Devon merasa ia jatuh cinta pada gadis sebatang kara, setelah perjalanan cintanya dengan berbagai jenis wanita. Gadis ini anak jalanan dengan keadaan mengenaskan yang ia terima menjadi Office Girl di kantornya. Namun, Hani, gadis ini, tidak bisa lepas dari Ketua Genknya yang selalu mengamati pergerakannya. Termasuk pada satu saat, kantor Devon mengalami pencurian, dan terlihat di cctv kalau Hani-lah dalang pencurian tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konsep Pernikahan
“Ini kamar kamu.” Devon membuka sebuah kamar yang kasurnya masih dipress di kotaknya, belum dibentangkan di ranjang. Ruangan itu luas dengan lantai marmer dan AC, namun dalamnya tidak ada perabotan, hanya ada ranjang.
“Furniturenya masih...” Devon menunjuk kardus-kardus yang disandarkan di dinding, “...di dalam kardusnya. Karena saya nggak yakin kamar ini akan ditempati. Tadinya untuk kamar pembantu, tapi ternyata saya bisa mengerjakan semua sendiri.”
“Anuuu... saya boleh merakit furniturenya?” Hani dengan ragu masuk ke dalam, luas kamar ini bisa setara dengan dua rumah kardus di pemukiman kumuhnya.
“Tidak.” Kata Devon.
Jawaban itu membuat Hani langsung menunduk karena ia pikir Devon menganggapnya lancang.
Devon mengelus kepala Hani, “Kamu tidak boleh merakit apa pun, kecuali merakit masa depan kamu sendiri. Urusan furniture biar saya yang menangani.”
Hani menggigit bibirnya, “Saya boleh bantu-“
“Tidak.” Cegah Devon sambil masuk ke dalam kamar itu. Kemudian pria itu langsung menyadari kalau debu di dalamnya lumayan tebal karena sudah lama tidak ditempati sejak rumah ini dibangun. “Kecuali... bantu bersih-bersih.” Devon akhirnya menyeringai ke arah Hani.
Sambil bersih-bersih mereka mengobrol ringan, “Kamu boleh tanya apa pun pada saya, karena kita akan menikah. Kamu akan jadi istri saya. Jadi kita berdua perlu saling mengerti.” Kata Devon setelah beberapa lama.
Hani kemudian menceritakan kalau ia belum bisa mengingat kenangan yang hilang dan bagaimana prosesnya ia bisa berada di pemukiman itu, namun ia menceritakan semua hal yang disampaikan Jackson. Bahwa yang membiarkan kedua orang tua Hani meninggal adalah Jackson dan pemuda itu juga yang merancang ide dan strategi agar bisa berhasil melakukan perampokan mobil orang tuanya.
Devon bertanya apakah ia dan teman-temannya boleh melacak kepastian kejadian 9 tahun silam, tapi tiba-tiba Hani merasa Ragu.
“Apakah kalau terkuak semua... Bang Jackson akan ditangkap? Dipenjara?” tanya Hani sambil menatap Devon sendu.
“Kita usahakan begitu.” Kata Devon tegas.
Walau pun memang kejahatan Jackson kurang bukti, hanya dari konfirmasi sepihak. Juga karena kejadian itu tidak tersebar di media. Bisa jadi karena saat itu Jack Rio, ayah Jackson, masih memiliki kekuasaan di Indonesia, jadi walau pun tersangkut kasus dan kabur keluar negeri, ia masih bisa menyuruh orang-orangnya untuk ‘melindungi’ anaknya dengan cara membungkam media.
Barulah saat Jack Rio dan istrinya meninggal di Amerika, Semua relasi, harta, dan kekuasaannya bagai hilang ditelan bumi. Pun Axel Rio yang hilang entah kemana.
“Kalau begitu... jangan dulu, Bang.” Kata Hani selanjutnya.
Devon mengangkat wajahnya dan mengernyit menatap Hani. Pria itu pikir ia salah dengar.
