Mo Tianxia pernah berdiri di puncak dunia.
Sebagai seorang kultivator yang telah mencapai Absolute Realm, tidak ada lagi lawan yang mampu menandinginya dan tidak ada lagi batas yang mampu menghalanginya. Namun, setelah mencapai segala sesuatu yang bisa dicapai, yang tersisa baginya hanyalah kebosanan.
Dalam sebuah keputusan yang tidak masuk akal bagi siapa pun, Mo Tianxia menghancurkan jiwanya sendiri dan memulai kembali kehidupannya dari nol.
Kini, ia terbangun dalam tubuh yang lemah dengan kultivasi paling dasar.
Tidak ada kekuatan absolut. Tidak ada kedudukan tinggi. Tidak ada nama besar.
Hanya pengetahuan tentang jalan yang pernah ia tempuh.
Dengan sikap tenang dan pengalaman yang jauh melampaui usianya, Mo Tianxia kembali melangkah di jalan kultivasi. Sekte, turnamen, dunia rahasia, para jenius, dan berbagai ancaman mulai muncul di hadapannya.
Namun kali ini, tujuannya bukan menjadi yang terkuat. Ia hanya ingin menikmati kembali perjalanannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Tiga hari setelah Turnamen Peringkat berakhir, Zhao Kuang menemui Mo Tianxia di lapangan latihan sebelum sesi pagi dimulai. Sebuah kebiasaan baru yang mulai ia lakukan sejak kekalahannya di ujian peringkat.
"Aku menantangmu," katanya, tanpa basa-basi, berdiri tegak dengan kepalan tangan yang sudah bersiap. Namun kali ini, nada suaranya sedikit berbeda dari sebelumnya, masih penuh percaya diri, namun tidak lagi meluap dengan kesombongan berlebihan yang biasa mewarnai setiap kalimatnya.
Mo Tianxia menatapnya sejenak. "Kau baru saja melihatku bertarung melawan Feng Lei di turnamen."
"Aku tahu," jawab Zhao Kuang, rahangnya mengeras. "Karena itu aku ingin bertarung denganmu lagi. Bukan untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain kali ini."
"Lalu untuk apa?"
Zhao Kuang terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan bagaimana menjawab dengan jujur. "Untuk diriku sendiri, aku ingin tahu seberapa jauh jarak antara kita sebenarnya. Kalau aku tidak tahu, aku tidak akan pernah bisa mengejarnya."
Jawaban itu membuat Mo Tianxia sedikit terkejut. Bukan karena isinya, melainkan karena kedewasaan yang tersirat di dalamnya, jauh berbeda dari Zhao Kuang yang pernah ia temui di gerbang sekte beberapa bulan lalu.
'Menarik,' pikirnya. 'Sepertinya kekalahan itu benar-benar mengubah sesuatu dalam dirinya.'
"Baiklah," jawab Mo Tianxia, mengangguk. "Tapi aku punya syarat."
"Syarat apa?"
"Setelah pertarungan ini, apapun hasilnya, kau berhenti mencari alasan untuk menantangku setiap minggu. Kita berlatih dengan cara masing-masing. Kalau kau ingin mengukur kemajuanmu, ukur dari dirimu sendiri, bukan dariku."
Zhao Kuang menatapnya lama, sedikit terkejut dengan syarat yang tidak terduga itu. Kemudian, perlahan, ia mengangguk. "Setuju."
Mereka pindah ke area latihan yang lebih terpencil, jauh dari keramaian disciple lain yang biasanya berkumpul menonton pertarungan mereka.
...------...
Pertarungan itu berlangsung tanpa penonton, tanpa sorakan, tanpa elder yang mengawasi.
Zhao Kuang bertarung dengan cara yang berbeda kali ini lebih tenang, lebih terkontrol, mencoba menerapkan pelajaran yang ia petik diam-diam dari kekalahannya di ujian peringkat. Ia tidak lagi mengandalkan kekuatan mentah semata, melainkan mulai memperhatikan posisi dan waktu serangannya.
Mo Tianxia mengamati perubahan itu dengan puas. 'Ia benar-benar berusaha memperbaiki dirinya, bukan sekadar kata-kata kosong.'
Namun meski Zhao Kuang telah berkembang, jarak antara mereka tetap terlalu jauh untuk bisa dijembatani hanya dengan beberapa bulan usaha. Mo Tianxia kembali menang, meski kali ini ia membiarkan pertarungan berlangsung sedikit lebih lama, memberi Zhao Kuang kesempatan untuk benar-benar merasakan setiap kesalahan yang ia buat, alih-alih mengakhirinya dengan cepat seperti sebelumnya.
Ketika pertarungan berakhir, Zhao Kuang terduduk di tanah, napasnya tersengal, namun ekspresi wajahnya jauh berbeda dari kekalahan pertamanya.
Tidak ada amarah. Tidak ada penolakan. Hanya penerimaan yang tenang.
"Masih jauh," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Mo Tianxia.
"Tapi jaraknya lebih pendek dari sebelumnya," jawab Mo Tianxia, mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.
Zhao Kuang menatap tangan itu sejenak sebelum akhirnya menerimanya, membiarkan Mo Tianxia menariknya berdiri.
"Kenapa kau membantuku?" tanya Zhao Kuang, nada suaranya penuh kebingungan yang tulus. "Aku selalu bersikap buruk kepadamu sejak awal."
Mo Tianxia mengangkat bahu. "Karena kau berubah. Orang yang berusaha memperbaiki diri layak mendapat sedikit dukungan."
Zhao Kuang terdiam, menatap Mo Tianxia dengan cara yang belum pernah ia lakukan sebelumnya—bukan lagi sebagai rival yang harus dikalahkan, melainkan sebagai seseorang yang, mungkin, bisa ia hormati.