NovelToon NovelToon
Istri Kedua

Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:1.4M
Nilai: 5
Nama Author: gustinara

Kini aku sudah resmi menjadi istri dari Anggara Putra Gibson. Namun, aku menjadi istri kedua. Aku yang masih duduk di perkuliahan semester delapan, menyusun skripsi sembari menata hidup baru bersama lelaki yang sudah mempunyai istri itu, dan dia adalah suamiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gustinara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#24 DEBARAN PERTAMA UNTUK ANGGARA

Mau lewat juga ah selfie di mobilnya mas Anggara \~

***

Happy reading..

***

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan Luna baru saja keluar dari mobil HR-V Hitam matic milik suaminya. Rapat kali ini sangat melelahkan, ditambah banyak sekali hal yang harus ia pelajari.

Suasana rumah cukup lenggang karena hampir semua penghuni sudah beristirahat untuk menyiapkan energi keesokan hari. Sudah tiga hari Luna bekerja di perusahaan impian dan sudah tiga hari pula Luna pulang malam. Ia jadi merasa tak enak dengan orang rumah. Karena ia merasa hanya sebagai orang selewat disini. Yang nantinya akan pergi dan berpisah dengan mereka.

Luna juga jarang pergi ke taman belakang atau hanya sekedar menyirami tanaman. Masuk ke kantor jam sembilan dan pulang tak tentu. Ia tak menyangka, bekerja dan mempunyai posisi lumayan penting membuat dirinya menjadi lupa akan kewajiban yang lain. Untungnya Anggara belum pulang hingga malam ini.

Terasa lelah, Luna mengisi bath tub dengan air panas. Ia larutkan antiseptik dan membiarkannya hingga penuh. Setelah berkaca di cermin sembari membersihkan sisa make up nya, Luna melanjutkan ritual mandinya.

-

-

Di tempat lain, Silvi sedang menyiapkan sesuatu yang istimewa untuk sang suami. Tujuannya untuk membuat malam ini spesial bagi keduanya.

Dipolesnya lipstik merah menyala di bibirnya yang kenyal. Tentu saja dengan menyenada kan warna bibir dengan dress merah selutut dengan dada rendah ini. Dan tujuannya pasti untuk menggoda suaminya.

Silvi menggapai ponselnya di atas meja rias dan menelfon seseorang. Ia sudah mengambil keputusan. Dan ia juga tak tega bila harus menggugurkan anaknya.

"Hallo"

"Hallo. Aku sudah memutuskan" ucap Silvi. Hening diseberang sana seolah menunggu kelanjutan kalimat Silvi. Silvi menarik nafasnya dalam dan membuangnya kasar.

"Aku akan mengakui bahwa anak ini adalah anak suamiku. Dan kamu, kembali lah ke kehidupanmu sebelumnya. Sebelum malam-malam itu terlewati. Anggap saja semuanya adalah mim-" ucap Silvi terpotong karena sambungan panggilannya tiba-tiba dimatikan sepihak. Silvi mencoba menghubungi nomor telepon yang sama dan nomor tersebut sudah tidak aktif. Nugi sudah melemparkan ponsel tersebut ketembok diruangan pribadinya sehingga ponsel tersebut hancur terpisah.

Dengan menatap nanar layar ponsel, Silvi menarik nafasnya dalam dan membuangnya pelan guna mengumpulkan kepercayaan dirinya.

Ia mulai menghapus riwayat panggilan beserta nomor telepon mantan pacarnya itu. Sembari mengelus perutnya yang masih rata, Silvi membisikan sesuatu pada jabang bayinya.

"Mom melakukan ini pun demi kehidupan kamu selanjutnya. Mom janji akan open jika papa biologis kamu ingin bertemu bertemu. Tapi mom enggak mau melepas kamu dan juga melepas lelaki yang mom cintai sekarang. " tak terasa air mata menetes dipipi Silvi yang tirus. Saat bel pintu berbunyi, ia langsung beranjak dan segera menghapus air matanya.

