NovelToon NovelToon
A DEAL WITH COLD PROFESSOR

A DEAL WITH COLD PROFESSOR

Status: tamat
Genre:Dosen / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Nikah Kontrak / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Namanya Sekar Senjani Paramitha-gadis berparas lembut yang tengah menapaki tahun terakhir kuliahnya di sebuah universitas ternama di ibu kota. Namun, menjelang akhir perjalanannya, hidup justru berbalik arah. Sang ayah terjerat mabuk dan judi, meninggalkan luka yang tak kasatmata, sementara sang ibu yang rapuh harus berbaring di rumah sakit akibat hipertensi yang kian memburuk.

Di tengah hari-hari yang penuh sesak dan nyaris tanpa cahaya, hadir seorang lelaki dengan tatapan teduh sekaligus menyimpan misteri-Althaf Arsakha Dirgantara. Ia menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan: pernikahan tanpa cinta, hanya ikatan di atas kertas, namun dengan konsekuensi yang tidak bisa Senja bayangkan.

Kegundahan pun menyeruak di hati Senja. Sebab lelaki itu bukan hanya orang asing... melainkan dosennya sendiri.

Akankah Senja menerima tawaran pernikahan yang bisa menyelamatkan keluarganya, meski harus mempertaruhkan masa depannya sendiri? Atau menolak, dan menyaksikan hidupnya runtuh perlahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB DUA PULUH TIGA

Setelah kurang lebih satu minggu belajar menyetir, akhirnya aku mulai bisa mengendarai mobil, meski masih jauh dari kata mahir. Awalnya aku sempat menolak, merasa tidak perlu dan terlalu berlebihan. Namun, seperti biasa, Althaf tetap teguh pada pendiriannya—dingin, tegas, tak memberi ruang untuk di bantah. Ia memaksaku menggunakan mobil ke kampus, seakan itu sudah menjadi keputusan final yang tak bisa diganggu gugat.

Kini, motorku terparkir rapi di rumah Althaf, bersanding kontras dengan deretan mobil mewahnya. Pemandangan itu membuatku sempat tercekat. Motorku tampak kecil, lugu, seperti milik anak kampung yang nyasar di garasi istana. Dan entah mengapa, setiap kali melihatnya, aku merasa seolah-olah kehidupanku yang sederhana perlahan sedang digilas oleh dunia kalangan atas Althaf yang penuh kemewahan.

Ban mobil berhenti mulus di area parkir kampus. Aku menelan ludah, menarik napas panjang sebelum mematikan mesin. Rasanya masih aneh—aku yang biasanya datang dengan motor matic tua, kini turun dari mobil abu berkilau yang jelas mencuri perhatian.

Begitu aku keluar, tatapan-tatapan langsung mengarah padaku. Beberapa mahasiswa pura-pura sibuk dengan ponselnya, tapi bisik-bisik lirih tetap terdengar.

“Eh, itu Senjani kan?”

“Iya… biasanya naik motor reyot, kok sekarang bawa mobil?”

“Pasti ada yang nanggung. Mana mungkin dia sanggup…”

“Hush, jangan keras-keras. Tapi ya, siapa lagi kalau bukan sugar Daddy…”

Aku menunduk, langkahku terasa berat. Setiap kata yang lolos dari bibir mereka seperti paku kecil yang menancap di dadaku.

“Mungkin dia simpanan pengusaha kaya…” bisikan itu begitu jelas sampai membuatku spontan berhenti sejenak. Tubuhku menegang, jantungku berdebar kencang.

Aku buru-buru melanjutkan langkah, menahan diri agar tak menoleh atau membalas. Namun wajahku memanas, bukan hanya karena malu—tapi juga sakit. Mereka tak tahu apa-apa, tapi begitu mudah menilai.

Kupeluk erat buku di dadaku, seakan itu bisa melindungiku dari pandangan penuh prasangka. Sesampainya di kelas, aku langsung duduk di pojok ruangan, menarik napas panjang, mencoba menenangkan gejolak di dalam dada. Tapi bisik-bisik itu masih bergema di telingaku, menusuk tanpa ampun.

