Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 Saat Ravin Melindunginya Dan Tangisan Pertama Arum
Pagi menjelang siang terasa cukup ramai di kota. Langit biru cerah menggantung di atas jalanan yang dipenuhi kendaraan dan mahasiswa yang lalu-lalang menuju kampus masing-masing.
Di dalam mobilnya, Ravin sesekali melirik layar ponsel yang terhubung di dashboard. Senyum tipis muncul ketika melihat pesan terakhir dari Dewi pagi tadi.
Hari ini Dewi mulai latihan penuh untuk penampilan ballerina besar bulan depan.
Jari Ravin bergerak cepat mengetik pesan sambil menunggu lampu merah.
“Hari ini latihan ya? Jangan terlalu capek.”
Tak lama balasan muncul.
“Aku bakal fokus latihan mulai sekarang.”
Ravin tersenyum kecil membaca itu. Bahkan hanya pesan singkat dari Dewi saja sudah cukup membuat suasana hatinya membaik.
“Semangat calon ballerina terkenal.”
Beberapa detik kemudian muncul balasan lagi.
“Kalau aku terkenal jangan lupa sombong ya.”
Ravin tertawa kecil sendiri di dalam mobil.
“Mustahil lupa sama kamu.”
Senyumnya bertahan cukup lama sampai akhirnya mobil memasuki area kampus.
Namun suasana hati Ravin sedikit berubah ketika berpapasan dengan Juna di koridor fakultas. Pria itu berjalan bersama beberapa dosen sambil membawa map berisi berkas kelulusan. Wajahnya tenang dan rapi seperti biasa.
Beberapa mahasiswa bahkan tampak mengucapkan selamat kepadanya.
“Katanya Juna direkomendasiin langsung ke rumah sakit besar itu.”
“Iya, gila sih masa depannya udah jelas banget.”
Bisik-bisik itu terdengar samar di telinga Ravin.
Juna memang selalu unggul dalam hal akademik. Sebentar lagi pria itu akan mendapatkan gelar kedokterannya dan bahkan direkomendasikan ke rumah sakit terkenal sebelum resmi lulus.
Ravin tanpa sadar menunduk melihat dirinya sendiri.
Untuk sesaat… ada rasa kalah yang muncul di dalam hati.
“Beda jauh ya…”
Juna menyadari keberadaan Ravin lalu menghampiri dengan senyum tipis.
“Datang juga.”
Ravin memasang ekspresi santai. “Iya.”
“Kamu gimana? Skripsi aman?”
“Masih hidup.”
Juna tertawa kecil mendengar jawaban itu.
Meski terlihat biasa saja, Ravin tahu jelas kalau dirinya dan Juna seperti berada di jalur kehidupan yang berbeda. Juna sudah memiliki masa depan besar yang jelas di depan mata.
Sedangkan dirinya… masih berusaha mengejar semuanya pelan-pelan.
Namun saat mengingat Dewi, sudut bibir Ravin kembali terangkat tipis.
“Soal Dewi… gue masih unggul.”
Pikiran itu cukup membuat hatinya sedikit tenang.
Ravin menghembuskan napas panjang lalu menepuk pundak Juna pelan.
“Gue nggak niat saingan sama lo.”
Juna mengangkat alis.
“Gue juga mau fokus sama masa depan gue sendiri,” lanjut Ravin. “Advokat kan nggak gampang.”
Untuk pertama kalinya, nada suara Ravin terdengar lebih dewasa dan serius.
Ia memang tidak secerdas Juna di dunia akademik, tetapi Ravin juga memiliki impiannya sendiri untuk menjadi advokat hebat suatu hari nanti.
Namun satu hal yang tetap tidak ingin ia lepaskan…
Dewi.
“Walaupun soal Dewi… gue nggak bakal nyerah,” batin Ravin pelan.
Sementara itu di rumah sakit, ibu Ravin sedang menjalani terapi rutinnya. Ruangan terapi pagi itu terasa dingin dengan aroma khas obat-obatan dan suara alat medis yang berdengung pelan.
Namun berbeda dari biasanya, tubuhnya terasa jauh lebih ringan.
Bahkan langkahnya terasa lebih kuat saat berjalan menuju ruang pemeriksaan.
Dokter yang sudah lama menanganinya terlihat heran saat melihat hasil awal pemeriksaan jantungnya.
“Tekanan darah ibu bagus sekali hari ini.”
Ibu Ravin tersenyum kecil. “Benarkah?”
