Patah hati setelah memergoki kekasih yang begitu ia cintai berselingkuh di belakangnya, membuat Kanaya menyerah pada keadaan. Dengan hati yang masih terluka dan kecewa, ia akhirnya menerima perjodohan yang sejak lama telah direncanakan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria bernama Rafael. Seorang pria tampan namun dingin, tenang, dan sulit di tebak.
Bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah jalan pelarian untuk mengubur rasa sakit hatinya. Namun, siapa sangka dibalik sikap Rafael yang kaku dan tak perduli, tersimpan ketulusan yang perlahan mampu membuat hati Kanaya kembali percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor.H.y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Rafael Dirgantara
Rafael Dirgantara, nama itu begitu di kenal di kalangan pebisnis maupun sosialita papan atas. Putra tunggal dari Darren Dirgantara sekaligus cucu pertama Theodore Dirgantara yang tak lain pendiri besar Dirgantara Group yang namanya berdiri kokoh di dunia bisnis tanah air. Sejak kecil Rafael sudah hidup di tengah kemewahan, kekuasaan, dan tuntutan tinggi keluarga besar Dirgantara.
Berbeda dengan pewaris muda yang gemar mencari perhatian, Rafael justru di kenal sebagai sosok yang dingin dan sulit di dekati apalagi setelah kecelakaan yang menimpa dirinya hingga merengut nyawa kedua orang tuanya. Tatapan matanya tajam, pembawaannya tenang, dan ucapannya selalu seperlunya. Ia bukan pria yang pandai berbasa-basi ataupun menunjukan emosinya dengan mudah. Bahkan senyumnya pun terbilang langka, seolah hanya di berikan untuk orang-orang tertentu yang benar-benar berarti dalam hidupnya.
Di usianya yang masih muda, Rafael sudah di percaya memegang banyak kendali penting di Dirgantara Group. Ketegasannya dalam bekerja membuat banyak orang segan padanya. Ia tidak suka kesalahan, ia tidak menyukai keramaian yang tidak penting, dan lebih memilih menyelesaikan semuanya dengan tindakan dibandingkan kata-kata.
Namun di balik sikap dingin dan tembok tinggi yang ia bangun, Rafael sebenarnya memiliki hati yang lembut. Ia diam-diam perhatian, selalu mengingat hal kecil tentang orang yang ia sayangi, dan tanpa banyak bicara akan menjadi tempat paling aman bagi mereka yang berhasil masuk ke dalam hidupnya.
* *
"Sampai kapan kamu mau seperti ini ?" tanya Opa Theo menatap cucu kesayangannya, "Opa sudah semakin tua dan sakit-sakitan. Apa kamu sudah tidak sayang lagi pada Opa mu ini, Rafa ?" lanjutnya.
Sedangkan Rafael hanya terdiam di tempat duduknya dengan kedua tangan saling meremat.
Melihat sang cucu yang masih diam, Opa Theo menghela napasnya kasar. Ia sudah hafal sekali dengan watak Rafael yang keras kepala itu.
"Opa lihat pencapaian kamu di perusahaan cukup bagus. Opa bangga sama kamu, di usia yang masih muda kamu sudah bisa menjadi kebanggan untuk keluarga." kata Opa Theo, membuat Rafael menatapnya.
"Bukannya ini yang selama ini Opa mau, bukan ?" lirih Rafael datar.
Opa Theo tersenyum samar, lalu mengangguk. "Betul. Dan sekarang Opa meinginkan hal lain darimu."
Rafael mengernyitkan dahi tak mengerti, "Kalau maksud Opa menyuruhku untuk kembali tinggal di rumah ini, untuk sekarang aku tidak bisa. Mungkin akan aku pikirkan lagi nanti-nanti." katanya, merasa sudah tahu yang akan di ucapkan oleh kakeknya itu.
"Baiklah... Kalau begitu. Tapi, Opa juga ingin kamu menikah." ucap Opa Theo santai, namun sedikit ada penekanan di sana.
