Timin dan Satina berhasil menemukan alat berupa gerbang masuk ke dimensi ruang dan waktu yang berbeda. Menjelajah ke tempat yang belum mereka temui sebelumnya.
Pertemuan Satina dan Marion membuat mereka saling jatuh cinta. Hati Satina menjadi terbagi dua ketika Timin mengungkapkan isi hati yang sesungguhnya pada Satina.
Pertarungan seru, cinta dan pengorbanan akan menjadi satu dalam kisah ini.
selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary dice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24. Perjodohan
Waktu begitu cepat berlalu. Setelah menjelajahi hutan pedalaman disertai badai, untuk satu tujuan yaitu mendapatkan harta karun.
Akila berhasil sampai ke tempat asalnya dengan usaha yang tak mudah. Ia memutuskan untuk kembali bukan tanpa alasan. Sejak Ia kehilangan jejak Marion, Akila putus asa melanjutkan pencarian. Dengan sejuta rasa kecewa, Akila pulang tanpa membawa harta karun dan sekaligus kehilangan Marion.
Setiap hari Ia melihat ke ujung jalan, berharap Marion pulang. Hingga pada suatu pagi yang mendung, Akila melihat satu kawanan gajah memasuki perkampungannya. Akila berlari ke arah kawanan tersebut. Salah satu gajah
berdiri paling depan. Dia pasti pimpinannya. Seseorang sedang menunggangi gajah tersebut.Dan Alika tahu persis siapa orang itu.
"Marion!!" Alika berlaki walau tanpa alas kaki.
"Alika!!" Jawab Marion saat mendengar siapa yang memanggil namanya.Marion lekas turun dari punggung gajah.Kemudian berlari menemui Akila.Mereka berpelukan sangat erat. Melepaskan perasaan lega di hati setelah selamat dari badai yang memisahkan mereka.
"Aku bahagia kamu selamat"
"Aku juga demikian. Aku senang kamu kembali dengan tubuh sehat tanpa kekurangan."Akila menatap Marion dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.
"Ya. Aku juga berhasil sampai tujuan. Apa yang pernah kita cita-citakan telah tercapai. Aku membawa harta karun yang telah kita cari selama ini,"ucap Marion sambil menunjuk peti-peti di atas punggung kawanan gajah.
"Kamu sungguh beruntung ,Marion. Kamu juga hebat. Luar biasa,"decak Akila sambil melihat emas tumpah ruah.
"Aku ingin mendengar penuturanmu hingga mendapatkan emas-emas itu. Sungguh aku tak sabar,Marion"
"Aku akan ceritakan semuanya saat kita sampai ke istanaku"
Lalu Marion memimpin pasukannya menuju istana. Semua orang datang menyambut kedatangan pangeran mereka yang telah lama menghilang.
Marion memulai kerajaannya dari awal. Membangun istana yang hampir roboh. Menata struktur kerajaan bersama para penasehat lama yang masih hidup.
Tak tertinggal memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Sebab ketika kerajaan runtuh maka rakyat ikut menderita. Musibah kelaparan terjadi di mana-mana. Belum lagi wabah penyakit merenggut nyawa anak-anak. Penyakit demam berdarah telah menjangkit penduduk di sekitar istana terutama dikalangan anak-anak sampai remaja. Faktor gizi buruk memperparah kondisi kesehatan rakyat secara umum. Marion serta para penasehat istana memutuskan untuk memberikan bantuan makanan serta bibit tanaman gratis.
"Selain makanan sehat, Aku juga ingin memberikan dua ekor kambing, jantan dan betina untuk berkembang biak. Maka rakyat bisa makan daging dari hasil ternak mereka," ucap Marion pada sebuah pertemuan. Semua penasehat menganggukkan kepala.
"Siapa saja yang berhak mendapatkannya,Pangeran?" Tanya salah seorang penasehat.
"Sebaiknya rata di seluruh penjuru negeri," usul penasehat yang lain.
Maka rencana mulai di laksanakan dalam waktu singkat.Para penduduk mendapat bantuan tanpa pandang bulu. Mereka menerimanya dengan suka cita. Semangat menggebu untuk merubah kehidupan yang sempat tanpa arah.
Tak cukup lama kerajaan kembali pulih. Rakyatnya aman dan sejahtera.
Marion tidak hanya membenahi dalam segi pangan namun juga setiap sisi kehidupan rakyatnya. Mulai dari pendidikan sampai sosial.
"Sudah saatnya kita memiliki seorang raja. Tidak hanya menjadi seorang pangeran. Kita butuh seorang raja yang akan berkuasa menjaga dan melindungi wilayah tempat kita hidup dan dilahirkan,"ucap seorang penasehat pada sebuah pertemuan dimeja perundingan.
Semua orang di sana setuju untuk melantik Marion menjadi seorang raja.
