NovelToon NovelToon
KODE MERAH: CINTA

KODE MERAH: CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Sci-Fi / Romantis
Popularitas:943
Nilai: 5
Nama Author: ririma

Berciuman tidak diperbolehkan di dunia ini, apalagi berhubungan seks. Bayi dibuat oleh mesin dan cinta melanggar hukum. Tetapi sepasang kekasih saling jatuh cinta dan sang wanita hamil. Akankah mereka berhasil melarikan diri sebelum terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Demi Anak Kita

Langkah kaki Carson terasa berat saat ia menyusuri lorong panjang apartemen. Lampu-lampu neon di langit-langit koridor berkedip redup, mengeluarkan bunyi mendengung konstan yang memekakkan telinga jika koridor sedang sepi seperti ini. Jam digital di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Seharusnya ia sudah pulang sejak dua jam yang lalu, tapi karena ada satu dan lain hal, ia terpaksa pulang larut malam.

Setelah menempelkan kartu aksesnya pada pintu apartemen, Carson melangkah masuk ke dalam apartemennya yang gelap. Ia tidak menyalakan lampu utama, hanya lampu temaram di area dapur kecil yang ia biarkan menyala.

Carson meletakkan tasnya, menarik napas panjang, lalu segera melangkah menuju lemari pakaian di sudut kamarnya. Setelah memastikan pintu depan terkunci rapat dari dalam, ia menggeser panel kayu rahasia di bagian belakang lemari. Menampilkan lubang gelap yang terhubung langsung dengan bagian belakang lemari milik Nezha.

Carson mengetuk dinding itu dengan pola khusus. Tiga ketukan cepat, satu ketukan lambat.

Hanya butuh waktu beberapa detik sampai panel kayu dari sisi seberang bergeser. Wajah Nezha muncul dari balik kegelapan. Namun, seperti malam sebelumnya, tak ada senyum hangat yang biasanya menyambut kedatangan Carson. Wajah perempuan itu tampak pucat dengan sepasang mata yang terlihat sedikit sembap.

Jantung Carson langsung berdegup kencang. Ia merangkak sedikit melewati celah tersebut agar bisa meraih tangan Nezha.

"Nezha? Kamu kenapa?" bisik Carson penuh kepanikan yang tertahan. Ia menangkup pipi Nezha dengan kedua tangannya, merasakan kulit perempuan itu yang agak dingin. "Ada yang sakit? Perutmu? Atau kamu merasa mual? Katakan padaku, apa yang kamu rasakan?"

Nezha menggeleng pelan. Ia menggenggam pergelangan tangan Carson, mencoba menenangkan pria itu. "Aku tidak apa-apa, Carson. Aku baik-baik saja. Sungguh."

"Jangan bohong," Carson menatap mata Nezha lekat-lekat, mencari kejujuran di sana. "Kalau kamu baik-baik saja, kenapa matamu merah begini? Kamu habis menangis? Apa gejalanya mulai terasa? Atau ada yang menyakitimu?"

"Carson, hey... lihat aku," Nezha mengusap telapak tangan Carson dengan lembut, memaksa pria itu untuk menarik napas. "Aku baik-baik saja. Tidak ada yang menyakitiku. Ini juga bukan karena pengaruh hormon kehamilan. Aku hanya... aku hanya ketakutan."

Carson sedikit meredakan ketegangan di bahunya, meski rasa cemasnya belum sepenuhnya hilang. Ia menggeser tubuhnya agar bisa duduk bersandar di antara celah pembatas kamar mereka, menarik Nezha agar duduk lebih dekat dengannya. "Ketakutan karena apa? Apa ada orang yang mencurigaimu?"

"Bukan," Nezha menunduk, memainkan jemari Carson yang berada di pangkuannya. "Tadi siang di kantor, saat jam istirahat... aku mendengar Jena dan Shanaz bergosip. Mereka membicarakan kasus yang terjadi di sektor tiga dua hari lalu."

