Hana seorang kariawan biasa yang harus menerima perjodohan dengan anak atasannya yang bernama Rico. Hana pun menyanggupi meski tak ada cinta antara mereka berdua. Ia rela berkorban asalkan atasannya bisa sembuh dan mau di operasi.
Namun, harapan tak selalu sesuai kenyataan. Sang atasan meninggal dunia di saat pernikahannya yang belum genap 24 jam.
Karena merasa tak ada lagi alasan untuk bertahan, akhirnya Rico memutuskan secara sepihak untuk bercerai.
Hana merasa terluka dan di campakkan. Namun, ia juga tak bisa memaksa untuk mencoba menjalani pernikahan mereka. Putusan perceraian keluar. Hana harus menjadi janda perawan.
Tiga bulan setelah perceraian, nasib buruk menimpa Hana hingga membuatnya hamil dan pergi sejauh mungkin.
Mampukah Rico menemukan Hana dan bertanggung jawab. Atau hanya penyesalan yang menghantuinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna sweet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian Dua Puluh Empat
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Ia masih tidur dengan lelap. Kemudian Hana merasakan ada gerakan kecil dari tangan yang ia pegang saat tidur. Ia terkesiap saat menyadari kalau tangan Aksa lah yang bergerak menggerakkan jarinya.
"Ya Allah!" pekik Hana senang "Kamu sadar, nak!" ucapnya penuh haru.
Tanpa membuang waktu ia langsung memanggil dokter.
"Dokter! Dokter!" teriaknya. Namun sejurus kemudian ia menyadari untuk menekan tombol darurat yang ada dalam kamar rawat Aksa. Berulang kali ia menekan tombol sampai seorang suster berlari ke arah kamarnya.
"Ada apa bu?" tanya perawat itu masih dengan napas yang berlomba untuk mengisi udara di paru-parunya.
"Anak saya.... Anak saya, sus. Dia sudah sadar. Tolong panggilkan dokter!" ujar Hana menggebu
"Baik ibu, saya akan panggilkan dokter dulu supaya nanti memeriksa keadaan pasien!" kata perawat sudah dengan wajah yang tenang.
"Tolong segera ya, sus!" pinta Hana penuh harap.
"Mommy!" panggil Aksa dengan suara yang sangat lemah hampir tak terdengar andai Hana tak memusatkan perhatiannya untuk Aksa.
"Iya sayang. Mommy di sini." jawabnya dengan suara bercampur isak tangis. Haru dan bahagian membuncah dalan dadanya. Ia mengusap sayang kepala Aksa dan memegang tangannya. Berulang-ulang kali ia mencium tangan Aksa.
"Ha-us!" ucap Aksa lagi.
Dengan cekatan dan pelan Hana memberikan air putih untuk Aksa. Tidak lama kemudian seorang dokter dan perawat masuk kedalam ruangannya.
"Permisi ya bu. Saya periksa dulu anaknya." ujar dokter.
Lalu dokter mulai memeriksa dan bertanya-tanya pada Aksa meski ia masih menjawab dengan suara lemah.
Kini Hana duduk di ruangan mendengarkan penjelasan dokter tentang kondisi Aksa.
"Alhamdullilah. Seluruh sarafnya berfungsi dengan baik. Mungkin untuk kedepannya, Aksa hanya akan di latih berjalan untuk menggerakkan otot-otot tubuhnya. Pasti sedikit kaku, karena seminggu lebih tak ada pergerakan."
"Dan juga obatnya harus teratur di minum. Makan makanan yang bergizi untuk menunjang asupan yang tidak di dadapatnya selama koma."
"Beri dia perhatian lebih, terutama kedua orang tuanya."
"Nanti juga kalau bisa, bawa ke psikiater untuk memulihkan mentalnya."
"Psikiater? Mental? maksudnya dok?" tanya Hana bingung mendengarkan ucapan dokter tentang diagnosa mental Aksa.
Sebelum menjawab, dokter mengambil napas lalu membuangnya perlahan lewat mulut.
"Bu Hana, kenapa saya harus merekomendasikan Aksa untuk di bawa psikiater karena salah satu penyebab koma yang di alami Aksa adalah terguncangnya mental. Aksa anak yang pandai. Ia bisa menyembunyikan permasalahannya, tapi alam bawah sadarnyalah yang merespon itu."
Hana masih merenungi kata-kata dokter tadi setelah dokter keluar, tentang Aksa yang mengalami sedikit masalah mentalnya. Apa sebegitunya kamu merindukan sosok ayah, nak? Apa mommy salah merahasiakan keberadaan mu? Maafkan mommy, nak!
hiks hiks hiks
Hati ibu mana yang tidak hancur mendengar anaknya harus mengalami hal semacam ini di saat usia yang masih kecil.
Buru Hana mengambil handphone dalam tas yang ia letakkan di atas nakas. Ia bermaksud menelpon Ryan memberi kabar tentang Aksa.
"Nomor yang anda tuju berada di luar jangkaun." terdengar suara operator yang menandakan nomor Ryan tidak aktif.
