NovelToon NovelToon
Takhta, Cinta, Dan Rahasia

Takhta, Cinta, Dan Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:405
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Raffi adalah anak di luar nikah dari Mahesa Pratama, Presiden Direktur Pratama Group Hotel, hasil hubungannya dengan Maya Indira. Meski lahir tanpa status yang diakui keluarga, Raffi mewarisi kecerdasan, bakat kepemimpinan, dan naluri bisnis yang membuat Mahesa diam-diam berniat menjadikannya penerus kerajaan bisnisnya.

Namun, keputusan itu memicu amarah istri sah Mahesa. Demi memastikan putra kandungnya, Julian, menjadi satu-satunya pewaris Pratama Group Hotel, ia menyusun berbagai rencana licik untuk menyingkirkan Raffi. Berbagai fitnah, pengkhianatan, hingga perebutan hak waris membuat Raffi kehilangan segalanya dan dipaksa memulai hidup dari nol.

Dengan tekad yang tak pernah padam, Raffi membangun kembali kariernya dari bawah. Ia berjuang membuktikan bahwa kesuksesan bukan ditentukan oleh status kelahiran, melainkan kerja keras, kemampuan, dan keteguhan hati. Langkah demi langkah, ia bangkit untuk merebut kembali tempat yang seharusnya menjadi miliknya dan cintanya dengan dewi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluarga yang Ditinggalkan

Malam itu, Raffi duduk di meja makan bersama Julian, Sena, dan Naura. Untuk pertama kalinya ia menikmati makan malam di rumah besar tersebut. Meski masih merasa asing, ia berusaha bersikap tenang.

"Raffi, coba makan yang ini. Enak," ujar Sena sambil menunjuk salah satu hidangan.

Raffi menurut. Untuk sesaat, wajahnya terlihat lebih ceria. Ia bahkan mulai bercerita tentang sekolah dan keinginannya menjadi arsitek suatu hari nanti.

Tidak seorang pun di meja makan itu tega menghentikan keceriaannya.

Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka.

Mahesa pulang.

Langkahnya langsung terhenti ketika melihat Raffi sedang makan sambil tersenyum kecil. Dadanya terasa sesak.

Beberapa jam lalu, ia berdiri di hadapan jenazah Maya.

Sekarang anak laki-laki itu duduk di meja makan tanpa mengetahui bahwa ibunya sudah tidak ada.

Mahesa menatap Raffi lama.

Raffi yang menyadari kedatangannya langsung tersenyum.

"Ayah sudah pulang?"

Panggilan itu membuat hati Mahesa semakin hancur.

Ia hanya mengangguk pelan.

"Iya."

Mahesa kemudian duduk di kursi yang tidak jauh dari Raffi. Tangannya mengepal di bawah meja agar tidak terlihat gemetar.

Raffi kembali melanjutkan makan.

"Ayah, besok Ibu katanya mau datang lagi, kan?"

Sendok di tangan Mahesa berhenti.

Naura yang mendengar pertanyaan itu langsung menundukkan wajah.

Mahesa menelan ludah dengan susah payah.

Ia ingin mengatakan semuanya.

Ingin mengatakan bahwa Maya tidak akan pernah kembali.

Namun melihat Raffi yang baru saja mulai merasa nyaman di rumah itu, Mahesa tidak sanggup menghancurkan senyum anak tersebut malam ini.

"Besok kita bicara," jawab Mahesa pelan.

Raffi mengangguk tanpa curiga.

"Baik."

Mahesa memalingkan wajah. Matanya mulai berkaca-kaca.

Ia tidak tahu bagaimana cara seorang ayah mengatakan kepada anaknya bahwa ibunya telah meninggal.

Yang ia tahu, malam ini Raffi masih bisa tersenyum.

Dan Mahesa ingin membiarkan senyum itu bertahan sedikit lebih lama.

Bu Ratih datang ke ruang makan dengan langkah perlahan menggunakan tongkat. Wajahnya masih terlihat muram sejak mendengar kabar kecelakaan Maya.

"Mahesa, bagaimana keadaan Maya? Apa semuanya sudah diurus?"

Mahesa langsung menoleh. Tatapannya memberi isyarat agar ibunya tidak melanjutkan pembicaraan.

