NovelToon NovelToon
KECANTOL DOSEN GALAK

KECANTOL DOSEN GALAK

Status: tamat
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Beda Usia / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:69.1k
Nilai: 5
Nama Author: ZIZIPEDI

Arkana Wibowo Seorang Dosen tampan yang terkenal killer. Diusianya yang mencapai kepala tiga. Pria berjambang tipis itu masih betah melajang. Satu ketika ia bertemu dengan Kanaya, salah satu mahasiswinya yang super aneh, dan selalu membuat Arka kesal. Namun dibalik tingkah menyebalkan Kanaya. Gadis itu mengetahui sesuatu yang Arkana tak menyadarinya. Apakah sebenarnya yang Kanaya tahu tentang dosen killernya itu? Temukan keseruan jawabannya di setiap bab.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Aroma omlet buatan Arka menguar dari dapur, menggoda indra penciuman hingga membuat perut yang menciumnya terasa lapar. Terdengar suara piring beradu dengan meja, menandakan Arka sedang mempersiapkan peralatan untuk makan siang mereka berdua. Dengan langkah mantap, Arka berjalan ke arah ruang tengah.

Kanaya tampak mulai terkantuk, lelah setelah acara pesata mereka. Namun, begitu melihat Arka dengan hidangan yang telah disiapkan, matanya terbuka lebar dan rasa kantuk pun seketika hilang.

"Ayo, makan dulu. Saya sudah siapkan makan siang sederhana, saya rasa cukup sekedar mengganjal perut," ujar Arka dengan senyum lebar di wajahnya. Terharu melihat kegigihan suaminya, Kanaya pun tak ingin mengecewakan usaha suaminya itu. Dia bangkit dari posisi duduknya dan menghampiri Arka di meja makan.

"Hm, makasih. Maaf aku tak membantu," kata Kanaya dengan suara lembut, menyesal karena tak ikut andil dalam menyiapkan makan siang. Arka menggeleng, menegaskan bahwa tak apa bagi Kanaya untuk beristirahat.

"Tidak masalah. Saya yang memintamu untuk beristirahat, sekarang waktunya kamu menikmati hasil masakanku," jawab Arka dengan suara tenang.

Kanaya mulai menikmati makanan yang ada di piringnya, seiring dengan suapan pertamanya ia langsung menatap Pak Dosennya.

"Eem, masakan Pak Arka enak," puji Kanaya dengan mata berbinar sambil melanjutkan kunyahannya.

Arka tersenyum gembira, sambil memotong omlet dalam piringnya. "Saya senang, jika kamu menyukainya, makanlah habiskan," ujar Arka. "Hm..." gumam Kanaya sambil melanjutkan makan siangnya.

Setelah mereka selesai menikmati makan siang, tiba-tiba pintu rumah Arka diketuk dari luar. "Biar saya yang buka," ujar Kanaya segera beranjak meninggalkan meja makan. Sementara Arka menghabiskan sisa nasi di piringnya. 

Ketika pintu itu terbuka, Kanaya merasa hatinya hampir terhenti seketika. Betapa kagetnya ia melihat Mandar, wanita yang selama ini menghantui pernikahannya, berdiri di ambang pintunya.

"Maaf mengganggu. Arka ada...?" Ucapan Mandar seperti pisau yang mengiris perlahan hati Kanaya. Tanpa rasa bersalah, Mandar hanya tersenyum sambil menatap Kanaya dengan pandangan dingin dan menyakitkan. 

Kanaya menggigit bibirnya, berusaha menahan kemarahan yang memuncak.

"Ada urusan apa Ibu mencari suamiku, di siang bolong seperti ini?" desis Kanaya, mengekang amarahnya yang menggelegak.

Emosi dan ketegangan antara keduanya seketika menciptakan atmosfer yang pekat. Mata keduanya pun saling beradu, bak dua srigala yang bersiap mengoyak satu sama lain, di tengah hening yang tiba-tiba merajai ruangan.

