Tak pernah terbayangkan olehku usaha bapakku bangkrut,sehingga semua yang kami miliki habis dalam sekejap. Bapak terpukul membuat beliau terpuruk dalam keputusasaan,sementara ibu sibuk mengejar ambisinya untuk bisa menjadi seperti dulu lagi.
Aku Raya Anggraini...sebagai anak paling besar,mau tidak mau aku harus mengambil alih tanggungjawab bapak untuk mencari nafkah demi masa depan adik-adikku.
Sementara tunanganku yang kujadikan tempat bersandar justru mengkhianatiku.
Sedangkan ibuku selalu saja menyalahkanku atas putusnya pertunanganku itu,lalu mencoba mencarikan jodoh dari kalangan orang-orang kaya demi melancarkan ambisinya.
Aku merasa dijual oleh ibuku,aku merasa seperti barang dagangan yang ditawarkan kepada pria-pria yang memang sudah mapan secara finansial.
Sanggupkah aku menjalani semua ini?
Kuatkah aku menghadapi tekanan-tekanan dari ibuku?
Dan siapakah akhirnya yang akan menjadi jodohku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon In Gusman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Di Pagi Hari
Hari ini aku masuk siang,jadi selesai mandi dan sholat subuh,aku masih bermalas-malasan dikamarku. Apalagi udara pagi ini terasa agak sedikit dingin,karna hujan semalaman. Mbak Kris sudah pergi dengan Mas Robert dari tadi pagi-pagi sekali,sementara temanku yang lain pun sudah berangkat kerja. Sendiri di kamar kos rasanya nikmat bagiku...nggak ada yang mengusik kesendirianku.
Sejam berlalu...terdengar suara bel rumah berbunyi. Akh,padahal aku masih ingin di sini...di balik selimut tipisku. Dengan terpaksa aku beranjak bangun dan melangkah malas ke pintu depan.
'Ting tong...Ting tong...Ting tong..."
"Yaaaa tunggu..."
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam...eh...ayo masuk..."
Aku sedikit canggung mempersilahkan Raka masuk. Nggak nyangka dia benar-benar datang ke kos-kosanku.
"Lagi ngapain?"
"Nggak ngapa-ngapain..."
"Kok sepi..."
"Ada yang kerja ada yang lagi keluar..."
"Kalo gitu kita juga keluar aja yuk...nggak enak hanya berdua di dalam rumah"
"Mau kemana?"
"Ya jalan-jalan aja sekalian cari makan...kamu juga belum makan kan?"
"Eemm...belum sih...tapi...jangan lama-lama ya...Aku soalnya masuk siang nih..."
"Iya..."
"Oke deh...aku ganti baju dulu..."
Entah ada apa dengan hatiku,dengan beberapa laki-laki yang mendekatiku,aku selalu bilang tidak jika diajak keluar makan,nonton atau sekedar jalan-jalan. Tapi dengan Raka...walau awalnya aku ragu tapi ujung-ujungnya aku mengiyakan juga.
Setelah memarkirkan motor sportnya,kami pun melangkah menuju sebuah rumah makan.
"Nggak salah kita makan di sini?"
"Kenapa? Kamu nggak suka? Kita bisa cari tempat lain"
"Bukan tidak suka,tapi tempat ini terlalu bagus...harga makanannya pun mahal,kita cari tempat lain yang biasa saja..."
"Bukannya kamu dan keluargamu dulu sering kesini..."
"Itu dulu...lain dengan sekarang...kita cari tempat lain aja."
"Oke...kamu mau kemana"
Aku memperhatikan suasana sekelilingku lalu mataku tertuju pada sebuah warung...'Warung Pojok'. Warung kecil,sederhana tapi cukup bersih...
"Kita makan disana aja..." tunjuk tanganku.
"Kamu yakin?" aku mengangguk cepat.
"Oke kita kesana..."
Karna warung itu berada di sisi lain dari tempat kami berdiri dan hari itu jalanan terlihat ramai,tanpa sadar Raka memegang tanganku saat menyebrang jalan untuk sampai ke warung itu.
Aku termasuk wanita yang risih bersentuhan dengan lawan jenis,dengan Mas Bahar yang dulu jelas-jelas ada ikatan pun,kami jarang berpegangan tangan. Tapi entah kenapa ketika di gandeng Raka,aku hanya diam saja. Jantungku tiba-tiba berdebar-debar,sementara tangan Raka yang semula terasa dingin menjadi terasa hangat. Sampai didepan warung,aku pun segera melepaskan tanganku dari genggamannya.
"Eh maaf...tadi aku spontan gandeng kamu..." Raka terlihat gugup ketika aku sedikit menghentakkan tanganku saat melepas genggamannya.
"Dah biasa gandeng cewek ya..." kataku datar
"Akh siapa bilang...justru baru kali ini..." jawabnya sedikit malu.
"Tadi awalnya aku ragu-ragu tapi ketika melihat jalanan ramai,tanpa sadar aku menggandeng tanganmu...Eh,ayo masuk " lanjutnya.
Dia mempersilahkan aku masuk duluan,setelah aku duduk dia pun mulai bertanya...aku ingin makan apa dan pesan minum apa. Setelah memesan pada penjualnya,dia pun kembali menghampiri aku dan duduk disampingku.
