Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.
Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.
Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?
Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Langit sore mulai berubah menjadi kelabu pekat, seolah ikut bersedih menyaksikan kepergian gadis itu dari gerbang rumah sakit.
Tidak ada senyum cerah yang biasa menghiasi wajahnya.
Tidak ada langkah kecil penuh semangat yang biasanya ia pergunakan saat berlari mengejar sosok Dokter Ezra.
Hari ini, Adera berjalan sangat pelan. Begitu pelan, seolah setiap langkahnya membutuhkan energi yang luar biasa besar untuk menopang tubuhnya yang terasa lemas.
Tangannya masih menggenggam erat paper bag berisi makanan yang tadi dimasaknya sendiri dengan penuh cinta dan harapan. Makanan yang kini terasa begitu berat, dan bahkan belum disentuh sedikit pun oleh pria yang ditujunya.
Entah kenapa, sekarang semua perjuangan itu terasa begitu memalukan. Begitu menyakitkan.
Dua tahun.
Dua tahun lamanya Adera mengejar Ezra.
Dua tahun datang tanpa pernah absen, dua tahun berusaha menarik perhatian dengan segala cara, dan dua tahun penuh keyakinan buta bahwa ketulusannya akan membuat tembok tinggi di hati pria itu luluh suatu hari nanti.
Namun ternyata… tidak ada perkembangan sama sekali.
Ezra tetap dingin. Tetap menjaga jarak.
Dan yang paling menyakitkan, pria itu ternyata bahkan sudah menaruh hati pada wanita lain.
Adera menunduk dalam, bahunya bergetar pelan. Lalu ia tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar begitu pahit dan hampa.
“Bodoh banget sih gue…” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.
Air matanya kembali jatuh membasahi pipi, kali ini lebih deras. Selama ini dia selalu percaya kalau cinta tulus pasti akan menang.
Nyatanya tidak. Kali ini, Adera sudah tidak percaya lagi dengan kata-kata itu.
Kadang, seseorang tetap tidak akan mencintaimu… meski kamu sudah memberikan seluruh isi hatimu, bahkan nyawamu sekalipun.
Sesampainya di rumah, Adera buru-buru mengusap kasar wajahnya, berusaha menghapus jejak air mata dan kesedihan sebelum melangkah masuk.
Namun baru saja pintu terbuka, suara seseorang langsung menyambutnya.
“Adera?” panggil Denial.
Pria itu baru pulang kerja, dan seketika mengernyitkan dahi melihat penampilan adiknya yang sangat berbeda. Wajahnya pucat pasi, matanya bengkak, dan auranya begitu gelap.
“Kok muka kamu kusut gitu?” tanya Denial heran, mulai mendekat.
Adera refleks memalingkan wajah, lalu cepat-cepat menyeka pipinya dengan punggung tangan seolah ada debu yang mengganggu.
“Hah? Enggak kok. Tadi aku sempat kena cipratan air di jalan, jadi agak dingin gitu,” jawab Adera berdalih, suaranya terdengar sedikit serak.
Denial berhenti di depannya, matanya menyipit penuh selidik. Ia bisa mencium bau keputusasaan dari adiknya.
“Kamu habis nangis?” tebak Denial tepat sasaran, nadanya mulai serius.
“Ah enggaklah!” sanggah Adera cepat, suaranya sedikit meninggi karena gugup dan panik.
“Adera, kamu hari ini aneh banget,” ucap Denial lagi, tidak percaya sedikitpun dengan alasan murahan itu.
Gadis itu langsung tertawa kecil, tapi tawanya terdengar sangat dipaksakan, bahkan terdengar menyakitkan untuk didengar.
“Ya ampun, Kak. Aku cuma habis nonton drama sedih tadi pas nunggu Dokter Ezra selesai operasi,” jelas Adera berusaha mengalihkan topik, berusaha terdengar ceria.
“Drama?” tanya Denial tidak yakin, alisnya masih terangkat tinggi.
“Iya.” Adera mengangguk cepat, berusaha sekuat tenaga menatap mata kakaknya meski hatinya hancur. “Cowok utamanya meninggal. Sedih banget pokoknya.”
Denial masih menatap lekat-lekat. Dia terlalu mengenal Adera. Gadis ini biasanya paling sulit menyembunyikan perasaan, matanya selalu jujur.
Namun kali ini… Adera sedang berusaha mati-matian untuk terlihat baik-baik saja.
“Kamu habis dari rumah sakit?” tanya Denial pelan, suaranya lembut namun menekan.
Adera terdiam sepersekian detik.
Biasanya, kalau ditanya ini, dia akan langsung bersemangat menceritakan segalanya tentang Ezra. Tentang senyumnya, tentang suaranya, atau sekadar cerita kalau Ezra mau menerima kopi darinya.
Tapi sekarang… tidak ada lagi cahaya itu di bola matanya. Hanya kehampaan yang membeku.
“Iya,” jawab Adera singkat, datar.
“Ketemu Ezra?” tanya Denial penasaran.
Adera tersenyum kecil. Sebuah senyum yang terasa begitu menyakitkan untuk dilihat.
“Ketemu,” ucapnya pelan.
“Terus?” desak Denial, suaranya terdengar seperti sedang menginterogasi.
“Dih, kepo banget sih Kak! Tumben banget nanya terus-terusan. Yang aneh itu kakak,” sergah Adera, berusaha keras menutupi kesedihannya dengan nada bercanda yang gagal total.
Denial mulai yakin ada sesuatu yang sangat buruk terjadi.
Sebelum pria itu sempat bertanya lebih jauh, Adera buru-buru berjalan mendahuluinya ingin kabur.
“Aku capek, Kak. Mau istirahat dulu,” pamit Adera cepat.
“Adera.”
Panggilan itu membuat langkah Adera terhenti mendadak. Suara kakaknya terdengar berbeda kali ini… terdengar sangat khawatir, bahkan sedikit gemetar.
“Ezra nyakitin kamu?” tebak Denial.
Adera menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sampai terasa perih, menahan isak tangis yang ingin meledak. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu besar yang menimpanya.
Tapi sedetik kemudian, dia kembali tertawa kecil, sebuah tawa yang penuh kepura-puraan.
“Enggak kok, mana ada,” ucap Adera lemah.
Lalu, dengan suara yang nyaris tak terdengar seperti bisikan angin, gadis itu melanjutkan kalimatnya yang memecah keheningan.
“Cuma aku mulai sadar aja… kalau nggak semua hal di dunia ini bisa dipaksa. Termasuk perasaan.”
Setelah mengatakan itu, Adera langsung melangkah cepat masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan pelan namun tegas.
Meninggalkan Denial yang berdiri kaku di ruang tamu dengan perasaan yang sangat tidak tenang dan firasat buruk yang menggelayuti dadanya.
Di balik pintu kamar yang terkunci rapat, Adera akhirnya kehilangan seluruh kekuatannya. Kakinya lemas, tubuhnya jatuh terduduk di lantai dingin.
Tangis yang sejak tadi dia tahan sekuat tenaga, akhirnya pecah begitu saja. Meledak tanpa bisa ditahan lagi.
Untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir… Adera benar-benar merasa lelah.
Lelah mencintai orang yang bahkan tidak pernah melihatnya ada.