Genre: Romance, Angst.
Warning: Novel ini mengandung tema
dan muatan dewasa (21+). Juga
mengandung cerita yang
menyesakkan dada. Bagi
pembaca yang belum cukup umur
atau tidak nyaman dengan
konten tersebut,
dianjurkan tidak membacanya.
Follow ⬇️
ig : @aegiyaa5
wattp@d : @aegiyaa
***
"Bukankah ini yang kau inginkan, Yoon Ji? "
Sehun memiringkan kepala sambil menaikkan salah satu sudut bibirnya ke atas. Matanya sudah dipenuhi kabut gairah yang disertai emosi menggelora. Area sensitifnya sudah menegang hingga dia butuh pelampiasan dengan segera. Entakan keras menusuk dari daging tak bertulang yang sudah berdiri menantang sejak tadi, akhirnya menjadi wujud nyata dari semua ancaman Sehun yang tak pernah main-main pada istrinya yang kini sudah mulai kurang ajar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aegiyaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bad News
Ini sudah minggu kedua Sejeong terbaring di St Thomas Hospital tanpa ada perubahan signifikan pada kesehatannya. Bertambahnya hari malah semakin membuat kondisi kesehatannya melemah.
Apa yang harus aku lakukan, nak? Untuk membahagiakanmu, apa yang harus aku lakukan?
Hatinya sakit. Ia bisa merasakan penderitaan putri semata wayangnya itu. Penyakitnya semakin berkembang dan Sejeong tidak terlalu mempedulikan bahkan cenderung membiarkan penyakit ganasnya tumbuh. Menurut dokter yang menanganinya dulu, gadis itu tak pernah mau ketika disuruh untuk melakukan kemotherapy. Sejeong tak mempunyai semangat hidup. Itu bisa dia lihat ketika pertama kali pria baya itu berkunjung ke apartemen sederhananya di Seoul. Namun... Sang Hyun bisa melihat semangat itu mulai muncul ketika Sejeong bertemu dengan Sehun.
Sehun itu acuh, dingin, dan bersikap tidak ramah kepada anaknya. Sang Hyun tak menutup mata akan hal itu. Tapi kebahagiaan anaknya ada pada Sehun. Dekat dengan Sehun membuat Sejeong terlihat lebih hidup. Dan misinya sekarang itu... Dia ingin membuat Sejeong terus merasa
lebih hidup. Itulah rencana yang terus ada di otaknya yang ingin ia wujudkan.
" Ayah... "
Panggil seseorang dari ambang pintu dengan wajah yang tampak tegang.
Dengan tangan yang tersembunyi di balik saku celananya, ia berjalan mendekati Sang Hyun.
" Mau apa kau kesini, Sehun? "
Tanya Sang Hyun dingin.
" Tenang saja. Aku datang kesini bukan untuk secara khusus menemui gadis yang kau cintai. "
" Hentikan omong kosongmu, Sehun ! "
" Kau yang harus menghentikan segala omong kosongmu, Ayah ! "
" . . . . . "
Sehun mendengus.
" Tampaknya kau lupa terhadap apa yang kau katakan kepadaku. Kau harus menjelaskan... "
Sehun menjeda.
" Apa maksudmu bilang kalau Sejeong itu putrimu? "
Sehun menghujani Sang Hyun dengan tatapan menghujam. Melihat keingintahuan Sehun yang besar, Sang Hyun tersenyum miring dengan alis yang terangkat satu.
" Kau sungguh ingin tahu yang sebenarnya, Sehun? "
" Jangan membuang waktuku ! "
Sehun menekankan suaranya di setiap kata.
" Baiklah... Seperti yang kau dengar Sehun... Sejeong memang anakku. Putri kandungku. "
" Omong kosong! "
" Kau yang harus berhenti dari omong kosongmu yang bilang kalau aku mencintainya dalam tanda kutip. Pahamkan maksudku? "
" . . . . . "
" Apalagi yang kau ingin tahu, hem? "
Sehun terdiam dengan pandangan fokus ke lantai. Otaknya masih mencerna fakta baru dari ayahnya yang cukup membuatnya syok.
