Cinta? Apakah rasa itu akan hadir? Padahal posisinya hanya pengganti kakaknya sebagai pengantin pria, terlebih pernikahan itu juga karena perjodohan tidak ada istilah mengenal apalagi pacaran.
Namanya Azzam, dia sosok yang berhati lembut, tidak dingin bagaikan es dan salju.
Lalu, akankah cinta itu tumbuh bersamaan dengan interaksi yang sering ia lakukan bersama istrinya? Terlebih istrinya belum menginjak usia 20 tahun.
"Dasar pedofil" begitulah kalimat yang sering keluar dari mulut istrinya.
Kelanjutkan kisahnya? stay tuned ajaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ende, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Welcome Back to Jakarta
Tepat jam 10.35 pesawat yang mereka naiki tiba di Jakarta. Sekarang Azzam dan Maira sudah berada di dalam mobil menuju rumah Maira. Barang bawaannya sudah seperti orang yang sedang pindah rumah. Bagasi penuh, jok belakang akhirnya di lipat karena bagasinya tidak memungkinkan untuk memuat seluruh barang bawaannya.
Deretan gedung pencakar langit mulai terlihat, kepadatan jalan rayapun mulai terasa setelah mereka keluar dari tol. Jalanan ibu kota yang tak pernah sepi, kemacetan sudah menjadi rutinitas yang dirasakan warga Jakarta. Mobil mereka merayap dengan lambat. Andai pemerintah dan warga ikut turut berbenah mungkin keadaan ibu kota akan jauh lebih baik lagi.
Azzam dan Maira tampak lelah sudah 1 jam lamanya mereka berada di mobil tapi belum sampai juga di kediaman mereka. Bahkan Azzam dan Maira sudah bangun sejak jam 3 dini hari. Karena memang jadwal pesawatnya pagi jadi mau tidak mau mereka harus kembali dengan hari yang masih gelap gulita.
ting...ting...ting, notifikasi pesan masuk dari ponsel Maira. Maira mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya. Sesaat matanya langsung mendelik tajam ke ponselnya. Maira melihat grup yang sudah aktif sedang membicarakan struktur kepanitiaan secara daring. Pada bagian bendahara nama Maira terpampang jelas di sana. Dia mendengus kesal, lagi-lagi dia harus mengurus uang umat.
"Kamu kenapa Mai?" tanya Azzam yang memperhatikan tingkah istrinya.
"Engga papa... cuma kesel aja. Masa aku harus jadi bendahara lagi... puyeng aku kak ngitungin duit orang. Padahalkan yang anak Feb ada kenapa harus aku yang notabenenya psikologi"
"Yaudah gapapa disyukuri dan dinikamati aja... Mungkin mereka semua percaya sama kamu, jarang loh orang yang naro kepercayaan begitu besar"
"Kamu terima aja amanahnya yaaa.... nanti kakak bantuin deh ngitung gini-gini kakak anak akuntan dulunya" imbuh Azzam meyakinkan Maira kemudian menggenggam tangan Maira. Maira mengangguk pelan.
"Kak kita mampir ke supermarket dekat rumah yaaa... Maira mau beli paper bag dulu" ujarnya setelah menyadari belum membeli paper bag untuk membungkus oleh-oleh yang akan diberikan pada teman-temannya.
"Iyaaa bentar lagi nyampe kok..." Azzam tersenyum
"Pak Kita mampir di supermarket depan yaaa" titah Azzam pada sopir taxi.
"Iya mas sebentar yaa... masih banyak mobil di depan" jawab sang sopir.
10 menit berlalu mobil taxi itu sudah memasuki area basement supermarket. Maira dan Azzam langsung turun masuk ke dalam. Maira sudah sibuk mencari paper bag dengan berbagai macam ukuran dan motif. Tangannya sibuk memilih jika tidak cocok dia kembalikan lagi di rak, jika cocok langsung dia masukkan ke keranjang.
"Kakak mau makan apa? tadi pagi kita cuma makan roti" tanya Maira menolehkan kepalanya ke Azzam.
"Ehhm seterah kamu deh... emangnya bunda ga masak?"
"Engga tadi bunda udah kirim pesan kalo belum masak, bunda lagi pergi, sore baru balik"
"Oh yaudah seterah kamu aja mau masakin apa"ucap Azzam sembari mendorong keranjang trolley yang sudah penuh dengan paper bag.
"Emang siapa yang bilang mau masakin... orang aku mau delivery kok haha..." Azzam langsung menampakkan muka masamnya. Maira membekap mulutnya, menahan tawa. "Tenang kaa... besok pagi aja Maira masakin, sebelum kakak berangkat ke Malay yaaa"
Azzam tersenyum simpul.
"Ah yasudahlah... aku juga tidak merasa percaya jika kamu bisa masak" Azzam mencibir "Yaudah kalo udah selesai kita pulang" Azzam mendorong trolley menuju kasir.
Setelah selesai mereka kembali menuju mobil yang terpakir di basement supermarket.
"Mai... ini taroh depan aja deh udah ga muat di belakang!" ucap Azzam dengan kedua tangan yang penuh menenteng belanjaan Maira.
