NovelToon NovelToon
Trapped By You

Trapped By You

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: BintangFRY

​​"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"

Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.

"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.

​"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"

​"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Ada Pilihan

"Sekarang katakan padaku... apakah kau masih ingin berlari dariku, saat satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan nyawa ayahmu malam ini adalah iblis yang baru saja kau benci?"

Kata-kata Mara menggantung di udara bagaikan vonis mati bagi Kayna. Udara di dalam kamar mendadak terasa begitu tipis, membuat paru-paru Kayna teremas sesak. Seluruh keberanian dan kemarahan yang beberapa detik lalu membakar dada Kayna kini lenyap seketika, berganti dengan pusaran ketakutan yang luar biasa.

Tangan Kayna perlahan melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan Mara.

​"Tolong! tolong jangan biarkan mereka menyentuh keluargaku." bisik Kayna pada akhirnya, suaranya terbata-bata dan gemetar hebat. "Mara, Lakukan sesuatu! Papa tidak ada hubungannya dengan urusan berdarah milikmu!"

​"Lalu apa yang akan aku dapatkan?" desis Mara dengan nada suara yang sangat tenang, namun justru ketenangan itulah yang terasa begitu mengerikan. Mara mengangkat sebalah tangannya, lalu memberi isyarat pelan kepada Carlos yang masih berdiri tak jauh dari mereka.

​Tanpa bersuara, Carlos menekan tombol pada perangkat komunikasi di telinganya dan mengaktifkan pengeras suara pada tablet miliknya. Seketika, suara napas memburu dan deru mesin mobil yang melaju kencang memenuhi ruangan.

​"Tuan Mara, tim pemantau di sekitar restoran Sunny Bless mengonfirmasi keberadaan tiga unit minibus hitam tanpa plat nomor," suara salah satu anggota Lexans terdengar samar di balik gangguan frekuensi. "Orang-orang Martin bergerak cepat. Mereka membawa senjata. Tuan Erick saat ini masih berada di dalam bersama dua orang staf. Kami menunggu perintah Anda untuk bergerak."

​"Tidakkah kau dengar itu, Kayna?" Mara memiringkan kepalanya, menatap Kayna dengan senyuman tipis yang sangat manipulatif. Ibu jarinya mengusap lembut bibir Kayna yang pucat pasi.

sentuhan yang terasa begitu kontras dengan ancaman terselubung di balik tatapannya. "Martin tahu bahwa jalan tercepat untuk meruntuhkanku adalah dengan menghancurkan apa yang paling ingin aku lindungi. Satu kata perintah dariku, dan orang-orangku akan meratakan mereka sebelum mereka menyentuh pintu restoran ayahmu. Tapi... jika aku tidak memberi perintah..."

​Mara sengaja menggantung kalimatnya, membiarkan imajinasi mengerikan membakar pikiran Kayna.

​"Mara! Tolong!" jerit Kayna, air mata akhirnya menetes membasahi pipinya yang dingin. Rasa gengsi dan kebencian yang ia genggam erat-erat hancur berkeping-keping di depan fakta bahwa nyawa ayahnya berada di ujung tanduk.

Kayna mencengkeram pergelangan tangan Mara, memohon dengan seluruh sisa tenaganya. "Aku mohon... selamatkan Papa! Jangan biarkan orang-orang kejam itu menyakitinya!"

​"Kau memohon padaku?" suara bariton Mara terdengar rendah dan bergetar penuh kepuasan yang berbahaya. Pria itu menundukkan kepala, mengikis jarak di antara mereka hingga napas hangatnya yang beraroma wine mahal dan tembakau menyapu kulit wajah Kayna. "Kau memohon pada 'iblis' yang baru saja kau maki ini, Kayna?"

​"Ya... aku mohon, Damara! Apapun... dan berapapun harganya, asal Papa selamat!" tangis Kayna pecah. Tubuhnya bergetar hebat.

​Aura dominasi yang pekat terpancar kuat dari diri ketua Mafia Lexans itu. Inilah momen yang telah diincarnya. Ketika kelinci liar itu dengan sukarela kembali ke pelukan pemiliknya.

​"Ingat janji dan ucapanmu barusan, sayang," bisik Mara tepat di depan bibir Kayna, suaranya begitu dalam dan posesif. Lalu mengecupnya pelan dan singkat. "Kau minta aku menyelamatkannya dengan 'apapun' harganya. Maka harganya adalah dirimu secara mutlak. Tidak ada lagi sandiwara, tidak ada lagi tatapan benci, dan tidak ada lagi niat untuk melarikan diri dari mansionku. Besok pagi, kau akan menandatangani dokumen pernikahan kita tanpa bantahan sedikit pun. Kau milikku, Kayna. Selamanya."

​Kayna memejamkan mata rapat-rapat, merasakan betapa hancur harga dirinya. Ia tahu, dengan menyetujui syarat ini, ia menyerahkan seluruh kebebasannya ke dalam cengkeraman pria ini. Namun wajah Erick yang penuh kasih sayang membayang di ingatan, memaksa jiwanya menyerah.

Meskipun ingatannya belum kembali, tapi baginya keluarga tetaplah keluarga. Ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada keluarganya.

​"Aku... aku setuju," bisik Kayna lirih, bagaikan helaan napas terakhir dari jiwanya yang patah. "Selamatkan papa..."

​Mendengar jawaban itu, kilatan kepuasan yang gelap membakar sepasang mata kelabu Mara. Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia berbalik menatap Carlos.

​"Carlos, aktifkan Protokol Merah di Sunny Bless," perintah Mara dengan nada tegas yang sanggup membekukan darah. "Bereskan semua orang kepercayaan Martin yang berani mendekati restoran itu. Jangan tinggalkan satu pun dari mereka dalam keadaan bernapas. Dan pastikan tidak meninggalkan jejak. lalu tempatkan penjagaan disana secara diam-diam."

​"Siap, Tuan Mara!" tegas Carlos seraya menekan tombol eksekusi pada tabletnya.

Setelah kepergian Carlos, kamar itu kembali hening dan menegangkan. Mara memutar tubuhnya menghadap Kayna.

"Bagaimana? apa kau mulai menyesali keputusanmu?"

Kayna hanya diam. Ia mengalihkan pandangannya. Apapun selain wajah Mara.

"Kenapa diam? apa mulutmu sudah rusak? perlu ku bantu memperbaiki?"

Kayna tersentak. Ia langsung mundur menjauh dari Mara.

Mara terkekeh pelan saat melihat respon dari Kayna. "Tenanglah, aku hanya bercanda. Selagi kamu masih tahu batasannya, maka aku tidak akan berbuat nekad. Tidurlah!"

Mara tidak menunggu jawaban dari Kayna. Ia justru langsung pergi. Bukan ke kamarnya ataupun ruang kerjanya. Ia justru mengendarai mobilnya meninggalkan mansion.

Setelah kepergian Mara, Kayna langsung masuk ke dalam kamar dan menguncinya rapat-rapat.

"Bagaimana ini?"

...●Bersambung●...

1
Putri💅🏻💅🏻
bagus banget
AzhuraAstra
Lanjut seng!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!