NovelToon NovelToon
THE 100 BILLION SECRETARY

THE 100 BILLION SECRETARY

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Demi 100 Miliar, Gisel harus menjadi sekretaris penggoda bagi bosnya sendiri.
Gisella (20) terjepit kebutuhan ekonomi untuk pengobatan ibunya. Di tengah keputusasaan, Nyonya Widya ibu dari CEO tampan Arselan Dirgantara memberinya penawaran gila: Imbalan 100 miliar rupiah jika Gisel bisa membuktikan bahwa Arsel bukan penyuka sesama jenis.
Tugas Gisel hanya satu: Menjadi sekretaris pribadi dan menggunakan segala cara termasuk pesona fisiknya untuk memicu kembali gairah Arsel yang membeku sejak dikhianati masa lalu.
Gisel yang ceriwis harus menghadapi Arsel yang dingin dan gila kerja. Namun, saat tembok es Arsel mulai mencair, Gisel terjebak dalam dilema antara tuntutan kontrak dan perasaan yang mulai tumbuh nyata.
"Mampukah Gisel menuntaskan misinya, atau justru ia yang akan hancur oleh kebenaran di balik kontrak tersebut?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fragmen Ingatan dan Pagi yang Canggung

Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah gorden Presidential Suite yang belum tertutup sempurna, membelah keheningan kamar dalam garis-garis emas yang tajam. Arselan adalah yang pertama terbangun. Kepalanya terasa sangat berat, seperti dipukul palu godam berulang kali, menyisakan denyut konstan di pelipisnya.

Ia merasakan kehangatan yang asing di lengan dan dadanya. Saat ia mencoba menggerakkan tubuhnya, ia menyadari bahwa ia sedang memeluk seseorang dari belakang. Aroma vanila yang familiar aroma yang selalu menghantuinya di kantor kini tercium begitu nyata dan dekat.

Arsel membuka matanya lebar-lebar. Ia menarik sedikit selimut sutra yang menutupi tubuhnya dan seketika membeku. Ia telanjang bulat. Dan wanita dalam pelukannya pun berada dalam kondisi yang sama.

Saat wanita itu bergerak kecil dan berbalik, jantung Arsel seakan berhenti berdetak. Wajah manis yang tampak damai dalam tidurnya itu adalah Gisella. Rambut Gisel yang biasanya tertata rapi kini berantakan di atas bantal putih, dan bahunya yang polos memperlihatkan jejak-jejak kemerahan dari gairah malam tadi.

"Gisella..." bisik Arsel, suaranya parau dan penuh keterkejutan.

Ingatan malam tadi mulai berputar seperti potongan film yang rusak. Gelas minuman dari Siska, rasa panas yang membakar seluruh sarafnya, pelukan di toilet, hingga pergulatan panas yang mereka lalui di atas ranjang ini. Arsel tersadar sepenuhnya; itu bukan sekadar demam. Ia telah dijebak, dan ia telah menyeret Gisel ke dalam kekacauan ini.

Gerakan Arsel rupanya mengusik tidur Gisel. Kelopak mata lentik itu bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan. Begitu mata mereka bertemu, kesadaran menghantam Gisel seperti ombak besar.

"A-Arsel?" Gisel memekik pelan. Ia refleks menarik selimut hingga menutupi dadanya, mencengkeram kain itu dengan tangan yang gemetar hebat agar tidak melorot.

Wajah Gisel memerah padam, bukan karena malu menggoda seperti biasanya, melainkan karena syok yang murni. Ia menatap Arsel, lalu menatap sekeliling kamar yang berantakan dengan pakaian mereka yang berserakan di lantai.

"Kita... kita melakukan itu?" suara Gisel mencicit, matanya mulai berkaca-kaca.

Arsel segera duduk, membelakangi Gisel sambil menutupi bagian bawah tubuhnya dengan ujung selimut yang lain. Ia meraup wajahnya dengan kasar, merasa menjadi pria paling brengsek di muka bumi.

"Gisella, saya... saya benar-benar minta maaf," ucap Arsel dengan nada yang sangat rendah dan penuh penyesalan. "Kejadian semalam... itu di luar kendali saya. Seseorang mencampurkan sesuatu ke minuman saya. Obat itu... obat jahanam itu membuat saya kehilangan akal sehat."

Gisel terdiam. Ia teringat bagaimana Arsel memohon padanya semalam, bagaimana Arsel tampak sangat menderita karena rasa panas yang tidak wajar. Ia tahu Arsel tidak berbohong soal obat itu, tapi fakta bahwa mereka telah melampaui batas terdalam membuat hatinya terasa perih.