Membuat Rafael sukses melebarkan matanya. "Menikah ?" tanyanya memastikan. "Yang benar saja Opa. Tidak, aku tidak akan menikah." sanggahnya.
"Rafa, Opa tidak akan lagi berbasi-basi denganmu. Menikahlah, dan kembali kerumah besar ini." ucapnya kali ini lebih tegas.
"Tidak Opa. sudah." Rafael berdiri dari duduknya, "Kalau Opa panggil aku kerumah cuma untuk membicarakan soal pernikahanku, lebih baik aku pergi."
Rafael berjalan keluar meninggalkan Opa Theo, namun baru beberapa langkah ia berhenti saat mendengar Opa Theo terbatuk-batuk lalu jatuh dari kursinya.
Rafael menoleh, dan langsung saja berlari meraih tubuh kakeknya. Begitupun juga Omar sang ajudan pribadi Opa Theo membantu Rafael untuk memindahkan Opa Theo ke atas ranjang tidurnya, lalu dengan cepat menelpon dokter pribadi keluarga itu.
"Opa, bangun. Opa dengar suara Rafael kan ?" lirih Rafael duduk di samping ranjang.
Disisi lain, Mauren yang sedang berada di luar langsung berlari masih ke dalam kamar ayahnya saat mendengar suara kegaduhan di dalam.
"Rafael, apa yang terjadi dengan Opa ?" ucapnya saat melihat ayahnya sudah terbaring lemas di atas ranjang tidurnya. Dan Rafael yang berada di samping ranjang, dengan tangan memegang erat salah satu tangan Opa Theo.
Rafael menggeleng pelan, "Tidak tahu tante, tadi Opa terlihat sehat-sehat saja. Sampai saat aku mau pergi, Opa tiba-tiba terbatuk lalu jatuh dan pingsan."
Rafael menatap Mauren yang wajahnya terlihat sedih itu, "Apa kesehatan Opa semakin menurun saat aku di Amerika ?" tanyanya.
Mauren menghela napasnya kasar, berjalan mendekat ke arah Rafael lalu menepuk pundak pemuda yang tak lain keponakannya sendiri, "Yah begitulah.. Semejak kepergian Mas Darren dan Mbak Zara, Papa jadi terlihat murung. Apalagi saat kamu memutuskan untuk tinggal Amerika mengurus perusahaan yang disana. Papa lebih murung dan tidak terlalu memikirkan kesehatannya." Mauren menyeka air mata yang jatuh di pipinya.
"Jadi Rafa, tante mohon sama kamu. Tolong, turuti keinginan Opa mu ini, apapun itu jangan membantahnya lagi." lirihnya menatap dalam Rafael yang berada di depannya.
Rafael terdiam nampak berfikir saat mendengar penuturan dari Mauren. Hingga pintu terbuka, terlihat Pak Omar dan seorang dokter keluarga datang untuk memeriksa Opa Theo.
* *
Setelah dokter selesai memeriksa Opa Theo, dan menjelaskan kalau Opa Theo hanya terlalu banyak pikiran dan kelelahan. Ia juga menyarankan semua keluarga untuk selalu memantau kesehatan Opa Theo, dan selalu mengingatkan untuk meminum obat rutinnya itu.
Setelah dokter pergi, Rafael ingin kembali masuk ke dalam kamar kakenya lagi. Namun tiba-tiba Andra yang tak lain sekertarisnya itu menelpon ada urusan yang harus di selesaikan sekarang juga.
Rafael pun tak sempat kembali ke dalam, ia melangkah kan kakinya menuruni tangga dengan cepat.
"Loh, Kak Rafa ? Kapan pulang ?" tanya Keisya saat dirinya berpapasan dengan Rafael saat anak menaiki tangga.
Rafael berhenti sejenak lalu mengalihkan pandangannya yang tadinya menatap ponsel beralih menatap Keisya sesaat, "Tadi sore." jawabnya singkat, dengan pandangan kembali menatap ponselnya lalu berjalan menuju pintu dan keluar dari rumah besar itu.
