Follow Ig : @panda.sweety10
Kanaya mengetahui dirinya hamil seminggu sebelum acara pernikahannya, dan ayah dari calon anaknya dia pun tidak tau hingga pernikahan dengan kekasihnya harus batal karena kehamilannya.
Apakah Kanaya akan bersama dengan ayah dari anak? Dan siapa pri itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Panda Sweety, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Tidak lama Jenni dan Gio sudah tiba di rumah sakit, Jenni menghampiri Kanaya yang menangis di kursi depan UGD.
"Kanaya." Panggil Jenni.
Kanaya menoleh ke arah Jenni, mereka berpelukan "Kanaya tenang, Adara akan baik-baik saja." Jenni menenangkan sahabatnya yang sudah menangis.
Pintu kamar terbuka, dokter dan perawat keluar dan mengatakan kalau keadaan Adara baik hanya demam karena rasa rindu. "Saya harap bapak dan ibu membawa kakak pasien atau menelponnya." Setelah menjelaskan dokter dan perawat meninggalkan mereka berempat.
Kanaya dan Jenni masuk ke kamar dan melihat Adara masih memanggil Kavin walaupun dengan suara kecil tapi masih bisa Kanaya dan Jenni dengar.
"Kanaya coba hubungi Kavin." Ucap Jenni.
"Kavin tinggal di asrama sekolah, oma dan opanya sudah melarangnya tapi dia tetap memilih tinggal di asrama." Kanaya membelai rambut putrinya.
Di luar ruangan Alex kembali menghubungi Andra untuk menjemput Kavin pulang dia tidak ingin putranya terlepas dari penjagaan keluarganya, Alex tau begitu banyak musuh mengincar keluarganya termasuk anak dan istrinya.
Andra mengangkat pangilan Video Alex "Besok jemput Kavin dari asrama sekolahnya."
"Baik kak, kakak sekarang di rumah sakit? Siapa yang sakit?" Tanya Andra.
"Adara, dia demam tinggi karena rindu dengan kakaknya." Jawab Alex.
"Baiklah besok aku akan memberi tahu keponakanku kalau adiknya ingin sekali berbicara dengannya, padahal baru juga dua hari berpisah."
"Aku tutup dulu teleponnya." Alex mengakhiri panggilannya dan kembali memasukkan benda persegi itu di saku celananya.
****
Pagi ini Alex pergi kekantor untuk menyelesaikan masalah cabang perusahaannya, saat dia sedang rapat ponsel Alex bergetar terus menerus membuatnya sedikit emosi.
"Rapat kita tunda 1 jam ke depan." Alex langsung keluar dan mengangkat telepon dari adiknya.
"Aku sedang mengadakan rapat penting dan kau mengganguku terus, apa yang sangat penting yang ingin kau laporkan?" Ucap Alex dengan suara tegas.
"......."
"Apa? Kenapa bisa terjadi, kemana semua pengamanan yang aku tugaskan untuk menjaga putraku."
"........"
"Ternyata keluarga Sanjaya. Aku akan kembali ingat cari dimana mereka menyembunyikan putraku hubungi Romi untuk mengerahkan semua anak buahnya."
Alex mengusap wajahnya dengan kasar, dia bingung apa yang akan dia bilang kepada Kanaya dan Adara. Gio langsung memesan tiket penerbangan tercepat hari ini, "Dia bergerak saat pengamanan kita lengah." Alex mengepalkan kedua telapak tangannya mencoba untuk menahan amarahnya.
Di rumah sakit Adara merengek untuk pulang, dokter sudah memintanya untuk menginap satu malam lagi untuk memastikan kondisinya tapi Adara tidak mau, dia ingin cepat pulang dan menelpon kakaknya.
Sebuah pesan masuk di ponsel Kanaya "Aku akan menjemputmu dan Adara, hari ini kita kembali ke Indonesia." Kanaya bingun kenapa Alex ingin mereka pulang secara mendadak.
Alex dan Gio kembali ke apartemen mereka untuk mengemasi semua pakaian dan menjemput Kanaya dan Adara di rumah sakit.
"Tuan muda penerbangan 2 jam lagi." Ucap Gio saat mereka berdua sudah tiba di rumah sakit, Alex hanya mengangguk mendengarkan ucapan sekretaris pribadinya.
Alex masuk Kedalam kamar VVIP yang di tempati putrinya, Adara menoleh ke arah pintu yang sudah terbuka. "Ayah." Panggil Adara.
Alex memeluk putrinya, Kanaya menatap wajah Alex yang sedang menahan armarah terlihat jelas di mata Kanaya. Walaupun mereka baru menikah tapi dia saat ini suaminya sedang menyembunyikan sesuatu kepadanya.
"Gio sudah mengurus administrasi, kita harus segera sampai di bandara."
"Mas ada apa?" Kanaya menggenggam jemari suaminya.
