Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur
Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12: Bayang-bayang Mata-mata di Tengah Kedamaian
Pagi itu, sinar matahari pagi yang hangat masuk menyelinap lewat celah jendela, menerangi lantai kayu rumah besar keluarga Ardiansyah yang kini kembali bersih dan berkilau. Suara burung berkicau riang di dahan pohon, aroma bunga melati dan bunga mawar yang mekar sempurna di halaman menyebar ke seluruh penjuru rumah, menciptakan suasana yang begitu damai, indah, dan menenangkan hati. Namun di balik kedamaian yang tampak sempurna itu, suasana di dalam rumah terasa tegang dan penuh kewaspadaan. Tidak ada lagi canda tawa lebar seperti hari-hari sebelumnya, setiap gerakan dilakukan dengan hati-hati, setiap kata yang diucapkan dipikirkan matang-matang, seolah ada sepasang mata tak terlihat yang selalu mengawasi setiap langkah mereka.
Di ruang makan yang luas, Lira, Raga, dan Bu Sumi duduk mengelilingi meja makan besar. Sarapan pagi sudah tersaji lengkap di atas meja, namun hampir tidak ada yang menyentuh makanan itu. Pikiran mereka masih tertuju pada percakapan semalam, pada pengakuan Raga tentang percakapan rahasia Tuan Handoko, dan pada kenyataan pahit bahwa bahaya belum benar-benar berlalu, musuh sebenarnya masih bersembunyi di antara mereka.
Raga yang sudah berpakaian rapi dengan baju kemeja sederhana, meskipun bahunya masih dibalut perban tipis di balik pakaian, menatap kedua wanita itu dengan pandangan serius dan waspada. Sejak semalam, ia sudah menyusun rencana langkah demi langkah, untuk menjaga keselamatan mereka sekaligus mencari petunjuk siapa orang yang diam-diam masih bekerja untuk Tuan Handoko.
“Mulai hari ini, kita akan mengubah kebiasaan kita sedikit,” kata Raga memecah keheningan, suaranya rendah namun tegas. “Bu Sumi, tolong catat semua orang yang datang dan pergi dari rumah ini, catat jam berapa mereka datang, jam berapa mereka pulang, dan apa tujuan kedatangan mereka. Jangan biarkan siapa pun masuk ke ruang kerja, ruang arsip, atau gudang belakang tanpa ada yang menemani, tidak peduli seberapa lama mereka sudah bekerja di sini.”
Bu Sumi mengangguk mantap, wajahnya serius.
“Baik, Mas Raga. Aku akan menjaga gerbang dan setiap sudut rumah ini dengan ketat. Tidak ada satu orang pun yang akan lolos dari pengawasanku.”
Raga lalu memalingkan wajahnya ke arah Lira, tatapannya melembut namun masih penuh perhatian.
“Dan kamu, Lira. Mulai sekarang, jangan pernah pergi ke mana pun sendirian. Jika kamu harus keluar rumah untuk urusan apa pun, pastikan ada aku, Bu Sumi, atau setidaknya ada dua orang pekerja yang bisa dipercaya menemanimu. Jangan pernah bicara hal penting, hal yang berhubungan dengan dokumen, harta keluarga, atau rahasia kita di tempat terbuka, di depan orang banyak, atau di telepon. Kita tidak tahu apakah ada alat perekam atau pengawas yang disembunyikan orang itu di sekitar kita.”
Lira menelan ludah, rasa cemas kembali menyelinap di hatinya, namun ia mengangguk setuju. Ia tahu Raga tidak berlebihan, semua peringatan itu diperlukan demi keselamatan mereka semua. Pengalaman pahit selama bertahun-tahun mengajarkan mereka bahwa kehati-hatian adalah senjata paling ampuh melawan kejahatan.
“Aku mengerti, Mas. Aku akan berhati-hati, aku tidak akan ceroboh lagi,” jawab Lira lembut.
