Sejak kecil, Kiara hidup sebagai anak yang dibenci dan disiksa oleh keluarga yang membesarkannya. Ia tak pernah tahu bahwa semua penderitaan itu berawal dari sebuah pembunuhan yang terjadi dua puluh lima tahun lalu.
Demi merebut harta dan kekuasaan, pamannya membunuh ayah kandung Kiara, mengurung ibu kandungnya selama puluhan tahun, lalu membesarkannya dengan identitas palsu.
Saat kebenaran mulai terungkap, Kiara harus merebut kembali haknya dan membalas semua dosa yang telah merenggut keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Di sebuah kamar hotel yang terletak jauh dari pusat kota, tengah terjadi pergumulan panas. Keduanya sengaja memilih tempat yang aman dan tersembunyi, jauh dari jangkauan serta pengawasan orang-orang, termasuk anak buah mereka sendiri.
Kejadian itu berlangsung di siang menjelang sore. Karena lokasinya yang terpencil, tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang sedang mereka lakukan.
“Ah, sayang… teruskan…” desah wanita itu lirih, membiarkan rasa nikmat menyelimuti dirinya dalam pelukan erat pria di atas tubuhnya.
“Apakah kau menikmatinya, sayang?” tanya pria itu sambil menatap wajah wanita itu lekat-lekat.
“Tentu saja, Mas. Sudah lama sekali aku tidak disentuh oleh suamiku. Dia selalu sibuk dengan urusan dan ambisinya sendiri,” jawab wanita itu.
“Tak apa, sayang. Untuk sekarang kita bersantai dan menikmati waktu bersama, sambil menunggu saat yang tepat tiba.” Pria itu pun mempercepat gerakannya hingga keduanya mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan.
“Hah… hah… hahaha… Kau memang selalu hebat, Mas. Tak pernah berubah sedikit pun,” puji wanita itu. Pria itu tersenyum bangga, lalu mengecup kening wanita itu perlahan. Ia menarik diri, mengenakan jubah mandi, dan duduk bersandar di sofa ruangan itu.
“Ngomong-ngomong, bagaimana kabar putra kita?” tanya pria itu kemudian.
“Ah, dia… Dia sedang sibuk dengan bisnis gelapnya sendiri,” jawab wanita itu santai.
“Bisnis apa yang sebenarnya dia jalankan?”
“Bisnis terlarang. Tapi tenang saja, sayang, hal itu belum menjadi rahasia umum. Kau tahu sendiri, bukan? Banyak pejabat tinggi pun melakukan hal yang sama. Dan jangan lupa, kitalah yang mendanai semua itu,” ucap wanita itu dengan nada menyindir sambil melepas handuknya dan mendekati pria itu. “Hingga saat ini, dia sudah meraup keuntungan miliaran rupiah dari bisnis haram itu,” tambahnya sambil merangkul leher pria itu erat-erat.
“Jangan sampai aktivitasnya terendus oleh pihak berwajib, sayang,” ucap pria itu dengan nada khawatir.
“Tenang saja. Ada Yuli dan Rafa yang mengurus semuanya dan memastikan keamanannya,” jawab wanita itu meyakinkan. Ia lalu melepaskan pelukannya dan duduk tepat di pangkuan pria itu.
Keduanya pun kembali larut dalam keintiman mereka. Namun, tanpa mereka sadari, sebuah kamera pengintai telah dipasang secara diam-diam di sudut ruangan itu. Seseorang yang berada di tempat lain kini tengah menyaksikan segala tindakan mereka, mengetahui bahwa mereka telah mengkhianati orang-orang terdekatnya.
.
.
.
Di tempat lain, enam orang yang berkumpul di kediaman megah Pak Seno sedang tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Ucup menghela napas panjang, lalu bertanya, “Jadi apa rencanamu selanjutnya, Kiara?”
“Aku harus kembali ke rumah itu. Satu-satunya cara untuk mencari bukti yang lengkap adalah dengan berada di sana. Apalagi di sana ada Nenek Amira. Hanya saja, aku belum yakin apakah beliau bisa diajak bekerja sama,” jawab Kiara mantap.
“Tunggu dulu… Kau bilang Nenek Amira masih tinggal di sana? Jadi nenekmu masih hidup, Kiara?” tanya Pak Seno terkejut.
“Benar, Om. Beliau selalu berusaha membela aku, meskipun sejujurnya aku masih ragu dan belum sepenuhnya percaya padanya,” jawab Kiara jujur.
“Nenekmu itu orang yang baik, Kiara. Jadi kau tidak perlu terlalu khawatir. Dekatilah beliau, katakan bahwa kau sudah mengetahui seluruh masa lalu kelam Anton, dan kau juga sudah tahu siapa orang tua kandungmu yang sebenarnya,” saran Pak Seno.
“Tapi Om, apakah itu tidak terlalu berbahaya jika Kiara terus terang begitu saja kepada neneknya?” tanya Ucup khawatir.
