembali lagi duduk di sisi Kila. menyentuh kening kila lembut, kini terasa malah semakin panas.
"Sayang, kau tidak apa-apa" ujar Rico khawatir suhu tubuhnya semakin bertambah panas.
"Gak apa-apa mas, cuma badanku terasa semakin dingin" keluh Kila lirih.
"Tapi tubuhmu panas sekali sayang" ujar Rico mulai panik, apa lagi kini Kila terlihat mulai menggigil. Dia kembali meraih hp nya dan menelpon seseorang.
"Nana cepatlah!!" bentaknya gusar, kemudian memutus panggilan.
Lima belas menit kemudian Nana datang membawa Dokter wanita kekamar Rico.
"Kenapa lama sekali" ujar Rico gusar saat membuka pintu untuk Nana.
Nana tak menyahut dia mempesilahkan dokter itu memeriksa Kila.
"Silahkan Dokter" ujar Nana pada Dokter itu.
"Iya terima kasih, kenalkan saya Susi" ujar Dokter terlebih dulu memperkenalkan diri pada Rico.
"Saya Erico buk"
"Sudah berapa hari ibuk demam pak Rico" tanya buk Susi sambil melakukan pemeriksaan pada Kila.
"Baru pagi ini Dokter" ujar Rico, membuat Dokter sedikit heran baru tadi pagi kenapa Nana menjemputnya dengan begitu panik.
Kila tampak menggigil hebat saat Dokter membuka selimutnya memeriksa dadanya dengan Stetoskop. kemudian mengetuk perut Kila dengan dua jarikananya, Dia juga melakukan tes urine, pada kila.
"Sebelum ini, apa ibuk ada merasa pusing, atau gejala lainnya buk" tanya buk Susi seraya membereskan peralatannya.
"Cuma pusing -pusing aja Dok udah seminggu ini" ujar Kila lirih, terlihat Dokter Susi mengangguk pelan, kemudian menyipakan obat
"Istri saya sakit apa Dok" Rico sepertinya tak sabar menunggu penjelasan Dokter Susi.
"Pemeriksaan awal, ibuk Kila positip hamil, untuk lebih jelasnya sebaiknya ibuk memeriksakan diri ke dokter kandungan, ini saya kasi obat demam, dan vitamin, di minum sesuai petunjuk yang tertulis ya buk ya buk" terang Dokter Susi yang membuat keduanya kaget campur senang.
"Istri saya hamil Dok" ujar Rico berbinar.
"Iya pak, tapi untuk lebih detail bapak cek lagi ke Dokter kandungan" ujar Dokter Susi.
"Baik Dok terimakasih," ujar Rico, tatapannya kini tertuju pada Kila yang masih menggigil kedinginan, dengan perasaan yang tak mampu di gambarkan hanya dengan seuntai kata, dia menghampiri Kila, menatapnya penuh cinta, wanita yang begitu sempurna di matanya, kini sedang mengandung anaknya, haru, bagia dan entah perasaan apa lagi yang kini memenuhi rongga dadanya.
Sementara Dokter Susi sudah di antar pulang Oleh Nana.
"Sayang, aku ambil Roti makan sedikit biar bisa minum obat ya" ujar Rico. Kila menangguk setuju dia ingin meminum obat segera, berharap tubuhnya akan sedikit merasa enak, setelah minum obat.
Rico membawa roti tawar dan teh hangat tanpa gula, kemudian mulai menyuapi kila dengan roti, hanya dua suapan Kila, sudah menyerah, rasa mual melanda perutnya.
"Udah mas, Mual" ujarnya dengan suara lirih.
"Ya udah gak apa sayang yang penting ada isinya walau cuma sedikit," ujarnya seraya meletakkan roti dan teh di atas meja, kemudian kembali ke sisi Kila, memberinya pijitan-pijitan lembut pada kepala Kila yang masih saja terasa pusing.
"Udah bisa minum obat sayang" tanya Rico dengan suara lembut, takut mengejutkan istrinya yang sedang terpejam. Kila mengangguk setuju.
Dengan cekatan Rico menyiapkan obat serta air putih di hadapan Kila, ada tiga butir obat yang harus di minum Kila, ketiganya di minum Kila sekaligus, membuat Rico tercengang, dia mengira kalau Kila bakalan sulit minum obat.
"Udah mas" ujar Kila menyerahkan gelas berisi air hangat kepada Rico. Rico menerimanya lalu meletkkannya di atas meja.
Rico berusaha menahan diri tidak membahas berita gembira tentang kehamilan Kila. Rico lebih memilih menundanya. Melihat keadaan Kila, ini bukanlah waktu yang tepat untuk merayakan berita gembira mereka.
"Tidurlah sayang" bisik Rico, yang kini sudah bebaring di sisi tempat tidur, memeluk Kila yang masih kedinginan.
"Subuh dulu mas, nanti terlewat" ujar Kila lirih.