Setelah membicarakan hal-hal yang penting, mereka pun mulai menyantap sarapan pagi dengan tenang, meskipun hati mereka masih belum benar-benar merasa aman. Saat Bu Sumi bangkit dari kursinya untuk mengambil air minum di dapur, piring makan keramik di tangannya tergelincir sedikit, mengeluarkan suara gesekan kasar yang membuat ketiganya seketika menegang kaget. Bu Sumi buru-buru memegang piring itu kembali, wajahnya sedikit memerah karena gugup.
“Maaf… aku sedikit terburu-buru,” gumam Bu Sumi pelan, lalu berjalan cepat keluar ruangan.
Pandangan Lira mengikuti punggung Bu Sumi yang menjauh. Rasa curiga yang semalam muncul kembali di hatinya, samar namun jelas terasa. Ia melihat bagaimana tangan Bu Sumi sedikit gemetar, bagaimana wajahnya sering berubah ekspresi, bagaimana ia sering berusaha menghindari tatapan mata mereka berdua. Apakah itu tanda ketakutan yang wajar, atau itu tanda rasa bersalah yang disembunyikan?
“Kamu memikirkan apa, Lira?” suara Raga terdengar pelan di samping telinganya, membuat Lira tersentak kaget. Ia menoleh dan melihat Raga menatapnya dengan pandangan tajam yang seolah bisa membaca isi hatinya.
“Aku… aku hanya memikirkan hal semalam saja, Mas. Aku merasa semua orang di sekitar kita terlihat mencurigakan sekarang,” jawab Lira dengan nada ragu, tidak berani menyebutkan secara langsung siapa yang ada di pikirannya.
Raga menghela napas pelan, lalu memegang tangan Lira di atas meja dengan lembut.
“Aku tahu apa yang ada di pikiranmu, Lira. Aku juga sempat memikirkannya, aku juga sempat merasa ragu pada semua orang, bahkan pada orang yang paling dekat sekalipun. Tapi ingat satu hal: rasa curiga tanpa bukti hanya akan menghancurkan kita sendiri, akan memecah belah kita, dan justru itu yang diinginkan oleh musuh kita. Dia ingin kita saling curiga, saling benci, saling bermusuhan satu sama lain, supaya dia lebih mudah menyerang dan menghancurkan kita satu per satu. Jadi kita harus tetap waspada, tapi kita tidak boleh menuduh sembarangan sampai kita punya bukti yang nyata dan kuat.”
Kata-kata Raga menenangkan hati Lira, namun rasa ragu itu belum sepenuhnya hilang. Ia mengangguk pelan, berusaha menepis pikiran buruk itu dari kepalanya.
Tak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar dari arah depan rumah. Bu Sumi yang baru saja kembali dari dapur segera berjalan ke depan untuk membukakan pintu. Tidak lama kemudian, ia kembali masuk ke ruang makan diikuti oleh seorang pria paruh baya bertubuh tegap, berpakaian rapi namun sederhana. Itu adalah Pak Budi, manajer perkebunan keluarga Ardiansyah yang sudah bekerja di sana selama lima belas tahun, sejak masa ayah Lira masih hidup.
Pak Budi tersenyum ramah saat melihat Lira dan Raga, lalu menunduk hormat.
“Selamat pagi, Nona Lira, Mas Raga. Maaf mengganggu waktu sarapan kalian. Saya datang membawa laporan rutin hasil panen dan urusan administrasi tanah perkebunan, sesuai permintaan yang kemarin kalian minta,” kata Pak Budi dengan suara sopan dan jelas.
Lira mengangguk, lalu memberi isyarat agar Pak Budi duduk di kursi kosong di sebelah meja.
“Selamat pagi, Pak Budi. Terima kasih sudah datang. Silakan duduk, kami siap mendengarkan laporan Bapak,” kata Lira sopan.
Pak Budi duduk, lalu mengeluarkan berkas tebal dari tas kulit yang dibawanya, lalu mulai menjelaskan rincian hasil panen, pendapatan, pengeluaran, dan masalah-masalah kecil yang ada di perkebunan dengan rinci dan jelas. Semua penjelasannya masuk akal, semua angka dan datanya cocok, tidak ada yang janggal atau salah hitung sedikit pun. Ia terlihat sangat mengerti pekerjaannya, sangat jujur, dan sangat setia pada keluarga Ardiansyah.
