Di balik megahnya dinding Kerajaan Sanjaya, sebuah takdir kuno mulai terbangun. Pangeran Ares, sang pewaris takhta yang gagah namun menyimpan misteri di balik rajah di lengannya, terikat janji suci sejak balita untuk bersanding dengan Princess Ciara. Perjodohan ini bukan sekadar urusan politik, melainkan segel yang menjaga keseimbangan dua kerajaan besar.
Namun, bayang-bayang masa lalu mulai mengusik saat Naomi, seorang anak pelayan istana yang sederhana, menyimpan rasa yang tak seharusnya pada sang Pangeran. Kehadiran Naomi bukan sekadar bumbu cinta segitiga biasa; ada rahasia gelap dalam darahnya yang perlahan mulai memanggil kekuatan rune terlarang.
Tiga nasib terjalin dalam bayang-bayang masa lalu. Akankah Ares memilih kewajiban demi kedamaian kerajaan bersama Ciara?
Ataukah perasaan tulus Naomi akan menjadi kunci untuk menghancurkan kutukan yang selama ini menghantui Sanjaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detak Jantung di Ujung Belati
Riuh rendah yang sempat merayap di sela-sela pilar marmer Aula Agung Sanjaya mendadak lenyap, berganti dengan keheningan yang begitu pekat hingga suara tarikan napas tertahan pun terdengar jelas. Pengakuan dari mulut Putri Naonna atau Naomi dalam balutan sihir selatan, bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Raja Warden masih berdiri dengan tangan mencengkeram pinggiran meja pualam, wajahnya yang semula kemerahan oleh amarah kini perlahan memudar, menyisakan gurat pucat akibat rahasia berdarah belasan tahun lalu yang mendadak dikuliti di depan umum.
Ratu Ara, yang sejak awal memperhatikan dari atas podium, melirik tajam ke arah suaminya, Raja Sanjaya. Kehadiran keluarga penguasa Baitang Sang di pesta pernikahan ini jelas bukan lagi sekadar kunjungan kehormatan diplomatik. Ini adalah sebuah deklarasi perang psikologis yang dirancang dengan sangat rapi oleh Ratu Micky Yoochun.
"Cukup dengan sandiwara makam tua ini, Micky!" Ratu Cici dari Warden akhirnya membuka suara, mencoba memecah keheningan yang menyudutkan suaminya. Ia melangkah maju hingga ke batas pagar podium, perhiasan emas di lehernya berdenting tajam. "Dewanti Yang sudah menjadi sejarah yang terkubur tanah. Membawa seorang wanita entah dari mana dan melabelinya dengan nama putri yang sudah mati... apakah Baitang Sang serendah itu hingga harus mengais sisa-sisa darah runtuh demi mencari pembenaran politik di tanah utara?"
Mendengar penghinaan itu, Pangeran David Guetta yang sejak tadi duduk dengan tenang perlahan bangkit. Tubuhnya yang tegap dan tinggi seketika memberikan tekanan visual yang kuat di sisi Naomi. Ia tidak melepaskan tatapannya dari garis depan keluarga kerajaan Warden.
"Jaga bicaramu, Ratu Cici," suara Pangeran David terdengar rendah namun memiliki gaung yang menekan dada. "Baitang Sang tidak pernah kekurangan tanah maupun kehormatan hingga harus mengais apa pun. Kami membawa Putri Naonna kembali ke utara karena tanah ini berutang penjelasan padanya. Jika Kerajaan Warden merasa tidak bersalah atas pembantaian belasan tahun lalu, mengapa tangan Rajamu gemetar melihat permaisuriku berdiri di sini?"
"David!" bentak Raja Sanjaya, mencoba menengahi sebelum aula itu benar-benar berubah menjadi medan pertempuran verbal yang tak terkendali. "Ini adalah hari suci bagi Sanjaya dan Warden. Pernikahan Putra Mahkotaku tidak boleh dicemari oleh dendam lama dari belahan dunia lain. Ratu Micky, aku menghormati takhtamu, tapi tolong tertibkan putramu."
Ratu Micky hanya terkekeh pelan, sebuah tawa meremehkan yang membuat Raja Sanjaya merasa harga dirinya diinjak-injak. "Pernikahan suci, katamu, Sanjaya? Pernikahan yang dibangun di atas ketakutan akan ancaman Warden, sementara kalian membuang berkah murni yang seharusnya menjaga tanah ini?" Matanya melirik sekilas ke arah Ares, memancing reaksi sang Pangeran.
Di sudut dekat altar, Pangeran Ares tidak lagi bisa menahan diri. Setiap kata, setiap tatapan, dan getaran energi yang terpancar dari Putri Naonna terus menggedor pintu batinnya. Persetan dengan sihir mata hijau zamrud atau warna rambut yang berbeda. Ares tahu, di bawah kain sutra mahal itu, ada detak jantung saudarinya yang berdenyut selaras dengan sisa kutukan di dalam dirinya sendiri.
Ares melangkah maju, mengabaikan seruan tertahan dari para pengawal jubah emas yang berjaga di dekatnya. Sambil mencengkeram hulu pedangnya, ia berjalan membelah kerumunan bangsawan, melangkah lurus menuju tempat Naomi berdiri.
"Ares! Kembali ke tempatmu!" seru Ratu Ara dengan nada panik yang tak bisa disembunyikan lagi.
Namun, Ares tidak mendengarkan. Ia berhenti tepat tiga langkah di hadapan Naomi dan David. Sepasang mata peraknya menatap lurus ke dalam manik mata hijau zamrud milik Naomi, mencoba menembus lapisan ilusi yang menutupi kebenaran.
"Jika kau memang Putri Naonna dari Barat-Utara," suara Ares bergetar, sarat akan emosi yang tertahan sejak ia dikurung di menara barat, "maka tatap mataku sekali saja tanpa topeng kerajaanmu. Katakan padaku... di mana pelayan bernama Naomi yang dibuang dari istana ini?"
Naomi merasakan dadanya sesak melihat tatapan Ares yang begitu terluka namun penuh harap. Ia merindukan kehangatan pelukan saudaranya, satu-satunya orang yang membelanya di saat seluruh isi istana mengutuknya sebagai monster. Namun, genggaman lembut tangan David di balik lipatan lengan bajunya mengingatkannya pada tujuan yang lebih besar: Martha dan Ingdrit.
Naomi menegakkan kepalanya, menatap Ares dengan keanggunan Putri Naonna yang dingin. "Pangeran Ares yang agung," ucap Naomi, suaranya terdengar asing namun begitu menusuk kalbu, "pelayan yang engkau cari mungkin telah melebur bersama dinginnya perbatasan timur saat keluargamu membuangnya bagai sampah. Di sini, hanya ada aku... dan aku datang bukan untuk mencari pelayan yang hilang, melainkan untuk menuntut apa yang menjadi hak darahku."
Mendengar jawaban dingin itu, Princess Ciara yang sejak tadi merasa tersisih langsung melangkah mendekati Ares, mencoba meraih lengan sang Pangeran. "Ares, jangan pedulikan wanita asing ini! Dia hanya ingin merusak hari kita! Ayah, panggil pasukan! Usir mereka jika mereka berniat membuat kekacauan!"
Atmosfer di dalam Aula Agung kini benar-benar berada di ujung tanduk. Satu gerakan salah saja dari salah satu pihak, maka pesta pernikahan ini akan berubah menjadi pertumpahan darah terbesar yang akan dicatat oleh sejarah tiga kerajaan.