"Iya taroh di depan aja, yang ini biar Maira pegang" Maira mengangkat tangannya yang juga menenteng satu plastik berukuran besar.
Azzam membuka pintu mobil depan dan memasukkan belanjaannya ke sana. Sementara Maira sudah duduk manis di dalam mobil, tak lama Azzam juga sudah mendaratkan pantatnya duduk di samping Maira.
"Sudah Pak... Mari melanjutkan perjalanan" ucap Azzam pada sang sopir, dia menggangguk lalu melajukan mobilnya keluar dari supermarket.
***
"Pak, ini Maira..." Maira menurunkan kaca mobilnya memanggil satpam yang ada di depannya. "Pak Irul tolong bantu bawain barang yang ada di bagasi ke dalem rumah yaaa" ucap Maira pada satpam yang ada di rumahnya.
"Oh iya mba sebentar bapak bukain gerbang dulu" jawab Pak Irul sembari membuka gerbang rumah Maira. Sesampainya di depan rumah Maira langsung keluar terlebih dahulu dan membuka pintu rumahnya.
"Kak langsung taroh di dalem rumah aja yaa..." ucap Maira pada Azzam yang sudah mengangkat kardus barang bawaannya.
Azzam, Pak Irul, dan sopir taxi saling bahu membahu mengangkat barang bawaan pengantin baru itu.
"Kamu buatin minum dulu gih buat sopirnya" perintah Azzam.
"Ehh iya kak sebentar aku ke dapur dulu" Maira melenggang pergi menuju dapur. Dia membuka kulkas dan mengambil jeruk disana. Diperasnya jeruk itu dan dimasukkan ke dalam blender yang telah Maira isi dengan Air dan gula. Maira membaginya ke dalam tiga gelas lalu menaruh bongkahan es pada masing-masing gelas. Maira juga menyiapkan kudapan. Setelah selesai dia kembali ke ruang tamu.
"Mari Pak silahkan diminum dulu...." Ucap Maira sopan sembari menaruh gelas di meja, meletakannya tepat di depan ketiga laki-laki itu.
"Aduh mbaa saya jadi engga enak ngerepotin begini" ucap sopir taxi.
"Gapapa Pak, pasti bapak lelah hampir 2 jam mengemudi..." jawab Azzam dengan sopan menghilangkan ketidaknyamanan sang sopir.
Sang sopir tersenyum "Makasih ya mas..." dia berterimakasih dengan tulus.
"Iya Pak... jangan sungkan diminum aja kalo mau istirahat dulu juga gapapa"
"Eh engga mas habis ini saya mau lanjut lagi" tolak sopir taxi dengan halus.
"Yaudah Pak diminum dulu jus jeruknya... Pak Irul juga silahkan diminum, jangan diliatin doang" Azzam memulai untuk meminum terlebih dahulu kemudian yang lainnya mengikuti.
"Kak Aku ke atas dulu yaaa...." bisik Maira di telinga Azzam, Azzam menganguk. Maira melenggang pergi menuju kamarnya yang berada di lantai 2.
Setelah semua selesai minum dan bercakap sebentar sopir taxi akhirnya pamit untuk kembali melanjutkan pekerjaannya. Azzampun memberikan uang serta tipnya pada sang sopir.
"Mas, ini kelebihan..." ucap sopir taxi kemudian mengembalikan kelebihan uang yang diterima.
"Gapapa Pak anggep aja itu tip dari saya.. jangan dikembalikan" Azzam menepis halus tangan sopir yang hendak mengembalikan uangnya.
"Terimakasih Mas... saya gatau lagi harus balas kebaikan mas gimana..."
"Iya sama-sama... semoga bisa bermanfaat yaa pak"
"Baik mas, saya akan gunakan ini dengan sebaik mungkin... kalau begitu saya pamit dulu yaaa... Assalamualaikum" sopir taxi itu menyalami Azzam dan Pak Irul.
"Waalaikumussalam hati-hati Pak..." ucap Azzam dan Pak Irul berbarengan. Sopir itu menuju mobilnya kemudian keluar dari rumah Maira.
"Mas saya ke depan lagi ya..." ujar Pak Irul pada Azzam.
"Oh iyaa Pak silahkan dilanjutkan kembali"
Pak Irul melangkahkan kakinya menuju gerbang dan menutupnya kembali, sementara Azzam segera pergi menuju Maira.
"Maiii laper...." ujar Azzam sembari mengelus-elus perutnya yang datar.
"Oh iya kakak sebentar lagi dateng kok makanannya"
"Kakak Mandi dulu gih udah Maira siapin airnya, kalo bajunya kakak siapin sendiri"
"Kenapa ga sekalian kamu siapin?"
"Dari kemaren juga kakak nyiapin baju sendiri kan" jawab Maira tanpa menoleh pada Azzam.
Lagian mana mungkin aku mau megang pakaian dalamnya... Maira bergidik geli membayangkan hal itu.
Azzam membuka koper dan mengambil baju gantinya. Kemudian masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Maira yang duduk di depan meja riasnya.
***