"Kau bahkan tak mampu mengangkat kepalamu sayang, tidurlah, tuhan pasti tau kenapa kau melewatkan Sholat subuh mu" ujar Rico memeluk Kila semakin erat.
"Tidak ada pengecualian, selagi masih memiliki kesadaran mas, gak dalam keadaan pingsan atau koma, tidak mampu berdiri, duduk, tidak mampu duduk, berbaring, Sholat itu kewajiban yang tidak boleh di tinggal dengan alasan apapun mas" ucap Kila penuh penegasan, kata-kata yang di ucapkan bukan hanya untuk suaminya, tapi juga untuk dirinya sendiri,guna memberi kekuatan melakukan kewajiban dalam keadaan apapun.
"Terdengar seperti pemaksaan" gumam Rico pelan, tapi masih terdengar di telinga Kila. Kila berpaling menatap Rico,tersenyum dengan bibir kering karena suhu tubuhnya yang lumayan panas.
"Dengan cinta, tidak ada sesuatu hal yang di lakukan dengan terpaksa, malah terasa begitu menyenangkan, melakukan kewajiban untuk zat yang begitu kita Cintai, seperti baktiku kepada mas, aku lakukan dengan senang hati, demi cintaku terhadap diri mas" ujar Kila lemah lembut.
"Sayang, aku tidak mau berdebat untuk sesuatau yang tidak aku pahami" ujar Rico dengan nada suara sedikit berbeda, dari biasanya saat bicara dengan Kila.
"Maka belajarlah, biar mas paham" ujar kila dengan senyum.
"Baiklah sayang, apa yang bisa ku bantu agar sayang bisa sholat" ujar Rico Akhirnya, memilih mengikuti kemauan Kila.
"Aku coba whudu, kalau gak bisa baru tayamum mas"
"Tayamum bukannya dengan debu ya sayang" ujar Rico, Kila mengangguk setuju.
"Bantu aku mas" ujar Kila, seraya berusaha bangkit di bantu oleh Rico.
Dengan tubuh semakin menggigil Kila menunaikan Sholat di kamar mereka, atas izin suaminya, Rico tak tega membiarkan Kila berjalan keruang Sholat dalam keadaan sakit.
Kila Sholat dengan cara duduk, dia tak mampu berdiri dengan kepala yang terasa pusing seperti sedang mabuk berkendara. Selesai Sholat Kila hanya zikir semampunya, sebab kepalanya tak bisa di ajak kompromi , pusingnya semakin menjadi.
"Tidurlah sayang, nanti juru masak aku suruh buat hidangan lezat buat sarapan sayang" ujar Rico mencium ubun-ubun Kila dengan lembut.
"Gak usah mas, aku lagi gak selera makan yang macem-macem, buatin bubur nasi aja mas" tolak kila, perutnya yang terasa mual tak berselera makan apa pun, kecuali buah.
"Pakai ayam sayang"
"Gak usah mas, pakai garam aj"
"Cuma garam??"
"He,em" ujar Kila hanya dengan gumaman, kemudian mata indahnya sudah terlihat terpejam, Rico memeluknya hangat memberi usapan usapan lembut pada lengan yang tertutup selimut tebal itu, hingga nafas Kila terdengar begitu tenang tanda dia sudah benar-benar terlelap.
Perlahan Rico bangkit dari sisi kila, dengan sangat hati-hati, dia tak ingin Kila terbangun dengan gerakanya, dia beranjak menuju ruang kerjanya, menghubungi sekertarisnya agar menggantikannya untuk sementara waktu, berkas yang penting bisa dia kerjakan di rumah sambil mengurus Kila.
Kila merasa sudah mulai ena'an, pusing di kepalanya juga sudah hilang, hanya tinggal pegal-pegal yang mendera sekujur tubuhnya, Kila membuka matanya, mengedarkan pandangan keseluruh kamar, pandangannya terhenti pada sosok Rico yang tengah berkutat dengan seambrek berkas di kelilingnya, dan laptop yang layarnya sedang menyala.
"Sudah bangun sayang" ujar Rico yang mengalihkan perhatiannya ke Kila, saat menangkap pergerakan Kila.
"Jam berapa mas"
"Jam sembilan sayang"
"Lho mas kok belum pergi kerja" ujar Kila seraya berusaha bangkit dari tidurnya, dengan tergesa Rico menghapiri Kila, membantunya duduk, kemudian ikut duduk di sebelah Kila.
"Aku kerja dari rumah aja sayang" ujar Rico, meraih tisu di meja menyeka keringat yang membasahi tubuh kila.
"Karena aku mas jadi repot begini" keluh Kila sedih.
"Siapa bilang aku repot, hemm" ujar Rico seraya memberi kecupan lembut di kening Kila yang basah oleh keringat.
"Sayang apa Ac nya kurang dingin, kau berkeringat" ujar Rico, seraya beranjak bangkit berniat merubah volume Ac.
"Gak usah mas, itu pengaruh demamku mas" ujar Kila, Rico membatalkan niatnya .
