Demi memastikan calon tunangan yang akan dijodohkan orang tuanya, Bella terpaksa menyamar bekerja di perusahaan milik Gilang, pria yang dipilih oleh sang papa untuk menjadi suaminya.
Satria Wijaya,, papa Bella adalah seorang pengusaha kaya raya dan Bella adalah anak semata wayang pasangan Satria dan Hani. Bella tentu tidak ingin calon suaminya, bersedia menikah dengannya hanya karena harta dan ia pun ingin memastikan jika pria yang akan menjadi pendamping hidupnya adalah pria setia.
Namun, kesalahpahaman terjadi. Gilang justru menganggap Bella adalah wanita simpanan Satria karena Satria lah yang meminta Gilang untuk mempekerjakan Bella sebagai sekretaris Gilang tanpa melalui proses pengrekrutan karyawan pada umumnya.
Lantas, bagaimana perjalanan kisah mereka selanjutnya? Ikuti saja kisah Bella dan Gilang dalam novel Sekretaris Palsu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Terlalu Dekat Dengan Asisten Gilang!
Suara tawa renyah di balkon kamar Bella terdengar. Sabtu pagi tadi, Bella memutuskan kembali ke rumah orang tuanya dan akan menginap di sana.
Bella pun bercerita pada sang mama soal sikap Gilang yang mulai memperlihatkan kecemburuan terhadapnya, saat ia menghabiskan waktu bersama asisten Gilang.
"Mamih jadi penasaran Gilang itu seperti apa? Kapan kamu ajak dia main ke sini, Bella?" Mendengar cerita Bella tentang Gilang, membuat rasa penasaran menyeruak di hati Ibu Hani. Rasa yakin pun mulai terbentuk di hatinya, merasa pilihan sang suami pada Gilang bukanlah tindakan yang keliru dan ia pun semakin mendukung rencana suaminya.
"Mih, Gilang 'kan belum tahu kalau Bella itu anak papih, gimana Bella bawa dia ketemu Mamih, coba?" Bella mengingatkan mamanya jika ia masih melakonkan orang asing, bukan calon pewaris kekayaan seorang Satria Wijaya.
"Ya sudah, kamu akhiri saja penyamaran kamu, Bella. Mamih yakin, Gilang sepertinya pria yang baik." Ibu Hani mendesak Bella agar segera mengaku sebagai calon istri Gilang yang sebenarnya.
"Tapi, Bella masih ingin mengenal Gilang lebih dalam, Mih. Lewat penyamaran ini, Bella justru bisa membaca sifat asli dia," sanggah Bella, menepis saran Ibu Hani. Mengenang kembali setiap momen di mana Gilang menjadi salah tingkah saat berada di dekatnya, membuat Bella makin candu untuk terus menggoda calon suaminya itu.
"Lantas, kapan Mamih bisa bertemu dengan calon menantu Mamih itu, Bella?" Ibu Hani mengerucutkan bibir, merajuk manja, karena belum juga diberi kesempatan mengenal sosok pria yang kelak menjaga putri tercintanya.
"Hmmm ..." Kening Bella berkerut, memikirkan sesuatu yang bisa membuat mamanya dan Gilang bisa saling bertatap muka. "Gimana kalau Mamih datang saja ke kantor Papih. Nanti biar Papih yang memanggil Gilang ke sana. Dengan begitu, Mamih bisa bertemu langsung dengan Gilang," usul Bella, merajut rencana pertemuan di ruang kerja sang papa agar mamanya bisa menuntaskan rasa penasarannya pada sosok Gilang.
Ibu Hani tertegun, netranya menatap dalam-dalam pada wajah Bella yang memancarkan aura kebahagiaan. Dari untaian kalimat yang mengalir dari bibir sang putri, ia menangkap perubahan yang nyata. Tak ada lagi amarah yang berapi-api, ataupun penolakan keras atas perjodohan yang dirancang suaminya. Perlahan, kehangatan itu menjalar hingga melukis senyum simpul di sudut bibir Ibu Hani.
Menyadari jika netra sang mama sedang mengawasinya, ekor mata Bella melirik ke arah Ibu Hani. Tatapannya menangkap senyuman bahagia di bibir orang tuanya itu.
"Mamih kenapa senyum-senyum begitu? Jangan-jangan Mamih lagi membayangkan Gilang, ya?" goda Bella, memecah keheningan.
Tawa kecil Ibu Hani pun pecah mendengar seloroh putrinya. Dengan penuh kasih, diusapnya lembut puncak kepala Bella, sebuah sentuhan hangat yang tak pernah berubah sejak tangannya itu mulai mendekap erat Bella saat masih bayi.
"Mamih senang, akhirnya Bella mau menerima perjodohan yang direncanakan Papih," ucapnya menyiratkan rasa syukur.
"Iiihh, siapa juga yang mau menerima? Bella belum ngambil keputusan ya, Mih!" sanggah Bella, mendustai kenyataan, jika ia sebenarnya mulai mengagumi sosok Gilang yang sangat setia sebagai sosok pria dan bertanggung jawab terhadap anak buahnya.