"Kasus apa?"

Nezha menggigit bibir bawahnya, suaranya mendadak bergetar. "Ada dua remaja, laki-laki dan perempuan. Mereka... mereka tertangkap kamera pengawas distrik sedang bergandengan tangan. Hanya bergandengan tangan, Carson. Tapi petugas yang berjaga langsung membawa mereka hari itu juga. Shanaz bilang, mereka berdua dikirim ke pusat penertiban di sektor luar karena dianggap menyebarkan deviasi moral dan melanggar hukum pembatasan interaksi."

Nezha mendongak, menatap Carson dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Ketakutan yang amat besar terpancar dari sana.

"Aku takut, Carson," bisik Nezha, air matanya akhirnya luruh satu tetes. "Hanya karena bergandengan tangan, mereka diperlakukan seperti kriminal. Sementara kita... kita sudah melangkah sejauh ini, Carson. Di dalam perutku ada detak jantung baru. Ada nyawa yang tumbuh dari hubungan yang dianggap ilegal oleh hukum negara ini. Bagaimana kalau kita ketahuan? Bagaimana kalau gelang perak ini tiba-tiba mengirim sinyal bahaya ke pusat?"

Carson mendengarkan setiap patah kata itu dengan hati yang teriris. Ia tahu betul betapa kejamnya aturan negara ini, tapi melihat perempuan yang dicintainya harus menanggung beban mental seberat ini sendirian sepanjang hari membuatnya merasa gagal sebagai seorang pria.

Tanpa memedulikan sempitnya celah dinding di antara mereka, Carson menarik Nezha ke dalam pelukannya. Ia mendekap kepala Nezha ke dadanya, membiarkan perempuan itu menyembunyikan wajahnya di sana. Carson mengecup puncak kepala Nezha dengan lembut, berulang kali, menyalurkan kehangatan tubuhnya.

"Dengar aku, Nezha." Carson mengurai pelukan mereka sedikit, memegang kedua bahu Nezha agar perempuan itu fokus padanya. Carson tersenyum, sebuah senyuman paling tulus dan menenangkan yang bisa ia berikan.

"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal itu lagi. Mulai malam ini, lupakan gosip dari Jena, Shanaz, atau siapa pun di luar sana."

Nezha mengerutkan keningnya, masih agak sesenggukan. "Tapi bagaimana dengan—"

"Aku sudah mengatasinya," potong Carson lembut. Ia mengangkat pergelangan tangan Nezha, mengusap gelang perak yang melingkar di sana. "Tadi malam aku lembur untuk ini. Aku berhasil menyusup ke server Zion-Alpha milik laboratorium pusat. Aku sudah memanipulasi data medis yang terhubung ke gelangmu."

Nezha terbelalak kecil. "Kamu... kamu benar-benar meretasnya? Carson, itu berbahaya sekali! Kalau kamu ketahuan—"

"Ssst," Carson meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Nezha sambil terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana. "Siapa yang mau menangkap teknisi sepintar aku? Lagipula, sistem mereka itu sebenarnya bodoh."

Carson menjeda sejenak ucapannya. Tangannya bergerak turun, dengan sangat hati-hati, ia menyentuh perut datar Nezha yang di balik pakaiannya tersimpan rahasia terbesar mereka. "Sekarang, fluktuasi hormonmu, perubahan detak jantungmu, bahkan semua gejala aneh yang akan muncul beberapa minggu ke depan, semuanya sudah disamarkan sebagai gejala anemia kronis akibat kelelahan kerja. Bagi sistem, kamu hanya tercatat sebagai warga negara yang kurang tidur dan butuh suplemen tambahan. Itu saja."

Nezha menatap Carson tidak percaya, campur aduk antara rasa lega yang luar biasa dan rasa bersalah karena pria itu telah mempertaruhkan nyawanya. "Kamu melakukan itu semua sendirian?"