"Benarkah" ujarnya, Kila menganguk.
"Aku mau kekamar mandi mas, mau dhuha" ujar Kila seraya beranjak bangkit.
"Biar ku bantu sayang" ujar Rico, memgang pundak kila memapahnya kekamar mandi, pusingnya memang sudah hilang, tapi tubuhnya melayang seperti tak punya keseimbanagan membuatnya berulang kali terhuyung, untung saja Rico menemaninya.
"Kau belum sehat sayang, jangan memaksakan diri" ujar Rico khawatir.
"Tidak apa, kan ada mas di sisiku" ujar Kila berniat menggoda suaminya.
"Ini gimana, sayang sedang berWudhu, aku mana bisa sentuh sayang, sayang harus jalan sendiri jadinya" gerutunya, yang hanya di tanggapi senyuman oleh Kila.
"Gak apa, mas berjaga saja di sebelah, nanti kalau aku tumbang, mas tinggal tangkep" ujar Kila terdengar enteng.
"Sayang..!" seru Rico bernada protes. Kila lagi-lagi menanggapi dengan senyuman.
Kali ini Kila sholat sudah bisa seperti biasa, dengan khusuk Kila melakukan Sholat dhuha, kemudian melanjutkan dengan Zikir.
Rico menunggu Kila menunaikan sholat dhuha dengan mengerjakan berkas yang dikirim asistenya kerumah.
"Mas.." sapa Kila.
"Sudah selesai Sayang, duduklah biar aku ambilkan sarapan mu" ujar Rico seraya beranjak bangkit dari duduknya.
"Gak usah mas aku bisa kok kebawah" ujar Kila berniat bangkit mengikuti Rico.
"Sayang, duduklah, jangan membantah" ujar Rico tegas, membuat Kila kembali pada posisi duduknya.
Rico datang dengan bubur di atas nampan dan beberapa buah segar.
"Sini" ujarnya, seraya menyodorkan sendok berisi bubur hangat ke hadapan Kila.
"Aku bisa sendiri mas" ujar Kila, merasa canggung dengan perlakuan Rico.
"Aku sedang memanjakan mu sayang, jangan menolak" ujar Rico terdengar tegas.
"Baiklah kalau itu mau mas" ujar Kila dengan senyum yang terlihat begitu manis di mata Rico.
"Sayang"
"Hemm"
"Terimakasih" ujarnya lirih.
"Terimakasih untuk apa?"
"Bersedia jadi ibu untuk anak ku" bisiknya seraya menatap Kila penuh kasih sayang.
"Aku istrimu mas, tentu saja aku bersedia" ujarnya membalas tatapan Rico dengan tatapan penuh kelembutan.
"Udah mas" ujar Kila saat Rico menyuapkan sendok berisi bubur.
"Baru berapa sendok, kenapa udahan sayang"
"Mual mas, takutnya malah muntah" ujar Kila dengan mimik muka menahan mual.
"Ooh, yaudah sayang, yang penting ada isinya, biar bisa minum obat" ujarnya seraya memberesi sisa bubur kila. setelah itu membantu Kila meminum obatnya.
Kila kembali berbaring di ranjang, tubuhnya belum begitu kuat duduk berlama-lama. Rico juga ikut kila berbaring di sampingnya, memberi pijitan-pijitan lembut di tubuh Kila yang memang terasa pegal semua.
"Sayang, apa kau sengaja tak menundanya" tanya Rico yang masih penasaran dengan kehamilan Kila, sebab Kila terlihat kaget saat Rico menginginkan dia segera hamil bebrapa waktu lalu.
"Kenapa menunda?" kila malah balik bertanya, Rico hanya mengedikkan bahunya atas pertanyaan Kila.
"Mas, sejak kau menghallalkan aku jadi istrimu, sejak itu aku siap jadi istri dan ibu dari anak kita, ini rezki mas, tak baik di tolak" ujarnya dengan lemah lembut.
Rico diam, dia kehabisan kata, hanya bisa menatap Kila dalam, andai dia tidak sedang sakit, ingin rasanya Rico menerbangkan Kila ke awan, tapi keadaan Kila membuat dia harus menunda ke inginannya, hanya sentuhan lembut yang bisa dia berikan sebagai luapan rasa bahagianya saat ini. kebahagiaan yang sebelum ini tidak pernah dia rasakan, dia pernah memenangkan Tender bernilai T, tapi euforia nya tak sedahsat ini.
"Terimakasih sayang" hanya sepenggal kata itu, yang kembali terucap dari bibirnya.
.
.
.
Happy reading 💞
Hay sayang, baru sempat up lagi, maklum emak-emak dengan seambrek aktivitas, dan alhamdulillah masih bisa nyepetin untuk up walau sedikit terseok-seok.
Oh ya, tingalin jejak buat emak ya sayang, like and komen tentunya,🙏🙏🙏 jangan lupa vote sebagai bonusnya.🥰🥰💞
apa kurang gelap ya malam hari 🤣🤣🤣