Silvi berjalan ke arah Anggara yang sedang membuka sepatunya. Anggara melihat Silvi tak berkedip, apalagi Silvi dengan sengajanya melenggak-lenggokkan badannya.

Ntah dimana Anggara meletakkan tas kerja dan kunci mobilnya. Yang ia inginkan malam ini hanya menghabisi istrinya hingga tak tersisa.

Dahi Silvi dan Anggara menyatu. Mereka saling tatap dengan cinta yang mulai bergairah.

"Perasaan kamu nolak buat disentuh, kenapa ngelakuin ini hm? Mau nyiksa aku ya biar aku mmm" ucap Anggara yang terpotong karena bibirnya keduluan disambar oleh ciuman panas dari Silvi.

Silvi menuntun Anggara ke kamar dan terus mengaitkan kedua lengan di bahu lebar sang suami. Mereka menghabiskan malam bersama. Menumpahkan rindu yang nantinya akan terisi lagi. Berbagi cinta yang seolah tak akan pernah terhapus.

Melupakan bagaimana Anggara menikah lagi dan melupakan bagaimana Silvi berselingkuh di belakang Anggara. Malam ini, hanya ada mereka berdua. Walaupun didalam perut Silvi, akan hidup suatu nyawa yang akan dipertanyakan jika terlahir tanpa adanya kemiripan dengan yang dikata adalah ayah kandungnya sendiri.

Namun Anggara terheran setelah melakukan beberapa kali dengan istrinya malam ini, setelah Silvi tidur Anggara malah teringat Luna yang belum sama sekali ia kunjungi atau sekedar menanyakan kabar.

***

Luna belajar menggunakan pakaian formal yang feminim. Dipakainya stiletto berwarna cream yang ia dapat sebagai hadiah seserahan dengan perpaduan rok span diatas lutut berwarna hitam juga kemeja cream senada dengan sepatunya.

Tak lupa dirinya mengikat rambutnya bergelung dan membiarkan anak rambutnya terurai di dahi dan tengkuknya. Sontak para pegawai melihat Luna dengan terkesima. Tak biasa dirinya bersetelan seperti ini. Hanya karena Luna jengah dengan teguran atasan yang selalu mengkritik Luna karena penampilannya yang dianggap seperti wanita tukang nongkrong di warung kopi.

Berhubung hari ini katanya akan diadakan rapat penting dengan suatu perusahaan klien yang ingin berkonsultasi perihal pembangunan cabang hotelnya yang baru di Palembang, mereka satu tim harus melakukan yang terbaik terutama penampilan.

Projekan ini memang sudah lama dan Luna hanya meneruskan. Bangunan sudah dibangun dengan kokoh, hanya saja si klien ingin di ubah kembali desain interior yang sudah jadinya. Dan spesialnya, didalam tim Luna sekarang ia masuk kedalam tim inti. Dimana didalamnya langsung diketuai oleh CEO nya sendiri.

"Lun langsung masuk ke mobil ku kita ke cafe Uranus, bos udah disana dan kita langsung rapat." ucap Denis sang second leader yang paling tidak menatap perubahan Luna. Dengan jengah, Luna melangkahkan kakinya kembali ke parkiran. Ia sangat kesal, mengapa mengabarinya pada saat ia sudah sampai kantor.

Baiklah Luna ini masih pagi dan ia harus menjaga kesabarannya. Ia harus terbiasa dengan kepribadian anggota timnya. Ia pun masih dalam masa percobaan, tidak baik bila memberi kesan buruk di bulan pertama. Bisa-bisa ia tidak bisa maju ke pegawai kontrak.

Fadlan menatap Luna dari jauh hingga mendekat. Ia tak salah lihat dengan penampilan Luna yang rapi dan cantik. Apalagi otak liar para lelaki, melihat kebagian dada dan lekuk tubuh Luna. Mungkin Fadlan sudah harus mencari seseorang untuk mengisi hidup dan kebutuhan biologisnya.