Namun saat Raga bertanya tentang beberapa tanah perbatasan yang dulu pernah menjadi sengketa antara keluarga Ardiansyah dan keluarga Handoko, wajah Pak Budi sedikit berubah kaku. Tangannya yang memegang berkas itu berhenti bergerak sejenak, matanya menunduk sedikit, sebelum ia kembali menjawab dengan nada yang sedikit terburu-buru.
“Tanah perbatasan itu… kondisinya baik-baik saja, Mas. Sudah diperbaiki batasnya, sudah dicatat ulang di kantor pertanahan, dan sekarang sudah aman sepenuhnya. Tidak ada masalah apa pun di sana,” jawab Pak Budi, namun ia tidak memberikan rincian yang jelas seperti pada bagian laporan lainnya.
Raga memperhatikan perubahan kecil itu dengan saksama, namun ia tidak langsung bertanya lebih lanjut atau menuduh apa pun. Ia hanya mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis.
“Baiklah, terima kasih laporannya, Pak Budi. Berkas ini akan kami pelajari dulu lebih teliti, nanti jika ada yang ingin kami tanyakan lagi, kami akan memanggil Bapak kembali,” kata Raga.
Pak Budi segera berdiri, menunduk hormat lagi, lalu berpamitan untuk pergi.
“Baik, Mas, Nona. Kalau begitu saya pamit dulu, ada urusan lain yang harus saya selesaikan di kantor perkebunan. Selamat beraktivitas,” kata Pak Budi, lalu berjalan keluar ruangan dengan langkah yang agak cepat.
Setelah sosok Pak Budi menghilang di balik pintu, Raga dan Lira saling berpandangan.
“Kamu melihatnya juga kan, Mas?” tanya Lira pelan. “Dia terlihat gugup sekali saat kita bicara soal tanah perbatasan itu. Padahal itu tanah milik kita yang sah, seharusnya tidak ada hal yang ditakutkan atau disembunyikan di sana.”
“Benar,” jawab Raga dengan nada serius. “Pak Budi memang orang yang lama bekerja di sini, orang yang dipercaya Ayahmu dulu. Tapi ingat, Pak Darto juga orang yang paling dipercaya Ayahmu, kan? Lama bekerja, setia di luar, tapi ternyata pengkhianat di dalam. Kita tidak boleh menilai orang hanya dari lamanya mereka bekerja atau wajah ramah mereka saja.”
“Kamu curiga dia orang yang dimaksud Tuan Handoko?” tanya Lira dengan suara berbisik.
“Belum tahu pasti. Dia hanya satu dari sekian banyak orang yang ada di sekitar kita. Tapi dia menjadi orang pertama yang terlihat mencurigakan hari ini. Kita akan mengawasi gerak-geriknya dengan teliti, dan kita akan memeriksa ulang semua catatan tanah perbatasan itu, siapa tahu ada hal yang dimanipulasi atau disembunyikan dari kita,” jawab Raga.
Siang harinya, Raga memutuskan untuk pergi ke kantor administrasi desa dan kantor pertanahan kota untuk memeriksa ulang semua data kepemilikan tanah dan aset keluarga mereka, untuk memastikan semuanya benar-benar sah, tidak ada yang dipalsukan, dan tidak ada yang disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Karena ingatan pesan Raga agar tidak pergi sendirian, Lira ikut bersamanya, ditemani oleh dua orang pekerja rumah yang berbadan besar dan kuat untuk menjaga keamanan mereka di jalan.
Di perjalanan menuju ke kota, suasana jalanan terlihat ramai seperti biasa, orang-orang berlalu lalang dengan urusan masing-masing, kendaraan berlalu lalang. Namun Raga yang selalu waspada menyadari satu hal aneh: sejak mereka keluar dari gerbang rumah, ada sebuah mobil truk tua berwarna abu-abu yang selalu berada di belakang mereka, kadang agak jauh, kadang agak dekat, namun tidak pernah benar-benar lewat atau berbelok ke jalan lain.