"Maaf Ray,aku dari kemarin mau tanya sesuatu...tapi pertemuan kita kemarin terlalu singkat."
"Tanya apa?"
"Kenapa kamu harus kos,bukankah rumahmu tidak jauh dari tempat kerjamu...?"
"Rumahku sudah pindah"
"Dimana?"
"Di pinggir kota dan kemungkinan kami akan pindah rumah lagi,ke tempat yang lebih jauh"
"Kenapa?"
"Karna rumahku yang lama sudah dijual...
Dengar Raka,hidupku saat ini jauh berbeda dari hidupku di jaman sekolah dulu. Kau hanya akan mendapat malu jika berdekatan denganku."
"Kenapa harus malu?"
"Sudahlah...aku harap kita jalan hari ini,untuk yang pertama dan yang terakhir."
"Kenapa?"
"Karna aku tak mau lagi..." jawabku sekenanya.
"Itu bukan jawaban Raya..."
"Raka please...nggak ada untungnya kamu mendekati aku. Aku bukan Raya Anggraini teman SMA mu dulu. Aku hanya seorang pramuniaga di sebuah mall,yang harus bertanggungjawab membiayai keluarga dan membiayai sekolah adik-adikku. Orangtuaku sekarang sudah miskin Ka...sudah tidak punya apa-apa lagi. Satu-satunya rumah yang masih kami miliki sekarang ini pun akan segera dijual. Makanya jangan buang-buang waktumu percuma hanya untuk mendekatiku."
Aku berdiri karna sudah merasa tak nyaman dengan situasi diantara kami pagi ini.
"Raka,bisa antar aku pulang sekarang?"
"Tapi kenapa Raya...kita bahkan belum sempat makan..." Raka terlihat gugup dan salah tingkah.
"Maaf Raka...aku sudah tidak ingin makan lagi..."
Raka tidak punya pilihan lagi selain menuruti ucapanku karna aku sudah merasa tak nyaman. Setelah membatalkan pesanan kami yang belum sempat disiapkan,kami pun segera pulang ke tempat kos ku.
"Maaf Raka...aku mengacaukan semuanya,maaf juga aku tak menawarimu mampir,aku mau istirahat..." ucapku dengan pikiran yang sangat kacau...
"Aku mengerti...maaf atas ketidaknyamanan ini dan maaf juga jika ada kata-kataku yang tanpa sengaja sudah menyakitimu..."
Aku mengangguk...tapi ketika aku hendak menutup pintu,Raka menahan dengan tangannya.
"Raya..."
"Apalagi...?"
"Apa aku masih boleh main kemari dan bertemu denganmu?"
"Kita lihat saja nanti...saat ini aku lagi pingin sendiri."
"Oke...aku akan hubungi kamu nanti jika hatimu sudah sedikit tenang...Aku pulang dulu ya...Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
Setelah Raka pergi,aku segera masuk ke kamarku dan merebahkan tubuhku diatas tempat tidurku yang hanya beralas tikar tak seperti tempat tidur teman-temanku yang lain yang beralas kasur empuk. Keadaanku sekarang memang sangat memprihatinkan,duniaku memang seolah telah dibalikkan 180°. Sekedar membeli kasur lipat yang tipis dan lemari plastik tempat menyimpan baju-bajuku pun aku tak sanggup.
Tak lama berbaring,aku pun bangun dan segera berganti pakaian untuk pergi. Hari ini anak-anak di perguruan silat Mas Anto ada latihan,aku pingin pergi kesana. Ku masukkan seragam latihanku dan aku pun segera ke tempat kerjaku dulu untuk ijin tidak masuk lalu bergegas menuju ke tempat Mas Anto dengan mengendarai motor temanku.
Sampai di rumah Mas Anto pukul 2 siang,tempat latihan masih terlihat sepi.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam...eh Ray...ada apa? Tumben..," ucap Mas Anto sedikit terkejut.
"Kok sepi mas...anak-anak libur ya..." kataku balik bertanya tanpa menghiraukan pertanyaan Mas Anto.
"Enggalah...tapi biasanya mereka datang sehabis ashar. Kamu kenapa Ray...kok kelihatan kusut? Tunggu...bukannya libur kerjamu kemarin ya,kok sekarang bisa muncul disini..."
"Aku bolos...lagi suntuk...aku pingin latihan hari ini" jawabku sambil mengeluarkan seragam latihanku untuk segera berganti baju.
"Jangan latihan dulu...sepertinya ada yang harus kamu ceritakan dulu padaku..."
Mas Anto mencegahku ketika aku mulai beranjak dari dudukku dan ultimatumnya itu memaksaku untuk kembali duduk di kursi.
.
.
.
.
.
.
.
Lanjut...
g lebay...sesuai realita di masyarakat
buat lanjutannya ya Kaka
kita tunggu lho..
semangat terus thor trus berkarya ya ❤❤❤
aku suka critanya😊
lanjut dong thor😢😢
mampir juga yuk di Mr. mafia or Mr. Psychopath?
Salam semangat
saya nyimak terus