Pandangannya buyar seketika saat sapaan Denis yang tiba-tiba berada di depan mukanya. Luna juga tersenyum kepada Fadlan dengan balasan senyuman hangat, Fadlan membalas Luna penuh arti.

"Mana bos klien nya? Dijadwal padahal kan jam sebelas ya saat mau makan siang? "

Ucap Denis.

"Gak tahu juga. Biar lah klien kan raja" ucap Fadlan.

"By the way bos gak balik ke Jakarta? Disana bukannya ada timnya bos juga?" Ucap Denis.

"Lewis Bandung bakal ada projekan besar dari teman saya. Dia bangun resort tapi kali ini kita cuma interiornya aja. Balik lagi, karena ini projekan temen saya, jadi saya harus ada di Bandung. Kalau projekan hotel ini tepat waktu, anak baru bakal saya bawa lagi ya Den" ucap Fadlan. Denis mengangguk.

Luna memandang wajah Fadlan lekat. Dilihatnya hidung yang mancung dan mata yang tegas. Bila di perhatikan, leader sekaligus CEO nya ini mirip dengan artis artis di drama Turki. Tak menyangka tatapan mereka akan bertemu dan Luna langsung memalingkan wajahnya. Sedangkan Fadlan tersenyum puas.

Tak lama sang klien datang dan langsung berkonsultasi. Benar kata bos nya, penampilan adalah nomor satu. Dibanding rapat kemarin kemarin dengan klien lain, hari ini tampak sangat mudah bagi Luna menghadapi mereka. Semua saran tim di acc oleh klien. Apalagi tak henti-hentinya sang klien paruh baya ini memuji kecantik Luna.

Pertemuan penting itu diakhiri dengan makan siang. Terlihat tatapan dari klien kepada Luna sedikit nakal. Untungnya pertanyaan yang dilontarkannya kepada Luna mampu Fadlan alihkan. Selain melindungi karyawannya, Fadlan juga tidak mau Luna menjadi wanita simpanan om om ini. Luna menjadi sadar akan kehati-hatian itu perlu walaupun penampilan adalah pemikat, tapi Luna juga harus menjaga dirinya.

Setelah para klien pulang, anggota tim masih mengobrol di meja tersebut. Membahas ulang apa yang akan mereka kerjakan nanti.

"Lun, kamu beda ya hari ini" ucap Denis dan diangguki oleh anggota tim lain. Denis sepertinya baru sadar akan perubahan Luna.

"Tapi awas loh Lun, jadinya di godain sama pak tua tadi kan" ucap Asti salah satu anggota timnya juga. Sontak semua tertawa begitu pun dengan Fadlan.

"Untungnya pak Fadlan mengalihkan dan gak berhenti bicara. Terimakasih ya pak" ucap Luna kali ini dan dibalas dengan anggukkan.

Denis merasa ada sesuatu yang dilihat Fadlan. Segera Denis memikirkan sesuatu untuk menggoda Fadlan.

"Bos, apa enggak langsung kekantor lagi? Ini sudah mau dzuhur loh. Bapak gak sibuk nih" ucap Denis seolah mengingatkan. Yang ditanya malah sedikit terbata-bata akan jawabannya.

"Mmm saya gak kekantor ya Den." Ucap Fadlan dan langsung berpamitan dengan semua. Saat Luna terakhir disalaminya, Fadlan kembali berbicara.

"Kalian kesini pada barengan kan?" Ucap Fadlan.

"Pake mobil saya barengan. Bapak kalau mau anterin Luna pun gak papa kok" celetuk Denis yang dibalas dengan tatapan tajam oleh Fadlan. Sedangkan Luna ia hanya mengerutkan dahi nya.

"Kenapa? Keberatan ya pak Denis bawa anak baru?" Ledek Luna. Denis hanya menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.

"Denis! Jangan pilih kasih" ucap Fadlan. Semua orang di meja bundar tersebut tertawa.

"Yasudah saya duluan ya kalian hati-hati" ucap Fadlan. Semua anggota mengangguk dan Luna menatap punggung Fadlan menjauh.