"Kok nggak aktif?"
Di cobanya lagi, namun hanya jawaban operator saja yang terdengar.
.
.
.
Sementara itu dalam pesawat terbang, Ryan dan Rico hanya saling membisu dengan berbagai macam pikiran. Terkadang jelas sekali dahi mengkerut menandakan terjadi gejolak batin yang tak mampu di ungkapkan.
Dengan menempuh waktu kurang lebih 1,5 jam mereka akhirnya tiba di bandara. Di sana mereka sudah di tunggu oleh sopir Ryan.
Keduanya keluar dari bandara langsung menuju rumah sakit tempat Aksa di rawat.
"Ryan!" suara Rico memecah keheningan antara mereka berdua.
"Ya." jawab Ryan yang masih fokus dengan smart phonenya yang baru ia ganti modenya.
"Bagaiamana Aksa kecil dulu?" tanya Rico ingin tau.
"Sebentar!" ucap Ryan karena ia sedang mengirim pesan setelah mendapat pemberitahuan beberapa miss call dari nomor Hana.
"Dia anak yang lucu sebagaimana anak kecil pada umumnya. Dia juga cerdas. Periang." ujar Ryan memjawab pertanyaan Rico. "Dia juga anak yang tidak merepotkan ibunya." Kenang Ryan menerawang kembali saat kecil Aksa. Bagaimana ia akan senang sekali membuat Aksa kesal dan menangis karena keusilannya.
"Andai aku tau Hana mengandung waktu itu, tentu aku akan bertanggung jawab atas kesalahanku malam itu." sesal Rico.
"Kau memang sejak awal sudah mensia-siakannya. Bagaiamana mungkin kau tega menceraikannya yang sudah berkorban untuk kamu dan menuruti permintaan ayah kamu."
Jawaban Ryan begitu menohok tepat di jangtung Rico. Ya, dulu ia begitu egois. Tidak pandai berterima kasih. Ia tak ingin mencoba menjalani bahtera pernikahannya.
"Aku tau aku salah. Andai aku tidak egois semuanya tak akan begini." ucap Rico dengan penuh penyesalan.
"Sudahlah, itu semua sudah terjadi. Sekarang kamu tahu kalau ada Aksa. Jadi gunakan untuk memberikan perhatian padanya untuk menebus segala kesalahn mu."
"Terima kasih kau sudah menjaga mereka berdua. Aku berjanji akan memperbaiki semuanya."
drrrttt drrrttt
Getar smart phone Ryan menjeda pembicaraan mereka berdua.
"Hallo!"
"Kau dimana? Kenapa nomor mu tidak bisa di hubungi tadi!"
"Maaf tadi lagi di pesawat. Sekarang aku sudah menuju rumah sakit. Jadi tunggu saja di sana."
"Baiklah. Cepatlah kemari!"
"Iya."
Klik. Sambungan telpon di matiakan.
"Siapa?" tanya Rico.
"Hana. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi. Pak, tolong ngebut ya!" perintahnya pada sang sopir.
"Baik, pak." Sang sopir pun mulai menaikan gas mobil memacunya dengan cepat. Melesit menyalip mobil yang ada. Untungnya jalanana tidak terlalu macet.
Mobil yang di tumpangi Ryan dan Rico sudah tiba di parkiran rumah sakit. Mereka berdua sama-sama keluar. Rico mengikuti Ryan karena ia tak tahu di mana letak kamar inap Aksa.
Entah mengapa jantung Rico sepuluh kali lipat berdegup kencang. Keringat dingin membasahi dahinya saking gugup. Semakin mendekat semakin berdebar. Berbagai macam rasa yang ia rasakan. Bahagia, malu, takut, semua meledak menjadi satu.
Saat Ryan akan membuka knop pintu, ia bersuara "Tunggu! aku gugup." ujarnya tanpa bisa menyembunyikannya. Tudak pernah ia segugup ini dalam hidupnya.
"Tidak apa-apa. Hadapi dengan tenang." Ryan cukup mengerti apa yang di rasakan Rico saat ini.
"Hmmmm." jawab Rico mengangguk.
Ryan membuka pintu dan langsung masuk.
"Hana!" serunya
Hana berpaling melihat Ryan dan langsung menghamburkan pelukannya. Ia menangis dan itu membuat Ryan takut. Hana masih belum menyadari kalau Rico berada di luar pintu dan menyaksikan semuanya.
"Hei tenangkan dirimu. Ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan Aksa?"
"Aksa... Aksa sudah sadar."
"Benarkah?" tanya Ryan hampir tak percaya.
"Iya. Tadi pagi dia....?" seketika mulut Hana terbungkam kala pandangannya melihat sosok Rico yang masih mematung di depan pintu.
Di sini tak ada yang menyadari ikatan batin antara ayah dan anak. Meski sejauh apa menolak akan tetap terikat walau hanya sedikit.
Bersambung
sprtny author ingin mmbuat hana kembali pd org lama yg justru menyakiti Hana. sedih.....
sprtny author ingin mmbuat hana kembali pd org lama yg justru menyakiti Hana. sedih.....