Kirana Aruni menjadi korban atas rencana busuk ibu tirinya setelah terjebak dalam
sebuah malam kelam bersama Edgar Ganendra, pewaris tunggal Ganendra Group,
yang kehilangan kendali akibat dibius musuhnya.
Dianggap membawa aib, Aruni diusir oleh ayahnya atas hasutan ibu tirinya.
Tujuh tahun kemudian, Aruni membesarkan
putra kembarnya seorang diri. Mengetahui perjuangan sang ibu, kedua bocah jenius
itu diam-diam meretas data untuk mencari ayah kandung mereka. Hasilnya mengarah pada satu nama besar, yakni Edgar Ganendra, Presiden Direktur Ganendra Group.
Di sisi lain, Edgar tak pernah berhenti mencari wanita dari malam itu. Ia ingin menebus kesalahannya sekaligus mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi, bahwa ia bukanlah pria impoten.
Saat si kembar mulai menyusun rencana untuk mempertemukan kedua orang tua mereka, masa lalu yang penuh fitnah dan luka
kembali terbuka.
Mampukah mereka menyatukan kembali keluarga yang telah lama terpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
Hujan deras semakin menggila di luar ruko. Edgar berdiri mematung di balik pintu kaca yang basah oleh terpaan air hujan. Melalui kaca yang mulai berembun, ia bisa melihat samar siluet Aruni yang menyandarkan punggungnya rapat-rapat di balik pintu sambil meremas erat keranjang baju di pelukannya.
Larasati yang kebingungan menatap heran ke arah Aruni yang gemetar ketakutan. Saat Laras melangkah hendak menghampiri Aruni, Rayyan memanggilnya dari sudut ruangan.
"Tante Laras, sini!" panggil Rayyan setengah berbisik.
Laras membalikkan badan lalu melangkah mendekati Rayyan dan Zayyan yang sudah duduk tenang di atas kursi kayu dekat meja setrika.
"Kalian tahu siapa pria di luar yang kehujanan itu?" tanya Laras heran, pandangannya sesekali masih melirik curiga ke arah pintu kaca.
"Pria di luar itu... Ayah kami!" sahut Rayyan datar.
Larasati tersentak, dadanya seakan ditonjok ketakutan dan terkejut. "Hah?! Pria tampan dan gagah di depan itu... Ayah kandung kalian?!" tanya Laras tak percaya, matanya membelalak lebar.
Si kembar mengangguk mantap secara serempak.
"Itu sebabnya, Tante... Ayah ingin mengklarifikasi soal kejadian tujuh tahun yang lalu pada Bunda," sambung Zayyan menjelaskan situasi.
Sementara itu di luar ruko, guyuran air hujan menyelimuti tubuh Edgar yang sudah basah kuyup. Namun, dinginnya malam tak menyurutkan langkah sang pengusaha. Ia mengetuk kaca pintu itu pelan dan penuh kelembutan.
"Aruni, tolong... berikan aku sekali saja kesempatan untuk menjelaskan semuanya padamu!" panggil Edgar dengan suara parau yang bergetar.
"Pergi! Aku tidak butuh penjelasanmu! Jangan ganggu hidup kami lagi!" usir Aruni dari balik pintu, air matanya kian deras mengalir membasahi pipinya.
Edgar menarik napas panjang. Pria itu menyadari waktunya sangat terbatas, dimana lusa ia harus kembali ke Jakarta karena tumpukan pekerjaan kantor yang tak bisa ditinggalkan lagi setelah hampir seminggu bermalam di Sukamakmur demi mendekati kedua putranya. Ini adalah momen penting untuk meluruskan benang kusut masa lalu.
"Aku sudah tahu semuanya, Aruni... Rayyan dan Zayyan adalah putraku, kan?" ucap Edgar lantang menembus suara gemuruh hujan. "Peristiwa malam itu telah membuatmu hamil... dan melahirkan darah dagingku!"
Deg!
Kata-kata itu menghantam kesadaran Aruni bak hantaman badai. Pelukannya mengendur seketika, membuat keranjang baju yang dipegangnya terlepas dan jatuh menumpahkan isinya ke lantai. Aruni membisu, menepuk dadanya sendiri yang mendadak terasa amat sesak dan menyakitkan.
‘Dari mana dia bisa tahu kalau aku hamil saat itu?!’ jerit Aruni dalam hati, kepanikan luar biasa kini mencengkeram jiwanya. ‘Tidak... Aku tidak mau sampai pria itu merebut kedua putraku! Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi!’
Melihat konflik di depan mata yang tak kunjung mereda, si kembar akhirnya memutuskan untuk turun tangan. Mereka tidak bisa lagi terus-menerus melihat kedua orang tuanya berseteru dalam kesalahpahaman.
Rayyan melangkah mendekati sang ibu, lalu menggenggam erat jemari Aruni yang masih bergetar.
"Bunda... tolong berikan kesempatan kepada Ayah untuk menjelaskan semuanya!" ucap Rayyan lembut namun tegas.
Aruni tersentak hebat. Matanya membelalak menatap putra sulungnya. "Rayyan... kamu... kamu sudah tahu semuanya? Apakah kau sudah bertemu dengan pria itu sebelumnya?!" tanya Aruni dengan nada menuntut.
Rayyan mengangguk pelan tanpa ragu. Ia mengalirkan kejujuran, menjelaskan seluruh rentetan peristiwa yang terjadi, termasuk saat ia meminta bantuan Fikri untuk berbohong soal pertandingan bola tempo hari demi menyusup ke vila menemui Edgar Ganendra.
