Aku benci sekali padanya! Dia lelaki paling menyebalkan yang pernah aku temui. Ucapannya selalu menyakiti hati, tingkahnya kasar dan juga egois! Paket komplit sebagai pria pemenang nominasi paling di benci sejagat.
Tapi kenapa semuanya kini berubah?
Mungkinkah aku jatuh cinta pada lelaki ini? Pangeran berhati dingin bernama Melviano Mahaprana Gunardi?
Tak mungkin!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Acuh.
Aku membatu.
Tiga lelaki bertubuh kekar itu mendekat.
"Kamu gila ya Mel?!" Bentakku.
Melsa tertawa, "Aku nggak akan diam saja! karena kamu sudah merebut Adnan dan membuat aku di depak dari Mall ini! Kamu nggak tahu kan, apa yang sudah aku lakukan demi bisa bertahan dan tidak di pecat dari perusahaanku!" Melsa berteriak, dia terlihat sangat emosi.
"Gara-gara kamu, hidupku jadi berantakan! Semuanya kacau!!!"
"Bukan gara-gara aku Mel, semua karena ulahmu sendiri."
"Diam!!!" Melsa berteriak.
"Dari dulu aku selalu kesal melihatmu, cewek yang sok polos! sok suci! dasar orang desa, kampungan!! tempatmu bukan di sini tau! pulang sana ke desa mu!!!"
"Adnan sudah jadi milikku pun kau berani mendekatinya! dasar cewek murahan!" Melsa berteriak makin histeris.
"Aku nggak mendekati Adnan!"
Plak!!! Melsa menampar pipiku dengan keras, rasanya sakit sekali.
Aku merintih menahan sakit.
Tiba-tiba dua orang lelaki suruhan Melsa, mendekat dan mencengkram tanganku. Mereka berdua mengunciku sehingga aku tak bisa bergerak.
"Mel! jangan melewati batas! kamu bisa berurusan dengan polisi!!!" Bentakku.
Melsa menyeringai. "Lakukan apapun yang kalian mau sama cewek ini." Perintah Melsa pada tiga lelaki suruhannya.
"Melsa!!!" Tiba-tiba Adnan datang, dia berlari mendekat.
"Kamu gila ya! apa yang kamu lakukan!"
"Adnan... Aku cuma mau..."
"Lepaskan dia!" Adnan menarik salah satu lelaki bertubuh kekar yang sedang memegangi ku.
"Adnan! nggak usah urusin Fafa. Sudahlah kita pulang saja." Melsa menarik tangan Adnan.
"Kamu sinting!" Adnan berseru sambil mendorong Melsa.
Melsa terlihat semakin marah, "kamu yang minta ya Nan, aku nggak akan peduli lagi."
Melsa menatap anak buahnya, "hajar saja lelaki ini, semuanya termasuk cewek itu, hajar saja!"
Seorang lelaki bertubuh kekar, mendekati Adnan dan mengangkat tangannya, Adnan menghindar dan berhasil mendaratkan bogem mentah di pipi si lelaki bertubuh kekar. Tapi tiba-tiba seorang lainnya mendekat dan memukul kepala Adnan.
Adnan melawan dua lelaki yang bertubuh kekar sendirian, dia di keroyok.
"Adnan!!!" Pekikku saat melihat Adnan jatuh tersungkur.
"Tolong! Tolooong!!!" Aku langsung berteriak dengan keras berharap ada orang yang mendengar.
"Ada apa ini!" Tiba-tiba seorang lelaki berbadan kekar dengan kumis melintang muncul.
"Pak Slamet!" Ucapku lega.
"Mbak Fafa!" Pak Slamet langsung mendekati ku, dia memukul lelaki yang dari tadi mencengkram tanganku. Si lelaki bertubuh kekar itu langsung roboh. Pukulan Pak Slamet ternyata sangat dahsyat.
"Pak, tolongin teman saya.." Pintaku kalut.
Pak Slamet langsung bangun dan mendekati Adnan yang tersungkur di lantai semen.
"Kalian sudah bosan hidup ya?! pengen masuk penjara huh!" Bentak Pak Slamet sambil lalu memukul salah satu lelaki yang mengeroyok Adnan.
Perkelahian pun terjadi, Pak Slamet sangat gesit padahal dia sudah cukup tua. Aku sangat takjub melihat cara Pak Slamet melawan dua lelaki bertubuh kekar itu.
Tak lama kemudian, ada dua orang berseragam polisi mendekat. Mereka langsung membantu Pak Slamet dan menangkap tiga orang lelaki yang tadi menyerang aku dan Adnan, lalu tak lupa menggiring Melsa dan membawa mereka semua masuk ke dalam mobil patroli.
"Selamat malam Pak." Si Polisi mengangkat tangannya, memberi hormat pada Pak Slamet.
"Tolong ikut kami ke kantor sebagai saksi."
"Baik Pak, saya akan menyusul setelah membawa dia ke rumah sakit." Ucap Pak Slamet sambil menunjuk Adnan yang masih tergeletak tak sadarkan diri.
