Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29 Mila
BAB 29
Langkah raksasa Ayah akhirnya melambat saat kami sepenuhnya melewati gerbang kayu pelindung desa itu.
Rado, menoleh ke arah temannya yang masih mematung memeluk tombak di dekat gerbang. "Dobro, kau di sini saja, jaga gerbang sebentar!"
"Heeee? Kenapa?" protes Dobro dengan wajah ditekuk.
"Aku akan mengantar Tuan Goran ke tempat Kepala Desa. Hanya sebentar saja," perintah Rado tegas.
"Baiklah, baiklah," sungut temannya itu.
Rado kemudian berbalik dan menatap Ayah dengan penuh kehati-hatian. Meski sudah tahu kami bukan musuh, sorot matanya masih menyimpan rasa gugup yang sulit disembunyikan. "Mari, Tuan Goran, ikuti saya. Lebih baik Anda berbicara dengan Kepala Desa kami saja secara langsung."
"Oke," jawab Ayah dengan suara beratnya.
Sebuah kata asing yang dulu tak sengaja diucapkan oleh Kak Qatilah, yang kini biasa kami pakai. Rado memiringkan kepalanya, dahinya berkerut bingung mendengarnya.
"Iya, Tuan? Oke... apa?"
Ayah mendengus pelan, napasnya membentuk kabut putih di udara dingin. "Maksudnya, baiklah."
"Hoo..." Rado mengangguk-angguk kecil, meski matanya masih memancarkan kebingungan. Pria itu berbalik dan berjalan memimpin di depan. Aku melangkah di samping Ayah, mengikuti dalam diam.
Kami menyusuri jalanan desa. Ini pertama kalinya aku melihat sebuah desa, udara di tempat ini terasa sangat berat dan mencekik. Hidungku menangkap bau asap kayu bakar, tapi di baliknya, ada aroma keputusasaan yang pekat. Kami melewati sebuah area terbuka yang tampaknya adalah pasar seperti yang pernah Kak Qatilah ceritakan, tapi hanya ada dua orang tua yang duduk melamun menatap salju.
Dari balik jendela-jendela rumah yang tertutup rapat, aku bisa mendengar suara isakan tangis yang ditahan. Aku tahu ada puluhan mata yang mengintip ngeri ke arah tubuh raksasa Ayah dari balik dinding kayu itu.
Tapi aku tidak peduli. Aku membenci desa ini.
Bukan karena orang-orangnya.
Tapi karena setiap tangisan yang kudengar mengingatkanku pada Kak Qatilah. Mataku memang menatap lurus ke depan, tapi pikiranku tertinggal di tepi sungai itu. Di kepalaku, aku terus melihat darah merah Kak Qatilah yang menetes memakan warna jubahnya. Kakiku melangkah otomatis. Dunia di sekitarku seolah mati rasa.
Langkah Rado akhirnya berhenti di depan sebuah rumah kayu yang ukurannya sedikit lebih besar dari rumah yang lain.
Tok... tok... tok...
Pintu berderit ditarik ke dalam. Seorang pria paruh baya dengan kantung mata hitam yang sangat gelap muncul. Begitu matanya menangkap bayangan tubuh Ayah yang menutupi cahaya matahari, pria itu tersentak mundur, kakinya tersandung ambang pintu hingga nyaris terjengkang.
"Ya Dewa! Makhluk apa itu?!" teriaknya panik.
"Tenang, Pak! Tenang!" Rado buru-buru menengahi, merentangkan tangannya. "Dia tamu. Dia juga terkena musibah yang desa kita alami."
Pria paruh baya itu memegangi dadanya yang naik-turun, menatap Ayah dengan wajah sepucat salju. "Oh... m-maafkan saya. Saya sangat terkejut karena..."
"Aku besar?" potong Ayah cepat dan datar. "Namaku Goran."