Aku menunduk begitu masuk kelas, berharap tak ada yang memperhatikan. Tapi ternyata, tatapan itu tetap sama—mata-mata yang memandang seolah aku tiba-tiba menjadi orang asing di ruangan ini.

Aku menarik kursi di deretan paling belakang, duduk dengan cepat sambil menaruh buku di meja. Tanganku bergetar kecil saat membuka halaman catatan.

“Jangan dengar, Senjani…” bisikku dalam hati, mencoba menenangkan diri. Tapi suara-suara itu kembali berdengung di kepalaku.

“Mungkin dia simpanan…”

“Mana mungkin uang dari kerja kafe bisa beli mobil…”

Dadaku sesak. Aku bisa merasakan panas menjalari wajahku, bukan karena marah, melainkan campuran malu dan perih yang begitu menusuk. Air mataku hampir pecah keluar, tapi aku cepat-cepat menunduk lebih dalam, pura-pura sibuk menulis.

Kujepit bibir bawahku erat agar tidak bergetar. Aku benci terlihat lemah di depan orang lain. Aku benci memberi mereka alasan untuk merasa benar atas gosip murahan itu.

Seseorang di depanku menoleh ke belakang, lalu berbisik pada temannya sambil menyunggingkan senyum sinis. Aku langsung menunduk lebih dalam, rambutku menutupi sebagian wajah, berusaha jadi transparan—tak terlihat.

Jari-jariku mencengkeram pena begitu kuat sampai hampir patah. Dalam hati aku hanya bisa berdoa, semoga jam kuliah cepat berakhir. Semoga semua bisik-bisik ini segera hilang.

Namun, di dalam diriku ada perasaan yang lain juga—rasa bersalah. Karena pada akhirnya… omongan mereka memang bukan sepenuhnya salah. Mobil ini benar-benar bukan milikku, dan aku bahkan tidak punya keberanian untuk jujur pada mereka.

Suasana kelas masih belum sepenuhnya tenang. Beberapa mahasiswa mengobrol kecil, ada yang menunduk pada layar laptop, sementara aku memilih duduk diam di kursiku, membuka catatan hanya untuk mengalihkan pikiran.

Tiba-tiba pintu kelas terbuka cepat. Layla masuk dengan langkah tergesa, tasnya berguncang di bahu. Rambut bergelombangnya ikut bergoyang, mengikuti setiap langkahnya. Begitu melihatku, wajahnya langsung berseri.

“Sen!” serunya nyaring, membuat beberapa kepala menoleh. Tanpa basa-basi ia berlari kecil dan menjatuhkan diri di kursi sebelahku.

“Gila, Sen,” katanya antusias, suaranya sedikit meninggi. “Di parkiran gue liat Mercedes Benz CLA warna grey! Lo tau kan, itu incaran gue dari dulu! Gila, cakep banget.”

Jantungku langsung berdentam cepat. Pulpen di tanganku hampir terjatuh. “O-oh, ya?” balasku gugup, mencoba terdengar biasa saja.

“Iya! Gue sampai bengong,” Layla menggebu, kedua matanya berbinar penuh semangat. “Hampir aja gue minta Papi beliin, tapi gue kan baru ganti mobil. Jadi masih mikir-mikir. Tapi ya ampun, Sen… itu keren banget. Lo tau nggak siapa yang punya? Kalau bisa gue pengen test drive dulu sebelum beneran beli.”

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan wajah agar tidak terlihat panik. Seisi kelas memang tidak semuanya memperhatikan, tapi aku bisa merasakan beberapa pasang mata yang melirik ke arah kami.

Harus jawab apa? batinku gelisah.

Akhirnya aku memaksakan senyum kaku. “Emm… itu mobil gue yang bawa, Lay.”

Layla terbelalak. “Hah? Serius lo?”