Aku berlari mendekati Adnan, tak kuasa lagi menahan air mata. Perasaan takut dan lega bercampur aduk menjadi satu.
"Adnan... bangun.." Rintih ku.
Semoga dia baik-baik saja.
"Fafa!"
Aku menoleh dan melihat Vian yang masih duduk di dalam mobil. Dia menatapku dengan khawatir.
"Cepat kemari..." ucapnya.
Aku tak bergeming, aku masih terpaku di dekat Adnan.
"Fa!"
Brugh! Vian terjatuh. Dia berusaha keluar dr mobil, dan terjatuh.
"Mas!" Aku langsung bangun dan berlari mendekati Vian. "Kamu nggak apa-apa?" Tanyaku khawatir.
Aku membantunya untuk bangun dan duduk di didalam mobil.
"Kalau ku panggil, kau harus langsung datang!" Geram Vian.
"Maaf.. aku sedang.. aku.." Napasku masih tersengal-sengal. Perasaanku kalang kabut karena khawatir pada Vian dan Adnan.
"Tunggu ya, aku mau bantu Adnan dulu."
Vian langsung meraih tanganku, dia menahan ku agar tidak berjalan menjauh darinya.
"Kamu di sini saja! jangan ke sana!"
"Tapi.. tapi Adnan harus di tolong..."
"Biarkan dia!" Vian membentak.
"Biar Pak Slamet yang membantunya! Aku sudah menelepon ambulance! sebentar lagi juga ada yang datang."
Aku mendengus kesal pada tingkah Vian yang egois.
"Dia.. dia sudah menolongku... masa aku biarkan dia terkapar begitu saja.. kumohon Mas.. aku mau membantunya..." pintaku.
Vian terdiam sambil terus menatapku. Tatapan matanya sangat tajam. Dadanya naik turun, sepertinya dia sedang menahan marah.
"Terserah..." Ucapnya lirih, lalu dia melepaskan pegangan tanganku.
Aku pun berlari mendekati Adnan.
Tangan Adnan bergerak-gerak, sepertinya dia mulai sadar.
Tak lama kemudian, Ambulance datang dan beberapa perawat turun untuk menolong Adnan. Mereka mengangkat Adnan dan membawa nya masuk ke dalam mobil.
Aku menoleh ke arah mobil Vian, tapi dia sudah tidak ada di sana. Mobilnya sudah pergi. Pak Slamet juga tidak ada.
Akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke dalam ambulance, mendampingi Adnan sampai Rumah Sakit.
...*...
"Fa..."
Aku beranjak dari dudukku saat Adnan memanggil namaku.
"Ada apa? aku di sini." Aku berdiri di samping Adnan yang masih berbaring lemah di ranjang Rumah Sakit.
"Kamu nggak apa-apa kan? maafkan aku ya.. semua ini gara-gara aku, Melsa jadi nekat..."
"Stt.. sudahlah.. jangan pikirkan itu, sekarang kamu harus istirahat ya. Sudah malam, aku pulang dulu. Besok aku ke sini lagi." Ucapku.
Adnan hanya mengangguk. Kemudian dia kembali tertidur.
Aku keluar dari ruangan tempat Adnan di rawat dan merasa kecewa karena Vian tidak menyusul ku ke sini. Bahkan Pak Slamet pun tak ada.
"Mungkin Pak Slamet sedang di kantor Polisi." Gumamku bermonolog.
Aku memandang jam tanganku dan mendesah, "sudah hampir jam 12 malam, bagaimana caraku pulang?"
"Mbak Fafa!"
Aku menoleh ke asal suara yang memanggilku, dan melihat Satpam Rumah Vian berlari mendekat.
"Untung saya bisa ketemu sama Mbak Fafa." Ucapnya sambil tersengal-sengal.
"Ada apa Pak?"
"Saya di suruh Mbok Yem sama Pak Slamet untuk menjemput Mbak Fafa."
"Vian.. eh, Mas Vian di rumah kan?"
"Iya Mbak, ayo buruan pulang. Sudah malam."
"Iya Pak, ayo..."
Aku berjalan mengikuti Pak Satpam sampai ke parkiran motor, lalu kami berboncengan menuju rumah megah Vian.
Ada apa dengan Vian? kenapa dia acuh sekali setelah kejadian tadi? apa tak ada sedikitpun rasa khawatir padaku? Aku kan baru saja mengalami kejadian mengerikan!!
Dasar pangeran kejam.
Dalam perjalanan aku terus terdiam. Tapi hatiku terasa sakit. Aku pikir Vian sedikit peduli padaku, tapi semua ternyata hanya khayalanku sendiri. Vian tidak merasa khawatir sedikit pun padaku. Dia bahkan tidak menyuruh Pak Slamet untuk menjemput ku.
Jahat sekali kamu, Vian.
Aku menepuk dadaku berulang kali, air mata bahkan sudah tidak bisa ku bendung lagi.
Aku kecewa pada Vian.
Sepanjang perjalanan pulang aku hanya terdiam, mencoba menahan isak tangis kekecewaan.