"Saya hanya ingin memberikan kado pernikahan untuk kalian, karena saat acara pesta, saya tidak bisa hadir, jadi saya sempatkan hari ini." Kanaya tersenyum pahit, tatapannya menyelidik ibu dosennya yang berkedok malaikat.

"Oh ya, benarkah Ibu tak sempat hadir...?" sindir Kanaya dengan penuh kekecewaan atas ucapan dusta yang meluncur mulus dari bibir manis Mandar. Jelas-jelas Arka meninggalkan pelaminan hanya untuk menemui wanita 'siluman' di hadapannya ini, dan dengan polosnya dia mengatakan jika dia tak sempat hadir. 'Rencana apa yang sedang wanita licik ini mainkan' batin Kanaya dengan getir, mencoba menyembunyikan kemarahan dan kecurigaannya.

Mandar menyipitkan matanya, seolah menembus jantung Kanaya yang bergolak. Matanya yang tajam seolah mengejar bayang-bayang kebahagiaan yang direnggut darinya, terfokus pada mahasiswinya yang kini menikah dengan Arka, pria yang menjadi cinta pertamanya.

"Siapa Nay...?" tanya Arka dari arah dalam.

"Bu Mandar, apa kamu mengundangnya ke mari?" tanya Kanaya dari balik pintu, suara ketus melintas di setiap kata. Bahkan Kanaya tak sudi mempersilahkan wanita itu untuk menginjakkan kaki di rumahnya.

Arka, yang mencium ketegangan di udara, segera buru-buru melangkah ke depan untuk menyusul sang istri.

"Ada apa? Kenapa kamu kemari?" tanya Arka dengan kening berkerut, aura dingin mengelilingi tubuhnya. Mandar tersenyum sinis. Saat Arka tak juga mempersilahkannya masuk.

"Apa begini cara kalian menyambut tamu?" sindirnya, mencoba merendahkan sepasang suami istri itu. Arka menelan ludah, berusaha tenang dihadapan mereka berdua.

"Oh, iya... masuklah," ucap Arka akhirnya, mengalah agar situasi tidak menjadi semakin panas.

Sementara itu, Kanaya menatap tajam suami dan Mandar yang bergantian. Rasanya dada Kanaya diremas kuat, hingga sekadar menarik nafas saja terasa sakit, saat melihat mereka duduk bersebrangan di ruang tamu. Api cemburu membakar hatinya, mengejutkannya dengan perasaan yang tak bisa diungkapkan.

"Ada perlu apa, sampai kamu datang ke rumahku..?" tanya Arka, tampak gelisah dengan sorot bola matanya yang diliputi kabut hitam. Kanaya seolah dapat merasakan kegusaran yang menyelimuti hati suaminya. 

"Ini, kado pernikahan untuk kalian. Maaf baru bisa memberinya sekarang," ujar Mandar, meletakkan sebuah kotak kecil di hadapan mereka, mengekspresikan permintaan maaf dari lubuk hatinya. Namun Kanaya tahu jika itu hanya akal buduk dari wanita yang belum bisa melepas rasa cintanya pada sang kekasih.

Arka berusaha menenangkan perasaannya yang bergejolak, "Harusnya kamu tidak perlu repot-repot memberi kami kado, Mandar." "Gak apa-apa, memang sudah aku niatkan, terima lah" sahut Mandar dengan nada lembut yang menggema pelan.

"Kalau begitu, aku pamit dulu. Maaf sudah mengganggu waktu istirahat kalian," ujar Mandar, sebelum berbalik menuju pintu.

Saat itulah, dia menarik tangan Kanaya perlahan, mendekapnya erat-erat dalam pelukannya yang terasa panas membara di jiwa Kanaya. Sungguh, wanita rubah itu seperti iblis bersayap malaikat.