“Jauh lebih stabil dari sebelumnya.”
Meski senang, pikiran ibu Ravin justru teringat kejadian pagi tadi.
Arum.
Tangan gadis misterius itu.
Dan rasa hangat aneh yang mengalir ke tubuhnya.
Karena penasaran, dokter akhirnya menyarankan pemeriksaan lengkap sekalian.
Beberapa waktu kemudian…
Ibu Ravin duduk tegang menunggu hasil check-up di ruang dokter. Jemarinya saling menggenggam cemas.
Dokter membuka hasil pemeriksaan cukup lama dengan wajah bingung.
“Ini… aneh.”
Deg.
Jantung ibu Ravin langsung berdebar.
“Ada masalah dok?”
Dokter justru menatap hasil itu sekali lagi seperti memastikan dirinya tidak salah baca.
“Kondisi jantung ibu membaik sangat signifikan.”
“Apa?”
“Hasilnya bahkan…” dokter menghela napas pelan. “Hampir normal.”
Ibu Ravin membelalakkan mata tidak percaya.
“Normal…?”
Dokter mengangguk pelan masih terlihat heran sendiri.
“Kalau melihat hasil ini, tubuh ibu seperti mengalami pemulihan besar dalam waktu singkat.”
Wanita itu langsung menahan napas. Matanya mulai berkaca-kaca.
Selama bertahun-tahun menjalani pengobatan, baru kali ini ia mendengar kata itu.
Normal.
Perlahan ia memegang dadanya sendiri.
Rasa sesak yang biasanya selalu ada memang benar-benar hilang.
“Ini seperti mukjizat…” gumamnya lirih.
Namun di balik rasa bahagia itu, wajah Arum kembali muncul di pikirannya.
Tatapan tenang gadis misterius yang memegang tangannya pagi tadi.
Dan untuk pertama kalinya…
Ibu Ravin mulai percaya bahwa Arum mungkin benar-benar membawa sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dunia biasa.
Sore mulai turun perlahan ketika langit berubah kelabu di atas kota. Angin dingin berembus pelan di antara pepohonan taman, sementara daun-daun kering bergerak jatuh di atas jalan setapak yang sepi.
Di bangku taman dekat perumahan Ravin, Arum duduk sendirian sambil menatap kosong ke kolam kecil di depannya. Wajahnya terlihat muram, jauh lebih dingin dibanding biasanya.
5 hari sejak ia meninggalkan kuil.
Namun tidak ada tanda hukuman dari para dewa yang selama ini selalu menghantuinya.
Dan justru itu yang membuat Arum gelisah.
“Aneh…” gumamnya lirih.
Selama ratusan tahun, hidupnya selalu dipenuhi rasa takut dan hukuman. Kini saat semuanya mendadak sunyi, ia malah merasa tidak tenang.
Dan tentang dirinya sendiri yang mulai berubah sejak bertemu pria itu.
Sementara itu, Ravin baru sampai rumah sepulang dari kampus. Tasnya masih tersampir di bahu ketika ibunya berkata kalau Arum keluar sejak siang tadi.
“Dia belum balik?”
“Iya. Dari tadi duduk melamun terus katanya.”
Ravin menghela napas kecil lalu berjalan keluar lagi mencarinya.
Entah kenapa pikirannya terus teringat wajah Arum sejak pagi. Gadis itu memang aneh, tetapi semakin lama Ravin mulai sadar kalau di balik semua sikap dinginnya… ada kesepian besar yang tidak pernah ia tunjukkan.
Tak lama kemudian Ravin menemukan Arum di taman dekat rumah.
Wanita itu terlihat terkejut saat melihatnya datang.
“Kamu mencariku?”
“Iya lah,” jawab Ravin santai sambil duduk di sebelahnya. “Masa tamu gue hilang gue diem aja.”
Arum menatapnya diam beberapa detik.
Sore itu wajahnya terlihat berbeda. Tidak dingin seperti biasanya. Malah terlihat sedih.
Ravin memandang lurus ke depan sambil menghela napas pelan.
“Arum… kita perlu ngomong serius.”
Angin sore berembus pelan melewati mereka.
“Aku kasihan sama kamu,” lanjut Ravin jujur. “Tapi semua ini harus jelas.”
Arum perlahan menunduk.
“Aku nggak mau ada salah paham,” ucap Ravin lagi. “Apalagi soal Dewi.”
Nama itu membuat dada Arum terasa sedikit aneh, tetapi ia tetap diam mendengarkan.