"I... iya, Tuan Goran," ucap pria itu terbata-bata, mencoba menelan ludahnya. "Nama saya Miroslav. Kepala desa di sini. Kalau Anda ingin bicara... mari ikuti saya ke tenda persediaan di sebelah sana. Ruangan rumah saya tidak akan muat untuk Anda."
Miroslav menoleh pada penjaga gerbang. "Rado, kau kembalilah ke gerbang."
Pria paruh baya itu kemudian memandu kami berjalan menuju sebuah tenda tebal yang cukup besar di tengah desa. Begitu kain penutupnya disingkap, bau besi, debu, dan pelumas kulit tercium tajam. Tempat ini sepertinya adalah tenda penyimpanan peralatan dan senjata.
Namun, sebagian besar tempatnya melompong. Rak-rak kayunya kosong, hanya menyisakan beberapa bilah tombak usang, perisai kayu yang tergeletak di sudut dan beberapa senjata lainnya.
Ayah dan Miroslav duduk berhadapan secara lesehan di atas karpet kulit. Bahkan saat duduk pun, punggung lebar Ayah masih lebih tinggi dari Miroslav yang duduk tegak. Aku tidak ikut duduk. Aku hanya berjalan tanpa minat di sekitar rak-rak kosong itu, membiarkan jemariku menyentuh ujung-ujung tombak.
"Jadi," suara bariton Ayah memecah keheningan tenda, "ceritakan padaku semua info yang kau miliki."
Miroslav mengusap wajahnya yang terlihat sangat lelah. "Yah, seperti yang Anda sudah tahu... desa kami juga mengalami musibah. Empat anak perempuan, tiga ibu hamil, dan semua bayi perempuan yang berjumlah lima orang... diculik begitu saja oleh kelompok itu."
Kepala desa itu menunduk, meremas lututnya sendiri. "Saya tidak tahu apa alasan mereka. Tapi jika begini terus, desa ini akan mati. Banyak ayah, ibu, suami dan istri di luar sana yang nyaris gila dilanda kesedihan."
"Aku dengar dari para penjaga gerbang, kau telah mengutus beberapa orang," ucap Ayah.
"Itu benar, Tuan. Mereka melacak jejak kuda-kuda itu hingga ke perbukitan sana. Tapi... sudah dua hari berlalu dan belum ada satu pun dari mereka yang kembali. Kami sekarang hanya bisa pasrah menunggu..."
Tiba-tiba, dari arah luar, terdengar suara langkah sepatu bot yang berat disusul gemerincing logam. Kain penutup tenda disingkap dengan sangat kasar.
"Miros! Aku sudah menyiapkan..."
Suara lantang wanita asing itu terputus mendadak.
Seorang perempuan berbadan tegap melangkah masuk ke dalam tenda. Matanya yang tajam langsung membelalak lebar melihat sosok raksasa Ayah yang menutupi separuh ruangan.
"Ha? Yotun?!" serunya kaget.
Miroslav buru-buru mengangkat tangan dengan panik. "Ah, Nona Astrid, Anda sudah selesai..."
Wanita bernama Astrid itu sama sekali tidak memedulikan Miroslav. Dia langsung berjalan mendekat, mengitari punggung Ayah sambil terus memperhatikan tubuh Ayah dari atas sampai bawah.
Aku menghentikan langkahku di dekat rak senjata, menatap wanita itu. Dia sangat berbeda dengan Kak Qatilah atau Tante Ruth yang biasa mengenakan jubah hangat. Rambut wanita ini berwarna kuning pucat, dikepang dengan pola rumit yang menempel sangat erat di kulit kepalanya. Tubuhnya dibalut oleh jaring-jaring besi bersisik yang bergemerincing setiap kali ia bergerak.
"Waaah... ini pertama kalinya aku melihat seorang Yotun," gumam Astrid dengan mata berbinar-binar liar.
Aku mengerutkan dahiku. Aku tidak tahu apa itu Yotun.