Raga mengerutkan keningnya, matanya terus mengawasi kaca spion kendaraan yang mereka tumpangi.
“Ada yang salah, Lira. Kita sedang dibuntuti,” bisik Raga pelan ke telinga Lira, agar tidak terdengar oleh pengemudi dan orang yang mengawal mereka.
Lira seketika menegang, jantungnya berdebar kencang, namun ia berusaha tetap tenang dan tidak menimbulkan kegaduhan. Ia mengintai pelan ke belakang, melihat mobil truk tua itu yang tetap mengikuti gerakan mobil mereka.
“Siapa mereka? Apakah orang suruhan Tuan Handoko yang masih bebas?” tanya Lira pelan dengan suara gemetar.
“Kemungkinan besar begitu. Mereka ingin tahu ke mana kita pergi, apa yang kita lakukan, atau mungkin mereka mencari kesempatan untuk menyerang kita saat kita berada di luar rumah,” jawab Raga tegas. “Tapi jangan takut, ada aku dan orang-orang yang menjaga kita. Kita akan menipu mereka sedikit.”
Raga lalu memberi isyarat pada pengemudi untuk mengubah rute perjalanan, berbelok ke jalan-jalan kecil yang berliku-liku, lalu tiba-tiba mempercepat laju kendaraan. Mobil truk di belakangnya kaget, sempat tertinggal agak jauh, namun segera mengejar kembali dengan cepat. Terbukti benar, mobil itu memang sengaja mengikuti mereka.
Di persimpangan jalan yang agak sepi, Raga memberi isyarat lagi, dan pengemudi tiba-tiba berbelok tajam masuk ke gang sempit yang hanya cukup untuk satu kendaraan lewat, lalu segera berhenti dan mematikan mesin. Mereka semua turun dengan cepat dan bersembunyi di balik tembok tinggi di sisi jalan, menunggu mobil truk itu lewat.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara deru mesin yang kencang, dan mobil truk tua itu melaju lewat di depan gang tanpa sempat melihat mereka yang bersembunyi di dalamnya, lalu terus melaju menjauh ke arah jalan besar.
Napas Lira keluar panjang dan lega, keringat dingin menetes di pelipisnya.
“Mereka pergi… Kita selamat dari mereka untuk sementara waktu,” kata Lira pelan.
“Mereka hanya kehilangan jejak kita sebentar saja, Lira. Mereka akan kembali mencari kita, atau mereka akan menunggu kita di jalan pulang. Kita harus cepat menyelesaikan urusan kita, dan kita harus kembali dengan rute yang berbeda dan lebih hati-hati,” kata Raga, lalu segera mengajak mereka semua melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju kantor pertanahan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sana.
Setelah selesai mengurus urusan administrasi dan mendapatkan data yang mereka butuhkan, Raga dan Lira kembali pulang dengan rute jalan yang jauh lebih jauh dan berkelok, memastikan tidak ada lagi yang mengikuti mereka. Namun saat mereka sampai kembali di halaman rumah besarnya, kejutan lain menanti mereka.
Di depan gerbang rumah, sudah berdiri beberapa orang polisi berpakaian lengkap, dan di tengah mereka ada Pak Haris yang tampak cemas dan serius. Saat melihat kedatangan mereka, Pak Haris segera berjalan cepat mendekat.
“Syukurlah kalian sudah kembali dengan selamat! Aku sudah khawatir setengah mati,” kata Pak Haris dengan napas terengah-engah.
“Ada apa, Pak Haris? Ada apa dengan kedatangan polisi ini?” tanya Raga dengan nada kaget dan waspada.
Pak Haris menatap mereka dengan pandangan berat, lalu menghela napas panjang.
“Baru saja datang kabar dari kantor penjara kota. Tadi pagi, saat petugas penjara akan melakukan pemeriksaan rutin, mereka menemukan sel penjara Tuan Handoko dalam keadaan kosong. Jendela sel yang terbuat dari besi tebal telah dipotong dengan alat khusus, dan ternyata Tuan Handoko… berhasil kabur dari penjara sejak semalam.”