Padahal beberapa hari yang lalu Hani begitu berapi-api ingin balas dendam pada Jackson, kini malah tidak rela pemuda itu dipenjara? Sungguh hal yang memusingkan.
“Kenapa?” tanya Devon.
“Kalau saya runut ke belakang... yah, Bang Jackson memang sering memukul saya sebagai bentuk pengajarannya agar saya tidak manja, katanya. Tapi, kalau diingat-ingat, ia melakukannya ke semua anak. Tidak dengan tujuan melukai, tapi untuk menegur. Juga, kapan pun saya butuh dia selalu ada. Dia bahkan rela kerja dobel-dobel untuk makan kami, membangun rumah untuk kami, melindungi kami dari preman lain, bahkan merawat kalau kami sakit. Ia termasuk berpengaruh di komunitas kami jadi banyak orang takut padanya. Apakah sifatnya yang begitu adalah pembunuh, Bang?” Hani tampak tidak mengerti akan apa yang terjadi, pun ia juga ragu kalau Jackson benar-benar orang jahat.
Devon pun mengangguk mengerti dengan keraguan Hani, “Yah, kalau dia punya tujuan tertentu, atau kalau dia psikopat, bisa saja terjadi.”
“Psi... psikopat?!” Hani menatap Devon sambil terbelalak ngeri.
“Misalnya dia merawat kalian agar kalau dijual ke penadah organ kualitas tubuhnya bisa dihargai tinggi.” Kata Devon sambil mengangkat bahunya.
“Hah?!” seru Hani sambil mundur. Muka gadis itu langsung pucat. “Memang ada yang sejahat itu?”
“Dunia ini keras, Hani. Semua bisa saja terjadi. Saya bicara pun karena sudah banyak kasus yang seperti itu. Mereka menjual anak-anak seperti menjual kucing anggora. Dirawat untuk dijual mahal.” Kata Devon.
“Termasuk... saya?”
Devon mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan berat. Lalu ia tersenyum ke arah Hani dengan lembut.
“Saya belum kenal Jackson,” Kata Devon, “jadi saya belum bisa memastikan dia ini bagaimana sebenarnya. Saya cuma tahu dari keterangan kamu dan teman-teman saya. Kalau dari laporan Artemis, teman saya, Jackson ini memiliki kemampuan bertarung yang baik, dan bisa melarikan diri dengan sigap.”
“Ah, dia mengajari kami parkour untuk melarikan diri kalau tertangkap mencuri.” Kata Hani.
Devon mengangguk mengerti. “Parkour... Hal yang tidak bisa kami lakukan karena tubuh kami terlalu besar. Massa otot kami juga padat, jadi kurang gesit kalau diminta melompat dengan cepat dari satu objek ke objek lain. Sering kali, justru kecepatan lebih penting dari kekuatan.”
Hani pun menunduk untuk mempertimbangkan lagi mengenai keputusannya.
“Saya akan menyembunyikan kenyataan kalau Jackson membunuh kedua orang tua kamu dari teman-teman saya, sampai kamu bisa memutuskan apakah Jackson layak dihukum atau tidak. Semua terserah padamu. Ini hidup kamu.” Kata Devon sambil melanjutkan kegiatannya merakit furniture.
“Lalu... setelah ini apakah saya bisa tetap bekerja di kantor Bang Devon?” tanya Hani selanjutnya.
“Wah... bagaimana yah. Zaki dan yang lain sudah tahu kalau kamu pencuri. Sepertinya kamu harus saya pecat. Lagian nggak bisa suami-istri sekantor.” Devon menjelaskan sambil terkekeh.
“Suami istri yah.” Gumam Hani. “Kegiatan apa yang biasa dilakukan saat dua orang jadi suami-istri? Bang Jackson bilang harus saling mencintai, tapi saya kurang paham mencintai itu yang seperti apa? Apakah seperti perasaan saya ke Farid? Atau sesuatu yang berbeda? Terus Ical bilang biasanya suami-istri itu bikin anak. Bagaimana caranya bikin anak? Harus ke dokter dulu?”