" Jadi ini alasanmu dulu menentang hubunganku dengannya? Aku dan Sejeong itu saudara kandung? "
" Tidak ! Tidak sama sekali ! Kalau dari dulu aku tau Sejeong adalah putriku, aku tidak akan memaksamu menikah dengan gadis yang tak kau kenal sebelumnya. Aku akan membiarkanmu mencintai Sejeong sepuas hatimu. "
Mata Sang Hyun menerawang. Dari sorot matanya terlihat rasa penyesalan yang dalam. Dan ini semakin membuat Sehun tak mengerti apa maksud Sang Hyun sebenarnya.
" Apa maksudmu, Ayah?! "
Sehun mulai tak sabaran dengan penjelasan dari ayahnya yang menurutnya terlalu bertele-tele.
" Kau masih belum mengerti ? Yang bukan darah dagingku disini adalah kau Sehun... "
Mata Sehun terbelalak. Apa apaan ini?
" Tidak mungkin... "
Bahunya merosot dan suaranya pun melirih. Sehun syok tentu saja. Seumur hidupnya yang ia tahu adalah Sang Hyun dan Se Na merupakan orangtua kandungnya. Walaupun terkadang Sehun membenci Sang Hyun karena keegoisannya yang selalu memaksakan kehendak kepada Sehun, dan kerapkali menjadikan Sehun layaknya robot yang bisa sesuka hati dikendalikan, tapi rasa sayang itu tetaplah ada. Dan Sehun merasa butuh penjelasan lagi lebih dari ini.
" Ke-kenapa ayah? Kalau aku bukan anakmu, kenapa kau tak pernah jujur padaku?"
" Karena aku merasa itu tak dibutuhkan."
" Ouh... "
Sehun manggut-manggut lalu tertawa mengejek.
" Jadi... Sekarang kau merasa perlu memberi tahu aku, begitu? "
" Baguslah kalau kau paham. "
Sehun tak menjawab lagi. Dibalik wajah datarnya, ia terluka. Ia sangat terluka sampai ia tak bisa berkata apapun untuk saat ini.
" Lalu... Siapa orang tuaku? "
" Tampaknya kau sangat ingin tahu, Sehun. Baik-baik... Akan aku ceritakan. "
Sang Hyun menggenggam tangannya sendiri ke belakang tubuhnya lalu berjalan mendekat dan berhenti di samping tubuh jangkung Sehun.
" Sejeong adalah anakku dengan kekasihku sebelum aku dipaksa menikah dengan Se Na. Dan kau Sehun... Kau adalah anak dari sepupu Se Na yang meninggal akibat kecelakaan. Kedua orangtuamu tak ada yang selamat kecuali kau. Se Na tak bisa memberikanku anak. Itu alasan Se Na mengadopsimu. Dan Sejeong, aku baru tahu kalau dia anakku belum lama. Karena So Yeon mantan kekasihku, tak sempat memberitahukan tentang itu sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya. ( Find the truth) "
" Aku menghalangi hubunganmu dengannya karena yang aku tahu Sejeong adalah anak dari sahabat yang menusukku dari belakang dengan merebut wanita yang aku cintai hingga ia tak mau aku nikahi. "
Sang Hyun menutup mata dan menengadah ke atas. Ia menarik napas panjang sebelum kembali bercerita.
" Andai saja aku tahu dari dulu tentang kebenaran ini Sehun. Demi Tuhan aku tak akan pernah berusaha memisahkan kalian berdua. "
" Dia sangat mencintaimu, Sehun. "
Sehun menutup mata.