"Bu, jangan sekarang."

Bu Ratih mengerutkan kening.

"Tapi Ibu ingin tahu—"

Mahesa segera berdiri dan menghampiri ibunya. Ia berbicara dengan suara sangat pelan agar tidak terdengar Raffi.

"Raffi belum tahu."

Bu Ratih terdiam.

Mahesa melirik ke arah meja makan. Raffi masih sibuk berbicara dengan Sena, sama sekali tidak menyadari percakapan mereka.

"Jangan bicarakan Maya di sini," lanjut Mahesa. "Aku akan menjelaskannya nanti."

Bu Ratih akhirnya memahami maksud putranya.

Mahesa kemudian memberi isyarat kepada ibunya untuk mengikutinya.

Mereka berjalan menuju kamar Mahesa. Begitu pintu tertutup, Mahesa menarik napas panjang.

"Jangan sampai Raffi mendengar apa pun malam ini."

Bu Ratih menatap putranya.

"Jadi... Maya benar-benar meninggal?"

Mahesa mengangguk pelan.

"Iya."

Bu Ratih menundukkan kepala. Tangannya menggenggam tongkat semakin erat.

"Kasihan anak itu..."

Mahesa terdiam.

"Dia baru saja kehilangan ibunya, Bu. Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya."

Bu Ratih mengusap wajahnya, matanya mulai berkaca-kaca.

Dari luar kamar terdengar suara tawa anak-anak.

Mahesa dan Bu Ratih sama-sama terdiam mendengarnya.

Suara itu justru membuat suasana di dalam kamar terasa semakin berat.

"Biarkan dia menikmati malam ini," ujar Mahesa lirih. "Besok... aku akan memberitahunya."

Bu Ratih mengangguk perlahan.

Namun keduanya tahu, besok akan menjadi hari yang sangat berat bagi Raffi.

Karena setelah mendengar kebenaran itu, dunia kecil yang baru saja ia kenal akan kembali berubah untuk kedua kalinya dalam waktu yang sangat singkat.

Sena dan Raffi akhirnya bermain bersama di ruang keluarga. Sena yang lebih mudah menerima kehadiran Raffi mengajaknya bermain permainan sederhana. Perlahan, wajah Raffi yang sejak tadi murung mulai kembali cerah.

"Kalau besok kamu masih di sini, kita main lagi, ya," ujar Sena.

Raffi mengangguk senang.

"Iya."

Di sisi lain ruangan, Julian hanya duduk sambil memainkan ponselnya. Sesekali ia melirik mereka, tetapi tidak menunjukkan keinginan untuk ikut bergabung.

Ia masih merasa kehadiran Raffi mengganggu kehidupannya. Baginya, semuanya terjadi terlalu cepat. Seorang anak yang tidak pernah ia kenal tiba-tiba datang dan disebut sebagai adiknya.

"Aku tidak mau ikut bermain," jawab Julian ketika Sena sempat mengajaknya.

Raffi hanya diam. Ia tidak memaksa.

Meski begitu, ia bisa merasakan bahwa tidak semua orang di rumah itu menerimanya.

Sementara di kamar, Bu Ratih masih sulit mempercayai kabar yang baru saja disampaikan Mahesa.

"Maya benar-benar meninggal?"

Mahesa mengangguk pelan.

"Kecelakaan beruntun. Dia meninggal di tempat."

Bu Ratih terduduk lemas. Tangannya gemetar di atas tongkat.

Entah mengapa, setelah mendengar Maya benar-benar pergi, semua perkataan sepuluh tahun lalu kembali terbayang dalam kepalanya. Dulu ia menganggap Maya hanya bagian kecil dari masalah yang harus diselesaikan.

Ia pernah menyuruh perempuan itu pergi.

Pernah memintanya meninggalkan kota.

Bahkan pernah menganggap anak yang dikandung Maya sebagai sesuatu yang harus disingkirkan.

Kini Maya sudah tidak ada.

Dan anak yang dulu tidak ia inginkan justru sedang bermain di ruang keluarga rumahnya.

Bu Ratih menundukkan wajah.

"Kalau saja waktu bisa diulang..."

Mahesa hanya diam.

Tidak ada jawaban yang mampu mengubah kenyataan.