Pertanyaan Hani menggebu-gebu, dan banyak.
Namun semua pertanyaannya membuat Devon bingung harus menjawab yang mana duluan.
“Kamu benar-benar tidak tahu? Atau hanya memancing saya?”
“Eh? Yaaah, setahu saya suami-istri itu sering saling berpelukan, saling berciuman. Tapi Bang Jackson juga sering mencium dan memeluk saya kalau prestasi saya bagus. Tapi kami bukan suami istri, dia bilang dia menganggap saya saudara.”
Devon langsung mencibir, rasanya hatinya langsung panas membayangkan cara Jackson mencium anak sepolos ini.
“Kamu dicium dan dipeluk dia?!” dengus Devon kesal.
“Iya, dicium di sini.” Hani menunjuk dahinya.
“Oh.” Devon langsung buang muka, tak ingin ketahuan Hani kalau ia sedang bernafas lega. “Interaksi kalian saat sedang berdua seperti apa biasanya?”
“Hummm...” Hani tampak berpikir, “Dia mengajari saya baca tulis, berhitung, berkata yang sopan, cara memasak, cara memilih barang yang berharga untuk dijual lagi, cara mempertahankan diri saya, strategi mencuri,”
“Bukan, bukan itu.” Devon menggeleng. “Maksud saya, kamu kan dari kecil diasuh dia. Kalian tinggal serumah atau bagaimana?”
“Iya Bang,” Hani mengangguk, “Dulu saya tinggal di rumahnya. Waktu saya mulai haid, dia membangun rumah sendiri untuk saya dan Farid tempati. Katanya saya sudah dewasa jadi kami tidak boleh tinggal serumah lagi, nggak bisa mandi bareng lagi, nggak bisa tidur bareng lagi.”
Lagi-lagi Devon menarik nafas panjang, mencoba bersabar dengan keadaan hatinya yang langsung panas.
“Kamu mau tahu apa saja yang dilakukan suami istri?” tanya Devon akhirnya.
Hani mengangguk tanpa ragu.
Devon tersenyum licik, “Yang kamu lakukan bersama Jackson, akan kita lakukan semua, tapi lebih intens.” Kata Devon.
“Intens?”
“Kamu pernah memergoki saya bercinta di ruangan kantor.”
“Ah, ya.” Kata Hani.
“Wajah kamu biasa saja.”
“Hubungan seksual sudah sering saya lihat di pemukiman, bahkan mereka melakukannya di luar rumah, atau di depan kami. Beberapa kali mereka menarik saya untuk ikut, tapi Bang Jackson langsung marah dan meminta saya menjauh. Katanya ‘Yang ini punya gue, jangan ganggu’. Lalu dia bilang ke saya, kalau saya harus menjaga keperawanan saya karena akan dia jual.”
“Apakah Jackson bilang kalau hubungan itu sebenarnya sesuatu yang sakral dan tabu kalau dilakukan tidak dengan suami-istri?”
“Eh? Tidak. Karena... dia juga melakukannya dengan yang bukan istrinya, dia sering disewa tante-tante untuk hubungan intim yang dibayar. Bang Devon juga melakukannya dengan wanita yang bukan istri Bang Devon kan?”
Devon sampai menggaruk kepalanya mendengar pernyataan Hani.
“Kalau kita berdua sudah jadi suami-istri, saya harus berjanji kepada Tuhan untuk tidak melakukannya lagi, selain dengan kamu.” Sahut Devon.
“Jadi, hal itu mengekang Bang Devon dong? Kalau tidak menikahi saya, Bang Devon kan masih bisa bebas melakukannya dengan wanita lain yang Bang Devon sukai. Apakah sebaiknya kita tidak menikah saja?”
Devon pun tersenyum lembut ke arah Hani.
Ia berdiri, mengelus kepala Hani, lalu keluar kamar untuk ambil minum.
Seketika tenggorokannya langsung kering.
Kehidupan jalanan ternyata lebih bebas dari pada yang ia ketahui selama ini.
seru seru ngeri yaa