"Akan ku gunakan kekuatanku untuk melindungi orang-orang. Meskipun aku harus meminjam kekuatan dari iblis sekalipun."
Bercerita tentang seorang yang menjalani reinkarnasi disebuah dunia fantasi dimana sihir, legenda, dan mahluk mitologi adalah sebuah hal yang biasa ditemui sehari-hari.
Dengan harapan menjalani kehidupan yang aman dan nyaman, ia menjalani hari sebagai pahlawan tanpa tanding, seseorang yang "tak terkalahkan".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Atmareja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#24 Gadis | Pertarungan
"Hahaha, seperti yang ku kira. Baiklah, kalian bisa pergi. Nanti aku akan mengabari kalian."
Wajahnya terlihat berseri-seri. Sepenting apa jamur itu? Entahlah.
***
Kediaman keluarga Ramvoldus. Tiga hari setelah misi mengumpulkan jamur hitam.
Pagi ini aku putuskan untuk menjelajahi ibu kota seorang diri,kali ini aku pergi ke wilayah timur, wilayah keluarga Baldwin, pintu gerbang ibu kota.
Aku menyusuri jalanan yang sudah cukup ramai dengan hiruk pikuk. Di kanan kiriku berjejer toko-toko maupun orang-orang yang menjajakan barang dagangannya. Ini adalah pasar yang cukup ramai yang juga merupakan pusat kerajinan tangan tempaan seperti senjata dan lain sebagainya.
Aku tak berniat membeli apapun, hanya berjalan-jalan disini sudah menyenangkan hatiku.
Aku melangkahkan kakiku sebelum tiba-tiba sesosok tubuh menabrakku.
Gubrakk. Aku terjatuh. Seorang gadis menabrakku. Ketika aku membuka mataku, sedikit gelap, kecuali potongan gambar beruang yang rasanya pernah kulihat begitu dekat dengan wajahku.
"Whaaaaaa!!! Cabul, mesum, pemjahat kelami, pemerkosa, musuh wanita!!!!"
Aku merasakan sedikit dejavu.
Plakkkk sebuah tamparan dipipiku.
Ketika aku mengangkat tubuhku, aku melihat seorang gadis dengan nafas tersengal dan wajah yang menggeram seakan siap menerkamku menatap tajam padaku setelah m ngucapkan semua kata-katanya.
Aku melirik sekeliling, beberapa orang ibu-ibu saling berbisik.
"Penjahat kelamin."
"Dia Pantas mati."
"Menjijikan."
"Tidak-tidak, ini bukan salahku, dia yang menabrakku."
Aku memberikan pembelaan diri.
Sepertinya itu sia-sia. Aku tertunduk.
"Hey kau! Rakyat jelata! Kau melakukannya lagi. Kau pantas mati, hehh!"
Dia melipat tangankecilnya di depan dada dan mwmberikan ekspresi yang menyakitkan untuk di lihat.
"Bukankah ini salah mu? Kau yang menabrakku? Aku tak bersalah seperti juga waktu itu."
"Kau! Kau hanya seorang penjahat kelamin yang mencoba membela diri."
"Nona??!! Nona muda?!!"
Beberapa orang dengan pakaian seragam pelayan memanggil-manggil.
Dengan wajah yang berubah kaget dia berlari dan bersembunyi dengan masuk kedalam sebuah drum.
"Apakah kalian mencari nona muda dengan rambut berwarna kuning keemasan dan di kuncir dua?"
"Apakah anda melihatnya?"
Aku menunjuk ke arah drum tempat persembunyian.
"Akan ku balas kau! Penghianat! Kau rakyat jelata tidak tahu diri!"
Dia berteriak-teriak setelah orang-orang itu menyeretnya. Aku hanya tersenyum dalam kepuasan. Aku bisamembalaskan dendamku.
***
"Aaah ternyata kau Milo. Kebetulan sekali."
"Selamat pagi."
"Apa yang membawamu kesini?"
"Aku ingin melihat-lihat apakah ada misi yang cocok untukku."
"Begitu, sepertinya saat ini tidak ada yang cukup menarik kan?"
Dia menoleh dan tersenyum padaku.
"Apakah ketua serikat ada disini?" Seorang prajurit dengan nafas tersengal memasuki kantir serikat.
"Ya, saya sendiri. Ada apa?"
Nuala beralih ke mode seriusnya.
"Ini! Surat dari yang mulia Raja, ini penting. Harap menerimanya!"
Dia menyodorkan sepucuk surat kemudian Nuala menerimanya kemudian bergegas masuk ruangannya.
Sementara aku kembali asik memandangi papan buletin setelah sang pengirim surat kembali.
***
(Sudut pandang Nuala Irithyl)
"Tidak mungkin, ini tidak mungkin. Apakah informasinya keliru? Tapi pasti pihak kerajaan telah memastikan nya sebelum meminta bantuan."
Aku memegang surat itu dengan rasa cemas.