"Ck.. Masih aja kaya gitu. aku kira setelah lama di Amerika dia akan berubah manis, eh taunya malah lebih dingin." gerutu Keisya menatap punggung sepupunya itu yang kini telah hilang di balik pintu.
Mauren yang berjalan dari dapur setelah selesai menyuruh pembantu untuk membuatkan bubur untuk ayahnya. Ia menatap putrinya yang berdiri sambil menggerutu sendiri.
"Keisya... Kamu sudah pulang ?" tanya Mauren, membuat Keisya tersadar lalu berjalan dan memeluk ibunya.
"Bunda..." lirih Keisya, "Itu Kak Rafael ? Kapan pulang ?" tanyanya, melepas pelukannya dari Mauren.
"Kalau pulang ke Indonesia udah cukup lama, tapi kalau pulang kerumah baru aja tadi sore." jawab Mauren. Sedangkan Keisya hanya mengangguk.
Keisya sudah tidak kaget lagi dengan sikap kakak sepupunya itu, karena memang ia jarang sekali pulang kerumah besar. Kalau pun kerumah, itu pasti karena kakeknya yang menyuruh.
* *
Kanaya bolak-balik di atas tempat tidurnya, menarik selimut hingga menutupi setengah badannya. Namun, matanya sama sekali tidak bisa terpejam. Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong, sesekali menghembuskan napasnya pelan sambil mengubah posisi tidurnya berkali-kali.
Mungkin ini efek karena ia terlalu tidur sampai siang tadi. Alhasil, rasa kantuk itu justru hilang entah kemana. Suasana kamar yang sunyi malah membuat pikirannya semakin berisik, memutar banyak hal yang sebenarnya ingin ia lupakan.
"Harusnya tadi Keisya suruh nginep aja disini, hufft.." gumam Kanaya.
Ia beranjak bangun lalu mengambil ponselnya. Lalu mengirim pesan pada Keisya.
( "Ke Cafe yuk... Aku nggak bisa tidur nih.")
Tak selang lama Keisya membalas, ("Sorry Beb, aku nggak bisa keluar. Malam ini mau nemenin Opa, tadi dia habis drop lagi.")
Kanaya menghelas napasnya kasar, ("Oke, semoga Opa cepet sehat lagi ya.")
Setelah mengirim pesan pada Keisya kembali, Kanaya berjalan menuju ke ruang ganti. Dengan pakaian santai tak lupa memakai jaket, rambutnya di kuncir kuda dengan poni yang disisakan. Ia keluar kamar, berjalan menuruni tangga. Ia memutuskan untuk keluar rumah untuk pergi ke cafe terdekat dari rumahnya.
"Non Kanaya mau kemana malam-malam begini ? Mau saya antar non ?" tanya Pak Ujang supir pribadi keluarganya.
"Mau ke cafe depan Pak, nggak usah laporan sama Daddy dan Mommy. Mereka udah tidur kayanya," jawab Kanaya.
"Kalau begitu, sebentar Bapak ambil mobil digarasi dulu non." Pak Ujang yang berbalik hendak melangkah ke garasi mobil terhenti saat Kanaya kembali memanggil.
"Eh.. Tunggu.. Pak. Nggak usah pakai mobil deh, aku pinjam motor Pak Ujang aja yah. Lagian dekat kok cuma depan situ juga." ucap Kanaya, lalu mengambil kunci motor di saku baju Pak Ujang.
"Tunggu non.." panggil Pak Ujang menyusul Kanaya yang sudah memakai helm dan duduk di motor matic miliknya.
Kanaya menoleh, "Udah, Bapak tenang aja. Aku jamin akan membawa motor Pak Ujang lagi dengan selamat tanpa lecet."
"Bukan gitu non, kalau motor Pak Ujang si nggak masalah. Yang masalah itu kalau non Kanaya kenapa-kenapa, bisa habislah riwayat saya non." ucap Pak Ujang cemas.