Suara itu bagaikan petir menyambar di telinga Lira dan Raga. Darah mereka seketika membeku, wajah mereka pucat pasi, tubuh mereka terasa lemas dan kaget luar biasa.
“Kabur?!” seru mereka berdua hampir bersamaan dengan suara kaget. “Bagaimana mungkin dia kabur? Penjara itu tempat yang paling ketat dan aman, dikelilingi tembok tinggi dan kawat berduri, dijaga ratusan petugas polisi!”
“Kami juga sama kagetnya dengan kalian,” kata salah satu petugas polisi yang maju ke depan, wajahnya tampak malu dan serius. “Penyelidikan awal menunjukkan, ada orang di dalam penjara yang membantu dia, ada petugas yang disuap atau dipaksa bekerja sama. Dia kabur dengan bantuan orang luar yang sudah menunggu di dekat tembok penjara. Sampai sekarang, kami belum berhasil menemukan jejak ke mana dia pergi bersembunyi.”
Raga memegang bahu Lira yang hampir jatuh terduduk, hatinya berdebar kencang dan penuh rasa ngeri. Semalam mereka hanya mengira ada orang suruhan yang tersisa, ternyata orang utamanya, musuh terbesar mereka, orang yang paling jahat dan berbahaya itu, sudah bebas kembali, sudah keluar dari penjara, dan sekarang sedang bebas bergerak di luar sana, dengan rasa dendam dan rencana jahat yang belum selesai.
Artinya, bahaya itu bukan lagi hanya sekadar bayang-bayang atau ketakutan semata. Bahaya itu nyata, ada di luar sana, mungkin sedang mengawasi mereka saat ini juga, sedang menyusun rencana baru yang jauh lebih kejam dan mengerikan daripada yang pernah mereka alami sebelumnya.
Lira mengangkat wajahnya yang pucat, matanya menatap Raga dengan pandangan ketakutan yang luar biasa.
“Mas… Dia bebas… Dia kembali lagi… Apa yang akan dia lakukan pada kita sekarang?” bisik Lira dengan suara gemetar, hampir tidak terdengar.
Raga memeluk tubuh Lira erat-erat, menatap semua orang yang ada di sana dengan pandangan tajam, penuh tekad dan kesiapan menghadapi bahaya terbesar. Meski hatinya juga penuh rasa takut dan cemas, ia tidak boleh terlihat lemah, ia harus tetap menjadi pelindung bagi orang yang dicintainya.
“Dia bebas, itu benar. Tapi kita tidak akan menyerah, kita tidak akan takut padanya,” kata Raga dengan suara keras dan tegas, terdengar oleh semua orang yang ada di sana. “Dia mungkin kabur dari penjara, tapi dia tidak akan pernah bisa kabur dari keadilan. Dan selama aku masih berdiri di sini, selama kita masih bersatu, dia tidak akan pernah bisa menyakiti kita, tidak akan pernah bisa mencapai tujuan jahatnya. Kita akan bertindak lebih cepat, lebih cerdas, dan lebih kuat darinya kali ini. Kita akan menangkapnya kembali, dan kali ini dia tidak akan pernah punya kesempatan untuk kabur lagi selamanya.”
Namun di sudut halaman rumah, di balik jendela dapur yang tertutup sedikit, terlihat sosok Bu Sumi yang berdiri diam menonton semua kejadian itu. Di wajahnya tidak ada rasa kaget atau rasa takut seperti orang lain, malah ada senyum tipis yang samar terukir di bibirnya, senyum yang dingin dan penuh misteri, sebelum ia perlahan menutup kembali jendela itu dan menghilang ke dalam kegelapan ruangan.
Rahasia demi rahasia terus terbongkar, bahaya demi bahaya terus datang silih berganti, dan orang-orang yang mereka percayai perlahan mulai menunjukkan wajah aslinya. Pertarungan yang sesungguhnya baru saja mencapai puncaknya, dan perjalanan panjang mereka menuju kedamaian sejati masih sangat jauh dan penuh duri di depan mata.
(Bersambung ke Episode 13)