"Sekitar Seribu mayat hidup menuju ibu kota di ikuti ratusan kawanan monster. Ini tidak masuk akal. Kita tak akan bisa melawan."
Nuala memegang kepalanya dengan frustasi.
"Apakah dia sanggup? Aku belum bisa benar-benar nengukur kekuatannya. Tapi dia memang seorang ansk yang cukup pintar untuk seusianya. Dia memiliki potensi."
Dia terus berbicara sendiri dalam kekalutannya.
"Saat ini serikat tidak memuliki petualang tangguh, kami tidak meliliki petualang rangking C ke atas. Dan kebanyakan adalah pemula."
Dia terus berbicara sendiri.
***
"Milo, masuklah jeruanganku!"
Nuala memanggilku yang sedang memandangi buletin.
Dari yang kulihat, seseatu tampak sangat serius.
"Sesuatu yang sangat berbahaya sedang mengancam ibu kota."
"Hahhh?!"
"Sekitar 1000 mayat hidup dan Ratusan kawanan monster sedang menuju kesini."
Mataku membelalak.
"Bagaimana dengan pihak kerajaan?"
"Mereka meminta bantuan kita. Sementara kita tidak memiliki petualang dari rangking B keatas. Kebanyakan adalah para pemula dan petualang rangking D."
"Kapan perkiraan waktunya?"
"Diperkirakan mereka akan sampai di ibu kota dalam tiga hari."
"Bukankah kita akan aman selama pintu gerbang tidak dapat di tembus?"
"Yah ksu benar. Nemun sepertinya diantara mereka ada beberapa monster raksasa mata satu serta raksasa batu yang pasti bisa menghancurkan gerbang masuk, bahkan tembok pertahanan kota dengan mudah mereka tembus."
Nuala menghela nafas.
Aku berpikir sepertinya aku sanggup membasmi mereka.
"Aku akan pergi!"
"Hahh?! Apa kau ingin mati? Aku mengundangmu kesini untuk membicarakan taktik Karena aku tahu kau pintar, bukan menyuruhmu mati!"
Sepertinya dia sedikit marah.
"Bagaimana jika aku benar-benar sanggup?"
"Jangan bercanda! Aku tak akan mengizinkannya!"
"Begitu. Baiklah, sebagai seorang warga aku tidak membutuhkan izinmu. Aku akan pergi sekarang."
"Kau,,,"
**"
Aku melesat cepat meninggalkan kantor serikat berlari dengan kecepatan superku menuju hutan Mapelshere.
Aku mengeluarkan Lionsky dan melesat tinggi ke angkasa.
Dikajauhan, tampak raksasa bermata satu dan beberapa raksasa batu berjalan membelah hutan diikuti mayat hidup dan kawanan monster.
"Jumlah raksasa bermata satu kurang lebih ada dua puluhan, jumlah yang lumayan."
Aku bergumam sendiri.
"Aaarrhhg ini merepotkan. Meskipun skill cheat ku adalah invincible hero, tapi membasmi mereka sebanyak ini akan merepotkan. Sial!"
Aku mengepalkan tangan memandang mereka yang terus membelah hutan.
Aku mengaktifkan Sena.
"Apakah ada yang bisa ku gunakan untuk menghadapi ini?"
"Anda memiliki skill invincible hero. Skill itu membuat anda tak terkalahkan."
"Tapi aku tetap menerima luka bukan?"
"Benar."
"Apakah ada yang lain?"
"Skill, senjata dan kekuatan anda saya rasa sudah lebih dari cukup untuk mengatasi ini semua."
Aku tertegun sejenak.
"Jelaskan padaku!"
"Ini adalah daftar skill anda."
Sebuah layar muncul dihadapanku.
"Dan ini daftar inventaris barang anda."
"Hemmm ternyata banyak yang bisa ku gunakan. Sena."
"Iya tuan."
"Buatkan aku rencana paling efektif untuk keadaan saat ini!"
"Baiklah, harap menunggu sebentar."
Tulisan "memproses" muncul di layar yang ada di hadapanku.
Setelah tak berspa lama.
"Maaf membuat anda menunggu tuan."
"Tak apa, bagaimana dengan rencana nya?"
"Saya sarankan untuk menggunakan kendaraan tempur yang anda miliki, itu akan lebih efisien. Anda bisa menggunakan pesawat induk anda. Itu bukanlah h yang terlalu sulit untuk dilakukan."
Entah mengapa, keusilanku menulis salah satu permohonan untuk mendapatkan sebuah pesawat tempur sekelas kapal induk ternyata bisa berguna.
Aku menghela nafas, aku berfikir ini memang sepertinya akan berhasil. Namun jika ada yang nelihatnya, ini akan merepotkan.
"Sena bagai mana caraku memanggil pesawat sebesar itu?"
"Anda bisa menggunakan skill pemanggilan."