Di luar kamar, suara tawa Sena dan Raffi masih terdengar.

Bu Ratih menatap pintu dengan mata berkaca-kaca.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari bahwa Raffi bukan lagi sekadar anak dari masa lalu yang ingin ia jauhkan.

Raffi adalah cucunya.

Dan sekarang, anak itu sudah kehilangan satu-satunya orang yang selama ini menjadi rumah baginya.

Naura berdiri di dekat pintu kamar setelah tanpa sengaja mendengar percakapan Mahesa dan Bu Ratih. Kabar tentang kematian Maya membuat perasaannya bercampur aduk. Ada bagian dalam dirinya yang merasa lega karena perempuan itu tidak akan kembali menuntut tempat dalam kehidupan Mahesa.

Namun ketika mendengar suara Raffi dari ruang keluarga, rasa lega itu tidak bertahan lama.

Anak itu masih ada di rumah mereka.

Naura menatap ke arah ruang keluarga dengan wajah tegang.

"Kalau Maya sudah meninggal, kenapa Raffi masih harus tinggal di sini?" ucapnya dingin.

Mahesa langsung menoleh.

"Naura."

Naura menghela napas.

"Seharusnya Maya membawa anak itu pergi bersamanya. Sekarang dia sudah tidak ada, kita yang harus menanggung semuanya."

Mahesa mengepalkan tangan.

Ia bisa memahami Naura merasa terkejut dengan semua perubahan yang terjadi. Tetapi mendengar Maya dibicarakan seperti beban membuat amarahnya perlahan naik.

"Jangan bicara seperti itu."

Naura menatap suaminya.

"Aku hanya mengatakan kenyataan."

"Raffi bukan barang yang bisa dikirim ke mana-mana."

Nada suara Mahesa mulai meninggi.

"Dia anakku."

Naura terdiam.

Mahesa berusaha menahan emosinya. Ia tidak ingin pertengkaran mereka terdengar sampai ruang keluarga, terutama oleh Raffi.

"Kamu boleh marah kepadaku. Kamu boleh membenci keadaan ini. Tapi jangan pernah menyalahkan Raffi."

Naura memalingkan wajah.

"Aku tidak tahu sampai kapan dia akan tinggal di sini."

Mahesa menarik napas panjang.

"Untuk sekarang, dia tinggal di sini karena dia tidak punya siapa-siapa lagi."

Kalimat itu membuat Naura terdiam.

Mahesa kemudian menatap ke arah ruang keluarga. Dari sana terdengar tawa kecil Raffi dan Sena.

"Jangan sampai dia tahu bahwa keberadaannya tidak diinginkan."

Naura tidak menjawab.

Sementara di balik pintu, Raffi masih tertawa bersama Sena, sama sekali tidak mengetahui bahwa beberapa meter darinya sedang terjadi pembicaraan tentang masa depannya.

Mahesa memejamkan mata sesaat.

Ia sudah kehilangan Maya.

Ia tidak ingin kehilangan kepercayaan anaknya juga.

Malam semakin larut. Setelah bermain seharian, Raffi akhirnya tertidur di kamar yang masih terasa asing baginya. Tubuh kecilnya meringkuk di bawah selimut, sementara sebuah foto Maya yang ia simpan di dalam tas tergeletak di samping bantal.

Dalam tidurnya, Raffi bermimpi berada di sebuah tempat yang sangat ia kenal.

Ia melihat Maya berdiri tidak jauh darinya.

"Ibu?"

Maya tersenyum seperti biasanya.

Raffi langsung berlari menghampirinya dan memeluk tubuh ibunya erat.

"Ibu nunggu aku?"

"Iya."

Raffi tersenyum lega.

"Aku kira Ibu pergi."

Maya hanya mengusap rambutnya.

"Jangan takut. Ibu selalu sayang sama kamu."

Raffi semakin erat memeluknya. Dalam mimpinya, ia kembali merasakan kehangatan yang selama ini selalu membuatnya merasa aman.

"Aku mau pulang sama Ibu."

Maya tersenyum, tetapi tidak menjawab.

Raffi kemudian terbangun.

Matanya langsung terbuka. Kamar besar itu kembali terlihat di hadapannya.

Tidak ada Maya.

Raffi duduk perlahan sambil memandang pintu.