"Jadi... Bapak melakukannya hanya karena obat itu?" tanya Gisel dengan suara bergetar. "Bapak tidak sadar siapa yang Bapak sentuh?"

Arsel berbalik sedikit, menatap punggung polos Gisel yang bergetar karena isak tangis yang tertahan. "Saya sadar itu kamu, Gisel. Tapi saya tidak bisa menghentikan insting saya. Saya benar-benar minta maaf karena telah merenggut hal paling berharga darimu dalam keadaan seperti ini."

Gisel menyembunyikan wajahnya di balik lutut yang ditekuk di bawah selimut. Pikirannya kacau. Di satu sisi, ia mencintai pria ini. Namun di sisi lain, ia teringat kontrak dengan Nyonya Widya. Bukankah ini yang diinginkan Nyonya Widya? Bahwa ia berhasil "menaklukkan" Arsel sepenuhnya?

Tapi kenapa rasanya sesakit ini? Kenapa rasanya ia justru kehilangan martabatnya sebagai wanita, bukan memenangkan sebuah misi?

"Gisella, lihat saya," pinta Arsel lembut.

Gisel menggeleng kuat. "Jangan lihat saya sekarang, Pak. Tolong... Bapak ke kamar mandi dulu. Saya ingin memakai baju saya."

Arsel menghela napas panjang. Ia berdiri, membalut tubuhnya dengan jubah mandi (bathrobe) hotel yang tebal, lalu berjalan menuju kamar mandi tanpa menoleh lagi, memberikan privasi yang sangat dibutuhkan Gisel.

Di bawah kucuran air shower yang dingin, Arsel mencoba menjernihkan pikirannya. Ia tahu permintaan maaf tidak akan pernah cukup. Ia telah merusak kepercayaan yang baru saja mulai tumbuh di antara mereka. Namun satu hal yang pasti di kepalanya: ia tidak akan membiarkan Gisel menanggung ini sendirian.

Setelah beberapa saat, Arsel keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lebih rapi. Ia melihat Gisel sudah mengenakan gaun malamnya yang tampak kusut, sedang duduk di tepi ranjang sambil menunduk dalam.

Arsel mendekat dan berlutut di depan Gisel, memaksa gadis itu untuk menatapnya.

"Gisella, dengarkan saya baik-baik. Saya tahu ini sangat berat untukmu. Tapi saya bukan pria pengecut yang akan melarikan diri setelah apa yang terjadi," Arsel memegang tangan Gisel yang masih dingin. "Saya akan bertanggung jawab. Apapun yang kamu inginkan, apapun yang harus saya lakukan untuk menebus ini, saya akan lakukan."

Gisel menatap mata Arsel yang tajam namun penuh kejujuran. "Bapak mau tanggung jawab karena Bapak merasa bersalah, atau karena Bapak... mencintai saya?"

Pertanyaan itu membuat Arsel terdiam sejenak. Cintakah ini? Rasa sesak saat melihat Gisel menangis, rasa ingin melindungi saat ibunya sakit, dan rasa cemburu saat ia digoda pria lain.

"Saya tidak tahu sejak kapan, tapi kehadiranmu sudah menjadi bagian dari hidup saya, Gisel. Dan kejadian semalam... meski dipicu oleh obat itu, tidak mengubah fakta bahwa saya menginginkanmu," jawab Arsel tegas. "Berikan saya waktu untuk mengurus siapa yang berani melakukan ini pada saya, dan setelah itu, kita akan bicara soal masa depan kita."

Gisel hanya bisa mengangguk pelan. Pagi itu, di dalam kamar hotel yang mewah, hubungan mereka berubah selamanya. Rahasia malam itu tersimpan rapat di antara mereka, namun di balik itu semua, sebuah badai besar sedang bersiap menerjang—terutama saat Nyonya Widya mengetahui bahwa misinya telah "terlaksana" dengan cara yang paling tak terduga.

1
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
kok cepet banget bacanya kak😅😅🙏🙏
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
10 jam 🤣🤣🤣
nanti kamu praktekan aja 🤭🤭
kuat💪💪
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
yeeeeee tetap semangat kak 💪💪❤️❤️
makacih udah update 🙏
Nessa
hai kak… aku mampir ceritanya seruuu.. di tunggu up brikutnya… semangat 😍👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!