Fadlan sedikit menoleh saat mereka saling tatap, Luna menegakkan badannya karena ia merasa dipergoki. Namun sikap bos nya itu tak terduga. Ia malah tersenyum. Dengan sopan Luna membalas senyuman tersebut.

***

Karena rapat tadi pagi sukses dan tak banyak keinginan klien, Luna bisa pulang dengan cepat. Bahkan baru jam dua siang Luna sudah bisa mengendarai mobilnya keluar kantor.

Mengingat sabun di kamar mandi sudah habis, Luna berniat untuk berbelanja ke supermarket. Mood Luna juga baik dan ia pun berniat untuk memasak khusus malam ini.

Diteleponnya bunda saat lampu merah menghentikan semua kendaraan. Memastikan apakah bunda sudah menyiapkan makan malam atau belum.

"Hallo bunda"

"Eh sayang, kenapa?"

"Bunda lagi diluar ya?" Ucap Luna karena diseberang sana terdengar berisik sekali oleh obrolan wanita.

"Eh iya nih bunda lagi arisan. Kenapa sayang?"

"Oh gitu ya bun. Maaf bun Luna ganggu. Luna mau kasih tau aja kalau Luna pulang cepat dan Luna ingin memasak sepenuhnya untuk malam ini. Bunda belum siapin apa-apa kan?" Ucap Luna. Nida hanya tertawa.

"Yaampun menantuku memang hebat sekali. Silahkan sayang, jangan lupa Anggara suka sama ayam suwir dan ayam nya yang kriyus yah"

"Ba-baik bunda. Terimakasih" ucap Luna dan mereka memutuskan sambungan telepon.

Luna berfikir mungkin bunda ada benarnya. Ia harus sekali-kali memasakkan masakan kesukaan sang suami. Tapi dia pulang malam ini pun mana Luna tahu. Luna tak berani meminta dan juga tak berani untuk sekedar menanyakan hal tersebut lewat ponsel. Bagaimana bila ponselnya di cek oleh istri sungguhannya? Bisa-bisa Luna menerima lebih dari sekedar tamparan.

Memikirkan hal tersebut Luna malah menenangkan diri dengan menstabilkan nafasnya. Lampu sudah hijau dan Luna melanjutkan acara berkendaranya.

Di supermarket, Luna sedikit teralihkan oleh satu keluarga yang terlihat harmonis. Melihat tatapan suami istri yang saling mencintai dengan buah hati mereka yang akan tumbuh besar. Membuat Luna sedikit iri. Apalagi itu adalah impiannya di masa depan.

Bukan ingin menuntut Anggara yang sudah sah menjadi suaminya, tetapi Luna akan semakin bertambah usia dan Luna juga ingin sekali mendapatkan anak.

Dua tahun dikurangi satu bulan bulan, umur pernikahan mereka akan berakhir sampai situ. Bila di renungkan kembali, waktu tersebut cukup lama. Apalagi setelah menikah, Luna pun tak menjamin akan langsung mendapatkan suami yang akan mencintai dan menyayanginya. Terlebih status nya akan menjadi seorang janda.

Umur yang hampir dua puluh tiga Luna sekarang adalah umur yang sudah layak untuk mengandung dan melahirkan. Bila difikir jika dirinya menikahi orang yang mencintai dan dicintainya, mungkin ia tengah mengandung sekarang.

Oh tuhan, fikiran liar itu membuat Luna lupa akan tujuannya kemari. Ia mengecek barang belanjaannya kembali dan bergegas langsung menuju lorong susu.

Ponsel Luna berbunyi ketika Luna akan berjalan kekasir karena sudah tiga trolley yang sudah ia penuhi dan sontak Luna kembari merogoh sakunya. Ternyata dari bosnya, Fadlan!

"Assalamualaikum pak" ucap Luna sopan.

"Hallo Luna, sudah pulang?"

"Sudah pak. Ada apa ya pak?"

"Senin kamu ikut saya rapat ya buat projekan resort"

"Bangunannya bukannya belum dibangun?" Tanya Luna bingung sembari mengerutkan dahinya.