Ayah mendengus kaku. Pria raksasa yang biasa menatap musuh tanpa gentar itu mendadak terlihat salah tingkah karena diamati terlalu dekat oleh orang asing yang terang-terangan menatapnya seperti barang langka.
Astrid kemudian berhenti melangkah saat ekor matanya menangkap keberadaanku. "Dan siapa anak kecil berwajah suram ini?"
"Dia putriku," jawab Ayah cepat.
Miroslav berdeham, mencoba menenangkan Astrid agar duduk. "Maaf, Tuan Goran. Nona ini bernama Astrid. Dia adalah seorang Witendz yang dipekerjakan oleh seorang bangsawan besar di wilayah timur."
Mendengar kata Witendz, memori mengenai prajurit elit berbaju besi yang pernah dibicarakan Ayah seketika berkelebat di benakku. Ayah langsung berdiri tegap. Tubuh raksasanya mendadak membuat tenda besar ini terasa sangat sempit dan mengancam.
"Witendz?" suara Ayah berubah tajam dan penuh curiga. "Untuk apa seorang Witendz berada di wilayah terpencil seperti ini?!"
Miroslav terlihat kebingungan melihat Ayah yang tiba-tiba bereaksi keras. Namun, Astrid justru sama sekali tidak merasa terancam. Wanita itu malah mendongak menatap Ayah yang menjulang tinggi di depannya. Matanya semakin menyala.
"Waaah... kau bahkan terlihat jauh lebih besar jika berdiri!" seru Astrid tanpa keraguan sedikit pun. "Hei, Raksasa! Maukah kau jadi suamiku?!"
Keheningan yang canggung dan membingungkan seketika menyergap tenda itu.
Miroslav menjatuhkan rahangnya, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ayah mematung kaku, wajah garangnya mendadak memerah karena bingung dan tak tahu harus merespons kata itu.
Mendengar itu, hawa panas mendadak naik ke dadaku. Aku yang sedari tadi hanya diam, langsung berjalan menghentak menghampiri Ayah. Aku memposisikan diriku di samping kaki Ayah, menatap wanita berbaju besi itu dengan sengit.
"Ayah, apa obrolannya sudah selesai?" tanyaku dengan nada sedatar es.
"B-belum..." jawab Ayah gugup, melirikku ke bawah.
"Lalu kenapa Ayah berdiri?" Aku menunjuk wajah wanita berambut pirang itu dengan telunjukku. "Dan siapa Tante ini?"
Astrid menunduk menatapku, memiringkan kepalanya dengan senyum miring yang menyebalkan. "Hei, anak kecil, apa kau masih punya ibu?"
Pertanyaan itu menghantamku. Ibu? Aku terdiam kaku. Aku melirik ke atas, menatap wajah Ayah. Melihat tatapanku, Ayah langsung bertindak.
Ehem!
Ayah berdeham sangat keras hingga menggetarkan udara di dalam tenda. Pria raksasa itu kembali duduk ke atas karpet kulit, memasang wajah sedingin mungkin. "Tak usah mencampuri urusan orang lain!" gerutunya pada Astrid.
Miroslav tertawa hambar, mengusap keringat dingin di pelipisnya. "Baiklah, baiklah. Tuan, Nona, mari kita tenang," ucapnya menengahi dengan cepat. "Nona Astrid, Tuan Goran dan putrinya ini baru saja mengalami musibah yang sama dengan yang dialami oleh Tuan Majikan Anda. Jadi beliau kemari untuk mencari informasi."
"Oh, ya?" Astrid menyilangkan lengannya di depan dada, senyum jahilnya meredup digantikan raut serius seorang pemburu. "Yah, aku berada di desa ini untuk mencari keberadaan anak gadis majikanku yang diculik. Aku melacak jejaknya dari timur dan baru saja sampai kemari kemarin malam."
"Kami juga mencari keluarga kami," balas Ayah pelan namun berat.