“Om yakin itu tidak akan membahayakan. Justru Bu Amira akan berusaha melindungi cucunya itu bahkan dengan nyawanya sekalipun. Beliau adalah wanita yang penuh penyesalan dan kesedihan. Ia harus menyaksikan suaminya meninggal, kehilangan anak laki-lakinya, serta terpisah dari menantu kesayangannya, Linda—ibumu. Namun, sejujurnya Om tidak tahu apakah Bu Amira sudah mengetahui bahwa Anton adalah dalang di balik semua kecelakaan dan hilangnya Linda selama ini,” jelas Pak Seno panjang lebar.
“Betapa hancur dan sakit hatinya perasaan Bu Amira nanti jika mengetahui bahwa anak kandungnya sendirilah yang telah membunuh suami dan kakaknya sendiri. Pasti beliau akan sangat terpukul dan tak percaya,” gumam Vera lirih.
“Tante pun tak pernah menyangka hal itu bisa terjadi. Dulu, Anton adalah anak yang paling dimanja dan disayang oleh Bu Amira, bahkan melebihi Yuda—anak sulung mereka. Namun, Tante sangat kagum pada Yuda. Ia tidak pernah merasa iri, apalagi menyimpan dendam meskipun kasih sayang orang tuanya terasa tidak adil bagi dirinya,” tambah Bu Yuni.
“Papa tahu betul sifat Yuda. Ia memiliki mental yang kuat dan jiwa yang luhur layaknya seorang kesatria. Ia selalu memegang ajaran mendiang Kakek Prasetyo: bahwa seorang laki-laki harus kuat, mampu melindungi keluarga, serta menjaga adik dan ibunya. Sayangnya, ia harus menanggung luka yang mendalam akibat kejahatan adiknya sendiri—kakaknya dibunuh, dan ibunya dipaksa untuk menerima semua kejadian pahit itu,” ungkap Pak Seno dengan nada sedih.
“Mengapa bisa ada adik yang sekejam itu, Om?” tanya Kiara lirih.
“Om sendiri menduga ada andil besar Risma di balik perubahan sikap Anton. Bisa jadi ada pihak lain yang memprovokasi Anton agar menuntut bagian warisan yang seharusnya bukan haknya. Dulu, Anton pernah diusir dari rumah karena telah menghamili Risma. Ia tidak diperbolehkan membawa satu pun fasilitas atau barang berharga, hanya pakaian yang menempel di tubuhnya saja. Namun, Yuda yang hatinya selembut sutra itu tetap menyayangi adiknya, dan sering mengunjungi Anton di tempat tinggalnya yang sederhana.”
“Kita juga harus menggali lebih dalam soal Risma dan siapa yang ada di belakangnya. Bisa jadi ada pihak kuat lain yang membuat mereka selama ini kebal hukum,” saran Bara.
“Benar, Mama pun pernah berpikir begitu. Dulu, Mama dan Papa pernah berniat melaporkan mereka atas kasus hilangnya Linda, karena semua bukti saat itu jelas mengarah pada Risma dan Anton. Namun, tak lama kemudian kasus itu ditutup begitu saja. Pihak berwenang beralasan bahwa bukti tidak cukup kuat untuk menahan para tersangka, padahal bukti-bukti itu sudah ada di tangan kami,” kenang Bu Yuni.
“Sudah jelas mereka dilindungi oleh orang-orang berkuasa. Kita harus mencari tahu siapa sebenarnya yang selama ini melindungi mereka,” tegas Ucup.
“Baiklah. Om juga sedang menunggu seseorang yang akan membawa rekaman bukti penting itu,” ucap Pak Seno.
“Apakah Om Seno memiliki anak buah yang bekerja di sana?” tanya Kiara penasaran.
“Benar, Nak. Selama ini Om terus memantau keadaanmu. Om berjanji pada ayahmu sebelum kecelakaan itu terjadi. Ia berpesan bahwa jika suatu saat ia tiada, Om harus menjagamu dari segala bahaya yang mengancam. Sayangnya, Om sempat kehilangan jejakmu. Karena itu, Om menyuruh salah satu anak buah untuk menyamar dan bekerja di rumah keluarga Anton. Tugasnya adalah mencari tahu siapa gadis yang selama ini diperlakukan secara kejam oleh Anton dan Risma,” jelas Pak Seno jujur.
“Jadi selama ini Papa bergerak diam-diam? Kenapa tidak memberitahu Bara sejak awal?” tanya Bara sedikit kecewa.
“Kalau Papa memberitahumu, rencana ini bisa saja gagal dan terbongkar, Bara. Bukan karena Papa tidak percaya padamu, tapi Papa tidak ingin kau terlibat dan terbebani. Papa ingin kau tetap fokus mengurus urusan kantor dengan tenang.”
“Siapakah orang itu, Om? Anak buah Om yang bekerja di rumah Papa Anton?” tanya Kiara penuh rasa ingin tahu.
Saat Pak Seno hendak menyebutkan nama, terdengar suara langkah kaki yang mantap dan rapi dari arah pintu depan. Suara itu membuat Pak Seno berhenti berbicara, lalu bersama yang lain menoleh ke arah sumber suara itu.
Langkah kaki itu terdengar sangat elegan dan penuh wibawa. Melihat siapa yang muncul di ambang pintu, Pak Seno pun tersenyum tipis seolah sudah menunggu kedatangan orang itu.
Bersambung