“Kita bisa jadi teman baik,” kata Ravin pelan. “Dan kalau kamu butuh bantuan… gue bakal bantu.”
Untuk pertama kalinya, mata Arum membesar pelan.
Ia tidak percaya mendengar itu.
Seumur hidupnya, tidak pernah ada seseorang yang berbicara padanya dengan tulus tanpa rasa takut atau benci.
“Kau… akan membantuku?” tanyanya lirih.
Ravin tersenyum kecil.
“Iya. Tapi jangan bikin hidup gue makin ribet juga.”
Arum menatap Ravin lama sekali. Hatinya yang selama ini kosong terasa hangat untuk pertama kalinya.
Tanpa sadar, mereka mulai berjalan pulang bersama melewati jalanan sore yang mulai ramai kendaraan.
Lampu jalan satu per satu mulai menyala ketika matahari tenggelam.
Ravin sesekali bercanda ringan membuat Arum diam-diam memperhatikannya. Wanita itu bahkan mulai tertawa kecil walau sangat pelan.
Namun beberapa detik kemudian—
BRAKKK!!
Suara klakson keras memecah jalanan.
Sebuah mobil dari arah berlawanan melaju tak terkendali.
Rem blong.
Mobil itu langsung mengarah ke Arum.
Mata Arum membesar kaget.
Tubuhnya membeku.
Namun Ravin yang menyadari lebih dulu langsung menarik tubuh Arum kuat-kuat ke pelukannya.
“ARUM!!”
DUAAKKK!!
Tubuh Ravin terpental keras menghantam aspal.
Suara benturan itu membuat jalanan langsung kacau.
Arum jatuh terduduk di pinggir jalan dengan mata gemetar. Rambutnya berantakan, napasnya memburu. Namun ketika melihat Ravin Darah.
Banyak darah di dekat kepalanya.
Tubuh pria itu terdiam tidak bergerak di tengah jalan. Mata Arum langsung bergetar hebat.
“R-Ravin…?”
Ia merangkak mendekat dengan tangan gemetar.
“Ravin…”
Tidak ada jawaban.
Untuk pertama kalinya sejak ratusan tahun hidupnya…
Air mata jatuh dari mata Arum.
“Bangun…” suaranya pecah. “Bangun…”
Orang-orang mulai berkerumun panik sementara ambulans dipanggil.
Arum hanya bisa memegang tangan Ravin yang mulai dingin sambil menangis tanpa suara.
Malam itu suasana rumah sakit berubah tegang.
Lampu putih koridor terasa menusuk mata sementara suara langkah perawat dan dorongan ranjang medis terdengar buru-buru.
Ravin langsung dibawa ke ruang operasi.
Tubuhnya penuh luka dan darah.
Tak lama kemudian ibu Ravin yang baru pulang dari rumah sakit lain langsung kembali panik setelah mendapat kabar kecelakaan itu.
“RAVIN?!”
Wanita itu hampir jatuh ketika melihat Arum berdiri lemas di depan ruang operasi dengan wajah penuh air mata.
“Apa yang terjadi…” Arum tidak mampu menjawab.
Tangannya masih dipenuhi noda darah Ravin.
Beberapa menit terasa seperti berjam-jam.
Suasana koridor dipenuhi ketegangan dan tangis tertahan.
Hingga akhirnya pintu ruang operasi terbuka.
Dokter keluar dengan wajah serius.
“Keluarga pasien?”
Ibu Ravin langsung berdiri gemetar. “Saya ibunya…”
Dokter menghela napas berat.
“Pasien mengalami benturan sangat keras di bagian kepala.”
Kalimat itu langsung membuat tubuh ibu Ravin melemas.
“Kami akan melakukan operasi secepatnya.”
“Dokter… anak saya bakal selamat kan…?”
Dokter terdiam beberapa detik sebelum menjawab pelan.
“Kondisinya sangat kritis.”
Arum menunduk perlahan. Dadanya terasa sesak luar biasa.
“Dan…” lanjut dokter hati-hati, “jika operasi berhasil pun… kemungkinan pasien mengalami koma cukup besar.”
Kalimat itu seperti menghancurkan udara di sekitar mereka.
Ibu Ravin langsung kehilangan tenaga hingga hampir pingsan. Tubuhnya gemetar hebat sambil menangis tertahan.
Sedangkan Arum hanya berdiri diam di depan ruang operasi…
Dengan air mata yang terus jatuh tanpa bisa dihentikan.