Zheyara : "Aku berjanji akan membebaskan kalian dari lingkaran kematian ini, meskipun sedikit mustahil bagi diriku sendiri".
Misteri, ya dunia ini adalah misteri dan teka-teki dan orang yang paling banyak mengetahui semua misteri itu adalah perwujudan sosok misteri itu sendiri.
misterius, cover yang sangat menarik dari diri seseorang. Dalam diamnya, terdapat banyak rahasia yang dipendam, dalam sunyi banyak hal yang terusik, dan dalam sepi banyak sesuatu yang menari sehingga menciptakan suatu misteri.
"Aku tak akan membunuh kalian semua tetapi bukan berarti aku melupakan dendamku. Hanya saja aku merubah arah panah dendam itu menjadi 2 sisi yang sangat tajam sekaligus menyenangkan bagiku. Satu sisi membuatku menjadi kuat dan Istimewa, dan satu sisi lainnya membuat orang yang membenciku lebih terluka berkali" lipat untuk sekedar melihatnya daripada terluka karna pembalasan sebuah dendam".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azyhra Angkasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peri Zuera Melatih Zheya
Tring
Tring
Tring
Dentingan pedang berbunyi nyaring. Kaki Zheya melangkah dengan sangat lincah menangkis dan menghindari satu demi satu serangan bertubi-tubi yang diberikan peri Zuera.
Zheya melihat sedikit celah yang bisa menjadi kesempatan untuk dirinya membalas serangan dari peri Zuera.
Zheya menghunuskan pedangnya, menargetkan perut bagian kanan peri Zuera sebagai sasaran pedangnya.
Peri Zuera berhasil menghindar, ia memutar badannya sehingga kini ia sudah berada di belakang tubuh Zheya tanpa disadari oleh sang pemilik tubuh.
Peri Zuera menarik tangan Zheya dari belakang sehingga membuat tubuhnya berhadapan langsung dengan peri Zuera.
Peri Zuera mengangkat pedangnya, berusaha melukai leher Zheya dan membuat sebuah goresan di sana.
Zheya merasakan perih di bagian lehernya, menyadari bahwa pedang peri Zuera berhasil melukai kulitnya.
Zheya tetap bertahan, berusaha memberikan serangan balik yang lebih mulus hingga sulit dibaca lawan.
Zheya menggunakan sebuah taktik. Ia melompat sangat cepat kemudian berlari, menjauh seolah-olah ingin pergi dan melarikan diri.
Tetapi pada saat Peri Zuera mengejarnya, ia langsung memutar arah lintasannya dan kembali berbalik arah, memberikan serangan dadakan kepada peri Zuera dan melemparkan pedangnya.
Pedang itu berhasil menusuk lengan kiri peri Zuera dan pertarungan pun terhenti, dan semuanya sudah selesai. Dan Zheya sudah berhasil menguasai teknik berpedangnya.
Bermacam-macam dasar beladiri sudah mampu dikuasainya, bahkan lebih dari sekedar dasar pun Zheya telah mahir menguasainya.
Setelah menghabiskan waktu tiga minggunya, Zheya akhirnya berhasil menyelesaikan tahap 2 dan lolos ke tahap 3. Kini, hanya tersisa 2 tahapan lagi.
Malam harinya di balkon kamar
Zheya melamun memikirkan keluarganya yang kini sedang berada jauh darinya. Sudah satu bulan ia di sini, tetapi dirinya belum juga bisa pulang dan kembali ke istana.
Padahal ia bilang pada ibunya bahwa ia hanya pergi untuk beberapa minggu saja, tetapi nyatanya lebih dari itu. Keluarganya pasti sangat merindukannya, dan ia pun sama.
"Hai adik, aku dengar kau sudah menyelesaikan tahap 2 dan berhasil lolos ke tahap selanjutnya? Kau hebat," ucap Neixe yang tiba-tiba muncul di depannya.
"Hmm ... " respon Zheya biasa saja.
"Kau kenapa adik? Mengapa wajahmu terlihat lesu begitu? Apakah ada hal buruk yang terjadi?" Neixe bertanya.
"Aku tidak apa-apa Jiejie. Hanya saja ... aku teringat dengan keluargaku di sana, aku merindukannya," ucap Zheya sendu.
"Seperti itu rupanya. Itu adalah suatu hal yang wajar, apalagi kau sudah berjauhan dengan keluargamu kurang lebih satu bulan. Pasti kau sangat merindukannya," ucap Neixe memahami apa yang sedang dirasakan Zheya.
"Aku juga menghawatirkan mereka Jiejie. Aku takut, jika sekte gelap itu datang dan membuat kekacauan lagi. Lalu bagaimana jika mereka melukai keluargaku?" Zheya mengungkapkan kegelisahannya pada Neixe.
"Aku mengerti, dan satu-satunya cara adalah kau berlatih lebih rajin agar dapat dengan cepat menyelesaikan semua tahapan itu. Lalu kau bisa segera kembali ke duniamu."
"Kau benar Jiejie. Aku harus menjadi kuat terlebih dahulu sebelum menghadapi mereka," ucap Zheya mengiyakan perkataan Neixe.
Neixe pun tersenyum dan mengelus pucuk kepala Zheya. "Nah seperti itu baru pantas disebut putri mahkota. Ingat ... sebelum kau melindungi keluargamu kau harus lebih dulu bisa melindungi dirimu sendiri."
"Bagaimana kau tahu bahwa aku adalah putri mahkota?" tanya Zheya keheranan.
"Peri Yiera bercerita banyak tentangmu."
"Sejauh itukah pengetahuannya tentangku?" tanya Zheya lagi.
"Itu jelas, karena dia sudah mengawasimu bahkan sejak kau masih balita, sejak terjadinya ritual itu. Hanya saja ... dia telat menyelamatkanmu."
Zheya hanya tersenyum tipis, ia mengerti akan hal itu.
"IBU!" seru seorang perempuan berteriak. Matanya terbelalak melihat ibunya sedang terikat di sebuah pohon besar, dengan duri tajam yang menjadi ikatannya.
Di sebelah kirinya ia melihat ayahnya sedang bertarung di pinggir sungai dengan seseorang yang memakai jubah merah darah.
Mereka saling menyerang dengan pedangnya. Kaisar kini telah terkepung, serangan datang kepadanya dari segala penjuru arah.
Dirinya bingung harus apa. Kedua orang tuanya sedang dalam bahaya, entah siapa yang harus ia selamatkan lebih dulu.
Ia mengambil langkah berani, dirinya tak mempunyai banyak waktu untuk berfikir. Pikirannya sendiri sudah melayang, ia kalang kabut.
Ia memutuskan untuk membantu ayahnya terlebih dahulu, agar mereka berdua bisa bersama-sama membebaskan wanita yang sedang terjerat duri di pohon.
Tetapi baru saja ia menggerakkan kakinya, berlari dan berancang-ancang untuk menyerang, sebuah dentuman sudah lebih dulu terdengar keras.
Ada semacam benda peledak yang jatuh. Benda itu mengeluarkan api yang merembet ke tanah, membakar serta menghanguskan tempat itu beserta mereka yang masih terjebak di sana.
Para penyerang berjubah merah darah itu, semuanya melarikan diri. Mereka menggunakan sebuah portal lalu mereka menghilang.
Semangat Thor 💪
smngt
smngt thor
naik ke atas pohon.