Joshua Adrian Waldgrave patah hati mengetahui calon istrinya mencintai pria lain dan jatuh terpuruk dalam kesedihan. Ia lebih memilih menghilang selamanya dari kehidupan wanita yang dicintainya dan menutup pintu hatinya untuk wanita lain. Setelah bertahun-tahun tidak mendengar kabarnya, mantan tunangannya meninggal, karena kecelakaan.
Sementara itu ditempat lain seorang gadis bisu dan memiliki cacat di wajahnya menyimpan dendam selama bertahun-tahun terhadap orang-orang yang telah menghancurkan kehidupan keluarganya. Jalinan takdir mempertemukannya dengan Joshua yang mengharuskan pria itu terikat kepadanya, karena janjinya kepada seseorang di masa lalu yang tidak dapat ia tolak. Janji yang mengharuskannya menjaga gadis itu seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buku harian Jeanette
Phillippa memulai hari barunya sebagai seoang murid di sekolah musik yang paling terkenal di New York. Ia mulai melangkah memasuki sekolahnya yang baru dengan semangat yang baru. Ia berharap cita-citanya sebagai pianis terkenal akan segera terwujud. Phillippa merasa lega setelah menemukan kelasnya yang berada di lantai 3. Ketika ia masuk tidak ada siapa pun di sana. Kelasnya hanya berupa ruangan kecil dengan sebuah piano. Ia duduk di kursi sambil menunggu gurunya datang. Pintu terbuka membuatnya terkesiap dan langsung berdiri.
"Halo Phillippa!"sapanya.
Gadis itu sangat terkejut melihat Mr. Smith
"Mulai sekarang aku adalah gurumu. Aku tahu pasti kamu terkejut."
Phillippa mengangguk.
"Baiklah. Ayo kita mulai pelajarannya."
Tanpa mereka ketahui, Joshua sedang mengintip di balik pintu dengan wajah tersenyum. Ia senang gadis itu sudah sehat kembali. Apa yang dilakukan Joshua tidak luput dari perhatia Sandra, ia mengikuti Joshua kemana pun ia pergi secara diam-diam. Ia lakukan, karena sikapya yang aneh terhadap gadis itu.
Sandra melihat Joshua pergi ke toko bunga dan membawa satu buket bunga tulip merah dengan wajah bahagia. Ia belum pernah melihatnya sebahagia itu. Sandra cepat-cepat kembali ke kantornya dan ada sesuatu yang mengusik pikirannya tentang bunga itu. Berbagai macam potongan adegan bermunculan satu persatu di benaknya. Ia pernah melihat gadis itu membawa sebuket bunga tulip dan ia juga pernah melihat bunga itu di sofa. Sandra akhirnya menyadari sesuatu. Ia segera menemui Phillippa di sekolah musik yang berada disebelah gedung Waldgrave Entertainment. Phillippa telah menyelesaikan pelajaran musiknya sedang asik memandangi bunga tulipnya, lalu Sandra menghampirinya.
"Halo Phillippa! Aku senang kamu baik-baik saja setelah pingsan di kebun binatang beberapa hari yang lalu. Aku adalah Sandra. Aku bersama dengan Mr. Waldgrave ketika kamu pingsan."
Phillippa segera mengeluarkan buku catatan kecilnya dan menuliskan sesuatu di sana.
Terima kasih.
Sandra tersenyum."Sama-sama."
"Bunga yang sangat indah. Siapa yang memberikannya?"
Phillippa memberikan kartu ucapan kepada Sandra.
"Ternyata dari penggemar rahasiamu ya."
Gadis itu mengangguk.
"Baiklah. Aku permisi dulu."
Sandra berjalan dengan cepat dan akhir ia tahu kalau bosnya adalah penggemar rahasia gadis itu. Senyuman puas tersungging di bibirnya.
🎵🎵🎵
"Nyonya Miya,"panggil seorang pelayan bernama Selly, ketika melihat Miya akan menaiki tangga.
"Ada apa, Selly?''
"Kotak ini milik Jeanette,''katanya sambil menyerahkan kotak kardus yang bertuliskan nama Jeanette kepada Miya.''Aku menemukannya di gudang atas seperti yang dikatakan oleh nyonya."
"Terima kasih Selly. Kamu boleh pergi sekarang."
Pelayan itu segera pergi dan Miya terburu-buru menaiki tangga dan masuk ke kamarnya. Kemarin ia menyuruh Selly untuk mencarikan kotak kardus milik Jeanette yang diberikan kepada Fabian sesaat setelah Jeanette dikuburkan dan kotak kardus itu disimpan digudang di lantai paling atas oleh Fabian. Kotak kardus itu kemudian terlupakan dan Miya baru mengingatnya seminggu yang lalu dan berniat untuk mencarinya. Rasa penasaran yang menggelitiknya membuatnya menyuruh seseorang untuk mencarinya.
Miya menarik napas panjang sebelum membuka kotak tersebut. Isinya berbagai macam pernak-pernik seperti foto-fotonya, buku harian dan beberapa surat usang yang dikat rapi. Miya kemudian membuka buku hariannya dan membacanya. Buku harian itu meluncur dari kedua tangannya dan terjatuh ke lantai saat ia selesai membacanya. Rasa terkejut dan tidak percaya terlihat jelas di wajahnya. Miya cepat-cepat menelepon Fabian dengan tangan yang masih gemetar. Setelah deringan kedua terdengar suara Fabian menyapanya dengan penuh cinta.''Kamu harus cepat pulang. Ada yang ingin aku katakan kepadamu. Aku tunggu kamu pulang." Miya langsung menutup teleponnya dengan perasaan campur aduk.''Ya Tuhan. Aku masih belum percaya ini,''gumamnya.[ ]