"Baiklah kalau begitu, akan ku coba. Karena ini yang pertama kali bagiku, aku merasa sedikit gugup."
"Skill pemanggilan, datanglah pesawat pesawat indukku!"
Kemudian lingkaran sihir muncul di langit, ukurannya semakin membesar. Kemudian sesuatu keluar perlahan. Itu adalah sebuah pesawat perang, sebuah pesawatbinduk dengan kesiapan tempur maksimal.
"Waaah besar!!!"
"Mari kita masuk tuan."
Dalam sekejap tubuhku sudah berpindah kedalam ruang kontrol pesawat. Ini adalah ruangan yang tidak begitu besar dan tidak banyak ruas ataupun tombol. Hanya ada dua buah benda bulat berwarna putih kebiruan yang mengapung, melayang-layang.
"Tuan, harap masukkan tangan anda pada benda yang melayang-layang itu. Lalu alirkan sihir anda."
Aku menuruti perintah Sena. Tiba-tiba layar didepanku berubah. Banyak info yang ditampilkan sekarang.
"Apakah pesawat ini memiliki senjata mengerikan seperti bom nuklir yang bisa menghancurkan bumi?"
"Yah, kita memilikinya, namun penggunaan nya dibatasi. Saat ini anda tidak bisa mengaksesnya."
Aku menghela nafas, aku merasa senang mendengarnya.
"Lantas apa saja yang kita miliki?
"Kita memiliki senjata laras panjang hingga rudal penjelajah benua, juga rudal kendali, senjata laser dan gelombang kejut "
"Baiklah, kita bisa menggunakan itu."
"Aku secara otomatis terhubung dengan pesawat ini. Jadi anda bisa memerintahkan langsung kepada saya."
"Aku mengerti, uuummm, tampilkan gambaran musuh."
Lalu, layar tersebut menampilkan kejadian di bawah kami dimana hutan Mapelshere berada. Para raksasa beserta yang lainnya masih terus bergerak.
"Berapa banyak amunisi yang kita punya?"
"Tidak terbatas tuan."
"Waahhhh, hebat. Ini terlalu hebat."
Aku gembira mendengar hal ini.
"Kunci target dengan postur tubuh raksasa terlebih dahulu."
"Target dikunci."
"Siapkan senjata!"
"Senjata siap!"
"Tembak!"
Berbagai senjata dikeluarkan meninggalkan asap dibelakang. Juga serangan kejut yang seperti sambaran kilat menghantam para raksasa mata satu dan raksasa batu.
Sementara para mayat hidup dan kawanan monster masih berjalan, para raksasa ditembaki dengan beragam senjata. Dalam satu serangan mereka semua roboh meninggalkan kepanikan di antara kawanan monster. Mereka mulai memasang posisi waspada.
"Nampaknya para raksasa bisa kita selesaikan."
"Benar sekali tuan."
"Kita lakukan serangan kedua. Kunci semua target yang masih hidup!"
"Target dikunci."
"Tembak!"
Para monster berhamburan ketika melihat kawanannya terbunuh dalam waktu yang hampir bersamaan. Beberapa mencoba melarikan diri, namun proyektil peluru menghujani mereka dan kemudian membunuh mereka dalam sekejap.
Aku mengusap keringat di keningku.
"Fiuhhh, apakah masih ada yang tertinggal?
"Sepertinya para mayat hidup tidak menerima banyak pengaruh dari serangan kita tuan."
"Mayat hidup yah, bagaimana pun mereka telah mati. Kita tidak bisa membunuh mahluk yang sudah mati. Fufufu."
"Saya menyarankan anda menggunakan skill God's Blessing anda tuan.?"
Aku termenung sejenak.
"Baiklah aku mengerti. Ayo lakukan!"
"Baik."
Setelah itu, bagian ruang kendali terangkat ke atas dan bagian penutupnya kemudian terbuka. Aku menarik tanganku dari konsol kendali.
Aku mengangkat kedua tanganku ke atas.
"God's blessing!"
Aku mengarahkan sihirku ke bawah dimana para mayat hidup berada. Beberapa, mungkin puluhan diantaranya, menghilang setelah terkena skill God's Blessing ku. Aku melanjutkan dengan mengulangi beberapa kali hingga aku yakin tak ada lagi yang masih tersisa.
"Fuahhhh,,, melelahkan sekali."
"Sena, pindai musuh, apakah ada yang masih terdisa atau melarikan diri!"
"Baik.,,,,."
"Semuanya sudah dimusnahkan tuan. Anda berhasil memusnahkan semuanya."
Aku terjatuh lemas, aku merasa ini sangat berbahaya sekali. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka mencapai ibu kota.
Bagi yg suka novel fantasi & romance mampir yuk,,,,
“That Time One Summoned Class In The Another World”
PREMIS:
Mengenai dunia paralel. Mc dibenci oleh Heroine, tapi si Heroine lama-kelamaan suka sama Mc. ]