"Selamat ya. Kamu memang berhasil mendapatkan statusmu sebagai istri Arka. Namun ingatlah, aku tetap menjadi pemenangnya. Karena aku tahu, dalam lubuk hati suamimu hanya ada namaku. Aku yakin fotoku pun masih tersimpan rapi di meja kerjanya. Selamat menikmati hidup baru, dan kutitipkan kekasihku padamu," bisik Mandar tepat di telinga Kanaya, menghunuskan kata-kata bak belati tajam yang menghujam jiwa serta membangkitkan badai prahara di antara mereka.

"Tenang saja, saya akan menjaga suami saya dengan baik, termasuk dari wanita murahan sepertimu," ujar Kanaya dengan sinis sambil mendorong Mandar untuk melepaskan pelukannya dengan kasar.

"Dasar wanita iblis," bisik Kanaya penuh amarah dalam hati. Kanaya menatap Arka tajam, lalu ia pergi berlalu meninggalkan ruang tamu. 

"Sayang, setelah dia pergi, tutup pintunya ya. Aku tunggu kamu di kamar," kata Kanaya dengan senyuman menyeringai, menatap Mandar dengan tatapan menghina.

Dalam kegetirannya, Mandar keluar dari kediaman Arka dengan wajah muram, mencoba menahan tangis yang mulai menggenang di dadanya. Arka kemudian menutup pintu utama rumah dan bergegas mengejar Kanaya yang sudah melangkah naik ke lantai atas, meninggalkan jejak kekecewaan dan kebencian pada wanita yang sengaja datang untuk menghancurkan kebahagiaannya.

Arka melangkah masuk ke kamar mereka, mendekati Kanaya yang terduduk diam di tepi ranjang, wajahnya tertunduk sembari menahan air mata.

"Maaf. Saya tidak tahu bahwa dia akan datang ke sini," ucap Arka, berusaha meraih tangan Kanaya, menyampaikan ketulusan penjelasannya. Kanaya tersenyum getir, kepedihan tergambar jelas di wajahnya.

"Hmm, aku tahu. Mungkin memang dia yang tidak bisa melupakan kekasihnya. Seakan-akan rumah ini sudah menjadi miliknya, dia bahkan tahu bahwa fotonya masih terpajang di meja kerja kamu,Pak Arka." Mata Kanaya semakin berkaca-kaca, mencoba menyembunyikan rasa sakit yang melilit hatinya.

"Mungkin memang aku yang salah, yang masuk ke dalam hidupmu dan menghancurkan impian kalian berdua. Benarkah itu, Pak Arka?" suaranya bergetar, serapah sedih mengalir tanpa henti.

Arka merasa tertohok, tangannya mengepal dan ekspresi wajahnya tegang.

"Kamu ngomong apa, Kanaya? Ingatkah kamu ketika saya mengikrarkan ijab kabul di hadapan Allah dan walimu, saya berjanji untuk menjaga hatimu. Dan maaf soal foto itu, saya lupa untuk membuangnya. Tapi, kamu harus tahu, bukan saya yang menaruhnya di meja kerja itu, Mandar yang yang sengaja taruh di sana," Arka menggenggam tangan Kanaya erat, berusaha meredam rasa sakit yang mendera hati istrinya.

Sementara itu, Kanaya menundukkan kepalanya, menahan tangis yang menyumbat di kerongkongannya. Rasa sakit itu tak kunjung beranjak. Dalam keheningan, mereka berdua merasakan kepedihan dengan alasan yang berbeda.

Arka meraih tangan Kanaya, membawanya ke ruang kerjanya dengan penuh kelembutan. "Lihat, aku sudah membuang foto itu ke tong sampah," tunjuk Arka pada sudut ruangan yang dipenuhi oleh kenangan masa lalu.

Kanaya menoleh, menatap suaminya dengan ekspresi bimbang. Merasakan kegelisahan Kanaya, Arka pun menggenggam tangannya, menarik tubuh istrinya itu dalam dekapan hangat yang penuh perasaan.

"Berhentilah khawatir tentang yang tak penting, Kanaya. Bagi saya saat ini, masa lalu dengan Mandar sudah tak berarti lagi. Sekarang yang terpenting adalah menjaga hati istriku, menjaga rumah tangga kita," bisik Arka, nada suaranya lembut, menyentuh relung hati Kanaya.

