Tidak ada yang menginginkan menjadi orangtua tunggal. Entah itu perpisahan karena perceraian ataupun kematian. Terkadang beberapa orang memutuskan untuk menjalin hubungan lagi dengan dalih awal untuk mengisi posisi yang kosong. Itu yang terjadi pada Davin dan Arini. Memutuskan menikah demi figur orangtua lengkap untuk anak-anak mereka.
Keluarga harmonis menjadi impian mereka. Namun ditengah perjalanan rumah tangga mereka ada ujian yang datang. Suami melakukan kesalahan fatal dan istri yang depresi.
Bagaimana cara Davin dan Arini mempertahankan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Pagi itu Davin berjalan lesu masuk ke dalam gedung kantornya. Ia berjalan menuju pantry, menyeduh secangkir kopi untuk dirinya sebagai penghalau rasa kantuk yang ia rasakan saat ini.
Lagi dan lagi Davin tidak bisa tidur tadi malam. Ingin rasanya ia mengambil cuti pagi ini dan tidur seharian di ranjang kamarnya. Namun berhubung pagi ini akan ada rapat bersama direktur perusahaan yang dirinya harus hadir tanpa boleh diwakilkan.
Setelah kopi yang ia buat telah selesai, Davin segera berjalan menuju ruangannya. Ia bisa melihat meja Arini namun sang empunya kursi belum ada ditempat. Entahlah Davin tidak mau terlalu memikirkannya.
Davin meminum sejenak kopi yang buat tadi. Ia juga menyenderkan kepalanya di kursi kerjanya. Kepalanya terasa berdenyut karena tidak tidur semalaman. Baru sebentar ia memejamkan matanya, ia dibangunkan dengan suara ketukan pintu ruangannya.
Tok.. Tok
Kepala Arini muncul ketika wanita itu membuka sedikit pintu ruangan Davin.
"Maaf, Pak. Rapatnya sebentar lagi sudah mau dimulai," ucapnya.
"Oh, iya," jawab Davin. Pria itu berjalan keluar dari ruangannya menuju ruang rapat yang berada dilantai atas.
Selama rapat berlangsung, Davin tidak bisa mengikutinya dengan baik. Pikirannya saat itu tidak ada di ruang rapat. Rasa kantuk yang ia rasakan sejak tadi malah semakin terasa diruang rapat ini karena hembusan pendingin ruangan.
Menjelang makan siang akhirnya rapat selesai. Davin bersama Rama berjalan beriringan menuju kantin karena waktu yang sudah menunjukkan jam makan siang.
"Lesu amat lu dari tadi," ucap Rama ketika melihat wajah Davin.
"Ngga tidur gue semalam," jawab Davin.
Mereka terus berjalan, melangkah kakinya menuju kantin. Setelah tiba di depan pintu kantin, Davin berhenti sesaat lalu kemudian berkata pada Rama.
"Pesanin gue kayak biasa. Gue cari tempat duduk buat kita dulu."
"Hah?" Rama heran melihat tingkah Davin yang tiba- tiba saja pergi meninggalkannya sendiri.
Rama berjalan menuju tempat pemesanan makan sambil melihat kearah Davin berjalan.
"Oh cemburu rupanya," ucap Rama setelah mengetahui arah Davin berjalan.
"Saya gabung disini, boleh 'kan?" ucap Davin ketika sampai pada sebuah meja yang sudah berisi dengan 3 orang.
"Silahkan, Pak," ucap seorang pria yang sudah duduk dari tadi di meja itu.
Davin langsung saja duduk setelah dipersilahkan. Ia duduk berhadapan dengan pria yang mempersilahkannya tadi dan bersebelahan dengan seorang wanita yang sering ia perhatikan akhir-akhir ini.
"Lanjut saja makannya. Punya saya sedang dipesan," ucap Davin karena melihat ketiga orang itu yang langsung berhenti makan ketika ia bergabung di meja itu.
Mereka bertiga akhirnya melanjutkan makannya kembali. Tak lama Rama datang dengan dua piring di tangannya, di susul seorang ibu kantin yang membawa dua gelas minuman punya nya dan Davin.
"Maaf kalau kami gabung disini," ucap Rama ketika baru saja duduk di sebelah Zidan.
"Tidak apa, Pak. Lebih rame lebih enak," jawab Zidan dengan senyuman.
Dua orang wanita yang sebelumnya juga disana, Arini dan Indah hanya diam tanpa menimpalinya. Sedang Davin juga diam dan makan makanannya dengan tenang.
Penghuni meja itu cukup hening dalam makan, padahal biasanya Zidan maupun Indah akan membuat heboh makan siang mereka agar tidak terasa bosan. Namun siang kali ini tidak ada yang berani bersuara seperti biasa, melontarkan banyolan yang mengundang tawa akibat kedatangan dua orang yang posisinya diatas mereka.
Tak lama, keheningan di meja itu sirna setelah ucapan Zidan yang membuat Davin tanpa sadar mengeluarkan suaranya dengan besar.
"Nanti tunggu aja aku di lobby. Aku pulang tepat waktu kok hari ini," ucap Zidan.
"Hmm. Nebeng ngga apa-apa, kan?", tanya Arini.
"Boleh dong," jawab Zidan santai sambil tersenyum.
"Apa?"
Semuanya melihat ke arah Davin yang berteriak. Bukan hanya penghuni meja mereka saja, namun hampir seisi kantin melihat ke arah Davin.
"Ngapain kamu pulang sama dia?" tanya Davin pada Arini.
"Mobil saya rusak, Pak. Jadi saya nebeng sama Zidan buat pulang ke rumah," jelas Arini dengan wajah bingungnya.
"Pulang sama saya saja," ucap Davin yang tentu saja mengundang keheranan untuk Arini, Indah, dan juga Zidan. Sedang Rama hanya tersenyum mendengar ucapan temannya itu.
"Takut didahului juga rupanya si kawan," ucap Rama dalam hati.
"Ngga usah, Pak. Rumah kita ngga searah. Kasihan nanti Ziza lama nunggu Pak Davin pulang," ucap Arini.
"Ziza dirumah sama kakeknya. Ayah saya masih disini kok. Jadi ngga masalah kalau saya antar kamu pulang dulu."
"Tapi Pak..."
"Tidak terima bantahan!" Davin langsung saja berdiri dan pergi meninggalkan kantin.
"Vin, makan lu," panggil Rama.
Namun langkah Davin tak berhenti dan semakin jauh meninggalkan kantin kantor mereka.
"Kenapa tuh Pak Davin?" ucap Indah yang juga ikut bingung melihat tingkah atasannya itu.
"Efek bom nagasaki," jawab Rama asal dan semakin membuat Indah bingung.