Desa Karang digemparkan oleh sosok yang membawa kepala dan melemparkannya ke halaman setiap rumah korbannya. warga merasa seakan terkena teror yang sangat menakutkan, sebab tidak dapat diketahui siapa sebenarnya sosok yang sangat misterius tersebut. Sosok itu menghilang, setelah berhasil memenggal sebelas kepala warga desa yang semuanya adalah pria.
Apa yang menjadi motif dari sosok tersebut? maka ikuti kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Boy
Remaja berkulit hitam itu mengemasi barangnya untuk berangkat ke kota. Ia tidak ingin mati konyol seperti rekan-rekannya yang lain. Saar ini Juned sudah menyusul ke alam baka, sedangkan ia sudah mendapat teror malam tadi.
"Kamu Bapak anterin, ya," ucap Jarwo-Bapaknya menawarkan.
Remaja itu menggelengkan kepalanya. "tidak usah, Pak. biar Boy sendiri saja. Bapak temenin ibu dirumah,"
"Tetapi mengapa sosok itu meneror kamu juga? Sebenarnya kesalahan apa yang sudah kamu perbuat?" tanya Jarwo penasaran. Ia meyakini jika anaknya memiliki sesuatu yang dirahasiakan.
"Tidak ada, Pak. Mungkin saja syeetan itu menyukai para remaja desa, dan ada seseorang yang sedang menuntut ilmu hitam," jawab Boy berbohong.
Ia menutupi rasa takut dan bersalahnya dengan melarukan diri ke kota. Berharap jika makhluk itu tak mengejarnya.
"Bener juga katamu, kemungkinan ada yang sedang menuntut ilmu hitam dan targetnya adalah para renaja yang belum menikah," Jarwo membenarkan ucapan puteranya, meskipun apa yang diduganya hanyalah paraduga saja.
"Tapi siapa didesa ini yang perku dicurigai?" tanya Jarwo. Sedangkan sang istri masih dalam ketakutan yang terus membekas diingatannya saat kejadian malam tadi.
"Lihatlah siapa yang paling acuh didesa ini, Pak," ujar Boy yang mencoba untuk mempengaruhi sabg Bapak.
Pria itu tampak diam. Ia mencoba menerka-nerka siapa sosok yang paling acuh dan perlu dicuriagai saat ini.
Seketika wajahnya berubah drastis, ia mendapatkan siapa yang patut ia curigai.
"Ki Roso. Ya, pria itu adalah yang paling patut dicurigai, dan kemungkinan ia sedang menganut ilmu hitam," Jarwo merasakan tebakannya sangat benar.
"Ya, apalagi dia membawa golok setiap hari, kemungkin ia orang yang paling pantas dicurigai. Bagaimana kalau bapak menyampaikan hal ini pada peeangkat desa," usul Boy dengan wajah sumringah. Ia meyakini jika ia terus menghasut Bapaknya dengan tuduhan-tuduhan fitnahnya, maka kemungkinan ini akan mengaburkan tentang semua apa yang telah dilakukannya terhadap Nawswari.
Jarwo semakin termakan ucapan puteranya. "Ya.. Bapak akan mencoba mengatakan ini pada perangkat desa. Sebab gerak-gerik Ki Roso sangat mencurigakan. Apalagi ia tidak pernah hadir sekalipun terhadap para korban yang mengalami pembantaian," ucap Jarwo.
Boy semakin sumringah. Ia merasa berhasil mengelabui bapaknya dan ini sangat menguntungkanya andai saja ia berhasil menghasut Bapaknya apalagi para warga.
"Kalau begitu, biar Boy ikut, Pak..." remaja itu mengurungkan niatnya untuk ke kota, dan ia berniat akan membuat semuanya semakin memanas.
"Baiklah. Tapi kita tunggu evakuasi jasad Juned selesai, lalu kita akan membuat pernyataan tersebut," jawab si Bapak.
Lalu Boy menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Sementara itu, tampak empat orang pemuda yang saling berboncengan dengan menggunakan dua buah motor yang mana tak lain adalah Yogi, Surya, Sigit, dan Satya yang tampak ketakutan dan bergegas turun dari motor menghampiri Darmadi.
"Bang, abang tau darimana? Siapa yang telah memberitahu abang?" cecar Yogi dengan suara yang gemetaran.
"Abang melihatnya," jawab Darmadi yang membuat ke lima remaja itu semakin ketakutan.
"Haah!" kelimanya tercengang dengan jawaban pemuda yang lebih tua dari mereka.
Kelimanya saling pandang, lalu mulai tampak kecemasan yang terus menggelayuti hati mereka.