"Tentu saja. Demi dua orang paling berharga di hidupku sekarang," ujar Carson. Tangannya mengusap lembut perut Nezha dengan tempo lambat. "Jadi, yang aku minta darimu sekarang hanya satu hal."

"Apa?"

"Jangan berpikir macam-macam," Carson mendekatkan wajahnya, menempelkan keningnya ke kening Nezha, membiarkan napas mereka saling beradu. "Tugasmu sekarang hanya fokus pada kesehatanmu, dan kesehatan anak kita. Makan yang banyak, istirahat yang cukup, dan percayakan sisanya padaku. Aku yang akan jadi tameng untuk kalian berdua."

Mendengar kata 'anak kita' keluar dari mulut Carson dengan begitu alami, pertahanan Nezha runtuh. Rasa takutnya menguap, digantikan oleh kehangatan yang menjalar di seluruh dadanya. Ia tersenyum kecil, senyuman pertama yang Carson lihat sejak ia pulang.

"Bagaimana aku bisa makan banyak kalau jeli nutrisi dari pemerintah rasanya seperti karet basah?" gurau Nezha pelan, suaranya sudah kembali normal.

Carson mendengus geli, lalu mengecup hidung Nezha. "Soal itu... aku juga sudah mengaturnya. Aku berhasil memotong sedikit kuota pangan militer sektor atas dan memasukkannya ke daftar limbah medis yang akan dibuang besok malam. Aku akan mengambilnya untukmu. Kamu akan dapat makanan yang lebih layak, bukan jeli hambar yang bahkan gizinya saja sudah berkurang."

Nezha memukul pelan dada Carson. "Kamu benar-benar sudah gila, ya? Tapi... terima kasih."

Nezha memajukan wajahnya, mencium bibir Carson dengan lembut. Itu adalah ciuman yang pelan, penuh rasa syukur, dan sarat akan janji bahwa mereka akan bertahan melewati masalah ini bersama-sama. Carson membalas ciuman itu dengan tangan yang mendekap erat pinggang Nezha, seolah menegaskan bahwa di dalam kamar tersembunyi ini, hukum kejam pemerintah tidak pernah berlaku.

Saat tautan mereka terlepas, keduanya saling memandang sambil tersenyum dalam remang malam.

"Sekarang, tidurlah," bisik Carson sambil mengusap sisa air mata di pipi Nezha. "Aku akan tetap di sini sampai kamu tertidur."

Nezha mengangguk, ia merebahkan dirinya di kasur yang tak jauh dari lemari pakaiannya. Jemarinya tetap menggenggam erat tangan Carson, seolah enggan melepaskan satu-satunya pegangan aman yang ia miliki. Malam itu, di tengah kota yang dingin, mereka menemukan kehangatan paling nyata yang tidak bisa dirampas oleh siapapun di dunia ini.

1
Rudy satria
bylla berbahaya nggk sih,ko bikin deg,deg,degan😅😅
Rudy satria
semoga bylla bukan mata² pemerintah 😅
Rudy satria
saya pikir langsung curi buahnya satu ² ternyata bijinya saja,sabar ya dedek bayi kira² 3 bulan sampai tomatnya matang😅😅
ririma: wkwk,,
total 1 replies
Rudy satria
apakah bylla salah satu tim yang nantinya kabur bersama Carlos dan Nessa
Rudy satria
lebih nggk kebayang,kalo beneran ada negara yang memiliki peraturan sekonyol itu🤣
ririma: lah iya juga ya🤣
total 1 replies
Rudy satria
Kay nggk asing,negara Konoha seperti itu jga nggk ya semoga si nggk ya😅😅
ririma: hmm, ngga ikutan ya kak🤭
total 1 replies
Rudy satria
ceritanya bagus, meskipun masih blm paham kenapa ada peraturan anomali seperti itu😄
ririma: engga usah dipahami kak, emang anomali itu peraturannya😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!