Berita naik tahta Marion terdengar sampai ke negeri tetangga. Beberapa utusan datang mengajukan penawaran menggabungkan dua negara sebagai tanda perdamaian.
"Izinkan saya membaca pesan dari baginda Raja Aruanmerta"
"Ya silahkan"
"Saya atas nama Aruanmerta dari kerajaan Singamandasari mengajukan perjodohan antara putri dari Permasuri Sarikiana bernama Tuan Putri Sarikencana dengan calon raja yakni Marion"
"Sebagai bentuk dua kerajaan bersatu dan berdaulat"
"Tertanda Raja Aruanmerta"
"Kembalilah ke tempat dudukmu. Permintaan ini tidak mungkin bisa langsung diputuskan. Beri kami waktu tiga bulan sebelum penobatan"
Utusan tersebut mengangguk dan menuruti perintah si penasehat kerajaan. Ia berjanji akan kembali untuk mendengar jawaban dari Raja Marion.
Sementara Marion tak sanggup berkata-kata. Diam seribu bahasa. Tak menyangka akan ada lamaran seperti itu ditujukan untuknya.Marion hanya tertunduk. Menyembunyikan rasa gelisah dihati. Bayangan wajah Akila tiba- tiba terlintas dipelupuk mata.
" Tidak perlu buru- buru,Pangeran,"ujar salah seorang penasehat saat keadaan mulai sepi.
" Lebih setengah dari kami setuju akan perjodohan dengan kerajaan Singamandasari. Dan lebihnya memilih abstain. Mereka menyerahkan semua keputusan di tangan pangeran," lanjut penasehat yang telah ditunjuk sebagai juru bicara.
Setiap malam Pangeran Marion tidak bisa memejamkan mata. Dan ketika siang pun pikirannya tak bisa lagi berkosentrasi dalam mengurus rakyat.
Ia sering menghabiskan waktu bersama Akila di taman.
"Kenapa akhir-akhir ini engkau terlihat galau,Pangeran?"
"Apakah ada sesuatu yang menganggu pikiranmu?"tanya Akila. Ia belum tahu mengenai perjodohan antar dua kerajaan.
"Oh, tidak ada apa-apa. Aku hanya penasaran"
"Penasaran?"
"Ya. Tentang perjalananmu akhirnya selamat dari badai yang pernah kita lalui bersama waktu itu." Marion sangat ingin tahu apa yang telah terjadi saat mereka dipisahkan oleh badai.
" Yah...Aku tak ingat kenapa kita sampai terpisah...Oh ya...perahu saat itu terbalik. Hingga membuat tubuh kita terlempar jauh dan tenggelam." Akila berusaha mengingat detail demi detail peristiwa yang pernah mereka alami.
"Setelah sampai ke permukaan. Aku sangat sedih tidak menemukan dirimu. Lalu aku mencari mengikuti aliran sungai. Tapi aku tak menemukanmu," sambung Akila sambil menggigit bibir. Sampai saat ini, Ia masih merasakan rasa kehilangan itu.
"Untuk aoa mencariku,Akila?"
"Emm.."
Marion memandang mata Akila. Kemudian tangannya mengelus pipinya yang merona merah jambu. Merion kembali ke istana dengan seribu tanda tanya dibenak Akila.
Keesokan hari, kabar berita Marion akan menikah dengan putri raja negeri seberang sampai ketelinga Akila. Sekarang Ia mengerti kenapa sikap Marion begitu aneh. Hatinya pun diselimuti rasa kecewa.
Akila menyadari dirinya tak terlalu pantas jika disandingkan dengan Marion. Seseorang yang telah digariskan oleh takdir menjadi seorang raja. Tapi siapa yang telah menaruh rasa cinta pada Marion di dadanya. Akila berusaha menghapus rasa yang terlanjur ada. Ia ingin membuangnya ke dasar lautan paling dalam.Agar hanya dirinya saja yang mengetahui.
Sedangkan Marion mempersiapkan sebuah rencana. Ia akan membuat sebuah keputusan. Para penasehat istana pasti terkejut dan tidak terima. Marion berjalan mondar-mandir sembari melihat jam di dinding kamar. Ia menuliskan sebuah surat. Bahwa Ia menolak untuk dijodohkan, hatinya telah tertambat pada seorang gadis.
Pada dini hari, Marion pergi bersama kudanya menuju ke tempat kediaman Akila.
"Ayo ikut denganku." Marion mengulurkan tangannya pada Akila.
Tak sempat bertanya, Marion menarik tubuh Akila dengan kuat ke atas pelana. Marion memacu kudanya sekuat tenaga. Pergi sejauh mungkin agar tiada yang bisa menemukan mereka berdua.
~Bersambung
Ini cerita tentang dimensi waktu ya...
bagus kak👍