"Udah nggak usah khawatir, aku juga akan kembali dengan selamat kok. Tanpa lecet." lirihnya dengan mengerlingkan sebelah matanya. Lalu menghidupkan mesin motornya, dan berjalan pergi meninggalkan halaman rumahnya.
Sedangkan Pak Ujang hanya melongo saja melihat tingkah anak majikannya itu sambil berdoa semoga Tuhan melindungi Kanaya selamat sampai kembali lagi kerumah.
* *
Di sebuah cafe yang tak jauh dari rumahnya, Kanaya duduk di sudut ruangan dengan segelas cappucino hangat ditangannya. Jemarinya melingkar pelan pada cangkir itu, sementara tatapannya lurus mengarah ke panggung kecil di depan sana.
Alunan live music yang mengisi kafe malah itu terdengar lembut dan menenangkan. Suara gitar akustik berpadu dengan vocal penyanyi pria yang membawakan lagu sendu, membuat suasana terasa hangat.
Sesekali menyesap cappucino miliknya perlahan, menikmati rasa pahit bercampur creamy yang memenuhi indra pengecapnya. Aroma kopi yang khas bercampur dengan suara percakapan para pengunjung lain, menciptakan suasana nyaman yang entah kenapa sedikit membantu mengalihkan pikirannya.
Namun kenyaman itu seketika berubah saat pintu kafe terbuka dan menampilkan sosok yang paling ingin ia hindari malam ini.
Siapa lagi kalau bukan Raditya.
Pria itu berjalan masuk ke dalam kafe, hingga tanpa sengaja tatapan mereka saling bertemu. Seketika tubuh Kanaya menegang. Napasnya terasa tercekat begitu melihat sosok yang sudah membuat dirinya sakit dan patah hati.
Raditya tampak terkejut saat melihat Kanaya berada disana. Ia pun mencoba melangkah mendekati Kanaya.
Namun Kanaya lebih dulu berdiri.
Dengan buru-buru, Kanaya berdiri dan berjalan cepat mencoba menghindari lelaki yang sudah menyakitinya itu. Ia berjalan cepat keluar dari kafe dengan napas yang sedikit memburu.
"Kanaya, Tunggu!"
Suara Raditya terdengar semakin dekat dari belakang, membuat Kanaya semakin terburu-buru. Ia sama sekali tidak ingin lagi bertemu dengan lelaki itu, apalagi berbicara dengannya.
Karena terlalu panik, tanpa sadar Kanaya menabrak seseorang di pintu kafe.
Brukk!
Tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan, kalau saja pria itu tidak sigap menahan lengannya.
"Hati-hati,"
Suara bariton itu membuat Kanaya refleks mendongak. Untuk sesaat ia terdiam.
Seorang pria tinggi dengan setelan kemeja hitam berdiri di hadapannya. Wajahnya tampan dengan rahang tegas dan tatapan mata yang terlihat dingin, tetapi genggaman tangannya terasa hati-hati saat menahan tubuh Kanaya agar tidak jatuh.
Namun sebelum Kanaya sempat mengatakan apapun, suara Raditya kembali terdengar.
"Kanaya !"
Raut wajah Kanaya langsung berubah panik. Ia menoleh sekilas dan melihat Raditya sudah hampir sampai ke arah mereka.
Entah karena terdesak atau pikirannya sudah tidak bisa bekerja dengan baik, Kanaya tiba-tiba memegang lengan Rafael.
"Tolong saya.." bisiknya.
Rafael sedikit mengernyit menatap gadis di depannya.
"Pura-pura jadi pacar saya.. Cuma sebentar. please..."
* * * *
skrng psah kmar,tar lma2 jg dia dtng sndri.....🤭🤭🤭...
yg ngsih btas spa,yg lmpar bntal spa...
tp gengsi buat ngaku sih.....
Aku udh mmpir....slm knal....
btw,gmna nih mlm prtmanya???
bkln perang atw sling adu punggung???atw yg 1 tdr d rnjang,yg 1 d sofa....🤣🤣🤣