"Kebetulan kan ini projekan teman saya dan pembangunannya pun akan cepat. Memangnya bisa kita menyiapkan satu hari satu malam? Kita juga harus diskusi sama yang pegang bangunan. Kita harus tahu jalur listrik dan sebagainya"

"Maaf tuan" ucap Luna. Diseberang sana Fadlan tertawa.

"Tuan? Ha ha ha. Gak usah segugup itu Luna. Santai saja cantik, santai"

Cantik? Luna tercengang mendengar itu.

"Hallo? Lun?"

"Eh iya saya akan ikut. Terimakasih pak sudah mengaja-"

"Saya sengaja ngajak kamu. Yasudah see u ya have a nice weekend"

Luna bukannya terbang tetapi ia aneh saja diperlakukan seperti itu oleh atasan. Padahal hal ini masih bisa dibicarakan di grup chat. Menurut Luna ini aneh dan wanita tidak bisa berbohong bila ia sedikitnya ada baper bila dibegitukan, apalagi oleh lelaki seperti Fadlan.

Dilihat trolley yang ia dorong sudah hampir penuh, Luna langsung bergegas menuju kasir.

Saat mengantri, ponsel Luna berbunyi. Ia tak percaya di layar ponselnya tertera nama suaminya, "Mr. Anggara". Ntah mengapa dalam hatinya ia merasa lega, seperti hal yang ditunggu olehnya sekarang datang.

"Ha-hallo?" Ucap Luna.

"Kok lama angkatnya, lagi kerja?"

Luna tersenyum mendengar suara yang ia rindukan. "Saya sudah pulang tuan. Saya lagi di supermarket" ucap Luna lembut. Diseberang sana pun seolah hatinya menghangat.

"Oh gitu. Kamu sehat?" Ucapannya membuat Luna terheran.

"Se-sehat tuan. Tuan sendiri?"

"Sehat. Sudah makan?"

Entah apa yang Anggara fikirkan sehingga bisa menanyakan hal yang akan membuat Luna salah tingkah tersebut. Degup jantung keduanya berdetak kencang. Semburan merah muncul begitu saja di pipi Luna yang bulat.

"Su sudah pak. Eh tuan, tuan sudah makan?" Ucap Luna dibalas dengan gelak tawa oleh suaminya yang banyak minum tersebut.

"Kayaknya fikiran kamu masih di kantor ya? Hayoo bapak siapa yang lagi di fikiran kamu?"

Luna tertegun. Terlihat barisannya sudah habis dan ia harus segera memindahkan barang belanjaannya untuk di scan.

"Tuan jaga kesehatan ya, saya mau bayar dulu. Semangat" ucap Luna dan langsung mematikan ponselnya sepihak.

Berkali-kali Luna merutuki dirinya karena salah pemanggilan kata tadi. Sikap bos nya Fadlan yang hangat membuatnya seolah Luna sedang berhadapan dengannya di telepon. Padahal suaminya sendiri.

Ia merasa jadi berdosa. Seolah dirinya dipergoki berselingkuh. Mungkin dirinya harus menjaga jarak dengan para pegawai, terutama dengan Fadlan.

Ketampanannya tak jauh dengan suaminya yang membuat dirinya tak menyangka mereka adalah manusia. Tetapi bagaimanapun Anggara adalah suami sah nya.

Difikir lagi, toh bila Luna dekat seseorang memangnya Anggara akan marah? Pernikahan ini kan hanya sementara. Luna pun harus mencoba mencari belahan jiwanya.

Oh tidak bisa, memikirkan Fadlan apa Luna tidak berlebihan? Mana mungkin Fadlan mau dengannya yang hanya sebatas bawahan dan juga nantinya akan berstatus janda. Luna tidak mau berekspektasi berkelanjutan dan jatuh karena ekspektasi tersebut yang tak bisa Luna wujudkan.