"Jadi Abang mau laporin kita ke polisi?" tanya Satya dengan tubuh yang mulai tremor. Ia tidak menduga jika mereka telah tertangkap oleh seseorang yang mengetahui rahasia buruk yang disimpan rapih.
Darmadi menggelengkan kepalanya. Ia menatap kelima remaja tersebut. "Jawab jujur, siapa yang memindahkan jasad Naeswari yang kalian kubur disana," tunjuk pemuda itu dengan tatapan penuh selidik dan penekanan.
Kelimanya tercengang, lalu saling tatap dan merasa bingung. Bingung mengapa Darmadi tahu mereka menguburnya disana, dan juga bingung mengapa jasad itu bisa dibongkar. Maka itu artinya ada orang lain selain Darmadi yang mengetahui perbuatan mereka.
"Sumpah, Bang, aku tidak ada memindahkannya. Ini berarti ada orang lain selain abang yang memindahkan jasad Naeswari," Yoga semakin memucat.
"Pelankan nada bicaramu, sebelum ada telinga lain yang mendengarnya," Darmadi mengingatkan.
Yoga menutup mulutnya dan menyapu pandangannya kesekeliling tepi hutan, dan berharap tak ada orang lain yang melihat apalagi mendengar ucapan mereka.
Darmadi menarik nafasnya dengan dalam. "Baiklah. Malam nanti kita berkumpul didekat kebun karet. Kita akan melakukan pencarian makam Naeswari disekitar rumah Ki Roso, dan akan tugas masing-masing dari kita. Dimana Satya dan juga Yogi membantu saya untuk mengambil jasad seseorang dirumah Ki Roso,"
"Haah?! Yang benar saja, Bang? Maksudnya ki Roso yang mengambil jasad Naeswari. Berarti dia tahu perbuatan kami?" Sigit yang sedari tadi terdiam kini semakin cemas.
Darmadi menggelengkan kepalanya. "Sepertinya bukan jasad Naes, sebab wajahnya sangat hancur, dan kemungkinan itu jasad yang digunakan untuk membalas dendam dan menghabisi rekan-rekan kalian," ungkap Darmadi.
Kelimanya tersentak kaget. "Jadi Ki Suro yang ada dibalik ini semua?" Surya angkat bicara.
"Diamlah! Bukankah hal wajar jika ia membalas dendam pada orang yang telah menghabisi puterinya. Tidak ada asap jika tidak ada api. Semua ini karena ulah kalian juga!" sergah Darmadi dengan geram.
Kelimanya terdiam, dan mencoba membenarkan ucapan Darmadi. Andai saja mereka saat itu tidak membuat kesalahan fatal, maka teror ini tidak akan pernah terjadi.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Bang?" tanya Sigit cemas. Rasa takut semakin merasukinya.
"Ikuti perintah abang. Malam nanti kita berkumpul didekat kebun karet. Jangan bawa motor, sebab akan ketahuan warga juga Ki Roso. Lalu bawa pbonsel dan hanya aktifkan getarnya saja agar memudahkan kita untuk komunikasi," Darmadi memberi instruksi kepada kelimanya.
"Yoga, Surya, dan menunggu dikebun karet perbatasan rumah Ki Roso untuk menyambut jasad tersebut," ucap Darmadi lagi.
"Bang, masa iya aku dapat jatah membantu mengambil mayat dalam lemari. Ganti sama si Surya-lah, Bang," rengek Satya dengan wajah memelas.
"Diamlah, kalian hanya membantu untuk melumpuhkan Ki Roso dengan cara diikat saja, tapi jangan sampai membahayakannya. Kita hanya ingin mengambil jasad itu," ucap Darmadi menjelaskan, "Masalah jasad tersebut biar abang yang ambil, nanti Yoga menyambut dari luar, lalu sigit membantu membawa jasad ke dalam kebun karet," Darmadi kembali menjelaskan rencananya.
Meskipun mereka sangat ketakutan, tetapi mereka mencoba untuk membantu rencana Darmadi. Sebab mereka meyakini jika Jasad dalam lemari tersebut adalah jasad yang digunakan oleh Ki Roso untuk media membalas dendam pada mereka dan rekan-rekannya.
Setelah mendengarkan intruksi dari Darmadi. Lalu mereka membubarkan diri.
Dari balik semak, tampak sepasang mata yang memandang mereka penuh dendam. Sorot matanya penuh kesedihan, dan ia menyeka air mata yang jatuh disudut matanya.
Ia menarik nafasnya dengan berat, lalu meninggalkan sesemakan menuju jalan lain yang hanya ia yang mengetahuinya.
Contoh DAENG KEBO..DAENG MATOLA..
boy...boy...tunggulah giliranmu.