Aruni tertegun dan terheran-heran. Benaknya dipenuhi tanda tanya besar. Dari mana kedua putranya yang masih kecil bisa melacak keberadaan sang ayah? Padahal selama tujuh tahun ini, ia, Rama, Rena, hingga Bik Sumi selalu bungkam rapat-rapat menutup identitas ayah biologis mereka.
Sementara itu, Zayyan terus menatap ke arah luar pintu kaca. Di seberang sana, ia melihat bayangan Edgar mulai menggigil hebat di tengah guyuran hujan deras dan sapuan kabut tebal yang kian pekat menyelimuti lereng Sukamakmur.
Tak tega melihat kondisi sang ayah, Zayyan mengambil tindakan nekat. Tanpa membuang waktu, bocah itu berlari kecil membuka engsel pintu samping ruko. Zayyan menjulurkan sebagian tubuhnya ke luar.
"Ayah! Masuk lewat sini!" teriak Zayyan memberi arahan.
Edgar yang mendengar panggilan putranya segera bergegas melangkah lebar, menyusup masuk ke dalam ruko melalui pintu samping tersebut.
Begitu sosok tegap itu melangkah masuk dengan pakaian yang basah kuyup disiram hujan, Larasati berinisiatif mengambilkan handuk kering dari tumpukan laundry. Ia menghampiri Zayyan dan menyerahkannya.
"Zayyan, cepat berikan handuk ini kepada Ayahmu. Kasihan tubuhnya sampai menggigil begitu dan basah kuyup," bisik Larasati iba.
Aruni yang membalikkan badan terkejut setengah mati mendapati Edgar sudah berdiri tegak di dalam ruangan rukonya.
"Siapa yang sudah membiarkan dia masuk?!" seru Aruni panik.
Zayyan yang baru saja menyerahkan handuk ke tangan Edgar langsung berbalik menatap ibunya. "Aku, Bun, yang ajak Ayah ke dalam. Kasihan Ayah kalau masih di luar. Bunda gak lihat kabut di luar semakin tebal?"
Ucap lugas dari mulut Zayyan seketika membuat Aruni bungkam tak sanggup membalas. Rasa keibuan dan logika tak bisa membantah kenyataan di luar sana.
Sementara itu, Edgar yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk mengulum senyum tipis. Kerinduan yang mendalam terpancar dari binar matanya saat menatap Aruni.
‘Bagus, Putraku... Kalian benar-benar bisa Ayah andalkan!’ sorak Edgar penuh rasa bangga di dalam hatinya.
Aruni menghela napas panjang, mencoba menekan kebingungan dan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya. Melihat raut wajah kedua putranya yang begitu mendamba kehadiran sang ayah, pertahanan keras Aruni perlahan luluh, meski hanya sebatas memberikan ruang untuk berbicara.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Aruni berlutut di lantai, bergegas memunguti pakaian laundry yang sempat tumpah dari keranjang.
Melihat hal itu, Edgar dengan sigap ikut berlutut di samping Aruni. Dengan jemarinya yang masih agak dingin akibat guyuran hujan, ia membantu merapikan helaian demi helaian pakaian tersebut lalu memasukkannya kembali ke dalam keranjang.
Di sela gerakan jemarinya, Edgar memberanikan diri menatap lekat wajah Aruni dari dekat. Lengkungan senyum tulus mengembang di bibirnya, senyum penuh kelegaan dan kerinduan yang membuncah. Wanita yang selama tujuh tahun ini memenuhi ruang pikirannya, wanita yang gambarnya selalu ia pandangi setiap hari di meja kerjanya, kini benar-benar berada tepat di hadapannya.
Namun, Aruni tetaplah Aruni yang sekarang. Ia bukan lagi wanita lugu yang mudah Goyah. Sikapnya begitu dingin, kaku, dan seolah membentengi diri dengan dinding tak tersentuh. Tatapan matanya lurus memandang pakaian di tangannya, secara halus menghindari kontak mata dengan Edgar. Setiap kali jemari Edgar tak sengaja bersentuhan dengan tangannya saat memegang pakaian yang sama, Aruni dengan cepat menarik jemarinya menjauh.
"Terima kasih. Biar aku saja yang merapikan sisanya," ucap Aruni dengan nada suara datar dan asing, tanpa sedikit pun menoleh.
Edgar menghentikan gerakannya, lalu perlahan menghembuskan napas panjang. Ada rasa nyeri tipis yang menghantam dadanya melihat tembok tinggi yang dibangun Aruni di antara mereka. Namun, ia sadar sepenuhnya bahwa luka, ketakutan, dan penderitaan yang dilalui Aruni selama tujuh tahun ini bukanlah hal yang bisa terhapus hanya dalam semalam.
‘Aku paham, Aruni... Kau berhak marah dan dingin padaku,’ batin Edgar mantap sambil menatap punggung tegap wanita itu. ‘Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan berjuang sekuat tenaga untuk meyakinkanmu, menyembuhkan lukamu, dan memenangkan hatimu... walau aku tahu, jalan ini tak akan pernah mudah.’
Bersambung...
sebenarnya aruni jugaa udah tumbuh cinta tp dia masih takut n trauma..
semangat Edgar kamu harus extra meluluhkan hatinya n jangan lupa waspada n hati-hati sm paman mu..