Mita tidak pernah meminta takdir ini. Baginya, Sam adalah kakak, pelindung, dan satu-satunya tempat bersandar setelah kedua orang tuanya tewas demi menyelamatkan keluarga Sam. Namun, sebuah pernikahan atas dasar utang budi mengubah segalanya dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eleanor kici kici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Jejak Baru dan Masa Lalu
Langkah kaki Mita bergaung pelan di sepanjang koridor kampus yang ramai. Sudah dua minggu berlalu sejak malam makan malam di rumah keluarga Baskoro, dan kini Mita telah resmi menempati sebuah kamar kos sederhana yang letaknya tak jauh dari universitas tempatnya menimbun mimpi. Hari-hari pertamanya sebagai mahasiswa ia jalani dengan fokus penuh, mencoba mengubur dalam-dalam memori kelam di rumah lama yang terus berusaha membayangi langkahnya.
Namun, ketenangan yang baru saja Mita bangun mendadak terusik. Kehadiran sosok dari masa lalu, kekasihnya yang bernama Ludwig, tiba-tiba muncul dan mulai mengejarnya tanpa lelah. Setiap kali Mita keluar dari ruang kelas atau berjalan menuju gerbang kampus, Ludwig selalu ada di sana, mencegatnya dengan tatapan penuh tuntutan dan rasa tidak terima atas keputusan Mita yang mendadak menghilang dan memutus hubungan di masa lalu.
"Mit, tolong dengerin aku dulu! Aku enggak bisa terima kalau kita selesai begitu saja tanpa alasan yang jelas!" seru Ludwig sore itu, langkahnya yang lebar dengan cepat memotong jalan Mita di bawah rindangnya pohon mahoni kampus.
Sikap Ludwig yang agresif dan terus mengejarnya selama berhari-hari ini mulai terasa sangat mengganggu privasi Mita. Beberapa mahasiswa yang lewat bahkan sempat menoleh, berbisik-bisik melihat perdebatan mereka. Namun, alih-alih panik atau tersulut emosi, Mita justru menghentikan langkahnya dengan sangat tenang. Ia memeluk buku-buku kuliahnya lebih erat, menatap lurus ke dalam manik mata pria yang pernah mengisi hatinya itu dengan pandangan yang teramat datar.
"Ludwig, semuanya sudah selesai. Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan atau diperdebatkan di antara kita," ujar Mita, suaranya mengalir tenang tanpa riak emosi sedikit pun.
"Enggak bisa, Mit! Aku tahu kamu bohong. Kamu pasti punya alasan lain, kan? Siapa cowok itu? Katakan sama aku!" tuntut Ludwig frustrasi, mencoba meraih pergelangan tangan Mita.
Mita dengan sigap melangkah mundur, menghindari sentuhan Ludwig. Ia menarik napas pendek, lalu mengembuskannya perlahan. Mita tahu, jika ia tidak memberikan sebuah hantaman kenyataan yang keras, pria di hadapannya ini tidak akan pernah berhenti mengacaukan hidup barunya.
Mita menatap Ludwig dengan sorot mata yang begitu dalam dan dingin, lalu mengucapkan kalimat yang seketika menghentikan seluruh dunia pria itu.
"Hentikan semuanya, Ludwig. Aku tidak bisa kembali padamu, karena saat ini... aku sedang mengandung bayi seseorang."
Kata-kata yang meluncur dari bibir Mita bagaikan petir di siang bolong. Ludwig seketika mematung di tempatnya berdiri, tangannya yang menggantung di udara mendadak gemetar. Seluruh argumen dan amarah yang sejak tadi ia persiapkan menguap begitu saja, digantikan oleh rasa syok yang luar biasa. Tatapan tenang dan raut wajah Mita yang sama sekali tidak menunjukkan kebohongan membuat pertahanan Ludwig runtuh seketika. Pria itu perlahan melangkah mundur dengan wajah memucat, akhirnya menyerah dan berbalik pergi meninggalkan Mita dalam keheningan sore yang berangin.
Mita sama sekali tidak berbohong demi mengusir Ludwig. Kenyataan pahit itu memang nyata adanya. Begitu sosok Ludwig menghilang di balik tikungan koridor, Mita menyandarkan punggungnya ke batang pohon mahoni dengan lemas. Jemarinya perlahan turun menyentuh perut ratanya yang masih tampak biasa saja, namun di dalamnya, sebuah kehidupan baru telah mulai tumbuh.
Pikirannya seketika melayang pada kejadian di kamar mandi kosannya beberapa hari yang lalu. Saat itu, Mita menyadari bahwa siklus datang bulannya telah terlambat cukup lama. Dengan jantung yang berdebar kencang berselimut ketakutan, ia memberanikan diri membeli sebuah alat uji kehamilan. Air matanya luruh dalam keheningan pagi yang dingin ketika melihat dua garis merah pekat perlahan muncul di atas testpack tersebut—sebuah bukti tak terbantahkan dari malam kelam penuh kekeliruan bersama Sam yang kini harus ia tanggung sendirian.(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)