Sedangkan dilain tempat, Anggara termenung diatas kursi singgahsananya. Memikirkan Luna yang mulai bertemu dengan orang baru dan mungkin akan menaksir satu diantara mereka. Anggara tahu, banyak diluar sana lelaki sukses dan tampan. Terlebih Luna memang cantik dan muda, pasti banyak sekali yang menaksirnya.

***

Gimana?

Bumbui cinta jangan ya untuk mereka berdua? Atau untuk Fadlan-Luna aja bumbunya? Hihi

Nih aku up nih!!!

Dan up nya udah hampir 2500 kata😭

Sayang banget soalnya sama readers aku niiii🖤

Like nya jangan lupa yaaa good people!!!

Soalnya kalo like nya banyak, aku bakal semangat bangett!!!

Kenapa dimasukin konten dewasa?

Adegan Anggara dengan Silvi itu dewasa ya gais hehe. Biar aman dan nyaman aku masukin ke konten dewasa. Semoga keputusanku tidak salah🙏

Tbc-

1
Amilawati
cerita versi pelakor ini,,,pelakor ttp pelakor yg menjijikan TDK ad pelakor baik, cerita ini hanya hayalan seorang pelakor
Siska Siswanto
kapan ni up-nya?
🐧 Pororo 🐧
please, jangan stop lagi yah kak 🙏
Zenecka
ah happy bgt novelnya lanjut lg... sehat selalu kaaaa /Kiss/
Yovita Sintadewi
ya selalu aku lihatin, tidak ada kelanjutannya, dah hampir 1 thn thor
Tiwik Firdaus
emang udah diurus surst cerai terus udah diserahkan kembali kepada kefua orang tuanya dan menjelaskan semuanya bahwa anak yang dikandung silvi bukan anaknya
Tiwik Firdaus
ceraikan saja silvi udah selingkuhan kamu aja katanya diselidiki kok ngak ketauan2 sekingkuh to silvi kapan terbongkarnya masak nunggu sampai lahir baru ketsuan
Tiwik Firdaus
kebanyakan mikur anggara jadi bodoh sekarang
Tiwik Firdaus
makanya jadi laki jangan diam saja seperti kambing congek selidiki yang serius mana ada wanita hamil diantar kedokteran suaminya ngak mau masuk akal ngak hadi oria bodoh banget kamu katanya pinter jadi ceo kok bodoh jadi suami
Tiwik Firdaus
jangan percaya anggara kalau kamu udah lama ngak berhubungan badan sama dia kan twrus katanya kamu mengawasi silvi tau dong kalau silvi sering ketemuan sama mantan pacarnya
Tiwik Firdaus
biasa ngak ada tampan2nya sama sekali
Qorie Izraini
karena terlalu cinta kang Angga jd begi dan labil

kasihan mbak luna yg jd korban.
tapi y sdh lah, takdir kehidupan terus berlanjut, dengan jln ny masing2
Qorie Izraini
si jalang kena karma 😀😀😀
Mugi yg bosan dengan usaha ny tuk tanggung jawab pergi.
raasain lo dilvi nikmati hasil yg kau tanam
Qorie Izraini
lah udah taumlm pertama ny sama silvi jln tol, msh saja cinta setengah mati, gsk bisa mov on lg.
pantes aja si silvi ngelunjak.
Anggara ny yg bego
Qorie Izraini
dasar jd suami kok bego amat
udah di selinguhi, masih ja mau baikan.
stukurin ..bakalan ngebesarin anak orang yg nitip benih ny ke rahim silvi
Qorie Izraini
dasar istri jalang...
tapi takut di cerai kan 😀😀😀
takit gsk dapatateri dari kamg Anggara 😁😁😁
Qorie Izraini
sombong banget kang anggara, bikang gak tertarik.ntar bucin baru tau rasa.atau....
gak bisa mov on dari istri tercinta ny yg terang2 an selingkuh di belakang ny.
nino
thor ini upnya 2 tahun lagi ya
amalia
keren bgtt cerita nyaaa👏👏👏👏👏
amalia
apa suami nya nadine.selingkuh sm silvi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!