"Apa Tuan Goran mencari istri atau anak Tuan yang lain?" tanya Miroslav prihatin.
"Bukan, aku mencari..."
"Kakak Qatilah!" potongku cepat dan tegas. "Dan Tante Ruth."
Miroslav mengerjap pelan, keningnya berkerut. "Ruth? Nama itu... saya seperti pernah mendengarnya."
"Dia menantu Ezra, pendeta tua yang tinggal di lembah satu hari perjalanan dari sini," jelas Ayah.
"Aaaah! Saya ingat!" seru Miroslav, menepuk pahanya pelan. "Kalau tidak salah, suaminya itu adalah pemuda tangguh bernama Boaz, bukan? Ya ampun... tidak saya sangka dia adalah bagian dari keluarga Anda."
Setelah itu, ketegangan mereda dan kami mulai menata kepingan informasi yang ada.
Dari obrolan itu, aku mengetahui detail tentang musuh kami. Semua jejak baik dari penculik Kak Qatilah, penculik bayi desa ini, maupun penculik putri bangsawan yang diburu Astrid berakhir di titik yang sama: bukit lebat di belakang desa. Tim pencari Miroslav juga menghilang tanpa kabar di sana.
Astrid sendiri ternyata berasal dari wilayah utara yang sangat jauh. Ia dari suku Daner, yang aku sendiri tak tau di mana itu. Ia berkelana hingga ke wilayah timur dan diakui sebagai seorang Witendz karena kemampuan tempurnya, sebelum akhirnya disewa untuk misi pencarian ini.
Mendengar tujuan kami searah, Ayah kembali berdiri tegak. Mode pembunuhnya telah kembali menyala.
"Baiklah. Kalau begitu, kita berangkat sekarang juga," kata Ayah mutlak. Ia menatap Miroslav. "Miroslav, apa aku bisa meminjam beberapa senjata?"
"Tentu, silakan, Tuan. Walau hanya tersisa sedikit, ambillah apa yang sekiranya masih berguna di sana." Miroslav menunjuk rak kayu di sudut tenda.
Melihat itu, aku langsung menarik ujung jubah kulit Ayah. "Ayah, aku juga mau senjata."
Ayah menunduk, menatap mataku yang memancarkan tekad bulat. Tanpa mendebat, Ayah menarik pedang besi pemberian Kakek Ezra dari balik sabuknya. "Kau pakailah pedang ini," ucap Ayah sambil menyerahkannya padaku.
Pedang yang terlihat seperti pisau daging kecil di tangan Ayah itu, terasa sangat berat dan panjang saat kugenggam dengan kedua tanganku. Ujung besinya yang dingin memberiku rasa aman. Ini sempurna.
Lalu Ayah menoleh ke arah Astrid. "Hei, Nona Utara. Apa kau melihat kapak berukuran besar di sana?"
"Ada satu di sini!" sahut Astrid yang rupanya sudah membongkar-bongkar sudut rak senjata. Wanita itu mengangkat sebuah kapak penebang pohon berukuran besar. "Yah, ini cukup berat untuk ukuran manusia biasa, meski kurasa masih terlalu kecil untuk tangan raksasamu."
Dengan lincah, Astrid melemparkan kapak besar itu ke arah Ayah.
Hap!
Ayah menangkap gagang kapak itu di udara hanya dengan satu tangan raksasanya. Ia mengayunkannya sekali, mendengarkan suara belahannya memotong udara dengan mengerikan.
"Tak apa. Ini cukup untuk membelah tengkorak mereka," ucap Ayah dingin.
Setelahnya kamipun telah bersiap. Dengan senjata di genggaman dan amarah yang kembali mendidih di dada, aku, Ayah, dan Tante Astrid yang berzirah besi itu melangkah keluar dari tenda. Miroslav mengantar kami hingga ke batas desa, menatap punggung kami dengan secercah harapan yang letih.
Perburuan kami pun dimulai.