Aku buru-buru menunduk, membetulkan buku catatan di depanku seolah sedang sibuk. “Bukan punya gue… maksudnya itu mobil Om. Adiknya ibu. Dia pinjemin buat sementara, katanya biar gampang kalau harus bolak-balik urus Ibu kalau sakit.” Suaraku kecil, hampir tercekat, tapi cukup jelas untuk didengar Layla.

Layla masih menatapku, kaget bercampur kagum. Lalu ia tersenyum lebar, menepuk pelan lenganku. “Astaga, gue kira siapa. Om lo ternyata tajir juga ya. Pantes aja… makin keliatan classy deh lo, Sen.”

Aku hanya membalas dengan senyum tipis. Tapi dalam hati, dadaku terasa sesak. Kata-kata Layla ringan, tapi di telingaku terdengar berat. Karena aku tahu, beberapa kursi belakang sudah mulai berbisik-bisik, lirih tapi cukup menusuk telingaku.

Bisikan-bisikan itu makin jelas. Dari arah belakang kelas terdengar suara tertahan, tapi cukup menusuk.

“Pantesan, sekarang bawa Mercy…”

“Om, om… om-om sugar Daddy kali maksudnya.”

“Haha, iya… siapa juga yang percaya.”

Kepalaku langsung tertunduk. Jari-jariku bergetar di atas meja, kertas catatan sudah kusut karena kugenggam terlalu erat. Dadaku sesak, wajahku panas menahan malu.

Tapi sebelum aku sempat melakukan apa pun, suara Layla terdengar lantang.

“WOY!” bentaknya, membuat beberapa mahasiswa langsung menoleh kaget. “Kalian ngomongin apa sih?!”

Kelas mendadak hening. Layla menatap tajam ke arah sekelompok mahasiswa yang tadi berbisik. “Kalau punya mulut dipakai buat belajar, bukan buat ngegosipin orang. Nggak malu apa? Udah gede, tapi kerjaannya ngurusin hidup orang lain.”

Aku refleks menoleh padanya. “Lay, udah, nggak usah—” bisikku lirih, tapi dia mengangkat tangan, memberi isyarat agar aku diam.

“Gue nggak bisa diem, Sen,” katanya masih lantang. “Lo tuh temen gue. Dan gue nggak suka ada orang yang asal ngomongin lo.”

Salah satu mahasiswa cowok yang jadi sumber bisik-bisik tadi berusaha membalas. “Eh, kita cuma bercanda, kok. Nggak usah baper kali, Lay.”

“Bercanda?!” Layla mendengus sinis. “Lo pikir enak dibercandain kayak gitu? Kalau gue jadi Senja, gue udah lempar buku ke muka lo sekarang.”

Kelas kembali ricuh. Beberapa ada yang menahan tawa, beberapa lainnya memilih diam. Tapi tatapan Layla yang tajam membuat tak seorang pun berani menambahkan komentar.

Aku bisa merasakan mataku panas. Rasa malu yang tadi menyesakkan dada, kini bercampur dengan rasa haru. Aku menunduk lagi, takut kalau air mataku sampai jatuh di depan orang-orang.

Layla melirikku sebentar, lalu menepuk tanganku di atas meja. Suaranya melembut. “Jangan dengerin, Sen. Orang-orang kayak gitu cuma iri.”

Aku menelan ludah, berusaha menguasai diri. “Makasih, Lay…” suaraku serak.

Dia tersenyum kecil, lalu bersandar santai di kursinya, seolah siap jadi perisai kalau ada yang berani macam-macam lagi.

1
+62
lovyu.. ❤️
+62
tidak ada pelakor disini.. 🌚
+62
lagi 🌚
+62
jangan ada konflik lagi 🥺
+62
jangan ada konflik lagi ya 🥺
+62
apdet banyak2 🦖
+62
semoga ga ada perselingkuhan
+62: kalo ada.. aku cabut 😑
total 1 replies
Mochimo
Lanjutttt kakkk, makin seruuu..
Ria Ismail
Nextttt kak
Ria Ismail
Wawww menikah juga akhirnya
Ria Ismail
Sepertinya seruu
Roxy-chan gacha club uwu
Thor, aku hampir kehabisan kesabaran nih, kapan update lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!