"Perusahaan yang di Indonesia sedang bermasalah, Andra tidak bisa menanganinya jadi kita harus cepat kembali." Alex mencoba setenang mungkin, dia tau kalau Kanaya sudah mulai curiga dengannya.
Adara yang mendengar akan kembali ke Indonesia sangat senang karena dia akan bertemu dengan kakaknya "Asyik aku akan ketemu sama kak Kavin."
Melihat putrinya sangat senang dengan kepulangan mereka Alex berjalan keluar kamar, mata Alex memerah menahan air matanya yang sudah akan jatuh, dia tidak ingin istri dan anaknya ikut panik mendengar kehilangan Kavin.
*****
Mereka sampai di Indoesia pada malam hari, Alex membawa Kanaya dan Adara kerumah utama dia tidak ingin membahayakan istri dan putrinya selagi dia dan yang lainnya sedang mencari keberadaan Keluarga Sanjaya dan Kavin.
"Mas, kenapa kita nginap di rumah utama?"
Alex melihat ke tempat tidur memastikan putrinya sudah tertidur. "Kavin diculik."
Mendengar putranya diculik badan Kanaya langsung lemas tak bertenaga, Alex menangkap tubuh Kanaya dan membawanya ketempat tidur "I-ini ti-tidak benar kan mas?" Air mata Kanaya menetes melihat gelengan kepala Alex.
"Siapa yang telah menculik putraku, aku tidak pernah jahat pada orang lain kenapa harus menculil putraku." Kanaya menangis dalam pelukan Alex.
"Kanaya tenang, aku akan usahakan mencari dimana putra kita. Untuk saat ini jangan biarkan Adara mengetahuinya." Alex mencium pucuk kepala Kanaya.
"Kembalikan putraku, mas bawa kembali putraku, hiks...hiks."
"Jangan menangis." Alex mencoba menenangkan Kanaya.
Di sebuah vila Kavin sedang di kurung di kamar, Evelyn dan ayahnya membuat rencana "papa apa yang harus kita lakukan kedepannya, aku tau sekarang keluarga Handoko pasti sedang mencari keberadaan kita di seluruh kota." Ucap Evelyn.
"Papa sudah memikirkannya, kita hanya perlu membuat pewaris Keluarga Handoko melupakan keluarganya." Senyum jahat terlukis di wajah mereka berdua.
Kavin menangis dia sudah berusaha untuk kabur tapi tak ada jalan, "Bunda, Kavin ingin pulang."
Alex sudah mencari dimana pun tapi tidak belum ada petunjuk dimana putranya kini berada. "Sial. Dimana mereka menyembunyikan putraku." Mata Alex menyalak penuh amarah.
Berminggu-minggu pencarian Kavin tapi tidak ada hasil yang di dapat para anak buah Romi, membuat Kanaya gelisah setiap saat, wajahnya yang kini semakin pucat membuat Alex dan yang lainnya khawatir dengan kondisi Kanaya saat ini.
"Ayah kenapa kakak tidak pulang, apa dia tidak ingin bertemu dengan Adara?" Alex memeluk putrinya yang kini sedang bersedih karena kakaknya bel kembali.
****
Sudah sebulan berlalu tapi Kavin belum juga di temukan, pagi ini Kanaya muntah-muntah. Alex yang mendengar istrinya muntah di kamar mandi langsung menghampirinya dan membantunya.
"Sebaiknya periksa ke rumah sakit, akhir-akhir ini kamu tidak makan dengan teratur." Ucap Alex tapi tak ada tanggapan dari Kanaya.
Setelah selesai mengeluarkan isi di dalam perutnya Alex membantu Kanaya kembali ketempat tidur, mata Kanaya di penuhi cairan bening.
"Aku tidak menyangka putraku akan pergi meninggalkanku, saat usianya empat tahun dia menjadi anak yang lebih dewasa dan melindungiku dan Adara. Dia tidak pernah mengeluh atau meminta apapun padaku." Kanaya kembali menangis saat mengingat putranya saat masih bersamanya.
"Saat Adara menanyakan keberadaan ayah mereka, Kavin selalu membuat adiknya tidak menanyakan apapun kepadaku termasuk mengungkit siapa ayahnya yang sama sekali aku tidak tahu." Alex memeluk Kanaya yang sudah terisak-isak.
Di perusahaan Alex tampak frustasi karena putranya belum juga di temukan, segala cara sudah dia lakukan tapi tetap saja tidak ada hasil. Alex menatap foto kedua anaknya yang ada dimeja kerjanya "Kamu dimana sekarang nak." Tanpa terasa air mata Alex pun jatuh, ini pertama kalinya Alex menangis.
**Bersambung....
Jangan lupa like dan votenya**.
dah bertahun2 ....
dad Al..kenapa lom ktmu jg..