"Kamu ngaku deh, sama Mamih! Bella juga udah mulai tertarik sama Gilang, kan?" tebak Ibu Hani dapat merasakan apa yang sedang mendera putrinya.
"Nggak, kok, Mih!" Bella kembali menampik.
Ibu Hani kembali mengulum senyuman, melihat Bella yang tak mau mengakui perasaannya yang mulai tumbuh terhadap Gilang.
"Nggak ada yang mengenal kamu sebaik Mamih dan papih. Jadi, Mamih bisa merasakan, kapan Bella berkata jujur dan kapan Bella sedang menutupi sesuatu," ucap Ibu Hani, meminta Bella tak berbohong padanya.
"Bella cuma nggak nyangka aja, Mih. Ternyata dia itu sangat tanggung jawab sebagai bisa dan pernah ganti-ganti pacar juga." Bella mengungkap alasan dirinya mengagumi Gilang, dan masih berkilah jika ia mulai tertarik pada pria itu.
"Kalau begitu, apalagi yang membuat Bella ragu untuk menerima Gilang? Dia tampan, baik, setia dan bertanggung jawab. Meskipun dia nggak sekaya Papih, buat Mamih itu nggak masalah, yang penting Gilang bisa membahagiakan Bella." Ibu Hani sangat yakin, Gilang adalah jodoh yang tepat bagi Bella, walau tak bergelimang harta seperti suaminya.
Bella tidak bisa menahan senyum tipisnya. Baru kali ini ia mendengar seorang ibu mendambakan menantu yang tak lebih sukses dari suaminya sendiri.
"Mih, di mana-mana, orang tua itu ingin putrinya bersanding dengan lelaki yang jauh lebih mapan, lebih kaya, dan lebih segalanya dari orang tuanya. Kenapa Mamih dan papih malah memilihkan Gilang, pria yang di bawah standar kekayaan papih?" tanya Bella, menyuarakan kebingungan di kepalanya.
"Alasannya baru saja kamu sebutkan, Sayang." Ibu Hani mendaratkan sentuhan gemas di ujung hidung Bella. "Apa gunanya bergelimang harta jika tak mampu memberikan kebahagiaan lahir batin untuk Bella? Lagi pula, urusan materi, biarkan menjadi urusan kami. Kelak, seluruh harta milik Mamih dan papih akan menjadi milik Bella," Ibu Hani berharap Bella tak merisaukan perbedaan jarak status sosial dengan Gilang.
Sebagai ibu dari seorang calon pewaris tunggal, Ibu Hani sama sekali tak mempermasalahkan kekayaan Gilang yang berada di bawah standar mereka. Hal itu ia lakukan untuk mempermudah Bella menerima Gilang.
Bella melengkungkan senyuman Sejujurnya, ia sangat beruntung terlahir dari sosok rahim mamanya dan mempunyai ayah sehebat papanya. Mungkin jika ada penghargaan anak paling bahagia dan beruntung di dunia ini, dialah yang menjadi pemenangnya.
Bela menyandarkan kepala di pundak ringkih Ibu Hani, menjalin kedekatan batin antara ibu dan anak.
"Mih, Bella sangat beruntung punya orang tua seperti Mamih dan papih." Tangannya lalu memeluk pinggang Ibu Hani, mengungkap rasa kagum pada orang tuanya, yang telah memberikan kebahagiaan tak ternilai sepanjang hidupnya.
"Kalau begitu, Bella harus menuruti apa yang Mamih dan papih inginkan!" Ibu Hani menyebut, tindakan yang harus dilakukan Bella untuk membalas rasa sayang yang telah diberi olehnya dan suaminya. Bukan mengharap pamrih, hanya sebagai bakti Bella terhadap kedua orang tua.
"Iya, Mih." Bella mengangguk pelan, akhirnya menyetujui apa yang diminta oleh orang tuanya. Hingga sepasang ibu dan anak itu saling berpelukan mencurahkan rasa sayang diantara keduanya yang tak terbatas.
"Kamu juga mesti ingat, Bella! Jangan terlalu dekat dengan asisten Gilang! Jangan menimbulkan riak permusuhan dan persaingan di antara mereka!" Ibu Hani pun mengingatkan Bella untuk menghentikan keisengannya bermain api dengan Jimmy. dikhawatirkan akan menyebabkan pertikaian antara kedua sahabat itu.
"Nggak apa-apalah, Mih! Biar seru lihat Gilang cemburu! Hahaha ..." Untuk permintaan mamanya kali ini, Bella justru menolaknya. Karena dengan Jimmy, ia bisa terus menguras kecemburuan Gilang terhadapnya.
❤️❤️❤️
Bersambung ...
betul saran Bella,kalau mau ketemu Gilang,manfaatkan saja papanya Bella untuk mempertemukannya dengan Gilang😁
bakal makin gencar gak nih Bella menggoda Gilang setelah dengar cerita Jimmy😁