" Dia memutuskanmu dulu karena dia tak mau kau tahu apa yang dialaminya. Dia menderita penyakit kanker, sama seperti ibunya. Dan hidupnya tak akan lama. Dia selalu menolak setiap ditawarkan metode pengobatan untuk menyembuhkan penyakit yang ia derita. Ia ingin bunuh diri secara perlahan. Dan kau tahu ? Aku selalu menyalahkan diriku karena gagal menjadi seorang ayah. "
" Berpisah denganmu membuatnya tak punya gairah untuk hidup. Dia menanggung semuanya sendiri dan aku sebagai ayahnya, belum pernah melakukan apapun. Seandainya aku tahu jauh sebelum ini, bukan Yoon Ji yang akan menjadi istrimu melainkan anakku Sejeong. Dan seandainya bisa. Aku ingin memutar waktu agar..."
" Tapi sayangnya kau tak bisa memutar waktu ! Berhentilah berkhayal ! Kalau toh bisa, aku tak mau kembali ke masa lalu karena aku sudah bahagia dengan masa depanku. Ya ! Masa depanku itu Yoon Ji. Bukan anakmu ! "
Sang Hyun menoleh ke samping. Matanya beradu dengan manik mata hitam milik Sehun. Satu sama lain saling menguliti dengan tatapan elangnya. Sebagai cerminan dari hati yang sedang sama-sama terluka.
" Dan sekarang anakku juga akan menjadi masa depanmu ! "
Tangan Sehun mengepal kuat.
" Apa-apaan lagi ini, hah?!! Kau sudah gila, ayah! "
" Ya! Aku memang gila ! Aku hanya seorang ayah yang menginginkan anaknya bahagia disisa umurnya yang tak seberapa. Dan aku sangat tahu letak kebahagiaannya berada dimana. Bahagianya anakku itu kau Sehun. "
Sang Hyun menunjuk dada Sehun di akhir kalimat sebagai penegasan. Sudah cukup! Sehun tak tahan mendengar perkataan Sang Hyun yang tak masuk akal. Kenapa dia begitu egois?
" Lalu kau mau apa? Maksudmu berkata seperti itu apa? Kau ingin aku menceraikan Yoon Ji lalu menikahi anakmu, begitu ? "
" Tepat sekali. "
" K... Kau... "
Sumpah demi Tuhan, kalau yang didepannya bukan Sang Hyun, dia akan segera melayangkan tinju ke wajah itu secara bertubi-tubi karena telah berbicara seenaknya.
Bagaimana bisa dia mempunyai pikiran seperti itu? Sedangkan dulu dia yang menikahkan paksa aku dengan Yoon Ji ! Batinnya berteriak.
" Dulu saat aku berusaha keras memperjuangkan anakmu kau menentangnya. Kau bahkan memaksaku menikahi gadis asing yang sedang hilang ingatan ! Sekarang aku sudah mencintainya. Dan kau dengan seenaknya menyuruhku menceraikan istriku dan menikahi anakmu ? Kau sangat keterlaluan ayah!!! Aku bukan robot yang bisa kau kendalikan sekehendak hatimu! "
Tak sudi terus berlama-lama dengan omongan kacau ayahnya atau nantinya malah Sehun yang hilang kendali disini, dia memutuskan untuk pergi saat itu juga. Sang Hyun... Ia tahu seperti apa ayahnya itu, hanya saja ia tak menyangka kalau dia bisa segila ini. Iya gila...! Sang Hyun memang sudah gila menurutnya. Dalam hal ini bukan Sehun saja yang merasa dipermainkan. Tetapi Yoon Ji dan Sejeong juga.
" Aku punya penawaran yang bagus untukmu, Sehun ! Karena aku sudah menganggap Yoon Ji seperti anakku juga... Kau tak perlu menceraikannya untuk menikahi anakku. Aku rasa mereka berdua akan mengerti keadaanmu dan akan memakluminya. "
Sehun sudah hampir di puncak kesabarannya. Ia semakin mengepalkan tangannya dengan dada yang naik turun.
" Dan jika kau tidak mau... Yang harus kau pikirkan adalah... Apa Yoon Ji masih mau berada di sampingmu? Kau tentu tahu apa yang sanggup aku lakukan untuk meraih apa yang aku inginkan Sehun. Pikirkanlah... "
" Kau sedang mengancamku??? "
. . . . .