"Ibu..."

Rasa rindu tiba-tiba memenuhi dadanya.

Ia menarik bantal ke pelukan, mencoba menahan tangis.

Malam terasa begitu sunyi.

Raffi tidak tahu mengapa ia merasa sangat ingin mendengar suara ibunya. Ia hanya tahu bahwa sejak datang ke rumah besar ini, ada sesuatu yang terasa hilang.

"Ibu kapan datang?"

Pertanyaan itu keluar pelan dari bibirnya.

Tanpa mengetahui bahwa pagi nanti, Mahesa akan memberitahunya sebuah kenyataan yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Pagi harinya, Mahesa berangkat ke kantor dengan wajah yang masih terlihat berat. Ia hampir tidak tidur semalaman. Bayangan Maya dan Raffi terus memenuhi pikirannya, sementara kasus Herutomo juga belum menemukan titik terang.

Begitu sampai di ruang kerja, asisten pribadinya sudah menunggu dengan beberapa map tebal.

"Pak, ini hasil penelusuran sementara."

Mahesa duduk dan membuka berkas pertama.

"Aliran dana investasi Grand Hotel Pratama."

Di dalamnya terdapat catatan transaksi, tanggal pembayaran, nama rekening, serta beberapa transaksi yang dianggap tidak wajar. Mahesa membaca satu per satu dengan wajah semakin serius.

"Ada beberapa dana yang masuk melalui jalur investasi resmi, tetapi kemudian dialihkan ke rekening yang tidak berhubungan langsung dengan operasional hotel," jelas asistennya.

"Sudah tahu siapa yang mengakses transaksi tersebut?"

"Belum sepenuhnya, Pak. Kami masih mencocokkan data sistem dengan bukti transfer."

Mahesa mengangguk.

"Lanjut."

Asistennya kemudian memberikan map lain.

"Ini tentang keluarga Pak Herutomo."

Mahesa membukanya.

"Herutomo Gunawan meninggalkan seorang istri dan seorang anak perempuan. Istrinya mengelola sebuah restoran ayam goreng kecil di daerah tempat tinggal mereka."

Mahesa membaca informasi tersebut dalam diam.

"Anaknya?"

"Seorang perempuan. Masih cukup muda dan tinggal bersama ibunya."

Mahesa terdiam sesaat.

Ia tiba-tiba teringat wajah sang istri di hotel, ketika perempuan itu dengan penuh kesedihan meminta agar kematian suaminya diselidiki.

"Dia benar-benar tidak tahu tentang investasi Herutomo?"

"Sejauh informasi yang kami dapat, tidak. Bahkan keluarganya tampaknya hidup sederhana. Restoran itu merupakan sumber penghasilan utama istrinya."

Mahesa menutup map perlahan.

Ada sesuatu yang mengganjal.

Herutomo ternyata memiliki kehidupan yang jauh berbeda dari yang selama ini terlihat dalam dokumen perusahaan. Ia seorang investor, tetapi keluarganya hidup sederhana dan istrinya bahkan tidak mengetahui aktivitas investasinya.

"Telusuri hubungan Herutomo dengan orang-orang di perusahaan," kata Mahesa.

"Baik, Pak."

"Dan jangan hanya melihat uang yang masuk dan keluar. Cari tahu siapa yang terakhir berkomunikasi dengannya sebelum dia meninggal."

Asistennya mengangguk.

Mahesa kembali melihat foto keluarga Herutomo yang terlampir di dalam berkas.

Seorang perempuan sederhana dan anaknya.

Entah mengapa, melihat keluarga itu membuat hatinya semakin berat.

Ia baru saja kehilangan Maya, dan di rumahnya ada seorang anak yang belum mengetahui bahwa ibunya telah tiada.

Sekarang ia harus mencari kebenaran tentang kematian seorang pria yang juga meninggalkan seorang anak.

Mahesa menghela napas panjang.

"Jangan sampai keluarganya menjadi korban kedua dari semua masalah ini."

Asistennya mengangguk serius.

Mahesa kemudian kembali membuka berkas aliran dana.

Kali ini, ia tidak hanya ingin menyelamatkan nama Grand Hotel Pratama.

Ia ingin tahu siapa yang sebenarnya bermain di balik semua ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!