Namun, kanaya masih merasa ragu. Dengan bisikkan hatinya, apakah ucapan Arka sungguh tulus, atau hanya untuk sekedar menenangkan perasaannya saja, agar api cemburu tak menyala? Tidak tahu, tapi yang jelas hati Kanaya masih meragu untuk mempercayai sepenuhnya ucapan suaminya.

"Apa aku harus mempercayai ucapan Pak Arka...?" tanya Kanaya dengan suara penuh keraguan. Arka tersenyum.

"Aku tak memintamu percaya, cukup kamu tahu saja, jika saat ini yang terpenting untukku, adalah kebahagiaan orang tuaku yang ada pada pernikahan kita. Berhentilah berpikir yang tidak-tidak, karna itu akan melukai perasaanmu sendiri," ucap Arka dengan tegas.

1
Melia Gusnetty
jgn luluh lg naya...ksh pelajaran pd suami mu itu...dgn bersikap sprt dia ke kamu..biar sadar tuu si arka
Melia Gusnetty
si arka taik....percuma kau tau agama..yg ada d otak dn hati kau wanita lain bukan istri mu...dn naya jgn bodoh dn luluh dgn suami yg tak mencintai mu...
Melia Gusnetty
knp gk d tinggalin aj tuu si arka....biar tau rasa dia...
jgn lemah dong jd cewek nay...
Melia Gusnetty
iihh..jengkel skl sm arka..dia yg bilang mau mulai dr awal...dia pl yg bertingkah..gitu mulu..bentar masalah bentar damai...gk jelas ujung nya
Melia Gusnetty
si.mandar kt nya wanita muslimah yg berpakain sar'ii..kok perangai nya gk sesui dgn casing luar nya...murahan..pelakor..
si naya jgn tolol2 amat deeh...mdh luluh aj sm arja..tegas dikit woyy...😏😜😏
Melia Gusnetty
dasar bodoh bin tolol kau naya...bikin greget aja...😏😏😏
Melia Gusnetty
harus nya si naya ini bersikap dingin sj sm arka...apa lg dia udh mergokin si arka sm buk dosen itu....bodoh dn ceroboh km naya ..menjengkel kn...ksh pelajaran kek si arka dgn cuek dn dingin sj..klu per😏lu panas2in tuu sm si panji
Melia Gusnetty
si kanaya begok yaa...itu darah mensturasi mu naya...🤦‍♀️

si arka cuma bafsu aj yg gedek ke naya bukan cinta...
Melia Gusnetty
kanata terlalu polos ap terlau bodoh...mau aj sm lelaki yg mencintai wanita lain...punya harga diri dong sbg perempuan...
Deeva Sha
benci aku ke kanaya , ngapain ngemis cinta taik
Maya 26
ko bisa sih Kanaya mau nikah please bodoh bgt sumpah , mau sakit hati sampe kapan woy
Maya 26
kenapa sii Kanaya mau nikah sama tuh dosen padahal dosenya gak cinta.
kalau gak cinta aja sih mending ya, tapi tuh dosen cinta sama orang lain.
kalau dianya gak cinta juga masih ada mendingnya minimal gak makan hati, Lah ini nikah bertepuk sebelah tangan mau lagi ampun
Maya 26
heran bgt, udah tau tuh dosen gak cinta kenapa mau bikin emosi aja ah.
harusnya tegas dong jangan mau di nikahi dengan alasan apapun
Maya 26
kalau gue gak bakal mau nay, nikah sama laki2 yg cintanya buat perempuannya lain. makan hati terus
Widya Sari SE
Ending nya Mengecewakan😔
Andri Haryono
yach... penonton kecewa. endingnya cuman segitu aja....
Andri Haryono
Luar biasa
Andri Haryono
woow.. dalam banget kata2 Arka
Andri Haryono
nasibmu Nay...
Qaisaa Nazarudin
Kalo udah tau kebenarannya,Kenapa masih mau meneruskan..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!